Kemenag RI 2019:kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan(-nya). ) Mereka itulah yang Aku terima tobatnya. Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. Prof. Quraish Shihab:Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubat mereka, dan Aku-lah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Pengasih. Prof. HAMKA:Kecuali orang-orang yang bertobat dan berbuat perbaikan dan mereka yang memberikan penjelasan. Maka, mereka itulah yang akan Aku beri tobat atas mereka; dan Aku adalah Pemberi tobat lagi Penyayang.
Allah menjelaskan bahwa siapa saja yang bertobat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki perbuatannya, dan kemudian berani menjelaskan kebenaran yang dahulu disembunyikannya, maka Allah akan menerima tobatnya. Ayat ini menegaskan bahwa tobat sejati tidak hanya berupa penyesalan, tetapi juga harus disertai tindakan nyata untuk memperbaiki diri dan menegakkan kembali kebenaran.
Bagian penutup ayat, “Aku-lah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang,” menjadi penegasan bahwa kasih sayang Allah selalu lebih besar daripada murka-Nya. Ia tidak hanya menerima tobat hamba yang menyesal, tetapi juga mengasihinya dan membimbingnya agar kembali ke jalan yang lurus. Ayat ini menanamkan optimisme spiritual: sebesar apa pun dosa seseorang, selama ia jujur dalam tobat dan memperbaiki kesalahannya, rahmat Allah selalu terbuka untuknya.
(إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا)
Salah satu keutamaan agama yang dibawa Nabi SAW sebagai nabi penutup risalah adalah murah dan mudah memberikan permafaan kepada mereka yang berdosa dan bersalah. Bandingkan dengan umat terdahulu yang umumnya mereka tidak mendapatkan taubat dan ampunan.
Rata-rata kisah yang kita baca dalam Al-Quran, akhir kisah mereka sangat menyakitkan, yaitu dihinakan di dunia dengan cara dimatikan lewat adzab, bencana dan murka dari Allah. Lalu di akhirat pun mereka dimasukkan ke dalam neraka dan abadi di dalamnya.
Sedangkan untuk era akhir zaman ini, Allah SWT mengubah kebijakannya. Mereka yang membangkang dan murtad dari risalah samawi yang Allah titipkan lewat Nabi SAW itu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri baik di dunia maupun di akhirat. Dan pintu yang harus dilewati adalah pintu taubat.
Dengan proses pertaubatan itu, maka semua dosa yang pernah mereka lakukan tidak akan lagi menimbulkan murka dari Allah. Bahkan mereka bisa masuk surga seperti orang yang tidak berdosa sama sekali.
Namun bertaubat itu bukan sekedar mengatakan di lisan : saya bertaubat, tetapi juga harus diikuti dua tindakan nyata, yaitu ashlahu (وَأَصْلَحُوا) dan bayyanu (وَبَيَّنُوا).
(وَأَصْلَحُوا)
Lafazh ashlahu (وَأَصْلَحُوا) secara umum dimaknai memperbaiki. Ungkapan memperbaiki ini bisa jadi amat luas pengertiannya.
Memperbaiki itu bermakna membereskan kerusakan-kerusakan, termasuk menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Ibarat memperbaiki rumah yang rusak, bagian-bagian yang rusak parah dan tidak mungkin diperbaiki lagi, maka harus diganti dengan yang baru.
Kalau dikaitkan dengan dosa yang merugikan pihak lain, seperti mencuri, merampok, merusak harta milik orang lain, maka diwajibkan untuk memberikan ganti rugi atas tindakannya. Tidak cukup hanya meminta maaf saja, tetapi harus siap merogoh kocek dalam rangka membayar biaya ganti rugi yang ditimbulkan.
Dan apabila dosa yang terkait diri sendiri, maka yang 2diperbaiki adalah ruang lingkup pergaulannya. Dia harus mengganti teman pergaulan dan lingkungannya dengan yang lebih baik. Hal itu perlu dipertimbangkan mengingat seringkali rusaknya perilaku seseorang disebabkan karena lingkungannya kurang baik.
Dengan demikian, kalau mau bertaubat, syaratnya harus mengganti lingkungan pergaulannya dengan yang baik.
(وَبَيَّنُوا)
Lafazh bayyanu (وَبَيَّنُوا) secara umum dimaknai : “memberi penjelasan”. Konteks yang terkait dengan hal ini adalah apabila seseorang berdosa dalam arti memiliki pemahaman yang keliru terhadap agama Islam, termasuk penyimpangan aqidah atau syariah yang mendasar. Dan selama ini terlanjur dibela dan disiar-siarkan kepada khalayak dimana sudah banyak pengikutnya.
Maka jalan untuk bertaubat setelah melakukan ishlah di atas adalah memberikan penjelasan dan konfirmasi bahwa dirinya sudah tidak lagi berpendapat demikian.
Sebab selama ini dia telah merusak cara pemahaman banyak orang lewat pemikiran-pemikirannya yang menyimpang dari ketentuan aqidah dan syariah yang lurus. Maka cara taubatnya adalah memberikan bayan dan penjelasan kepada orang yang pernah disesatkannya. Dia harus mempertanggung-jawabkan kesesatan pemikirannya selama ini, lewat mengajak orang yang disesatkan untuk kembali lagi ke jalan yang benar.
Setidaknya, kalau pun pengikutnya yang dulu tidak mau diajak kembali lagi, maka dia berlepas diri dari apa yang mereka yakini.
(فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ)
Mereka itulah yang Allah SWT berikan ampunan. Seolah penggalan ini menegaskan bahwa syarat diterima taubat itu adalah harus melakukan ishlah dan bayan.
Syarat seperti ini jauh lebih baik ketimbang Allah SWT hancurkan dengan adzab dan bencana, sebagaimana di masa lalu.
Kalau boleh membuat sekedar perumpamaan yang agak bersifat kekinian, di masa lalu apa yang Allah SWT lakukan seperti orang yang mengetik pakai ketik manual di atas kertas. Begitu suatu kesalahan terjadi, maka tidak bisa diperbaiki apalagi diedit, sebab tinta sudah kering dituliskan.
Dan kalau kesalahan demi kesalahan terjadi terus berkali-kali, kertasnya dicabut dari mesin ketik dan diremas-remas lalu dibuang ke tong sampah. Tiada maaf bagimu. Lalu diambil lagi kertas putih yang baru untuk mulai menulis lagi dari awal.
Sedangkan perumpamaan nasib kita sebagai umat terakhir adalah seperti orang mengetik pakai komputer. Salah pencet, salah ketik, atau hilang ide sekalipun, tidak jadi mengapa. Semua bisa disimpan dulu untuk nanti diedit ulang. Dan mengedit itulah yang kita sebut bahwa Allah SWT itu Maha Penerima taubat hamba-Nya.
Semua masih bisa diotak-atik dan diedit dan diperbaiki, sampai semua sudah jauh lebih baik, kemudian dikoreksi ulang sehingga naskah dianggap benar-benar zero mistake alias tidak ada kesalahan. Setelah itu barulah diprint-out.
Jelas sekali menulis pakai komputer jauh lebih mudah, simple, fleksibel dan praktis. Tidak bisa dibayangkan kalau hari ini kita masih harus menulis pakai mesin ketik manual, begitu salah ketik maka akan cacat seumur hidup.
(وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
Di penggalan terakhir ini Allah SWT menegaskan sekali lagi bahwa Allah SWT itu Tuhan Yang Maha Penerima taubat hambanya. Dan tindakan memberi taubat itu didasari oleh sifat mulia bagi-Nya, yaitu Maha Rahim alias Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.