Kemenag RI 2019:(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang jauh antara dia dan hari itu. Allah memperingatkan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya. Prof. Quraish Shihab:
Pada hari ketika setiap jiwa menemukan segala apa yang telah dikerjakannya dari sedikit kebaikan pun dihadirkan (di hadapannya), dan apa yang telah dikerjakannya dari kejahatan; dia ingin kalau kiranya antara dia dengan kejahatan itu ada jarak yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
Prof. HAMKA:
(lngatlah) akan hari yang tiap-tiap orang akan menerima ganjaran amal baik yang telah tersedia. Dan, amalan-amalan yang buruk pun, inginlah dia (kiranya) di antara balasan amal buruknya ltu dengan dirinya diantarai oleh masa yang jauh. Dan, Allah memperingatkan kamu benar-benar akan diri-Nya. Dan, Allah amatlah sayang kepada hamba-hamba-Nya.
Ayat ke-30 ini pastinya masih merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, yang sedang mengangkat tema terkait dilarangnya seorang muslim lebih mencintai dan membela orang kafir meskipun masih keluarga atau kerabatnya, dengan cara yang mencelakakan sesama kaum muslim. Dan siapa yang melakukan larangan semacam itu, maka pada ayat ini Allah SWT memberikan ancaman berupa siksa di akhirat nanti.
Digambarkan bahwa kalau nanti diberikan catatan amal buruk selama di dunia, pastilah dia ingin dijauhkan dari amal buruknya itu sejauh-jauhnya.
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ
Lafazh yauma (يَوْمَ) artinya secara harfiyah adalah hari. Namun kalau kita perhatikan berbaris fathah alias manshub, maka timbul pertanyaan, yaitu apa yang membuatnya manshub? Ternyata ada beberapa kemungkinan yang dikemukakan oleh para ulama, antara lain :
Pertama, ada yang mengatakan bahwa kata yauma itu manshub oleh penggalan (وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ). Seolah-olah kalimatnya adalah (ويُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ في ذَلِكَ اليَوْمِ).
Kedua, Al-Anbari mengatakan bahwa kata yauma itu manshub oleh (وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ).
Ketiga, ada juga yang mengatakan bahwa kata yauma itu manshub oleh (وَاللَّهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ يَوْمَ تَجِدُ). Seolah-olah kalimatnya adalah (قَدِيرٌ في ذَلِكَ اليَوْمِ الَّذِي تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ ما عَمِلَتْ مِن خَيْرٍ مُحْضَرًا).
Keempat, ada juga yang mengatakan bahwa kata yauma itu manshub oleh kata tawaddu : (تَوَدُّ كُلُّ نَفْسٍ كَذا وكَذا في ذَلِكَ اليَوْمِ)
Kelima, ada juga yang mengatakan bahwa kata yauma itu menjadi manshub karena diawali dengan perintah untuk mengingat, sehingga seolah-olah kalimat selengkapnya adalah : (واذْكُرْ يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ).
Terjemahan Kementerian Agama RI dan Buya HAMKA nampaknya memilih yang terakhir, keduanya menuliskan dalam tanda kurung (ingatlah).
Lafazh tajidu (تَجِدُ) adalah fi’il mudhari’ yang bentuk madhi-nya adalah (وَجَدَ - يَجِدُ) yang bermakna : mendapatkan.
Sedangkan fa’ilnya adalah kullu nafsin (كُلُّ نَفْسٍ) yaitu semua jiwa. Maksudnya adalah semua manusia dan termasuk juga para jin, atau lebih tepatnya adalah para mukallaf, yaitu mereka yang secara teknis telah diberi taklif atau beban untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan menajuhi larangannya.
مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
Lafazh maa ‘amilat (مَا عَمِلَتْ) artinya : apa yang telah diamalkan, atau dikerjakan selaam hidup di dunia. Sedangkan lafazh min khairin (مِنْ خَيْرٍ) artinya : dari yang baik. Sedangkan lafazh muhdharan (مُحْضَرًا) artinya : dihadirkan.
Tentu bukan amal yang dihadirkan, karena amal itu sudah terjadi di masa ketika hidup di dunia. Lalu apa yang dihadirkan saat itu? Jawabannya adalah sebagaimana yang difirmankan dalam ayat berikut, yaitu catatan amalnya.
Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Jatsiyah : 29)
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Mujadilah : 6)
وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ
Lafazh maa ‘amilat (مَا عَمِلَتْ) artinya : apa-apa yang telah dia amalkan, sedangkan makna min suu’in (مِنْ سُوءٍ) adalah : yang termasuk kejahatan atau keburukan.
Sebenarnya penggalan ini mirip dengan penggalan sebelumnya, yaitu juga akan dihadirkan. Namun disini tidak disebutkan kata muhdharan sebagaimana penggalan sebelumnya. Namun langsung disebutkan reaksi si pelakunya, yaitu dia menginginkan dijauhkan sejauh-jauhnya dari amal buruknya.
Namun para prinsipnya bahwa semua amal tiap hamba itu ada catatannya, apakah itu amal yang baik ataupun amal yang buruk. Bahkan meski pun amal itu hanya seringan dzarrah pun, juga akan diperlihatkan, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini :
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Lafazh tawaddu (تَوَدُّ) artinya menginginkan, atau lebih tepatnya mengangankan. Sebab keinginan itu nyaris tidak akan pernah bisa terwujud, sehingga yang tersisa hanya penyesalan belaka tanpa bisa terlaksana.
Asalnya dari kata wudd (وُدّ) yang maknanya cinta. Dari asal kata ini pula terbentuk kata mawaddah (مَوَدَّة) sebagaimana banyak kita temukan dalam Al-Quran dengan makna rasa kasih, salah satunya dalam ayat berikut ini :
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.(QS. Ar-Rum : 21)
Namun dalam konteks ayat ini, yawaddu lebih tepat bila diterjemahkan menjadi : amat menginginkan atau keinginan yang amat kuat. Dan makna itu pula yang kita gunakan ketika menerjemahkan ayat berikut ini :
Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (QS. Al-Hijr : 2)
Lafazh lauanna (لَوْ أَنَّ) maknanya : seandainya, sedangkan lafazh bainaha wa bainahu (بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ) mungkin sedikit agak unik, karena keduanya hanya menggunakan dhamir.
Dhamir yang pertama adalah (ها) yang merupakan dhamirmuanntas (perempuan) dan itu mewakili jiwa atau nafs. Dhamir yang kedua adalah (ـهُ) yang merupakan dhamir mudzakkar (laki) dan itu mewakili kata suu’ (سوء) yang artinya keburukan. Sehingga kalau diterjemahkan menjadi : “antara dirinya dan amal buruknya”.
Lafazh amadan (أَمَدًا) artinya jarak. Maksudnya jarak secara tempat, namun sebagian ulama ada juga yang mengatakan bahwa jarak yang dimaksud adalah jarak waktu. Sedangkan lafazh ba’idan (بَعِيدًا) artinya : jauh.
وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
Lafazh yuhadzdzir (يُحَذِّر) maknanya Allah memberi tahdzir alias peringatan. Peringatan yang dimaksud adalah teguran yang diiikuti dengan beberapa ancaman yang menakutkan.
Sedangkan lafazh nafsahu (نَفْسَهُ) secara bahasa bermakna : diri-Nya, yaitu diri Allah SWT. Maksudnya bahwa Allah SWT mentahdzir atau menegur para hamba-Nya dengan menggunakan diri Allah SWT. Oleh banyak ulama ditafsirkan bahwa yang dimaksud diri Allah SWT dalam hal ini adalah ancaman siksaan di neraka.
Sehingga penggalan ini bisa dipahami secara utuh menjadi : Dan Allah SWT menegurmu lewat ancaman-ancaman siksa api neraka.
وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Lafazh wallahu raufun (وَاللَّهُ رَءُوفٌ) oleh beberapa versi terjemahan diterjemahkan secara umum menjadi : “dan Allah Maha Penyayang”.
Sebenarnya kata rauf ini yang lebih tepat bukan penyayang, melainkan merasa kasihan atau jatuh iba. Kata ini merupakan bentuk sighah mubalaghah dari kata ra’fah (رأفة) yang maknanya rasa kasihan, tidak tega dan jatuh iba. Kasusnya muncul ketika Allah SWT memerintahkan untuk mencambuk pezina dan tidak perlu merasa kasihan kepada yang dicambuk, juga tidak perlu merasa iba atau tidak tega. Kalau memang berzina maka hukumannya dicambuk 100 kali cambukan.
Hal itu memang tertuang di dalam surat An-Nur yang memerintahkan ketika mencambuk pelaku zina agar tidak perlu merasa kasihan, iba atau tidak tega.
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. (QS. An-Nur : 2)
Sedangkan lafazh bil ibad (بِالْعِبَادِ) artinya : kepada hamba-hamba.