Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu terus-menerus menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah? Kamu (memang) menghendakinya (jalan Allah itu) menjadi bengkok, sedangkan kamu menyaksikan. ) Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” Prof. Quraish Shihab:
Katakanlah: Wahai Ahl al-Kitab, mengapa kamu terus-menerus menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?" Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
Prof. HAMKA:
Katakanlah: Wahai Ahlul Kitab! Mengapa kamu palingkan orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah, karena keinginan kamu agar dia bengkok? Padahal kamu menyaksikan? Dan tidaklah Allah lengah dari yang kamu kerjakan.
Ayat ke-99 ini diawali dengan kalimat yang sama, yaitu sama-sama berupa perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan sesuatu kepada kalangan ahli kitab.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata qul (قُلْ) adalah fi’il amr yang asalnya dari (قَالَ - يَقُول) yang artinya : katakanlah. Allah SWT perintahkan Nabi Muhammad SAW untuk berkata atau menjawab kepada lawan debatnya, yaitu kalangan ahli kitab, baik orang-orang Yahudi atau pun Nasrani.
لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ
Kata li-ma (لِمَ) artinya : mengapa. Sedangkan kata tashudduna (تَصُدُّونَ) artinya : menghalangi. Sedangkan makna ‘an sabilllah (عَنْ سَبِيلِ اللَّه) artinya dari jalan Allah.
Kata sabil (سَبِيلِ) sendiri secara harfiyah artinya : jalan. Perbedaannya dengan shirat (صِرَط) yang juga bermakna jalan bahwa sabil itu jalan yang sempit, kecil dan sulit dilalui. Sedangkan shirath itu bisa diibaratkan jalan tol yang luas, lurus dan mulus, sehingga orang yang berada di jalan tol digambarkan orang yang sudah mendapat petunjuk dan tidak mungkin bisa disesatkan.
Sementara sabil itu berarti trek yang sulit, sempit dan kecil. Namun karena harus dilalui demi untuk mendapatkan ridha Allah SWT, maka jadilah orang berada di jalan Allah SWT itu sebagai orang yang berjuang dengan segala resikonya.
Lafazh man amana (مَنْ آمَنَ) artinya : orang yang beriman.
Dalam beberapa konteks ayat Al-Quran, istilah sabilillah juga sering digunakan untuk menggambarkan perang. Sehingga bisa juga dipahami tindakan orang-orang Yahudi adalah menghalangi kaum muslimin dari berperang di jalan Allah SWT.
Padahal dalam Piagam Madinah sudah ditetapkan bahwa Yahudi dan muslimin terikat kesepaktan untuk saling membela dan saling membantu satu sama lain. Sebab Piagam Madinah itu merupakan pakta bersama antara kedua agama yang sama-sama menjunjung tinggi konsep agama samawi.
Maka dengan berposisi menghalangi dari jalan Allah alias menghalangi orang-orang dari berperang di jalan Allah, maka ini merupakan borok Yahudi yang Allah SWT ungkapkan.
Penggalan ini kalau kita bandingkan dengan ayat sebelumnya, merupakan bentuk kebatilan orang Yahudi yang kedua. Di ayat sebelumnya yang dipertanyakan keingkaran mereka terhadap ayat Allah, yaitu kenabian Muhammad SAW.
Sedangkan di ayat ini, yang dipertanyakan adalah tindakan mereka yang suka menghalangi orang-orang beriman untuk bisa berjalan di jalan Allah.
تَبْغُونَهَا عِوَجًا
Kata tabghunaha (تَبْغُونَهَا) artinya : kamu menginginkannya. Ini adalah khitab Allah SWT secara langsung kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan dhamir ha kembali kepada kata sabil.
Sedangkan kata ‘iwaja (عِوَجًا) artinya bengkok, sebagaimana juga termuat dalam firman Allah SWT :
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab Suci (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan.(QS. Al-Kahfi : 1)
Maka penggalan ini bisa dipahami bahwa Allah SWT mengecap orang-orang Yahudi telah menginginkan jalan Allah SWT menjadi bengkok. Jalan yang bengkok adalah sebuah ungkapan penggambaran tentang dhalalah atau ketersesatan. Maksudnya jalan pikiran dan jalan hidup orang Yahudi di masa kenabian itu sudah sesat dan keliru, tidak lagi sejalan dengan apa yang Allah SWT perintahkan dan syariatkan.
وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ
Lafazh wa antum (وَأَنْتُمْ) artinya : dan kamu. Maksudnya adalah orang-orang Yahudi. Penggalan ini masih merupakan khitab Allah SWT secara langsung kepada orang-orang yahudi.
Adapun kata syuhada’ (شُهَدَاءُ) artinya: saksi-saksi. Maksudnya ketika orang-orang Yahudi mengingkari kenabian Muhammad SAW serta menghalangi orang-orang dari beriman kepadanya, sebenarnya mereka sudah mengakui kenabian Muhammad SAW. Mereka sudah mengikrarkan kenabian Muhammad SAW bahkan sejak lama. Justru mereka itulah yang pada awalnya melakukan endorsmen atas kenabian Beliau SAW.
Namun sayangnya, di tengah jalan, mereka membelot dan berbalik, tidak mau ikut apa yang Nabi SAW ajarkan serta banyak membangkang. Dan pembangkangan demi pembangakan ini sebenarnya bukan hal yang baru bagi mereka. Sebab di masa lalu, para leluhur mereka memang dikenal tukang membangkang terhadap para nabi atau pun rasul yang diutus kepada mereka.
Entahlah, bolehkah kita bilang bahwa sifat suka membangkang ini merupakan karakter dan akhlak buruk yang bersifat menurun dari generasi ke generasi.
وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Namun lepas dari semua itu, yang pasti Allah SWT tidak lengah dari apa yang telah mereka lakukan.
Lafazh wa mallahu (وَمَا اللَّهُ) artinya : dan tidak lah Allah. Sedangkan lafazh bi-ghafilin (بِغَافِلٍ) artinya : lengah. Dan makna ‘amma ta’malun (عَمَّا تَعْمَلُونَ) artinya : atas apa yang kamu kerjakan.
Ini merupakan bentuk ancaman yang Allah SWT arahkan kepada kalangan Yahudi di Madinah di masa kenabian Muhammad SAW. Setidaknya kepada kelompok Yahudi yang membangkang tidak mau beriman kepada Al-Quran serta berbagai macam syariat dan ketentuan yang datang kemudian.
Allah SWT tidak lengah itu maksudnya semua sikap dan tindakan mereka tetap akan dicatat sebagai bentuk kekafiran yang akan mereka terima akibatnya di akhirat nanti.
Kalau dalam bahasa modern hari ini, ‘jejak-jejak digital’ mereka itu tidak pernah bisa dihapuskan. Semua ada rekamannya dan mereka tidak bisa mangkir dari apa yang telah mereka lakukan sendiri. Disitulah makna bahwa Allah SWT tidak pernah ghafil alias lengah.