Kemenag RI 2019:Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya. Prof. Quraish Shihab:Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap mereka diberi rezeki berupa buah-buahan darinya (surga-surga itu), mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu (di dunia).” Dan mereka diberi (buah-buahan) yang serupa (tetapi tidak sama dengan yang di dunia) dan untuk mereka di dalamnya ada (juga) pasangan-pasangan yang disucikan/ dan mereka kekal di dalamnya. Prof. HAMKA:Dan, gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwasanya untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tiap-tiap kali diberikan kepada mereka suatu pemberian dari semacam buah-buahan. Mereka berkata, "lnilah yang telah dijanjikan kepada kita dari dahulu. Dan, diberikan kepada mereka akan dia yang serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka akan kekal di dalamnya.
Lafazh wa basysyir terdiri dari waw sebagai harful-'athf yang bermakna : dan, serta basysyir yang merupakan fi'il amr yang berarti perintah untuk memberikan kabar gembira, sehingga maknanya menjadi : Dan berikanlah kabar gembira.
Maksud ungkapan ini bahwa Allah SWT telah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih telah dijanjikan akan mendapatkan surga nanti di akhirat, dengan ciri-ciri surga yang dijelaskan kemudian.
Di dalam Al-Quran ada disebutkan lafazh busyra yang juga merupaka kabar gembira, yaitu ketika saudara-saudara Nabi Yusuf ditemukan oleh sekelompok orang yang melintas padang pasir dan menemukannya untuk dijadikan budak yang dijual di pasar. Mereka mengatakan : (يا بشرى هذا غلام)
أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
Lafazh jannah dalam ayat ini dan juga dalam kebanyakan ayat lain dalam Al-Quran umumnya diterjemahkan sebagai surga, yaitu tempat yang Allah SWT sediakan untuk kita orang-orang yang beriman ketika sudah berada di akhirat nanti.
Allah SWT menyebutkan jannaat dalam bentuk jamak taksir, yang dipahami bahwa surga itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Yang disebutkan dalam Al-Quiran diantaranya bernama Firdaus (فردوس), Adn (عدن), An-Na'im (النعيم), Al-Ma'wa (المأوى) dan lainnya.
Namun kalau kita telusuri lebih dalam, ternyata ada juga kata jannah di dalam Al-Quran yang bukan bermakna surga, tetapi bermakna kebun di dunia ini yang banyak tumbuhan dan pepohonan. Setidaknya ditemukan hingga 30-an ayat berbeda yang menyebut jannah sebagai kebun dan bukan sebagai surga. Di antaranya ayat berikut :
Seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. (QS. Al-Baqarah : 265)
Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung (QS. Al-Anam : 141)
Sisanya silahkan dibaca sendiri pada ayat-ayat berikut :
Asal Kata Jannah
Namun sebenarnya kata jannah itu sendiri asal muasalnya dari kata janna (جَنَّ) yang artinya satara (سَتَرَ) 'menutupi'. Maka banyak istilah yang berakar kata dari janna punya persamaan yaitu ada unsur menutupi sesuatu. Beberapa contoh antara lain :
Kebun : Kebun itu disebut jannah, karena saking lebatnya pepohonannya sehingga menutupi orang dari penglihatan.
Malam : di dalam Al-Quran ada lafazh (فلما جن عليه الليل) yang maknanya ketika malam telah menutupi.
Jin : lafazh jin sebagai makhluk halus yang tidak terlihat karena mata kita ditutup untuk dapat melihat jin.
Junnah : dalam hadits disebutkan puasa adalah junnah yang artinya tameng, karena tameng itu menutupi kita dari senjata lawan.
Junun : Selain itu ada kata junun yang berarti kegilaan, karena orang gila itu tertutup akalnya.
Janin : lafazh janin yang maknanya jabang bayi dalam perut ibunya memang belum terlihat oleh mata karena tertutup rahim.
Karena surga memang tempatnya kenikmatan yang bermacam-macam, tentu segala macam bentuk kenikmatan tersedia di surga. Namun yang diceritakan dalam Al-Quran pastinya harus disesuaikan dengan siapa yang lagi diajak bicara oleh Al-Quran. Dan dalam hal ini karena Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi SAW, tentu saja bahasa pendekatannya akan disesuaikan dengan Beliau SAW, sebagai orang Arab yang hidup di abad keenam hijriyah.
Tidak mungkin misalnya Al-Quran menggambarkan surga berupa kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang serba modern. Orang-orang berseliweran naik mobil terbang, bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain lewat portal. Tentu tidak mungkin kalau Al-Quran menggambarkan surga seperti hayalan kita di abad ke-21 ini.
Sebab Al-Quran tidak diturunkan kepada kita, melainkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para shahabat dengan latar belakang kehidupan mereka yang spesifik, serta pemahaman mereka tentang konsep keindahan dan kenikmatan.
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
Lafazh tajri (تَجْرِي) secara makna berarti berlari, namun maksudnya adalah mengalir. Sebenarnya sungai itu tidak mengalir, karena yang mengalir itu air dan bukan sungainya. Sungai adalah tempat air mengalir. Namun tanpa harus disebutkan air mengalir di sungai, dan langsung dari disebutkan bahwa sungai itu mengalir, semua orang sudah paham bahwa yang mengalir itu airnya dan bukan sungainya. Gaya bahasa ini termasuk salah satu bentuk majaz atau metafora.
Metafora adalah suatu bentuk kiasan yang menggunakan perbandingan tidak langsung antara dua hal yang berbeda, dengan tujuan untuk memberikan makna yang lebih dalam atau memperkuat makna suatu kata, frasa, atau kalimat.
Ketika Allah SWT menyebutkan, "sungai mengalir" merupakan metafora untuk menggambarkan sesuatu yang terus bergerak atau berjalan dengan lancar. Sementara "air mengalir" merupakan kalimat yang tidak menggunakan metafora, tetapi merupakan deskripsi langsung dari sesuatu yang terjadi.
Lafazh min tahtiha (مِنْ تَحْتِهَا ) sering diterjemahkan menjadi : mengalir di bawahnya. Kemudian muncul pertanyaan : apa yang dimaksud dengan dari bawah surga mengalir sungai? Apakah sungainya ada di dalam surga, ataukah di luar surga namun sumber asal muasal airnya dari bawah surga?
Dan menjadi pertanyaan pula, kenapa digunakan istilah 'dari bawah' surga. Apakah maksudnya air sungai di surga bersumber dari bawah tanah yang jadi pijakan penduduk surga? Lalu mata air di surga itu kemudian menjadi sungai sebagaimana air sungai yang sumbernya dari mata air dari dalam tanah?
Memang benar bahwa di dalam surga disebutkan terdapat beberapa mata air, salah satunya mata air salsabil :
عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا
Sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil.(Q.S. Al-Insan: 17-18)
Nama Salsabil ialah cerminan dari sifat mata air tersebut yaitu airnya mengalir deras, lancar di tenggorokan saat diminum, serta lezat dan indah.
Selain itu juga ada mata air lain yang disebut bernama Tasnim.
Dan campurannya dari tasnim, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah). (Q.S. Al-Muthaffifin: 27-28)
Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa Tasnim ialah minuman penduduk surga yang dialirkan dari atas. Minuman termulia yang ada di surga. Dalam bahasa Arab, tasnim artinya tinggi. Sumber tasnim ada di tempat yang tinggi, lalu mengalir ke bawah.
Ada pula ulama yang menerangkan bahwa tasnim ialah mata air yang mengalir di udara, semua terjadi atas kuasa Allah. Airnya dibagikan ke wadah-wadah milik penghuni surga tepat sesuai ukurannya. Jika telah penuh, airnya berhenti mengalir, sehingga tidak setetes pun tumpah ke tanah... Ini keterangan dari Qatadah.” (Jamiʼ Ahkam Al-Qurʼan, 19/266)
الْأَنْهَارُ
Lafazh al-anhar merupakan bentuk jamak dari an-nahr yang bermakna sungai-sungai. Meski pun surga tidak bisa dibayangkan, namun penggambaran di surga ada banyak sungai nampaknya merupakan pendekatan ungkapan bahasa yang disesuaikan dengan sudut pandang bangsa Arab, khususnya dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dan para shahabat yang mulia.
Buat bangsa Arab yang umumnya tinggal di gurun pasir, atau setidaknya wilayah mereka memang banyak gurunnya, penggambaran bahwa di dalam surga terdapat banyak aliran sungai merupakan metafora yang paling mudah untuk menggambarkan keindahan secara pandangan umum.
Mengapa demikian?
Sebab bila dibandingkan dengan kita bangsa Indonesia yang tinggal di negeri dengan banyak hutan tropis dan sungai, penggambaran surga dengan penyebutan banyak sungai menjadi tidak terlalu eksotik lagi. Toh setiap hari memang sudah tinggal di daerah yang banyak sungai.
Dan ungkapan di surga ada banyak sungai menjadi semakin simbolik ketika Al-Quran malah menggambarkan sungai dengan aliran susu, khamar dan madu. Tentu akan menjadi sangat abstrak untuk membayangkan sungai yang airnya bukan air. Namun demikian lah memang Allah ingin memberikan gambaran yang abstrak terkait sungai di surga.
(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (QS. Muhammad : 15)
كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا
Lafazh kullama (كُلَّماَ) merupakah zharaf zaman yang berfungsi menjadi syarat. Dimaknai menjadi : 'setiap kali'.
Lafazh ruziqu (رُزِقُوا) adalah fi'il madhi mabniyyun lil-majhul. Maknanya mereka yaitu para penghuni surga diberi rizki, maksudnya diberi makanan berupa hasil tanaman di surga.
Lafazh minha (منها), bermakna dari surga, maksudnya makanan yang tersedia di dalam surga.
Lafazh min tsamarat (من ثمرات) sering diterjemahkan menjadi buah-buahan, walaupun makna tsamarat itu lebih luas dari sekedar buah-buahan, yaitu apapun yang bisa dimakan yang sumbernya dari tanaman alias berbahan nabati. Hasil tanaman tidak hanya sebatas buah-buahan, tetapi bisa juga berupa bulir seperti padi dan gandum. Hasil tanaman bisa juga berupa dedaunan seperti salad dan sayuran. Hasil tanaman bisa juga berupa akar atau umbi seperti singkong, ubi, talas, kentang dan umbi-umbian lainnya. Hasil tanaman juga bisa berupa batang seperti tebu.
قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ
Lafazh qaalu (قالوا) merupakan fi'il madhi yang bermakna : mereka berkata.
Sedangkan lafazh ruziqna (رُزِقْنَا) merupakan fi'il madhi mabniyun lil-majhul. Maknanya diberi rizki yaitu memakan hasil tanaman.
Lafazh min qablu (من قبل) bermakna : sejak sebelumnya, maksudnya sewaktu hidup di alam dunia sebelum masuk ke dalam surga.
Ayat ini menjelaskan bahwa penduduk surga itu diberi makan berupa hasil tanaman yang penampakannya mirip dengan apa yang dulu di dunia mereka memakannya. Sehingga awalnya mereka mengira makanan itu adalah makanan yang sama sekali masih di dunia.
Namun meski ada kesamaan dalam penampakan, ternyata makanan-makanan di surga tetap berbeda dengan makan di dunia ini.
وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا
Lafazh utu bihi (وَأُتُوا بِهِ) maknanya adalah : diberikan kepada mereka. Karena di surga makanan itu tidak perlu lagi diusahakan atau diolah, tetapi sudah jadi dan tinggal disantap begitu saja tanpa harus repot bekerja, bertani atau berladang. Ibarat kata, tidak perlu menanam tapi langsung panen begitu saja.
Lafazh mutasyabiha (مُتَشَابِهًا) maknanya keserupaan atau kesamaan. Maksudnya makanan yang diberikan kepada penduduk surga itu ada kesamaan dengan makanan lainnya yang sudah pernah makan sebelumnya.
Namun ternyata itu makanan yang berbeda, meskipun dari segi penampakan ada kemiripan. Diberikan kepada mereka makanan yang menyerupai makanan yang pernah mereka makan sebelumnya, baik di dunia atau di surga.
أَزْوَاجٌ
Lafazh azwaj (أزواج) merupakan bentuk jamak, bentuk tunggalnya zauj (زوج) yang maknanya adalah pasangan. Kebanyakan para mufassir mengatakan bahwa pasangan yang dimaksud adalah bidadari atau hurun 'ien, yang memang dipasangkan sebagaimana banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran :
كَذَٰلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ
Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. (QS. Ad-Dukhan : 54)
Ada perbedaan mendasar tentang pasangan yang disebut bidadari ini dalam konsep keyakinan orang barat. Digambarkan dalam literatur mereka bahwa bidadari itu punya sayap. Padahal dalam konsep Al-Quran, bidadari itu tidak punya sayap.
Yang disebut-sebut memiliki sayap itu bukan bidadari tetapi malaikat, bahkan sayapnya bukan hanya dua tetapi tiga bahkan empat, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut :
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai maca
m urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. (QS. Fathir : 1)
Nampaknya dalam konsep Barat ada semacam kerancuan antara konsep bidadari dengan malaikat. Hal itu bisa dengan mudah kita buktikan dari sisi penyebutan keduanya yang sama-sama dinamakan 'angel'. Kalau kita buka kamus Inggris-Indonesia atau Indonesia-Inggris, bidadari mereka namakan dengan 'angel', dan malaikat pun mereka sebut juga 'angel'. Dugaan kita mereka menyamakan antara bidadari dengan malaikat.
Benar sekali bahwa penampakan malaikat itu bagus, menarik dan rupawan. Namun kalau malaikat dipersepsikan sebagaimana bidadari tentu keliru. Sebab dalam beberapa ayat disebutkan bahwa ada juga malaikat yang keras sifatnya :
Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
Bahkan malaikat Jibril pernah menampakkan diri di hadapan Maryam, ibunda Nabi Isa alaihissalam dalam rupa seorang laki-laki yang sempurna.
maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS. Maryam : 17)
Di dalam hadits Jibril yang terkenal itu, juga disebutkan bahwa Jibril menampakkan diri sebagai laki-laki yang sangat hitam rambutnya dan sangat putih bajunya.
Tatkala kami sedang bersama Rasulullah SAW di suatu hari, tiba-tiba muncul di tengah kami sesosok laki-laki yang amat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya. Tak nampak pada dirinya tanda habis menempuh perjalanan jauh, namun tak seorang pun dari kami yang mengenalnya . . . (HR. Muslim)
Maka jelas sekali bahwa antara Islam dan Barat berbeda konsep tentang malaikat dan bidadari, jangan sampai kita yang muslim tertukar konsep karena terpengaruh dengan literatur milik orang lain.
مُطَهَّرَةٌ
Lafazh mutahharah (مطهرة) bermakna suci, maksudnya pasangan-pasangan di surga nanti statusnya suci belum ternoda atau masih perawan. Hal itu sesuai dengan ayat berikut :
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. (QS. Ar-Rahman : 56)
Namun sebagian kalangan mufassir ada juga yang memaknainya sebagai suci dalam arti thaharah yaitu suci dari haidh, nifas dan hadats.
Seolah-olah keberadaan pasangan-pasangan itu diciptakan hanya semata untuk sekedar kesenangan birahi semata. Karena kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya di dunia ini, tentulah secara biologis mereka akan mengalami siklus haidh secara rutin, yang berdampak pada suaminya jadi tidak bisa menyetubuhinya. Itulah mengapa bidadari muthahhar, karena dengan tidak haidh mereka bisa disetubuhi setiap waktu.
Memang di dunia ini ada juga wanita yang tidak haidh, misalnya wanita yang masih dibawah umur, namun tentu saja bukan wanita yang bisa disetubuhi. Demikian juga wanita yang sudah usia tua memang tidak lagi haidh, namun dalam urusan biologis juga sudah tidak lagi memungkinkan.
Dan itulah bedanya dengan bidadari di surga, mereka perawan terus, muda terus, dan tidak perlu melalui masa haidh, nifas, apalagi menopouse.
Apabila wanita tidak mengalami haidh, maka dipastikan juga wanita itu tidak subur dan tidak mungkin punya anak. Karena haidh itu sendiri pada dasarnya sel telur wanita yang gugur karena tidak dibuahi. Dan oleh karena itu bila seorang wanita pada dasarnya tidak mengalami haidh, berarti dia memang tidak punya sel telur.
Kalau tidak punya sel telur, mana bisa hamil. Dan memang wanita surga yang sering disebut bidadari itu diriwayatkan tidak akan hamil meski disetubuhi.
Dan karena tidak bisa hamil, maka tidak akan melahirkan anak. Dan karena tidak pernah melahirkan anak, mereka juga tidak pernah mengalami nifas. Padahal wanita di dunia ini selain haidh juga nifas apabila baru saja melahirkan anak. Selama haidh dan nifas tentu saja tidak bisa disetubuhi oleh suaminya.
Karena itulah para bidadari itu didesain untuk tidak haidh dan tidak nifas, mereka muthahharah sepanjang masa. Sehingga ada yang memaknai istilah muthahharah sebagai : selalu siap diajak berhubungan suami istri. Dan ungkapan ini biasa diucapkan oleh pasangan-pasangan suami istri, sebagai ajak untuk berhubungan, yaitu ketika istri mengatakan bahwa dirinya telah suci.
خَالِدُونَ
Lafazh khalidun (خالدون) dimaknai sebagai kekal atau abadi. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan hidup abadi (immortal), yaitu hidup untuk setersnya dan akan tidak mengalami kematian.
Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Lain halnya apabila Allah SWT berhendak memusnahkan semua ciptaannya sehingga tidak ada akhirat, tidak ada surga dan tidak ada neraka. Tentunya itu hal semacam itu merupakan kemustahilan bagi Allah.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebernya adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuknya Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, imortal, tidak mati-mati hingga selamanya.Al-Quran menceritakan dengan gamblang :
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)