Kemenag RI 2019:Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Namun, (sebenarnya mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Prof. Quraish Shihab:Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (mereka itu) hidup (bahagia di alam Barzah), tetapi kamu tidak menyadari (kehidupan mereka). Prof. HAMKA:Dan janganlah kamu katakan terhadap orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, akan tetapi kamu tidak merasa.
Ayat ke-154 ini punya kembaran yang amat mirip pada surat Ali Imran, bedanya ada tambahan bahwa mereka itu hidup di sisi Allah SWT dan mendapatkan rejeki.
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali Imran : 169)
Ketika selesai dengan perintah untuk bersyukur dan meminta pertolongan Allah SWT lewat bersabar dan shalat, tiba-tiba Allah SWT seperti langsung pindah topik membicarakan orang-orang yang mati di jalan Allah. Wajar bila banyak orang mengira antara ayat ke-154 ini tidak ada hubungannya dengan ayat-ayat sebelumnya.
Namun rupanya justru hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya sangat erat, karena dua-duanya masih membicarakan tema besar yaitu menjadi orang yang sabar. Di ayat sebelumnya yaitu ayat ke-153 Allah SWT memerintahkan agar kita selalu bermohon kepadanya dengan jalan bersabar dan juga dengan cara shalat. Maka di ayat ini Allah SWT sedang menjelaskan seperti apa yang namanya orang sabar itu, yaitu orang yang siap bertahan bahkan hingga harus meregang nyawa sekalipun. Mereka gugur dalam rangka bersabar menghadapi ujian dari Allah SWT. Dan kematian di jalan Allah SWT itu adalah tingkat kesabaran tertinggi.
Semua ujian dan cobaan itu memang harus dihadapi dengan kesabaran, namun kesabaran yang paling tinggi adalah kesabaran atas hilangnya nyawa ketika mempertahankan agama Allah SWT.
Sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa ayat ini terkait dengan para syuhada’ yang gugur dalam Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan di tahun kedua hijriyah. Namun ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini turun sebelum Perang Badar dan yang dibicarakan adalah para shahabat yang sejak masih di masa Mekkah sudah ada yang wafat di jalan Allah SWT.
وَلَا تَقُولُوا
Ayat ke-154 ini dibuka huruf waw (وَ) yang fungsinya menjadi penyambung antara ayat ini dengan ayat sebelumnya. Disebut juga dengan istilah wawul-athaf.
Kemudian diteruskan dengan fi’il nahyi (لَا تَقُولُوا) yang artinya : “janganlah kamu berkata”. Namun yang dimaksud dengan berkata disini bukan melafazhkan kalimat tertentu, melainkan berpandangan atau meyakini suatu hal, atau setidaknya mengira atau menyangka. Maka tidak terlalu keliru bila kita artikan menjadi : “Janganlah kamu menyangka”.
Namun sebagian ulama mengatakan maknanya memang : “janganlah kamu berkata”, karena khithab ayat ini bukan kepada kaum muslimin para shahabat nabi, melainkan khitabnya diarahkan kepada kaum kafir yang tidak beriman.
لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ
Sebagaimana sudah disinggung di atas, para ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang dimaksud dengan mereka yang terbunuh di jalan Allah ini? Dan kapankah ayat ini turun? Kemudian khitab larangan ini diarahkan kepada siapa? Dalam hal ini ada dua pendapat yang berbeda :
Pendapat Pertama
Mereka diwakili oleh Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Para ulama yang sependapat dengan pandangan ini mengatakan bahwa ayat ini turun ketika terjadi Perang Badar pada tanggal 17 di bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah.
Dan mereka yang terbunuh di jalan Allah SWT adalah para syuhada’ Badar yang jumlahnya 14 shahabat ridhwanullahi ‘alaihim. Nama-nama mereka adalah : [1] Ubaidah bin Al-Harits, [2] Umar bin Abi Waqqash, [3] Dzu Syamalain, [4] Amru bin Nufailah, [5] ‘Amir bin Bakr, [6] Mihja’ bin Abdillah. Mereka semua dari kalangan muhajirin.
Lalu sisanya adalah dari kalangan anshar, yaitu [7] Said bin Khatsamah, [8] Qais bin Abdil Mundzir, [9] Zaid bin Al-Harits, [10] Tamim Ibnul Humam, [11] Rafi’ bin Al-Mu’alla, [12] Harits bin Suraqah, [13] Mu’awwidz bin ‘Afra’, dan terakhir [14] ‘Auf bin Afra’
Mereka ini awalnya disebut-sebut telah mati, namun Allah SWT turunkan ayat ini dan meluruskan agar jangan sebut mereka telah mati, tetapi katakanlah bahwa mereka hidup di sisi Allah SWT. Riwayat yang lain menyebutkan bahwa yang menyebut mereka telah mati adalah kaum kafir.
Pendapat Kedua
Pendapat kedua menyebutkan bahwa ayat ini turun sebelum Perang Badar, sehingga yang dimaksud dengan mereka yang mati di jalan Allah SWT itu bukanlah mereka yang gugur dalam Perang Badar. Mereka sudah diuji dan bersabar sejak pertama kali dakwah di Mekkah, sampai mereka gugur di jalan Allah lebih dulu.
Kalau harus menyebutkan siapa contohnya, tentulah di antara mereka itu ada keluarga Ammar bin Yasir. Memang Ammar tidak sampai wafat, namun ayahandanya yaitu Yasir dan Sumayya tercatat sebagai mereka yang mati di jalan Allah SWT, bahkan sebelum adanya perintah hijrah ke Madinah. Mereka mati dengan jalan disiksa oleh orang-orang musyrikin Mekkah.
Dan mereka termasuk dalam kategori orang yang bersabar, yang disebutkan bahwa Allah SWT bersama orang yang sabar, yaitu mereka berada di sisi Allah SWT.
بَلْ أَحْيَاءٌ
Terkait dengan ungkapan bahwa mereka itu tidak mati tetapi mereka hidup, memang jadi diskusi yang menarik. Kalau dikatakan mereka itu tidak mati tapi hidup di sisi Allah SWT, bukankah maksudnya mereka hidup di alam barzakh? Ataukah mereka belum masuk alam barzakh? Dan apakah itu artinya mereka masih ada di alam dunia ini, namun mungkin di dimensi yang berbeda? Inti pertanyaannya adalah : Apakah mereka yang ‘hidup di sisi Allah’ itu masih ada di dunia ini atau sudah berpindah di alam barzakh?
Nampaknya ada dua pendapat yang berkembang di tengah perdebatan para ulama, rinciannya sebagai berikut :
Pendapat Pertama
Pendapat pertama menyebutkan bahwa mereka tidak mati dan masih berada di alam dunia ini. Namun posisinya bukan di bumi melainkan di ‘atas langit’ atau di dimensi lain yang berbeda.
Contoh yang seperti itu misalnya Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebut-sebut masih hidup hingga saat ini di sisi Allah dan belum wafat. Lalu nanti di hari akhir akan turun ke bumi lagi bukan bangkit dari alam barzakh. Walaupun sebenarnya ‘kematian’ Nabi Isa sendiri pun juga jadi bahan perdebatan ulama. Karena ada dua ayat yang berbeda terkait hal ini. Di satu ayat Allah SWT menegaskan bahwa Nabi Isa diangkat kepada-Nya.
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku. (QS. Ali Imran : 55)
Pendapat Kedua
Pendapat kedua mengatakan sebenarnya mereka sudah mati dalam arti sudah meninggalkan dunia yang fana ini dan sekarang berada di alam barzakh. Hanya saja untuk memuliakan mereka, disebutlah bahwa mereka itu ‘masih hidup’.
Namun ini hanya ungkapan yang bersifat metafora atau majaz saja. Atau setidaknya mereka dianggap seperti masih hidup, karena masih bisa menyaksikan dan mendengar apa-apa yang kita ucapkan.
Dan pada hakikatnya semua orang yang mati meninggalkan alam dunia ini, pada dasarnya mereka itu tidak lenyap dan juga tidak musnah begitu saja. Yang punya konsep macam itu adalah kaum musyrikin Mekkah.
Mereka berkata: "Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (QS. Al-Mukminun : 82)
Dalam konsep rukun iman kita, iman kepada hari akhir itu mencakup juga iman kepada adanya alam barzakh. Konsepnya adalah orang yang disebut mati itu pada dasarnya hanya berpindah saja, dari alam dunia ini masuk ke alam lain yaitu alam barzakh.
Yang mereka rasakan mereka tetap hidup, di alam barzakh. Bahkan sebenarnya yang hidup di alam barzakh juga tidak hanya sebatas mereka yang wafat di jalan Allah SWT. Tetapi termasuk juga mereka yang mati biasa, bahkan mereka yang mati sebagai orang kafir pun, mereka tetap hidup di alam barzakh. Bedanya yang kafir-kafir itu hidupnya disiksa di alam kubur.
وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
Lafazh laa tasy’urun artinya secara harfiyah adalah tidak merasakan. Maksudnya bahwa orang-orang muslim yang gugur di medan jihad itu sebenarnya hidup di alam barzakh, namun kita yang hidup di alam dunia ini tidak bisa merasakan keberadaan mereka.
Karena secara fisik boleh jadi jasad mereka sudah mati dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Adapun yang hidup itu adalah jiwa atau ruh mereka di alam yang lain. Maka ungkapan bahwa kita tidak bisa merasakan itu sudah benar. Dalam hal ini menarik membaca ulasan Prof. Dr. Quraish Shihab tentang masalah ini sebagai berikut :[1]
Mereka yang gugur di jalan Allah itu tetap bergerak, bahkan lebih leluasa daripada gerak manusia di permukaan bumi ini. Mereka tahu lebih banyak dari apa yang diketahui oleh yang beredar darahnya dan berdenyut jantungnya.
Kehidupan di alam barzakh itu secara garis waktu cukup unik, karena waktunya berbarengan dengan alam dunia kita sekarang. Sekarang ini alam barzakh sudah ada dan juga sudah dihuni oleh ratusan juta orang juga. Boleh jadi jumlah penghuninya malah lebih banyak dari penghuni dunia kita sekarang yang mendekati angka 8 milyar. Nanti bersama dengan dunia kita, alam barzakh berakhir saat kiamat terjadi.
Namun begitu, secara pembagian jenis alam, maka alam barzakh itu termasukna sudah bagian dari alam akhirat.
Orang yang kini berada di alam barzakh, sebagian mereka ada yang sudah menghuninya sejak ribuan tahun yang lalu. Para shahabat nabi masuk alam barzakh sejak 14 abad yang lalu dan disana mereka hidup seperti kita hidup di dunia. Padahal usia mereka hidup di dunianya tidak sampai seratus tahun. Jauh lebih lama masa hidup di alam barzakh ketimbang hidup di alam dunia.
Namun kayak apa nasib mereka di alam barzakh itu amat sangat ditentukan dengan apa yang mereka lakukan di alam dunia saat mereka hidup.
[1] Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), jilid 1 hal. 435