Kemenag RI 2019:Siapa yang berbuat dosa sesungguhnya dia mengerjakannya untuk merugikan dirinya sendiri. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Prof. Quraish Shihab:Barang siapa mengerjakan dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya atas (kemudharatan) dirinya (sendiri). Dan adalah Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. Prof. HAMKA:Dan barangsiapa yang mengusahakan suatu dosa, maka usahanya itu hanya akan celaka bagi dirinya sendiri. Dan Allah itu Maha Mengetahui, lagi Bijaksana.
Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Tidak ada satu dosa pun yang luput dari pengetahuan Allah SWT.
وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا
Kata wa-man (وَمَنْ) artinya : ‘dan siapa yang’ atau ‘dan orang yang’. Kata yaksib (يَكْسِبْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari. Asal katanya dari kata al-kasb (الكسب) yang berarti apa yang diupayakan atau diusahakan oleh manusia untuk dirinya sendiri, baik berupa manfaat yang diperoleh maupun bahaya yang dihindari olehnya.
Buya HAMKA menerjemahkannya dengan kata : mengusahakan. Namun Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : mengerjakan.
Kata ini biasa digunakan juga untuk pekerjaan yang menghasilkan income alias rejeki. Misalnya apa yang disebutkan dalam surat Al-Lahab.
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (QS. Al-Lahab :1-2)
Maka ada perbedaan yang jelas antara kasab (كسب) dengan amal (عمل), dimana kasab itu bekerja juga sebagaimana amal, tetapi pekerjaan yang berorientasi kepada hasil. Oleh karena itu kalau amal itu kita terjemahkan menjadi ‘bekerja’ saja, maka kasab itu kita maknai dengan ‘mencari rejeki’. Ada yang dicari, dikejar, diusahakan dan dijadikan sasaran dari usaha.
Kata itsman (إِثْمًا) artinya : dosa. Posisinya menjadi objek alias maf’ul bihi. Yang unik dari penggalan ini adalah ternyata mendapatkan dosa itu juga dianggap bagian dari hasil kerja dan usaha. Maksudnya, dosa itu tidak tiba-tiba datang dengan sendirinya. Dosa itu ternyata adalah hasil dari peras keringat dan banting tulang juga.
Dalam bahasa Arab, itsmun (إثم) memang bermakna dosa. Akan tetapi juga ada kata dzanbun (ذنب) yang artinya juga dosa. Lantas apakah antara keduanya ada perbedaan makna?
Jawabannya ada. Kata dzanb (ذنب) dan itsm (إثم) dalam bahasa Arab memiliki perbedaan makna yang mendalam, meskipun keduanya sering diterjemahkan sebagai "dosa" atau "kesalahan." Masing-masing kata memiliki nuansa tersendiri sesuai dengan penggunaannya.
Secara bahasa, dzanb berasal dari akar kata (ذ-ن-ب) yang berarti "ujung" atau "akibat." Kata ini digunakan untuk merujuk pada kesalahan atau perbuatan salah yang mendatangkan akibat buruk bagi pelakunya. Dalam konteks syariat, dzanb mengacu pada dosa yang dilakukan seseorang, baik dosa besar maupun kecil, yang berkaitan dengan akibat atau dampak perbuatannya. Biasanya, kata ini digunakan untuk menggambarkan dosa-dosa yang bisa diampuni melalui taubat atau kasih sayang Allah.
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan berlebih-lebihan kami dalam urusan kami. (QS. Ali 'Imran: 147)
Penggunaan kata ini menitikberatkan pada akibat atau dampak buruk dari kesalahan tersebut.
Sementara itu, itsm berasal dari akar kata (أ-ث-م) yang pada dasarnya berarti "keterlambatan" atau "penundaan." Dalam bahasa, kata ini merujuk pada sesuatu yang menjauhkan seseorang dari kebaikan atau membuatnya tertinggal dalam melakukan amal saleh.
Dalam syariat, itsm mengacu pada dosa atau kesalahan yang memiliki dimensi moral dan spiritual yang lebih dalam. Biasanya, kata ini dikaitkan dengan pelanggaran besar yang melibatkan hak Allah atau hak manusia lainnya, dengan penekanan pada sifat pelanggaran itu sendiri daripada akibatnya. Misalnya, Allah berfirman:
Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan cara batil dan menyerahkannya kepada hakim, agar kamu memakan sebagian dari harta orang lain dengan dosa. (QS. Al-Baqarah: 188)
Penggunaan kata ini lebih menitikberatkan pada sifat moral dari pelanggaran itu sendiri.
Secara umum, perbedaan utama antara dzanb dan itsm terletak pada penekanan maknanya. Dzanb lebih menyoroti kesalahan sebagai tindakan yang menghasilkan akibat buruk bagi pelakunya, sedangkan itsm lebih menyoroti sifat pelanggaran itu sendiri yang bertentangan dengan hukum syariat atau etika. Dengan demikian, keduanya memberikan perspektif yang berbeda tentang dosa dalam teks-teks agama.
فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ
Kata fainnama (فَإِنَّمَا) artinya : sesungguhnya dia. Kata yaksibuhu (يَكْسِبُهُ) artinya : mengerjakannya. Kata ‘ala nafsihi (عَلَىٰ نَفْسِهِ) artinya : untuk merugikan dirinya sendiri.
Penggalan ini menegaskan bahwa Allah SWT tidak bertanggung-jawab atas dosa yang dihasilkan oleh manusia. Sebab dosa itu bukan kehendak Allah SWT, melainkan dosa itu memang merupakan hasil pencapaian dari keinginan yang kuat dari diri mereka sendiri.
Oleh karena itu jelas keliru ketika ada pelaku dosa yang seolah menyalahkan nasib dan tidak mau menerima resiko dari dosa yang dia telah kerjakan.
Para wanita pekerja seks itu seringkali dibela dengan cara seperti ini. Seolah-olah mereka tidak bersalah, tetapi nasiblah yang membawa mereka ke lembah hitam. Terkesan bahwa zina dan pelacuran yang mereka lakukan itu sebagai ‘kehendak’ Tuhan. Setidaknya seperti ingin minta diberikan dispensasi atau keringanan, mungkin maunya agar buat mereka yang terpaksa melacurkan diri, tidak ada dosa dan siksa di akhirat.
Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
Oh apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umatnya
Oh apa yang terjadi, terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa
Kalau lirik ini sebuah pertanyaan, maka jawabannya harus diberikan. Dosakah yang mereka kerjakan? Jawabannya dosa. Sucikah mereka yang datang? Jawabannya tidak suci. Apa yang terjadi tidak boleh dibiarkan terjadi, sebab itu adalah dosa. Kalau pun Tuhan itu penyayang umatnya, berarti berhentilah dari lingkaran bisnis pelacuran dan mulailah dari diri sendiri.
Tahu bahwa Tuhan itu penyayang umatnya, berarti seharusnya dia yakin kalaupun berhenti jadi pelacur, maka tidak akan mati kelaparan.
Dan semua pelacur di dunia ini pastinya punya niat akan berhenti dari dunia pelacuran. Tetapi niatnya itu selalu ditunda-tunda, menunda sampai tua dan tidak laku, barulah insyaf. Sedangkan ketika masih muda dan masih banyak tawaran dan kesempatan, tidak ada yang menyia-nyiakan.
وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Kata wa-kaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : Dan adalah Allah. Kata aliman (عَلِيمًا) artinya : Maha Mengetahui. Kata hakiman (حَكِيمًا) artinya : lagi Maha Bijaksana.
Kata wa kaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah. Kata ini menunjukkan sifat Allah yang tetap atau azali dan tidak pernah berubah. Allah selalu memiliki sifat-sifat kesempurnaan ini tanpa batas waktu. Ini menunjukkan kesinambungan dan keabadian sifat-Nya, baik pada masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Karena Allah SWT adalah satu-satunya wujud yang tidak mengalami perubahan. Yang berubah adalah makhluk.
Oleh karena itu, ketika kita membaca atau mendengar kata kana yang dikaitkan dengan Allah, seperti dalam sebutan Maha Mengetahui, Maha Penyayang, dan lainnya, kita harus memahami bahwa meskipun kata tersebut mengandung makna "dahulu," makna tersebut harus disertai dengan pemahaman bahwa Allah tetap demikian hingga kini dan seterusnya.
Kata ‘aliman (عَلِيمًا) artinya Maha Mengetahui. Allah memiliki ilmu yang sempurna, mencakup segala sesuatu, baik yang tersembunyi maupun yang nyata, yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Ilmu Allah mencakup niat, pikiran, dan perbuatan manusia. Tidak ada sesuatu pun, sekecil apa pun, yang luput dari pengetahuan-Nya.
Dalam konteks ayat ini, sifat ‘alim (عَلِيم) ini mengingatkan manusia bahwa Allah mengetahui semua tindakan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Kata hakiman (حَكِيمًا) artinya : Maha Bijaksana. Allah selalu bertindak dengan hikmah dan penuh dengan kebijaksanaan, yaitu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Kebijaksanaan Allah tampak dalam syariat-Nya, keputusan-Nya, serta penciptaan dan pengaturan alam semesta. Dalam konteks ini, Allah mengatur kehidupan manusia dengan hikmah yang sempurna, meskipun kadang tidak selalu dipahami oleh manusia.
Pelajaran yang bisa ditarik dari penggalan ayat ini bahwa setiap keputusan Allah, baik berupa perintah, larangan, atau takdir, selalu berdasarkan ilmu Allah yang Maha Sempurna serta juga sudah berlapis dengan hikmah dan kebijaksanaan yang mendalam. Oleh karena itu, manusia hendaknya selalu berprasangka baik kepada Allah dan menerima dengan ridha ketentuan-Nya.