Kemenag RI 2019:Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Prof. Quraish Shihab:Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih. Prof. HAMKA:Dan mohonkanlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Penyayang.
Ayat ke-106 ini masih ada sambungan dari kisah yang sudah disampaikan sebelumnya, yaitu terkait Tu'mah bin Ubayriq. Dia berasal dari kalangan Anshar yang sebenarnya munafik dan mencuri baju besi milik kerabatnya yang dititipkan kepadanya.
Ketika takut perbuatannya diketahui, Thu’mah secara diam-diam meletakkan baju besi itu di rumah seorang Yahudi. Kemudian ia memberitahukan hal tersebut kepada kaumnya. Orang Yahudi itu pun datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Demi Allah, wahai Abu al-Qasim, saya tidak mencurinya, tetapi baju besi itu dilemparkan ke tempat saya.”
Ketika kerabat Tu'mah mengetahui hal ini, mereka datang kepada Rasulullah SAW untuk membebaskan Tu'mah dari tuduhan pencurian itu dan memohon agar Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia tidak bersalah. Rasulullah SAW hampir membebaskannya dari tuduhan hingga Allah SWT menurunkan ini.
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ
Kata (وَاسْتَغْفِرِ) adalah perintah dalam bentuk fi’il amr.artinya :Mohonlah ampunan. Kata (اللَّهَ) : artinya :kepada Allah.
Lafazh was-taghfiri (وَاسْتَغْفِرُوا) adalah fi’il amr yang merupakan perintahdan asalnya dari (استَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ), artinya : “bermohon ampunlah”.
Perintah untuk minta ampun ini punya banyak bentuk. Yang paling sederhana sekedar dzikir dengan lisan mengucapkan lafaz : astaghfirullah. Dan tidak selalu yang namanya beristighfar itu karena adanya dosa-dosa. Sebab Nabi SAW sendiri pun setiap hari tidak pernah lepas dari istighfar, padahal semua dosanya sudah tidak ada.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari)
Dari al-Aghar al-Muzani RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)
Namun ada juga yang berpendapat bahwa perintah untuk minta ampun karena memang ada dosa yang terlanjur dilakukan. Untuk itu kita diperintahkan untuk bersegera menuju kepada ampunan dari Allah SWT, sebagaimana perintah-Nya di dalam Al-Quran :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imran : 133)
Yang jadi pertanyaan, ketika Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk meminta ampun, apakah ini perintah untuk sekedar beristighfar secara umum sebagai bagian dari dzikir yang tidak pernah berhenti diucapkan? Ataukah memang ada dosa atau kesalahan yang dilakukan oleh Nabi SAW?
Fakhruddin Ar-Razi kemudian menjelaskan hal ini dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib, bahwa ada beberapa sisi kemungkinan.
Boleh jadi Nabi SAW secara natural sempat percaya dan cenderung ingin membela Tu'mah dan menyimpulkan bahwa dia tidak mencuri baju besi. Hal itu karena secara penampakan luarnya, Thu’mah memang mengaku sebagai muslim dengan ikrar dua kalimat syahadat.
Ternyata ketahuan setelah itu bahwa Thu’mah ini bukan hanya munafik, tetapi sampai ikut bergabung ke Mekkah bersama orang-orang kafir musuh Nabi SAW. Bahkan disebutkan bahwa Thu’mah yang sudah sempat memeluk Islam, kemudian murtad dan keluar dari Islam.
Maka Allah memerintahkan Nabi SAW untuk beristighfar atas kejadian ini.
Kemungkinan lainnya boleh jadi perintah untuk mohon ampun ini bukan untuk minta ampun bagi diri sendiri, melainkan maksudnya adalah agar Nabi SAW memohonkan ampunan bagi mereka sempat yang membela Tu'mah dan berusaha menunjukkan bahwa ia tidak bersalah atas tuduhan pencurian itu.
إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Katainnallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : sesungguhnya Allah. Kata kana (كَانَ) artinya : adalah, namun tersisip di dalamnya makna bahwa keadaan seperti itu sudah eksisting sejak masa lalu. Bisa saja kalau mau diterjemahkan menjadi : sudah sejak dulu.
Lafazh ghafuran (غَفُورًا) artinya : Maha Pengampun.
Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505 H) di dalam Al-Maqshid Al-Atsna menjelaskan adanya perbedaan antara istighraf yang bermakna ampunan (مغفرة) dan meminta permaafan (عفو), sebagai berikut :
Maaf itu menghapus dosa dan membebaskan pelakunya, dekat sekali maknanya dengan ampunan, namun lebih kuat. Karena ampunan itu sifatnya menutupi dosa, sedangkan maaf itu menghapus dosa. Menghapus itu jauh lebih kuat daripada sekedar menutupinya.
Hal yang cenderung sama juga dikatakan oleh Al-Fakrurazi dalam Tafsirnya Mafatih Al-Ghaib jilid 7 hal 124.
Maaf itu mengugurkan hukuman sedangkan ampunan itu menutupi dosa, sebagai perlindungan atasnya dari adzab.
Kata rahima (رَحِيمًا) artinya : Maha Penyayang. Kata ar-rahim (الرَّحِيْم)merupakan bentuk shighah mubalaghah dari kata ar-rahmah yang bermakna selalu memberi rahmah (دائم الرحمة).
Selain ar-rahim sebenarnya kata ini punya pasangan yaitu ar-rahman sebagaimana yang selalu kita baca dalam lafazh bismillahirrahmanirrahim. Abu Ali al-Faris menyebutkan bahwa ar-rahman merupakan lafazh umum untuk semua bentuk pemberian kepada siapa saja, sedangkan ar-rahim adalah bentuk kasih sayang yang dikhususkan hanya untuk buat orang mukmin. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Aku itu rahim kepada orang-orang mukmin (QS. Al-Ahzab: 43)
Ibnu al-Anbar dan Az-Zajjah menyebutkan bahwa kata rahman merupakan bahasa Ibrani, sedang kata rahim merupakan bahasa Arab.
Dalam terjemahan Kementerian Agama RI, ar-rahman diterjemahkan menjadi Maha Pengasih, sedangkan ar-rahim diterjemahkan menjadi Maha Penyayang. Ini barangkali dikaitkan dengan kekhususan ar-rahim hanya kepada orang mukmin, dimana Allah bukan hanya memberi tapi juga menyayangi. Sedangkan ar-rahman yang sifatnya lebih umum, menunjukkan bahwa meski orang kafir, namun tetap saja Allah memberi juga, meski tidak diiringi rasa sayang.
Sedangkan Maha Penyayang yang disebutkan bersama dengan penyebutan Maha Pengampun, maksudnya karena tindakan Allah SWT tidak menghukum kesalahan dan malah memilih untuk mengampuni, disebabkan karena pada dasarnya Allah SWT ingin menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Tuhan yang Maha kasih sayang. Pelanggaran dan kesalahan hamba tidak harus selalu dibalas dengan amarah dan murka. Tetapi bisa saja diampuni, karena Allah SWT memang Tuhan Yang Maha Pengasih.