Kemenag RI 2019:Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. Prof. Quraish Shihab:
"Sesungguhnya orang-orang yang membeli janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka, tidak akan melihat kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Dan bagi mereka siksa yang pedih. "
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya, orang-orang yang membeli dengan mempergunakan janji Allah dan sumpahsumpah mereka akan harga yang sedikit, itulah orang-orang yang tidak akan ada bagian bagi mereka di akhirat, dan tidaklah Allah akan bercakap-cakap dengan mereka dan tidaklah Dia akan memandang kepada mereka di Hari Kiamat, dan tidaklah Allah akan membersihkan mereka. Dan, bagi mereka siksa yang pedih.
Lafazh innalladzina (إِنَّ الَّذِينَ) artinya : sesungguhnya orang-orang yang, sedangkan lafazh yasytaruna (يَشْتَرُونَ) adalah kata kerja alias fi’il mudhari’ yang artinya : membeli. Dan lafazh bi-‘ahdillah (بِعَهْدِ اللَّهِ) artinya : dengan janji Allah.
Memang para ulama berbeda-beda ketika menjelaskan apa yang diistilahkan dengan yasytaruna bi-‘ahdillah. Terjemahan Kemenag RI 2019 adalah : “memperjualbelikan janji Allah”. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “membeli janji Allah”. Adapun Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “membeli dengan mempergunakan janji Allah”.
Al-Baghawi dalam Tafsir Ma’alim At-Tanzil mengutipkan pendapat Ikrimah menjelaskan bahwa ayat ini turun terkait sikap para pemimpin orang-orang Yahudi di Madinah yang tutup mulut tidak mau mengakui kenabian Muhammad SAW dalam kitab suci Taurat. Padahal mereka telah terikat perjanjian dengan Allah SWT agar menyampaikan amanat.
Dan lafazh wa aymanihim (وَأَيْمَانِهِمْ) artinya : dan sumpah-sumpah mereka.
أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ
Lafazh ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya adalah : mereka, sedangkan kata laa khalaqa lahum (لَا خَلَاقَ لَهُمْ) artinya : tidak memperoleh bagian. Sedangkan makna fil-akhirah (فِي الْآخِرَةِ) artinya : di akhirat.
Ini adalah ancaman Allah SWT kepada orang-orang Yahudi yang akan terjadi nanti di akhirat. Dan yang dimaksud dengan ‘tidak mendapat bagian’, bahwa nasib buruk yang akan menimpa mereka serta berbagai kesengsaraan nanti ketika sampai di akhirat, tidak mendapatkan kenikmatan, tidak ada perlindungan dan juga tidak ada pertolongan.
Padahal orang-orang Yahudi termasuk mereka yang yakin dan percaya atas adanya kehidupan di akhirat. Berbeda dengan orang-orang Arab jahiliyah yang tidak mau percaya adanya kehidupan setelah kematian.
وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ
Lafazh wa-la yukallimuhum (وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّه) artinya : dan Allah tidak mengajak mereka bicara, tidak bercakap-cakap dan tidak menyapa.
Mungkin ada pertanyaan yang timbul, bukankah nanti di akhirat semua orang akan ditanya oleh Allah SWT? Lantas apakah mereka ini jadi tidak akan ditanya oleh Allah dan mempertanggung-jawabkan semua amal ketika masih di dunia? Kalau Allah SWT tidak akan menyapa, bukannya malah enak karena tidak harus mempertanggung-jawabkan semua amal selama di dunia?
Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (QS. Al-Hijr : 91-92)
Jawabannya bahwa ini adalah salah salah satu bentuk ekspresi kemarahan Allah SWT kepada mereka, sekaligus juga merupakan siksaan yang bersifat psikologis, yaitu didiamkan saja dan tidak diajak bicara. Betapa tidak enaknya didiamkan dan tidak diajak bicara, seolah-olah keberadaan kita seperti tidak ada dan tidak dianggap.
Namun kalau urusan pertanggung-jawaban amal di akhirat, tetap akan ditanya, bahkan malah diinterogasi dengan kasar dan galak. Bukan lagi dengan kata-kata yang lembut dan manusiawi, tetapi dengan bentakan dan makian.
وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Makna wa-la yanzhuru ilaihim (وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ) secara harfiyah adalah melihat. Namun dalam tiga versi kita rupanya diterjemahkan secara berbeda-beda.
Dalam terjemah versi Kemenag RI tertulis bahwa Allah tidak akan ‘memperhatikan’ mereka. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkan secara harfiyah, yaitu bahwa Allah tidak akan ‘melihat’ kepada mereka. Adapun Buya HAMKA menerjemahkannya bahwa Allah ‘ tidak memandang’ kepada mereka.
Meskipun ada yang menerjemahkan secara harfiyah, namun pengertian dan maksudnya tetaplah merupakan bentuk hukuman kepada orang yang dianggap telah melakukan dosa besar.
Kalau kita kaitkan dengan penggalan sebelumnya, dimana Allah SWT tidak menyapa mereka, maka disini Allah SWT tidak memandang mereka. Maka lengkaplah penderitaan Yahudi di akhirat nanti, sudah tidak diajak bicara masih ditambah lagi tidak akan dipandang.
Padahal Yahudi selama ini mengaku bahwa diri mereka adalah anak-anak Allah dan orang-orang yang paling dicintainya. Kalau pun mereka bikin salah dan masuk neraka, mereka yakin sekali bila segera akan dikeluarkan setelah beberapa hari saja.
نَحْنُ أبْناءُ اللَّهِ وأحِبّاؤُهُ
Kami adalah anak-anak Allah dan orang-orang kesayangan-Nya (QS. Al-Maidah : 18)
Demikian itu disebabkan bahwa mereka berkata, “Api neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja. (QS. Ali Imran : 24)
Ternyata ekspektasi mereka dimentahkan dalam Al-Quran. Nasib orang-orang Yahudi di akhirat menjadi tidak jelas jeluntrungannya.
وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Makna wa-la yazkkihim (وَلَا يُزَكِّيهِمْ) artinya : tidak mensucikan mereka, atau tidak membersihkan mereka. Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan kata ‘mensucikan’ disini adalah mencuci bersih dari dosa-dosa di masa lalu.
Proses pencucian dan pensucian dari dosa ini sebenarnya penting sekali, sebab tanpa adanya pensucian, boleh jadi akan tambah sengsara dan tambah blangsak nasibnya.
Di ayat ini, ancamam untuk tidak disucikan dari dosa merupakan ancaman nomor empat, setelah semua ancaman-ancaman lain sebelumnya.
Kalau kita jumlahkan apa yang Allah SWT ancamkan kepada orang-orang Yahudi cukup banyak berjajar di ayat ini. Kalau kita buatkan poin-poinnya adalah sebagai berikut :
1. Tidak ada bagian buat mereka di akhirat
2. Tidak diajak bicara
3. Tidak dipandang Allah di hari kiamat
4. Tidak disucikan
5. Mendapat adzab yang pedih
Kalau dikatakan bahwa orang-orang Yahudi ini ‘tidak disucikan’, boleh jadi maksudnya tidak ada dosa-dosa yang dihapuskan. Semua dosa itu dibalas satu per satu secara apa adanya. Padahal kalau semua dosa di dunia itu dihisab apa adanya, sudah bisa dipastikan hasilnya akan jeblok.
Berbeda dengan kaum muslimin yang panen ampunan dari sana-sini. Kalau pun punya banyak dosa besar, namun karena semua akan disucikan, sehingga bisa saja di akhirat malah bebas dari segala bentuk siksaan. Seapes-apesnya orang muslim, dengan dashsyatnya ampunan, dosanya jadi tinggal sedikit dan adzabnya tidak pedih-pedih amat.
Makna walahum adzabun alim (وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ) artinya siksa yang pedih.
Dikatakan pedih karena semua dosa yang ada akan dibalaskan secara satu per satu, tanpa ada yang diampuni ataupun dihapuskan. Tidak ada keringanan apalagi ampunan.
Kelima ancaman di atas secara khusus dibacakan di depan orang-orang Yahudi di masa kenabian Muhammad SAW. Seharusnya mereka berpikir ulang agar bisa menjaga sikap yang s kafir dan juga sekalian menghina Nabi Muhammad SAW. Resikonya di akhirat nanti akan serangkaian penderitan dan siksaan yang menyakitkan.
@@@
Apa yang Allah SWT ceritakan terkait nasib orang-orang Yahudi nanti di akhirat, ternyata juga termuat di dalam salah satu hadits Nabi SAW.
Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak akan dipandang oleh-Nya, tidak akan disucikan, dan bagi mereka siksaan yang pedih: seorang yang bersumpah palsu atas harta seorang Muslim lalu mencurinya, seorang yang bersumpah palsu setelah shalat Ashar bahwa dia diberi lebih banyak dari harta dagangnya padahal dia berdusta, dan seorang yang menahan sedekah dari harta kekayaannya. Sesungguhnya Allah berfirman: "Pada hari ini Aku akan menahan kamu dari kebaikan yang belum kamu kerjakan dengan tanganmu. (HR. Al-Bukhari)