Kemenag RI 2019:Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal). Prof. Quraish Shihab:Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah sekutu-sekutu selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana (mereka) mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Allah sangat kuat. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (itu) mengetahui ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat), bahwa semua kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-(Nya, niscaya mereka menyesal). Prof. HAMKA:Dan setengah dari manusia ada yang mengambil yang selain Allah menjadi tandingan tandingan, yang mereka cintai mereka itu sebagaimana mencintai Allah. Akan tetapi, orang-orang yang beriman terlebih cintalah mereka akan Allah. Padahal, kalau mengertilah orang-orang yang zalim itu, seketika mereka melihat adzab, bahwasanya kekuatan adalah pada Allah, dan bahwasanya Allah adalah sangat pedih siksa-Nya.
Ayat ke-165 ini sekilas juga seperti tidak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya. Namun Al-Qurtubi dan juga Asy-Syaukani menegaskan bahwa ayat ini amat erat hubungannya dengan ayat sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT menerangkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di alam semesta, maka di ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa ada sebagian kalangan yang sudah menyembah Allah SWT, namun menjadikan selain Allah SWT sebagai tandingan.
وَمِنَ النَّاسِ
Lafazh wa minan-nas (وَمِنَ النَّاسِ) posisinya menurut para ulama adalah sebagai khabar muqaddam. maknanya : sebagian manusia. Namun kalau menurut siyaqnya, yang dimaksud dengan sebagian manusia dalam konteks turunnya ayat ini adalah kaum musyrikin Mekkah. Karena mereka itu masih berkeyakinan adanya tuhan-tuhan lain selain Allah, bahkan mereka memiliki tidak kurang dari 360 berhala.
مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Lafazh man (مَنْ) biasanya diterjemahkan menjadi siapa, namun dalam ayat ini maksudnya bukan sedang bertanya. Sehingga akan lebih aman kalau diterjemakan menjadi ‘orang yang’.
Lafazh yattakhidzu (يَتَّخِذُ) maknanya menjadikan. sedangkan lafazh min dunillah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) artinya selain Allah.
أَنْدَادًا
Lafazh andadan (أَنْدَادًا) dimaknai oleh Kemenag RI dan Buya HAMKA menjadi : “tandingan-tandingan”, sedangkan Prof. Quraish Syihab menerjemahkannya dengan : “sekutu-sekutu”. Sebenarnya kata ini berbentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah niddun (نِذّ).
Para ulama klasik juga berbeda dalam menjelaskannya. Ada yang mengatakan niddun itu bermakna mitsl (مثل), artinya : yang disamakan atau disetarakan.
Al-Mawardi menuliskan bahwa lafazh ini punya tiga makna yaitu akfa’ (أكفاء) atau yang disetarakan, asyhbah (أشباه) atau yang diserupakan dan adh-dad (أدضاض) atau yang dijadikan lawan.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan dua makna yang berbeda tentang hakikat dari tandingan ini :[1]
Pertama, yang dimaksud dengan tandingan selain Allah SWT itu maksudnya adalah patung-patung berhala yang disembah oleh kaum musyrikin Mekkah dan juga kaum musyrikin Arab secara keseluruhan. Jumlahnya tidak kurang dari 360 berhala. Mereka menjadikan patung-patung itu sebagai perantara yang menghubungkan mereka dengan Allah SWT.
Namun dalam prakteknya, doa dan permohonan mereka jatuhnya malah kepada berhala-berhala itu, bahkan sampai bernadzar dan menyembelih hewan qurban pun diniatkan kepada benda-benda tak bernyawa itu. Pendapat pertama inilah yang kebanyakan didukung oleh para ulama ahli tafsir.
Kedua, yang dimaksud dengan tandingan selain Allah SWT itu adalah manusia yang ditaati dalam rangka maksiat kepada Allah (أكفاءً من الرجال تطيعونهم في معصية الله). Pendapat kedua ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dan As-Suddi.[2]
Para pendukung pendapat kedua ini berasalah bahwa sifat yang disebutkan dalam ayat ini bahwa para pelakunya mencintai ‘mereka’ sebagaimana mereka mencintai Allah. Kata ‘mereka’ menunjukkan bahwa yang mereka cintainya itu berwujud manusia, bukan batu, patung atau berhala.
Selain itu kalau dikaitkan dengan ayat berikutnya yaitu ayat ke-166, jelas sekali bahwa bahwa yang dimaksud dengan tandingan selain Allah SWT itu adalah para tokoh agama.
Ini adalah penggalan kedua dari ayat ke-165, dimana intinya Allah SWT membuat menyatakan bahwa orang kafir itu sulit bisa diharapkan kesadarannya, dengan cara menggunakan pengandaian yang cukup unik.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim (itu) mengetahui ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat), bahwa semua kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-(Nya, niscaya mereka menyesal).
Secara harfiyah penggalan ini terasa agak janggal, karena diawali dengan kata “seandainya”, namun tidak ada terusannya. Seandainya begini dan begini dan begini, lantas apa? Sama sekali disebutkan apa-apa.
Maka para ulama mencoba meraba-raba dan mengira-ngira, kira-kira apa jawabannya. Dalam hal ini kalau kita baca terjemahan dari Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab, keduanya sepakat menyebutkan : (niscaya mereka menyesal).
Sedangkan dalam terjemahan Buya HAMKA sama sekali tidak menuliskan apapun, sehingga kalimatnya memang terasa janggal dan belum selesai. Penjelasannya baru kita temukan ketika kita buka Tafsir Al-Azhar karya Beliau. Disana dituliskan sebagai berikut :
Kalau mengertilah orang yang zalim itu bahwa kelak di akhirat akan ternyata bahwa segala tandingan-tandingan itu tidak ada kekuatannya sama sekali, walaupun apa macamnya dan siapa pun orangnya, niscaya dari masa hidup di dunia ini mereka tidak akan mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah.
إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ
Penggalan ini secara harfiyah maknanya adalah : “ketika mereka melihat azab”. Adzab yan dimaksud disini oleh kebanyakan ulama dimaknai sebagai adzab di neraka.
Sehingga makna di balik kata adzab pada hakikatnya dimaksudkan ancaman buat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka setelah nanti mereka mati meninggalkan dunia ini.
Ancaman ini sekaligus juga memeberikan kesan bahwa selama oang-orang kafir masih hidup di dunia, mereka tidak akan beriman dan tidak mudah menerima ajaran yang lurus.
Apabila nanti mereka sudah menyaksikan sendiri bagaimana adzab dijatuhkan kepada mereka, pastilah mereka akan beriman. Bahkan bukan hanya menyaksikan, tetapi langsung merasakannya, barulah mereka beriman.
Akan tetapi beriman setelah sudah berada di dalam neraka jelas-jelas tidak akan ada gunanya. Sehingga yang terjadi hanya penyesalan saja. Banyak dari orang kafir yang di neraka nanti meminta agar bisa dikembalikan lagi ke dunia untuk menjadi orang beriman.
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (QS. Al-Anam : 27)
أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
Lafazh al-quwwah (الْقُوَّةَ) maknanya kekuatan. Sedangkan makna lillahi jamiian (لِلَّهِ جَمِيعًا) maknanya adalah milik Allah semuanya. Dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya.
Maksudnya hanya Allah SWT saja yang memiliki kekuatan di akhirat nanti. Sedangkan makhluk-makhluknya sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun. Mereka hanya bisa memasrahkan diri di hadapan Allah SWT.
Hilang sudah semua kecongkakan, kesombongan dan ketakabburan yang selama ini mereka lakukan. Di hadapan Allah SWT yang punya semua kekuatan, mereka hanya bisa menerima nasib.
وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Lafazh syadidul ‘adzab (شَدِيدُ الْعَذَابِ) artinya sangat keras adzabnya. Dan adzab yang keras ini hanya ditujukan kepada orang-orang kafir yang dahulu ingkar dan membangkang, tidak mau beriman, bahkan menyekutukan Allah SWT dengan mengadakan tandingan-tandingan selain Allah SWT. Maka buat mereka itulah kerasnya adzab itu akan diarahkan. Sebagai hukuman atas ulah mereka.