Kemenag RI 2019:Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, Nabi ini (Nabi Muhammad), dan orang-orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:
'Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikutinya dan Nabi ini serta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang mukmin. "
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya, manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang menurutkan dia dan Nabi ini dan orang-orang yang beriman. Dan, Allah adalah pembela dari orang-orang yang beriman.
Ayat 68 dari Surat Ali Imran ini menyambung apa yang dibicarakan di ayat 67 sebelumnya terkait dengan Nabi Ibrahim yang diklaim secara keliru oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Yahudi mengklaim bahwa Nabi Ibrahim itu orang Yahudi, sedangkan Nasrani mengklaim bahwa Nabi Ibrahim itu orang Nasrani. Tentu keduanya sama-sama keliru, karena tidak ada pihak yang paling berhak mengklaim apa agama yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim kecuali para pengikut Beliau di zamannya atau Nabi Muhammad SAW sendiri yang mendapatkan informasi langsung dari Allah SWT. Lalu yang ketiga adalah umat Nabi Muhammad SAW, yang mendapatkan informasi dari Al-Quran dan Hadits.
Lafazh inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Makna aula (أَوْلَى) secara bahasa artinya lebih utama. Namun para ulama mengatakan maksudnya adalah yang paling berhak. Sedangkan dalam terjemahan Kemenag RI, Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA, ditejemahkan menjadi : paling dekat.
Dan lafazh an-nas (النَّاسِ) artinya : manusia atau orang.
Maksud penggalan ayat ini bahwa orang atau pihak yang paling berhak atas Nabi Ibrahim, untuk menyebutkan agama apa yang dianut oleh beliau adalah orang-orang yang jadi pengikut beliau di masanya.
Lafazh lalladzina-taba’uhu (لَلَّذِينَ اتَّبَعُوه) artinya : pastilah orang-orang yang menjadi pengikutnya.
Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pengikut Nabi Ibrahim adalah mereka yang hidup di masa kenabian beliau dan menjadi muridnya langsung.
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang Yahudi tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Ibrahim, sehingga tidak pernah tahu Nabi Ibrahim memeluk agama apa. Begitu juga orang-orang Nasrani, mereka pun tidak pernah bertemu Nabi Ibrahim secara langsung. Dari mana mereka bisa tahu agama apa yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim.
وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا
Lafazh wa hadzan-nabiyyu (وَهَٰذَا النَّبِيُّ) artinya : dan nabi ini, maksudnya Nabi Muhammad SAW. Sedangkan lafazh walladzina amanu (وَالَّذِينَ آمَنُوا) maksudnya adalah umat Nabi Muhammad SAW.
Penggalan ini menegaskan sekali lagi bahwa kalau pun ada yang tahu agama apa yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim, maka hanya ada tiga pihak saja, yaitu :
1. Murid Nabi Ibrahim
Orang-orang yang jadi murid Nabi Ibrahim secara langsung di masanya adalah mereka yang paling tahu agama apa yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim. Mereka bukan hanya tahu tetapi memang benar-benar menjadi pelakunya langsung.
2. Nabi Muhammad SAW
Meskipun terpaut jarak waktu hingga 26 abad jauhnya, namun Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi utusan Allah SWT yang mendapatkan begitu banyak informasi terkait kisah dan sosok para nabi dan umat terdahulu.
Selain mendapat informasi lewat jalur wahyu dari Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril alaihissalam, Nabi Muhammad SAW memang pernah secara fisik bertemu langsung dengan Nabi Ibrahim alaihissalam.
3. Umat Nabi Muhamamd SAW
Pihak ketiga yang mengetahui agama apa yang dipeluk Nabi Ibrahim adalah umat Nabi Muhammad SAW. Selain para shahabat yang hidup bersama Beliau, kita pun yang sudah terpaut jarak hingga 4 ribu tahun lebih, justru malah lebih banyak punya informasi tentang agama yang dipeluk Nabi Ibrahim.
Kita mendapatkan informasi tentang agama Nabi Ibrahim baik lewat Al-Quran ataupun lewat informasi dari Nabi Muhammad SAW. Keduanya adalah sumber agama kita yang dijamin terpelihara sepanjang masa, bahkan sampai hari kiamat.
وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
Lafazh wali (وَلِيٍّ) punya banyak makna tergantung konteksnya. Lafazh ini tersebar di banyak ayat Al-Quran dengan berbagai macam makna yang boleh jadi masing-masing saling berbeda.
1. Raja Atau Pemimpin
Dalam beberapa ayat bisa bermakna pemimpin dalam arti raja atau pemimpin negara, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini :
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al-Araf : 3)
2. Teman
Terkadang lafaz wali di dalam Al-Quran bisa juga bermakna teman, sebagaimana yang bisa kita baca di ayat berikut :
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya (QS. Ali Imran : 175)
Terjemahan Kemenag ini tegas menyebutkan bahwa ‘auliya’ di ayat ini maknanya bukan pemimpin, tetapi teman-teman. Logikanya, setan itu menakuti manusia dan bukan menakuti sesama setan, apalagi menakuti pemimpin setan. Yang dibikin takut itu pastinya manusia, yang posisinya sebagai teman setan dan bukan sebagai pemimpin dari setan.
3. Orang Yang Dekat Hubungan
Kadang ‘wali’ itu bermakna sebagai pihak yang punya kedekatan khusus, seperti sebutan waliyullah atau auliya’ullah pada ayat berikut :
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus : 62)
Sangat tidak mungkin kalau lafazh ‘wali’ di ayat ini kita paksa terjemahkan menjadi : pemimpin Allah. Jelas terlalu kasar dan tidak logis, masak manusia memimpin Allah? Tentu yang dimaksud dengan istilah ‘wali’ disini pastinya bukan pemimpin, tetapi orang-orang yang kedudukannya sangat dekat kepada Allah, yaitu para wali.
4. Bertindak Sebagai Orang Tua
Dan terkadang makna wali dalam Al-Quran juga bisa bermakna sebagai wakil atau yang bertindak sebagai orang tua dari seorang anak kecil yang belum mencapai usia dewasa. Perhatikan ayat berikut ini yang juga merupakan ayat yang paling panjang dalam Al-Quran :
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ
Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (QS. Al-Baqarah : 282)
Lafazh wali dalam ayat ini tidak mungkin diterjemahkan sebagai wali dalam arti raja atau pemimpin, apalagi sebagai pemimpin atau kepala negara. Tapi wali disini sebagaimana kita mengenal istilah ‘wali’ murid, yaitu seperti layaknya orang tua sendiri.
Untuk bisa membedakan kapan lafazh wali itu maknanya sebagai pemimpin, teman, yang dekat hubungannya ataupun layaknya orang tua, setidaknya perlu dibaca ulang tafsir dan asbabun-nuzul dari masing-masing ayatnya. Sebab meski satu kata yang sama, begitu posisinya ada di ayat yang berbeda, seringkali maknanya ikut jadi berbeda.
Dengan berbagai macam variasi makna di atas, kalau kita kaitkan dengan ayat ini, maka yang paling sesuai terkait dengan makna wali di ayat ini adalah wali dalam arti sebagai penguasa. Karena kurang pas kalau dikatan bahwa mereka itu teman Allah, atau orang terdekat dengan Allah, apalagi Allah SWT berperan seperti orang tua mereka.
Apalagi kalau dikaitkan dengan lafazh sesudahnya yaitu Allah SWT sebagai penolong, maka akan jauh lebih tepat kalau makna wali sebagai pemimpin.