Lafazh alladzina (الَّذِينَ) bermakna : “orang-orang yang”. Lafazh aataina-hum (آتَيْنَاهُمُ) terdiri dari fi’il madhi yaitu (أَتىَ - يَأْتِي) artinya : “Kami datangkan”, dimana yang dimaksud dengan Kami tidak lain adalah Allah SWT. Dhamir hum (هُمُ) menjadi maf’ul bihi yang artinya mereka, dalam hal ini maksudnya adalah orang-orang yahudi dan nasrani.
Lafazh al-kitab (الْكِتَابَ) artinya adalah kitab suci samawi, dalam hal ini Taurat yang turun kepada Nabi Musa alahissalam dan umatnya, juga kitab Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam dan umatnya.
Penggalan ayat ini terdiri dari tiga kata yang kedudukannya menjadi mubtada’, khabarnya adalah penggalan kata berikutnya yaitu : “ya’rifunahu”.
Lafazh ya’rifuna-hu (يَعْرِفُونَهُ) artinya : mereka mengenal, dan dhamir hu (هُ) yang menempel di bagian akhir adalah maf’ul bihi yang berarti dia, yaitu maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li-Ahkam Al-Quran. Al-Qurtubi juga mengatakan bahwa ada juga mufassir yang mengatakan bahwa yang dimaksud bukan Nabi Muhammad, melainkan maksudnya adalah pemindahan arah kiblat. Yang berpendapat seperti ini justru Ibnu Abbas, Ibnu Juraij, Ar-Rabi’ dan Qatadah.[1]
Dalam hal ini posisi kata ya’rifunahu menjadi khabar dari mubtada’ pada penggalan sebelumnya.
Maka lengkapnya penggalan ini bisa dijelaskan sebagai berikut : Yahudi dan nasrani sebagai orang yang diberi kitab suci samawi dari Allah pastilah sangat mengenal sosok Nabi Muhammad SAW. Dan untuk menggambarkan betapa mereka sangat mengenal sosok Nabi Muhammad SAW, maka diumpamakanlah Nabi SAW seolah-olah anak-anak mereka sendiri.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M), jilid 2 hal. 162
Lafazh kama (كَمَا) berarti sebagaimana, lafazh ya’rifuna (يَعْرِفُونَ) artinya mereka mengenal, lafazh abna’ahum (أَبْنَاءَهُمْ) artinya anak-anak mereka.
Fakhruddin Ar-Razi di dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu bertanya tentang sosok Nabi Muhammad SAW kepada Abdullah bin Salam, yang dulunya pernah jadi pemeluk agama yahudi tapi kemudian masuk Islam. Abdullah bin Salam menjawab,“Saya lebih mengenal sosok Muhammad ketimbang anak saya sendiri”. Umar bertanya,”Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Abdullah bin Salam menjawab,”Karena saya sama sekali tidak pernah meragukan bahwa beliau memang seorang nabi utusan Allah. Sedangkan anak saya sendiri, saya tidak tahu apakah itu anak saya sendiri, boleh jadi itu hasil hubungan gelap istri saya dengan laki-laki lain”.
Maka Umar pun mencium kening Abdullah bin Salam, karena bahagia dan bangga kepadanya, yang terus terang lebih mengenal Nabi Muhammad SAW ketimbang anaknya sendiri.[1]
Perumpamaan ini menarik untuk dibahas karena mengibaratkan dua hal yang jumlahnya berbeda. Nabi Muhammad SAW itu satu orang, sedangkan anak-anak itu jumlahnya bisa tiga, empat dan seterusnya. Dan biasanya setiap anak itu punya ciri yang berbeda-beda, bahkan anak kembar sekalipun punya perbedaan, walaupun sekilas sepertinya serupa.
Namun demikian, yang namanya orang tua pastinya mengenal seluk-beluk anak-anaknya sendiri. Dan sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, maka seperti itu pula lah mereka mengenal Nabi Muhammad SAW.
Namun demikian ada hal yang terasa janggal dan perlu dikaji lebih mendalam. Bukankah Nabi SAW itu tinggal di Mekkah sementara orang-orang Yahudi itu tinggal di Madinah? Lalu bagaimana bisa Allah SWT mengatakan bahwa orang-orang Yahudi mengenal Nabi Muhammad SAW seperti orang tua mengenal anaknya sendiri?
Begitu juga orang-orang Nasrani, rata-rata mereka tidak tinggal di Mekkah kecuali beberapa gelintir saja, namun kenapa juga Allah SWT mengatakan bahwa mereka mengenal Nabi Muhammad SAW sebagaimana orang tua mengenal anak-anaknya?
Jawabannya bahwa yang dikatakan bahwa mereka kenal ‘Nabi Muhammad SAW’ itu maksudnya tahu bahwa berita akan datangnya nabi terakhir yang bernama Muhammad, sebagaimana yang tertuang di dalam masing-masing kitab suci mereka.
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ
orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (QS. Al-Araf : 157)
وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". (QS. Ash-Shaf : 6)
Jadi bukan sosok diri Muhammad sebelum menjadi nabi dan masih kanak-kanak di Mekkah. Namun yang mereka kenal adalah kebenaran tentang adanya nabi yang terakhir dan diutus untuk semua umat manusia, baik dulunya pernah beriman dengan salah satu dari para nabi dan rasul.
Pendeta Buhaira
Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H) dalam kitabnya Al-Mushannaf fil Ahadits wal Atsar memuat sebuah hadits terkait dengan kisah Pendeta Kristen Buhaira yang pernah bertemu Abu Thalib yang sedang dalam perjalanan berdagang ke negeri Syam dengan mengajak Nabi SAW saat masih kecil. [2]
Kisahnya Nabi SAW yang waktu masih kecil diajak Abu Thalib berniaga ke negeri Syam melewati daerah tempat tinggal Buhaira. Buhaira masuk ke tengah rombongan hingga menemukan Muhammad SAW dan memegang tangannya seraya berkata, “Ini adalah pemuka alam. Ini adalah utusan Allah Tuhan semesta alam. Dia ini diutus Allah sebagai rahmat dari seluruh alam”.
Para tokoh Quraisy bertanya, “Anda siapa?”. Rahib itu menjawab, “Ketika kalian beranjak dari satu lembah, pohon dan batu pada bungkuk bersujud. Dan keduanya tidak sujud kecuali kepada nabi. Awan yang selalu mengikuti kemana kafilah bergerak telah membuat Buhaira penasaran, sebab itu adalah salah satu ciri seorang nabi.
Maka diundanglah Abu Thalib ke rumahnya untuk dijamu, semua anggota rombongan diminta masuk ke rumahnya. Namun awan yang bergayut di awat unta-unta yang sedang istirahat tidak ikut masuk. Barulah setelah diri Muhammad SAW yang saat itu masih kecil dibawa masuk, awannya ikut bergerak ke atas rumah Buhaira.
Semakin yakinlah Buhaira atas kenabian Muhammad nanti. Apalagi setelah ditemukannya tanda kenabian di tubuh Nabi Muhammad SAW yang masil kecil saat itu.
Buhaira berpesan kepada Abu Thalib agar ia berhati-hati terhadap rencana jahat orang Yahudi. Allah telah mentakdirkan nabi terakhir berasal dari bangsa Arab dan nabi itu adalah Muhammad.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 4 hal. 110-111
[2] Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah, Al-Muhsannaf fil Ahadits wal Atsar, jilid 7 hal. 327