Kemenag RI 2019:Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya. Prof. Quraish Shihab:Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Prof. HAMKA:Dan orang-orang yang beriman dan beramal yang saleh-saleh, mereka itu adalah penghuni surga; mereka pun akan kekal di dalamnya.
Setelah menjelaskan posisi orang yang matinya dalam keadaan kafir dipastikan abadi menjadi penghuni neraka dan tidak bisa keluar lagi, maka di ayat ke-82 ini Allah SWT menjelaskan posisi yang sebaliknya, yaitu orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dimana posisinya nanti di akhirat akan menjadi penghuni abadi surganya Allah.
وَالَّذِينَ آمَنُوا
Ada dua hal yang Allah SWT sebutkan agar seseorang bisa masuk surga dan abadi di dalamnya. Yang pertama adalah iman dan yang kedua adalah amal shalih.
Lafazh aamanu (آمَنُوا) maknanya mereka beriman. Maksudnya bahwa beriman kepada Allah SWT itu adalah dasar pijakan syarat masuk surga. Orang tidak beriman pastinya tidak akan masuk surga. Dalam hal ini iman bukan hanya kepada Allah SWT semata, namun juga harus beriman kepada adanya hari akhir, baik itu alam kubur, hari kiamat, hari kebangkitan, hisab hingga akhirnya surga dan neraka.
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Lafazh amilush-shalihat (وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ) sering diterjemahkan dengan : amal shalih. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa untuk bisa masuk surga, ternyata iman saja tentu tidak cukup, tapi harus juga ada usaha yang disebut dengan ‘amal shalih’.
Sekilas memperhatikan ungkapan iman dan amal shalih, ayat ini nampak membedakan antara iman secara konsepsi, dengan amal shalih yang didasari dengan iman. Dan ini bisa diterima karena kadang ada juga pengertian iman yang didalamnya sudah terkandung amal.
Lalu apakah yang dimaksud dengan amal shalih? Tentu saja segala perbuatan baik yang melahirkan pahala di sisi Allah. Kalau dibagi lagi maka bisa kita rinci bahwa amal shalih ada yang sifatnya ritual peribadatan seperti shalat, puasa, umrah, haji, dan lainnya. Namun ada juga yang sifatnya non-ritual ibadah seperti segala yang halal dan diridhai Allah SWT serta membawa kemashlahatan baik kepada diri sendiri atau pun orang lain.
Mereka adalah penduduk surga dan mereka hidup kekal di dalamnya. Kekekalan hidup di surga itu disebabkan karena orang yang sudah masuk surga tidak akan keluar lagi. Sedangkan orang yang berada di dalam surga juga tidak akan mati, dia akan hidup terus selamanya.
Kalau kita ingat kenapa dahulu Iblis berhasil membujuk Adam untuk makan buah khuldi, ternyata rayuan yang ditawarkannya itu berupa keabadian alias hidup abadi. Setan menamakan pohon tersebut pohon keabadian alias syajaratul-khuldi (شجرة الخلد), karena menurutnya, jika Adam dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dapat kekal selama-lamanya dalam surga.
Padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya, yaitu apabila ia dan istrinya memakan buah pohon itu, maka mereka akan dikeluarkan dari surga, karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap larangan Allah SWT.
Secara tersamar kita bisa menangkap begitu inginnya Adam memakan buah terlarang itu, ketika diiming-imingi bisa hidup abadi dalam bentuk kerajaan yang tidak akan tumbang.
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)