Kemenag RI 2019:(yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Prof. Quraish Shihab:
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah swt. dan Rasul saw.) yang kepada mereka (ada) orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia (kaum musyrik) sungguh telah mengumpulkan (kekuatan) menghadapi kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka (perkataan itu) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah bagi kami Allah dan Dia adalah sebaik-baik Wakil''
Prof. HAMKA:
Manusia telah berkata kepada mereka, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan (tentara) untuk (memerangi) kamu, takutlah kamu kepada mereka.” Maka (kata-kata) itu telah membawa iman mereka, dan mereka berkata, “Allah cukup bagi kami dan Dialah sebaik-baik penjaga.”
Peristiwa ini sangat erat kaitannya dengan perang lanjutan dari Perang Uhud yang lebih dikenal sebagai Perang Hamra'ul Asad, pasca kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud. Meskipun terluka dan kelelahan, Nabi SAW bersama para sahabatnya bergerak menuju Hamra'ul Asad, sebuah wilayah berjarak kurang dari 20 km ke arah Barat Daya Madinah menuju ke arah Mekkah.
Tujuannya selain untuk menghadang pasukan Quraisy yang berniat menyerang balik, juga untuk meningkatkan moral pasukan muslimin. Meskipun terluka, Nabi SAW menghimpun para sahabat yang masih mampu berperang, termasuk mereka yang terluka dalam Uhud.
Ternyata siasat yang Nabi SAW lancarkan berhasil, pasukan bergerak cepat menuju Hamra'ul Asad untuk mengejutkan Quraisy. Apalagi Nabi SAW memerintahkan pasukan untuk membakar api unggun di malam hari, sehingga terkesan pasukan muslimin sangat besar jumlahnya dan membuat Quraisy ragu untuk menyerang.
Hamra'ul Asad menjadi kemenangan moral bagi umat Islam. Kepercayaan diri dan semangat mereka pulih kembali. Keberhasilan ini mencegah Quraisy melancarkan serangan besar ke Madinah dalam waktu dekat.
Perang Hamra'ul Asad merupakan bukti kegigihan dan strategi Rasulullah SAW dalam melindungi umat Islam. Keberhasilannya dalam menggagalkan serangan Quraisy dan membangkitkan semangat pasukan menjadikannya momen penting dalam sejarah Islam.
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ
Lafazh al-ladzina (الَّذِينَ) artinya : mereka orang-orang yang. Kata qaala lahum (قَالَ لَهُمُ) artinya : berkata kepada mereka. Kata an-nasu (النَّاسُ) artinya : orang-orang, yang dimaksud adalah Nu'aim bin Mas'ud. Dia mengatakan bahwa orang-orang, yaitu Abu Sufyan telah mengumpulkan kekuatan untuk menyerang kamu.
إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ
Lafazh inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata an-naasa (النَّاسَ) artinya : orang-orang. Maksudnya orang-orang musyrikin Mekkah, yang mana mereka di bawah komando para pemuka Quraisy. Dan tokoh besarnya Abu Sufyan.
Kata qad (قَدْ) artinya : telah atau sungguh telah. Kata jama’uulakum (جَمَعُوا) artinya : berkumpul untuk kamu, maksudnya kaum musyrikin Mekkah di bawah pimpinan Abu sufyan telah mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kamu, yaitu kaum muslimin.
Lafazh fakhsyau-hum (فَاخْشَوْهُمْ) artinya : maka takutlah kepada mereka. Itulah ancaman menakut-nakuti yang disampaikan oleh Nu’aim bin Mas'ud itu, guna menyembunyikan kelemahan yang ada pada Abu Sufyan sendiri, yang gentar, mengadakan peperangan pada tahun itu, karena kemarau tahun itu panjang.
فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
Kata fa-zada-hum (فَزَادَهُمْ) artinya : maka menambahkan kepada mereka. Kata imanan (إِيمَانًا) artinya iman.
Artinya kata ancaman itu tidaklah melemahkan hati mereka, terutama setelah mereka mendengar ucapan pemimpin dan Nabi mereka bahwa beliau akan pergi juga ke Hamraul Asad memenuhi tantangan musuh itu walaupun sendirian. Jadi ancaman dan gertakan itu tidakah melemahkan, melainkan menambah iman mereka.
وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Lafazh wa-qalu (وَقَالُوا) artinya : dan mereka berkata. Kata hasbunallahu (حَسْبُنَا اللَّهُ) artinya : cukuplah Allah bagi kami. Kata wa ni’mal wakil (وَنِعْمَ الْوَكِيلُ) artinya : Dia Allah adalah sebaik-baik pelindung.
Asy-Sya’bi meriwayatkan dari Ibnu Umar, begitu juga Abi Adh-Dhuha meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma bahwa lafazh : (حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ) adalah ucapan yang keluar dari mulut Nabi Ibrahim alaihissalam ketika akan dilemparkan ke dalam api yang membakar.
Maka lafazh itu pula yang diucapkan oleh Nabi SAW ketika harus menghadapi fakta bahwa orang-orang kafir Mekkah yang sudah pulang dari Perang Uhud ternyata berniat kembali lagi ke Madinah untuk meneruskan perang. Sementara jumlah mereka cukup besar.
Hasbunallah Wa Ni'mal Wakil
Lafazh yang maknanya : cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung ini termasuk di antara ungkapan doa atau kata-kata yang memiliki pengaruh besar pada manusia. Salah satu merupakan ucapan Nabi Muhammad SAW ketika berada pada posisi mau diserang balik dalam peperangan.
orang-orang yang mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung'. (QS. Ali Imran: 173).
Diriwayatkan bahwa Imam Malik rahimahullah punya cincin yang bertuliskan (حسبى الله ونعم الوكيل). Ketika ditanya oleh Mutarrif bin Abdullah tentang rahasia memilih ayat ini, Imam Malik menjawab: "Aku mendengar ayat yang mengandung kalimat tersebut. Dan hasilnya para shahabat yang awalnya pasrah karena akan diserang ole hpasukan kafir musyrikin Mekkah, ternyata sampai di tujuan, pasukan musuh tidak jadi datang, sehingga mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa".
Mendengar jawaban itu, Mutarrif menghapus tulisan di cincin nya dan menggantinya dengan tulisan (حسبى الله ونعم الوكيل)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Ibrahim a.s. dilemparkan ke dalam api, dia berkata : (حسبى الله ونعم الوكيل). Maka atas izin Allah, api yang seharusnya membakar tubuh Nabi Ibrahim itu diperintahkan oleh Allah untuk menjadi dingin dan memberikan keselamatan kepada Beliau.
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", (QS. Al-Anbiya : 69)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di dekat Ka'bah dan kemudian pergi, Hajar bertanya kepadanya: "Kepada siapa engkau meninggalkan kami?" Ibrahim menjawab: "Kepada Allah". Hajar berkata (حسبى الله ونعم الوكيل)ز Dia kemudian kembali dan tinggal bersama anaknya sampai airnya habis dan air susunya pun ikutan berhenti. Hajar kemudian mendaki bukit Shafa untuk melihat apakah ada sumber air atau seseorang, tetapi tidak menemukan apa-apa. Dia berdoa kepada Tuhan dan memohon air. Kemudian dia turun ke bukit Marwah dan melakukan hal yang sama. Kemudian dia mendengar suara binatang buas, takut pada anaknya, dan berlari ke arah Ismail yang sedang menggerakkan tangannya mencari air dari mata air yang memancar di bawah kakinya.