Asbabun nuzul ayat ini sebagimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa orang-orang musyrikin Mekkah berkata kepada Nabi SAW,”Jelaskan nasabnya Tuhanmu”, maka Allah SWT menurunkan surat Al-Ikhlas yang menegaskan bahwa Allah SWT itu tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Selain itu Allah SWT juga menurunkan ayat ini yang intinya mirip, yaitu : Dan tuhanmu itu adalah tuhan yang Esa.
Ungkapan laa ilaaha illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ) inilah yang kemudian menjadi dasar keimanan umat Nabi Muhammad SAW, bahkan dijadikan dasar pedoman dan ukuran, apakah seseorang dianggap matinya dalam keadaan beriman atau tidak. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW :
مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Orang yang di akhir perkataannya : tiada Tuahn selain Allah, maka dia masuk surga (HR. )
Yang perlu diperhatikan adalah bagian yang menyebutkan : (آخِرَ كَلَامِهِ) yaitu perkataan akhirnya. Tidak mengapa seseorang itu pernah jadi orang kafir, yang penting bagian akhirnya dia beriman. Dan yang dimaksud bagian akhir adalah ketika dia meninggal dunia.
Al-Qurtubi menyebutkan bahw lafazh ini terdiri dari dua unsur, yaitu pengingkaran dan penetapan. Lafazh (لَا إِلَٰهَ) yang merupakan bentuk nafyi atau pengingkaran, lalu (إلَّا هُو) yang merupakan penetapan atau itsbat.
Dalam terjemahan Kementerian Agama RI, ar-rahman (الرحمن) diterjemahkan menjadi Maha Pengasih, sedangkan ar-rahim (الرحيم) diterjemahkan menjadi Maha Penyayang.
Kedua kata itu sebenarnya punya akar kata yang sama, yaitu sama-sama dari (رَحِمَ - يَرْحَمُ) dan membentuk menjadi rahmah (الرحمة). Ketika menjadi ar-rahman menjadi shighah mubalaghah, rahmahnya sangat besar atau sangat agung (عظيم الرحمة).
Kata ar-rahman berarti belas kasihan, yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. Jadi, kata ar-rahman berarti "yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak".
Kalau dihitung-hitung lafazh ar-rahman berulang-ulang disebutkan dalam Al-Quran setidaknya sampai 57 kali, sedangkan lafaz ar-rahim malah lebih banyak yaitu 95 kali. Kebanyakan ulama menyebutkan bahwa nama ar-rahman khusus hanya untuk Allah SWT saja dan tidak boleh menamai manusia dengan ar-rahman.
Kalau dibandingkan antara ar-rahman (الرحمن) dan ar-rahim (الرحيم), ar-rahman lebih tinggi shighah mubalaghah-nya dari ar-rahim. Abu Ali al-Faris menyebutkan bahwa ar-rahman merupakan lafazh umum untuk semua bentuk rahmah kepada siapa saja, sedangkan ar-rahim adalah bentuk rahmah khusus untuk buat orang mukmin. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Aku itu rahim kepada orang-orang mukmin (QS. Al-Ahzab: 43)
Ibnu al-Anbar dan Az-Zajjah menyebutkan bahwa kata rahman merupakan bahasa Ibrani, sedang kata rahim merupakan bahasa Arab. Arti ar-rahim adalah "Yang mempunyai sifat belas kasihan dan sifat itu tetap padanya selama-lamanya".