Kata yaa (يَا) disebut dengan adatun-nida’ yang maksudnya sebagai perangkat untuk memanggil atau menyapa orang yang disapa alias al-munada. Yang diajak bicara atau mukhathab-nya disini adalah lafazh ahlal-kitab (أَهْلَ الْكِتَابِ).
Kata ahlu (أهل) punya banyak makna, bisa berarti pemilik, bisa juga berarti yang berhak, atau pun bisa juga orang yang paling menguasai sesuatu. Kata kitab (الْكِتَابِ) secara bahasa Arab modern bermakna buku, namun bukan itu yang dimaksud setiap ada kata kitab di dalam Al-Quran. Maka keliru kalau kita terjemahkan ahli kitab sebagai kutu buku. Tetapi yang benar adalah umat yang menerima turunnya kitab suci samawi dari langit, yaitu dari Allah SWT, lewat perantaraan Malaikat Jibril alaissalam kepada nabi mereka masing-masing.
Sebenarnya Allah SWT telah menurunkan begitu banyak kitab suci samawi sebelumnya. Namun nyaris seluruhnya telah hilang tak tentu rimbanya, boleh jadi hilang bersama terkuburnya masing-masing peradaban mereka. Namun ada dua agama yang nampaknya masih punya generasi penerus yang tidak putus-putus sebagai ratusan bahkan ribuan tahun, yaitu Bani Israil. Dua Nabi besar dari Bani Israil adalah Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimassalam. Pengikut mereka berdua ternyata tidak putus-putus sepanjang sejarah, hingga sampai ke masa kenabian Muhammad SAW.
Maka benarlah kalau kita katakan bahwa yang disebut dengan ahlu kitab di dalam Al-Quran maksudnya tidak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal itu karena keduanya termasuk umat yang di masa lalu menerima turunnya kitab samawi, yaitu Taurat dan Injil, dan masih ada generasinya hingga sampai ke masa turunnya Al-Quran di era kenabian Muhammad SAW di abad ke tujuh masehi.
Kalau kita mendengar Allah SWT menyapa orang-orang Yahudi atau pemeluk agama Nasrani dengan sapaan ‘ahli kitab’, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya posisi mereka sedang disanjung dan dimuliakan oleh Allah SWT. Sebab tidak semua bangsa di dunia ini mendapatkan kehormatan menerima kitab suci samawi.
Contoh yang mudah adalah kita sebagai bangsa Indonesia. Meski kita bangga saat ini sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, namun tak satu pun kitab suci samawi langsung kita terima langsung dari langit. Oleh karena itu walaupun meyakini Al-Quran sebagai kitab suci kita, namun tetap saja kita tidak disebut sebagai ahli kitab ataupun ahli Al-Quran secara eksklusif sebagaimana Yahudi dan Nasrani yang eksklusif dengan Taurat dan Injil mereka.
Lain halnya bila Allah SWT menyebut Yahudi, maka sapaan seperti itu punya konotasi yang negatif dan biasanya ayatnya pun sedang menceritakan kejelekan dan keburukan mereka.
لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
Kata li-ma (لِمَ) diartinya menjadi pertanyaan : mengapa. Asalnya dari li (لِ) yang artinya : “untuk”, sedangkan ma (ماَ) artinya apa.
Lafazh takfuruna (تَكْفُرُونَ) artinya : kamu mengingkari. Lafazh bi ayatillah (بِآيَاتِ اللَّهِ) artinya : terhadap ayat-ayat Allah.
Lafazh aayaatillah (بِآيَاتِ اللَّهِ) adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah ayah (آية). Secara bahasa bermakna tanda, seperti sabda Nabi SAW yang menyebutkan tanda-tanda orang munafik dengan sebutan ayat :
أية المنافق ثلاث
Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga . . .
Lafazh ayat bisa punya bermacam-macam makna, salah satunya adalah berarti tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tentu saja tujuan dari memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan itu agar orang-orang yang melihatnya bisa semakin yakin dan menjadi bertambah pula keimanannya.
Salah satunya ketika Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara diperjalankan di malam hari dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsha di Palestina yang jaraknya lebih dari seribu kilometer atau tepatnya 1.239 km
. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS. Al-Isra’ : 1)
وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
Lafazh wa antum tasy-hadun (وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ) artinya : sedangkan kamu menyaksikan. Yang dimaksud dengan kamu adalah orang-orang Yahudi. Sedangkan yang dimaksud dengan menyaksikan adalah bukti-bukti nyata kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Ayat ini secara utuh menjadi semacam pertanyaan yang bersifat retoris, tidak perlu dijawab tapi perlu dipikirkan. Dan diarahkan kepada ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Bagaimana mungkin kalian memungkiri isi Al-Quran, padahal kalian tahu sendiri bahwa ayat Al-Quran itu datang dari sisi Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril alaihissalam.
Ketimbang mempercayai isi Taurat yang turunnya saja mereka tidak tahu, dan juga tidak jelas lagi apakah masih asli atau sudah banyak kemasukan unsur-unsur di luar isinya yang asli, maka seharusnya kalian ikuti saja Al-Quran.
Sebab Al-Quran itu turun di hadapan mereka sendiri. Setiap hari mereka melihat bagaimana Nabi Muhammad SAW menerima begitu banyak wahyu dari langit. Sebab mereka tinggal bersama Nabi SAW di Madinah, di masa wahyu samawi masih turun setiap hari.
Kalau sampai mereka tidak beriman juga, jelas itu sangat kebangetan. Sebab kita kaum muslimin yang sudah tidak lagi sezaman dengan masa turunnya Al-Quran, kita percaya isinya sebagai wahyu dari Allah SWT. Bagaimana mungkin orang-orang Yahudi malah tidak percaya kepada Al-Quran yang turun di depan hidung mereka sendiri?