Lafazh ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya mereka, sedangkan yal’anuhumullah (يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ) artinya bahwa Allah SWT melaknat mereka. Ungkapan laknat yang dilakukan oleh Allah SWT merupakan bentuk ungkapan kemarahan atas dosa yang teramat besarnya. Apalagi apabila diikuti juga dengan laknat dari makhluk-makhluk Allah SWT yang lainnya.
Lafazh al-la’inun (اللَّاعِنُونَ) artinya adalah mereka yang melaknat. Namun tentang siapakah yang dimaksud dengan al-la’inun, para ulama berbeda pendapat :
§ Qatadah dan Ar-Rabi’ mengatakan mereka itu adalah manusia dan malaikat.
§ Al-Barra’ bin Azib dan Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud justru seluruh makhluk Allah selain manusia dan malaikat.
§ Mujahid dan Ikrimah mengatakan itu adalah serangga dan hewan-hewan, yang terkena penyakit kekurangan akibat dosa-dosa para tokoh yahudi jahat yang menyembunyikan kebenaran. Maka serangga dan hewan-hewan melaknat mereka.
Namun meski ayat ini menggambarkan Allah SWT yang melaknat, begitu juga adanya makhluk yang lain juga ikutan melaknat, secara hukum syariatnya justru melaknat orang yang melakukan dosa itu malah tidak dibenarkan. Kalau ditujukan langsung kepada pelakunya secara khusus.
Dasarnya adalah hadits berikut ini :
أنَّ النَّبِيَّ ﷺ أُتِيَ بِشارِبِ خَمْرٍ مِرارًا، فَقالَ بَعْضُ مَن حَضَرَ: لَعَنَهُ اللَّهُ ما أكْثَرَ ما يَشْرَبُهُ، فَقالَ النَّبِيُّ ﷺ : لا تَكُونُوا عَوْنًا لِلشَّيْطانِ عَلى أخِيكم
Nabi SAW beberapa kali dihidangkan minuman khamar, maka para shahabat yang hadir spontan berkata,”Semoga Allah melaknatnya”. Namun Nabi SAW berkata,”Janganlah kamu menjadi pembantu setan kepada saudaramu”.
Maka ungkapan pada ayat ini sifatnya hanya berita saja, bukan perintah untuk melaknat orang yang melakukan maksiat dan dosa. Biar Allah SWT saja yang melaknatnya, kita sebagai manusia tidak perlu ikut melaknat.
Di dalam banyak kitab tafsir klasik, ketika menjelaskan ayat ke-159 ini biasanya diikuti dengan kajian tentang haramnya kitmanul-ilm atau menyembunyikan ilmu. Meskipun konteks turunnya ayat ini sebenarnya adalah perilaku agamawan yahudi yang menyembunyikan informasi penting di dalam kitab Taurat, khususnya terkait berita tentang kenabian Muhammad SAW.
Namun pelajaran yang bisa dipetik dari ayat itu oleh para ulama tafsir dilebarkan kepada haramnya menyembunyikan ilmu yang ada di dalam Al-Quran atau ilmu-ilmu keislaman secara umum. Di banyak kitab tafsir kemudian bertabur dalil-dalil tentang keharaman menyembunyikan ilmu di dalam Al-Quran. Salah satunya hadits berikut :
مَنْ سُئِل عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ، أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
Orang yang ditanya tentang suatu ilmu namun dia sembunyikan (tidak menjawabnya), maka dia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekangan api neraka.
Walaupun ayat ini turun membicarakan kelakuan Yahudi, namun para shahabat dahulu kemudian ikut membandingkan kasus itu pada diri mereka sendiri dan mulai bertanya-tanya, apakah kita juga termasuk yang dilaknat karena menyembunyikan ilmu?
Oleh karena itulah diriwayatkan bahwa Abu Hurairah yang paling banyak meriwayatkan hadits nabi itu menjadikan ayat ini sebagai dasar Beliau meriwayatkan begitu banyak hadits.
لَوْلَا آيَةٌ فِي كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى مَا حَدَّثْتُكُمْ حَدِيثًا.
Seandainya bukan karena satu ayat di dalam kitabullah, pastilah saya tidak akan meriwayatkan satu pun hadits.
Dan ayat yang dimaksud ternyata ayat ini. Abu Hurairah mengatakan bahwa kita ini termasuk akan dilaknat Allah ketika kita punya ilmu tetapi tidak mengajarkannya kepada orang lain. Boleh jadi ayat ini pula yang menyebabkan para ulama selalu menulis kitab demi agar tidak dibilang menyembunyikan ilmu.
Namun demikian, untuk konteks di masa kita sekarang ini nampaknya sedikit kurang tepat kasusnya. Di masa kita sekarang, orang yang punya ilmu keislaman sangat sedikit, kalau pun punya, hanya dasar-dasarnya saja, tidak sampai ke level yang mumpuni untuk jadi pengajarnya.
Sayangnya yang bersemangat untuk ceramah dan pidato banyak sekali. Mereka bilang ingin menyampaikan ilmu agama, tapi sayangnya mereka sendiri justru tidak punya ilmu agama. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena tidak pernah belajar ilmu agama secara benar. Maka yang diajarkan itu pada dasarnya bukan ilmu, tetapi sekedar memberi motivasi dan ajakan untuk menjalankan beberapa printilan agama.
Seandainya kepada mereka disodorkan soal-soal ujian semester dari mata pelajaran ilmu agama dan cabang-cabangnya, bahkan sekedar level madrasah ibtidaiyah sekalipun, mereka belum tentu bisa menjawab dengan benar.
Namun kenapa mereka bisa eksis di atas panggung ceramah agama, ternyata karena hadirinnya pun sama-sama tidak pernah belajar ilmu agama juga. Sehingga orang tidak berilmu ketika belajar kepada yang sama-sama tidak berilmu, insyaallah tidak akan komplain. Yang penting pengajarnya pintar bicara, pandai bermain kata, lihai bersilat lidah, punya skill dalam public speaking, jadilah itu seolah-olah panggung ilmu.
Namun demikian, sebenarnya umat Islam hari ini tidak terlalu kekurangan para ahli ilmu agama. Sebab dimana-mana sudah dibangun pusat-pusat pengajar ilmu agama dan kampus-kampus keislaman yang diajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman. Di tahun 2023 ini saja jumlah mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu ke Universitas Islam Al-Azhar di Mesir jumlahnya tidak kurang dari 12 ribu orang. Belum lagi yang menuntut ilmu di berbagai negeri Islam lainnya.
Seharusnya mereka inilah yang punya beban untuk menyampaikan kembal ilmu agama yang telah mereka pelajari. Mereka inilah yang terkena ancaman laknat dari Allah SWT dan laknat dari semua makhluk yang bisa melaknat. Sebab mereka punya ilmu yang sudah mereka tekuni sejak kecil, mereka masuk pesantren lalu meneruskan kuliah sampai ke luar negeri.
Semua itu bukti nyata yang tidak bisa ditolak bahwa mereka sudah berada pada trek yang benar, yaitu menunntut ilmu. Maka akan jadi amat sangat disayangkan apabila sepulang dari menuntut ilmu sepanjang hayat, kemudian malah terjun ke dunia yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya selama ini.
Yang benar-benar kena laknat adalah mereka yang usai kuliah malah lupa semua dengan apa telah pernah dipelajarinya semasa kuliah. Rupanya tuntutan perut membawanya mengais-ngais rejeki di jalan yang tidak ada hubungannya dengan ilmu yang seharusnya jadi tanggung-jawabnya.
Membaca dua sisi ini jadi ironi, di satu sisi ada kalangan yang tidak punya ilmu alias orang bodoh, tetapi semangat berbagai ilmu yang kosong dan nol besar. Sementara di sisi lainnya, ada orang-orang yang ilmunya banyak, tetapi tidak mau menyampaikannya kepada khalayak. Belajar ilmu agama, tetapi tidak bisa menyampaikan kembali. Naudzubillah min tilka.