Kata yastkahfun (يَسْتَخْفُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, bentuk fi’il madhi-nya adalah (اسْتَخْفَى). Akar kata ini berasal dari tiga huruf yaitu (خَفِيَ): berarti tersembunyi atau tidak terlihat.
Bentuk derivatifnya adalah dari wazan (اسْتَفْعَلَ) yang bersifat menambahkan makna pencarian atau mengusahakan untuk, sehingga kata (اسْتَخْفَى) berarti berusaha untuk menyembunyikan diri atau mencari perlindungan agar tidak terlihat.
Kata yastkahfun (يَسْتَخْفُونَ) dalam konteksnya berubah makna menjadi : mereka berusaha menyembunyikan diri, baik secara fisik maupun secara perbuatan agar tidak diketahui atau terlihat oleh orang lain, atau dalam kasus tertentu, oleh Allah.
Kata minannasi (مِنَ النَّاسِ) : artinya : dari manusia, maksudnya dari orang-orang atau dari publik, setidaknya dari apa yang nampak umumnya di mata orang kebanyakan.
Meski ayat ini bersifat umum dapat mencakup siapa saja yang berbuat dosa secara sembunyi-sembunyi karena malu atau takut diketahui oleh manusia sementara mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah, namun para mufassir mengatakan yang dimaksud adalah Thu'mah bin Ubairiq, seorang pria dari golongan Anshar yang mencuri lalu menyembunyikan perbuatannya dan berusaha memfitnah Yahudi sebagai pelakunya.
Namun bisa jadi orang-orang seperti tipologi Thu’mah bisa saja ada dimana-mana, di banyak tempat. Bahkan bisa menjadi satu kelompok atau komunitas yang sering menyembunyikan keburukan atau makar mereka dari manusia, tetapi tidak merasa takut kepada Allah meskipun
Kata wa laa yastakhfuna (وَلَا يَسْتَخْفُونَ) artinya : tetapi tidak dapat bersembunyi. Kata minallahi (مِنَ اللَّهِ) : artinya : dari Allah.
Mereka bisa saja bersembunyi dari penglihatan manusia, sehingga tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di balik semua kepalsuan. Namun tentu saja mereka tidak bisa bersembunyi dari penglihatan dan pengetahuan Allah SWT.
Penggalan ayat ini menegaskan sifat Allah yang selalu menyertai dan menyaksikan semua perbuatan manusia. Meskipun manusia berusaha menyembunyikan kesalahan atau dosa dari sesama manusia, mereka tidak bisa menyembunyikannya dari Allah.
Dan khusus untuk di masa kenabian Muhammad SAW, semua perilaku jahat kaum munafikin yang mereka tutupi rapat-rapat, pastinya akan terbongkar dan segera dapat diketahui. Sebab Allah SWT yang Maha Mengetahui langsung membocorkan segala apa yang selama ini mereka tutupi.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa penggalan ini merupakan rincian perilaku menyimpang mereka, yaitu mereka tidak merasa takut atau malu kepada Allah meskipun mereka sadar bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan mereka, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Mereka seolah-olah hanya peduli terhadap pandangan manusia, tetapi melupakan bahwa Allah Maha Mengetahui.
Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat keimanan mereka. Mereka lebih peduli dengan pandangan manusia, tetapi mengabaikan kehadiran Allah yang lebih utama. Perilaku seperti ini mencerminkan lemahnya rasa takut atau khauf mereka kepada Allah.
Penggalan ayat ini memberikan pelajaran moral kepada setiap orang beriman untuk selalu sadar bahwa Allah selalu mengawasi. Karena itu, seorang mukmin sejati seharusnya lebih malu kepada Allah daripada kepada manusia, sehingga mendorongnya untuk menjauhi dosa baik secara terbuka maupun tersembunyi.
Kata wa huwa (وَهُو) artinya : Dan Dia, yaitu Allah SWT. Kata ma’a-hum (مَعَهُمْ) artinya : bersama mereka.
Meski hanya terdiri dari dua kata, yaitu wa huwa ma’a-hum (وَهُوَ مَعَهُمْ) yang artinya : “Dan Dia Allah bersama mereka”, namun dua kata ini telah memicu perdebatan panjang di kalangan ulama ilmu kalam, terutama mengenai konsep ma‘iyyah atau kebersamaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya.
Perdebatan ini berkaitan dengan bagaimana memahami sifat Allah dalam konteks kebersamaan tersebut tanpa menyimpang ke arah tasybih atau penyerupaan dengan makhluk, atau ke arah ta‘thil yaitu menafikan sifat Allah.
Selama berabad-abad mereka berbeda pendapat mengenai apakah kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya harus dipahami secara hakiki atau majazi.
Sebagian kelompok, seperti ahli zahir, memahami kebersamaan ini sesuai dengan teksnya tanpa takwil. Namun, mereka tetap menegaskan bahwa kebersamaan Allah ini bukan berarti Allah secara fisik berada bersama makhluk-Nya, karena Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk.
Kelompok lain, seperti Asy'ariyah dan Maturidiyah, cenderung menafsirkannya secara metaforis, bahwa kebersamaan ini menunjukkan ilmu, pengawasan, dan pengetahuan Allah yang meliputi segala sesuatu, bukan keberadaan fisik Allah bersama makhluk.
Perdebatan muncul terkait dengan sifat transendensi Allah, yaitu bahwa Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Dalam ayat ini, sebagian ulama khawatir jika kebersamaan dipahami secara zahir, maka hal itu dapat menyeret pada keyakinan bahwa Allah "bertempat" bersama makhluk, yang bertentangan dengan prinsip Al-Quran :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (QS Asy-Syura: 11).
Sementar banyak besar ulama, termasuk Asy'ariyah, berpendapat bahwa kebersamaan Allah dalam ayat ini berarti Allah mengetahui, mengawasi, dan menyertai makhluk-Nya dengan ilmu-Nya. Ini adalah bentuk kebersamaan yang tidak membatasi Allah dalam ruang dan waktu.
Di dalam Al-Quran memang banyak tersebar ayat-ayat yang menggambarkan kebersamaan Allah SWT dengan makhluk, khususnya dengan manusia. Beberapa di antaranya adalah ayat-ayat berikut :
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)
وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)
وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anfal: 19)
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Ketika dia berkata kepada temannya,‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita’. (QS. At-Taubah: 40)
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)
وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (QS. Al-Hadid: 4)
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا
Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada (pembicaraan) antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.” (QS. Al-Mujadilah: 7)
Namun perdebatan panjang di kalangan ulama ilmu kalam terkait sifat Allah, termasuk sifat kebersamaan-Nya dengan manusia, baru muncul jauh setelah masa turunnya Al-Quran. Di masa kenabian dan masa para sahabat, kita tidak menemukan adanya perdebatan teologis semacam itu. Padahal ayat yang jadi pemicunya cukup banyak. Namun tidak pernah diperdebatkan sedemikian rupa.
Perdebatannya baru mulai pada era perkembangan teologi Islam di abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, yaitu ketika umat Islam bersentuhan dengan filsafat Yunani dan tradisi intelektual asing lainnya. Pengaruh filsafat ini memperkenalkan konsep-konsep seperti sifat Tuhan, hubungan Tuhan dengan alam semesta, dan sifat substansi.
Dalam konteks ini, dua pandangan besar mulai berkembang. Pandangan pertama adalah pendekatan tekstualis, yang menekankan penerimaan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadis tanpa menanyakan kaifiyat atau bentuknya. Pendekatan ini cenderung menghindari penafsiran metaforis atau rasionalisasi yang berpotensi menyimpang dari makna literal.
Sebaliknya, pendekatan kedua adalah pandangan rasionalis, yang dipelopori oleh kalangan Mu’tazilah dan dipengaruhi oleh filsafat, yang mencoba menafsirkan sifat-sifat Allah secara rasional. Dalam kasus sifat kebersamaan Allah, mereka sering memahaminya sebagai metafora untuk menunjukkan pengetahuan dan kekuasaan Allah yang meliputi segalanya, tanpa mengaitkannya dengan keberadaan-Nya secara fisik.
Diskusi ini memuncak pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah, ketika para tokoh besar ilmu kalam seperti Imam Ahmad bin Hanbal, tokoh-tokoh Mu’tazilah seperti Al-Jahiz, serta Asy’ariyah dan Maturidiyah, memberikan pandangan-pandangan mereka.
Imam Ahmad, misalnya, menolak takwil dan menekankan penerimaan sifat Allah sebagaimana adanya tanpa mempersoalkan bagaimana hal itu terjadi. Sementara itu, Asy’ariyah dan Maturidiyah mencoba memadukan pendekatan rasional dengan teks-teks wahyu.
Dengan demikian, perdebatan tentang sifat kebersamaan Allah dengan manusia tidak terjadi pada masa Nabi dan sahabat, melainkan muncul pada masa perkembangan ilmu kalam yang dipengaruhi oleh masuknya pemikiran rasional dan filsafat ke dalam tradisi Islam.
Yang jadi pertanyaannya sekarang : apakah perdebatan ini masih relevan untuk terus menerus diulang-ulang sampai sekarang, atau mari sama-sama kita lupakan saja?
Di masanya kajian Tauhid yang berpuar-putar terkait perdebatan ini boleh jadi sangat relevan, karena untuk mencegah penyimpangan teologis yang berkembang di masa itu.
Namun setelah era itu terlampaui, ancaman akan munculnya penyimpangan aqidah seperti di masa lalu nampaknya sudah tidak ada lagi di hari ini. Sebab dengan berubahnya zaman, maka isu-isu yang berkembang pun ikut berubah juga. Apa yang dahulu pernah menjadi ancaman besar, terbukti selama berabad-abad sudah tidak ada lagi.
Maka mengulang-ulang tema lama yang sudah terkubur ribuan tahun nampaknya akan lebih relevan ketika kita bicara sejarah perkembangan ilmu teologi sepanjang zaman.
Kata idz (إِذْ) artinya : ketika. Kata yubayyitun (يُبَيِّتُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, bentuk fi’il madhi-nya adalah (بَيَّتَ).
Kata yubayyitun (يُبَيِّتُونَ) berasal dari tiga huruf yang menjadi akar kata, yaitu (بَيْتٌ) yang secara harfiah berarti rumah atau tempat bermalam. Dalam bentuk fi’il mudhari’ seperti yubayyitun (يُبَيِّتُونَ) maknanya berkembang menjadi merencanakan atau melakukan sesuatu pada malam hari.
Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan secara rahasia atau tersembunyi, karena malam biasanya dianggap waktu yang memberikan perlindungan atau kerahasiaan.
Dalam konteks ayat ini berarti merencanakan dengan diam-diam atau secara rahasia pada malam hari. Dan ini mengisyaratkan perilaku orang-orang munafik atau mereka yang berniat buruk, yang pada malam hari menyusun rencana atau perkataan yang tidak diridhai oleh Allah.
Hubungan dengan kata dasar bait (بيت) yang berarti rumah bahwa sebagai rumah atau tempat bermalam memberi gambaran tentang tempat yang biasanya sunyi dan menjadi lokasi orang beristirahat atau melakukan hal-hal rahasia. Oleh karena itu, aktivitas yubayyitun (يُبَيِّتُونَ) sering diasosiasikan dengan sesuatu yang dilakukan dalam suasana malam yang tenang, tersembunyi, atau dalam lingkup kecil yang jauh dari perhatian orang banyak.
Makna ini relevan dalam ayat karena Allah menegaskan bahwa sekalipun manusia mencoba menyembunyikan niat buruknya, bahkan dalam kegelapan malam saat mereka merasa aman dari pengawasan manusia, Allah tetap mengetahui apa yang mereka rencanakan. Hal ini mempertegas sifat Allah yang Maha Mengetahui dan tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.