''Kebenaran mutlak datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau termasu k orang-orang yang ragu.
Kebenaran adalah dan Tuhan engkau maka janganlah engkau termasuk orang yang ragu-ragu.
Lafazh al-haqqu (الْحَقُّ) artinya : kebenaran. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya sedikit berbeda, yaitu : kebenaran mutlak.
Para mufassir umumnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘kebenaran’ disini adalah terkait dengan penciptaan Nabi Isa alaihissalam. Maksudnya versi kisah kelahiran Nabi Isa ini adalah versi yang benar, sedangkan versi-versi lainnya tidak benar.
Dasarnya karena semua versi itu hanya dugaan, asumsi, bahkan hayalan belaka. Sedangkan yang datang dalam Al-Quran adalah kisah yang paling valid, karena sumbernya datang dari Allah SWT.
Lafazh min rabbika () artinya : dari Tuhanmu, yaitu dari Allah SWT yang memang sejak awal mendesain proses penciptaan Nabi Isa, dan juga yang langsung mengerjakan proses penciptaannya. Maka wajar kalau Allah SWT adalah pihak yang paling tahu bagaimana kisah terkait Nabi Isa alaihissalam.
Sedangkan versi dari kaum Nasrani sendiri sudah mengalami banyak distorsi dan kepalsuan. Hal itu mudah saja untuk dibuktikan, cukup dengan melihat ada begitu banyak versi kisah Nabi Isa menurut berbagai faksi dan kelompok di tengah yang justru saling bertentangan. Masing-masing pihak justru saling tidak percaya dengan versi teman-temannya sendiri.
Adapun versi dari kalangan Yahudi pun sudah pasti kita tolak, karena menuduh Nabi Isa sebagai anak haram hasil zina Maryam dengan laki-laki yang bukan suaminya. Jelas-jelas versi Yahudi sangat tidak layak untuk disebutkan, karena mereka memang sangat benci dengan kenabian Isa alaihissalam.
Lafazh fala takunanna (فَلَا تَكُنْ) artinya : janganlah sekali-kali kamu menjadi, lafazh minal mumtarin (مِنَ الْمُمْتَرِينَ) artinya : termasuk orang-orang yang meragukan.
Memang ada banyak orang yang meragukan kebenaran kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Dan pada dasarnya semua saling tidak bisa percaya dengan versi-versi temannya.
Namun khusus yang versi dari Allah SWT sebagaimana dituturkan di dalam Al-Quran, maka itulah versi yang paling benar. Maka larangan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan juga kita sebagai umatnya, yaitu tidak boleh meragukan versi kisah Nabi Isa alaihissalam, sebagaimana keragunan yang melanda orang-orang di luar Islam.