Kata basysyir (بَشِّرِ) adalah kata kerja dalam bentuk perintah. Akarnya dari (بَشَّرَ – يُبَشِّرُ- تَبْشِيْراً ). Maknanya adalah memberi atau menyampaikan kabar gembira.
Kemenag RI menuliskan terjemahannya dengan diapit dua tanda petik : Berilah kabar ‘gembira’. Dalam gaya bahasa, kadang dua tanda petik digunakan untuk menyoroti kata atau frasa tertentu yang bersifat ironi atau metafora. Metaforanya adalah kebalikan dari gembira, yaitu kesedihan, karena isi beritanya bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih.
Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkan kata basysyir (بَشِّرِ) menjadi : gembirakan.
Kata al-munafiqin (الْمُنَافِقِينَ) artinya : orang-orang munafik. Sesungguhnya meskipun disebut sebagai munafik, namun pada hakikatnya mereka memang bukan muslim. Dasarnya karena pada ayat sebelumnya mereka memang kafir, setelah bolak-balik keluar masuk agama Islam, tetapi di bagian paling akhirnya mereka menjadi kafir bahkan bertambah-tambah kekafirannya.
Hanya saja yang menjadi bikin penasaran, kenapa mereka yang kafir itu masih tetap disebut munafik?
Jawabannya karena secara teknis posisi mereka membingungkan, khususnya di masa kenabian Muhammad SAW. Sikap plin-plan mereka juga menambah kebingungan memposisikan mereka, apakah disebut muslim atau kafir.
Namun kalau kita selami kitab-kitab Sirah Nabawiyah, apa yang dilakukan oleh Nabi SAW kepada kelompok munafikin di Madinah adalah bahwa mereka tetap diperlakukan sebagaimana layaknya orang yang beragama Islam. Setidaknya jenazah mereka tetap dimandikan, dikafani, dishalati dan juga dikuburkan di pemakaman muslim.
Keluarga yang ditinggalkan tetap membagi harta warisnya dengan ketentuan syariat waris yang berlaku dalam hukum Islam.
Adapun bahwa mereka kafir, itu urusan Allah SWT. Dan dalam hal ini, hanya Allah SWT saja yang berhak untuk memberikan vonis serta ketentuan apakah mereka masuk surga atau masuk neraka.
Nampaknya mereka dimasukkan ke dalam neraka, sebab ayatnya menyebutkan mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih.
Kata bi-anna (بِأَنَّ) artinya : dengan kabar bahwa. Kata lahum (لَهُمْ) artinya : bagi mereka. Kata ‘adzaban aliman (عَذَابًا أَلِيمًا) artinya : siksa yang pedih.
Yang unik dari ayat ini bahwa Allah SWT menyebut siksa yang pedih sebagai : kabar gembira. Istilah gaya bahasa yang menyebutkan sifat yang terbalik seperti itu disebut ironi, yaitu gaya bahasa yang menyampaikan makna yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya dimaksudkan.
Biasanya bertujuan untuk memberikan efek tertentu seperti sindiran, penekanan, atau kontras. Maka penyebutan ‘siksa yang pedih’ sebagai ‘kabar gembira’ adalah ironi, karena ada kontras yang jelas antara kata siksa yang umumnya menimbulkan rasa takut, dengan ‘kabar gembira’ yang biasanya membawa kebahagiaan.
Dalam bahasa Arab disebut dengan isti’arah tahakkumiyyah (استعارة تحكمية), yaitu sejenis majas yang digunakan untuk menyampaikan ejekan, sindiran, atau penghinaan dengan cara yang halus namun menyindir. Dalam majas ini, sebuah kata atau istilah digunakan secara tidak langsung untuk menonjolkan ironi atau kontradiksi dalam makna.
Majas ini sering digunakan dalam sastra Arab klasik maupun modern untuk mengekspresikan sindiran dengan cara yang elegan dan retorik.
Tehnik Penyiksaan di Neraka
Beberapa ayat Al-Quran menyebutkan secara agak detail terkait teknis bagaimana bentuk nyata siksaan yang menyakitkan. Di antaranya ada orang yang disiksa dengan cara disetrika dengan emas dan perak yang membara karena saking panasnya. Dahi, punggung dan perut mereka langsung melepuh pastinya, ketika ditempelkan dengan logam emas dan perak yang membara.
Cerita itu bisa kita temukan dalam Al-Quran ketika membicarakan mereka yang tidak mau bayar zakat emas dan perak.
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari ketika (emas dan perak) itu dipanaskan dalam neraka Jahanam lalu disetrikakan (pada) dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan), “Inilah apa (harta) yang dahulu kamu simpan untuk dirimu sendiri (tidak diinfakkan). Maka, rasakanlah (akibat dari) apa yang selama ini kamu simpan.” (QS. At-Taubah : 34)
Ada lagi tehnik siksaan yaitu orang diikat di tiang pancang, lalu dibakar seperti biasanya kita bikin daging bakar, kambing guling atau pun semacam pemanggang di dalam oven yang tertutup, sehingga dagingnya menjadi empuk.
Surat Al-Humazah di bagian juz ‘amma menceritakan hal semacam itu dan terbayang betapa pedihnya siksa neraka itu.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ
Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. Al-Humazah : 5-9)
Ada juga Allah SWT menyebutkan bahwa kulit-kulit yang sudah gosong karena terbakar di neraka itu akan selalu diganti terus menerus dengan kulit yang baru. Ternyata tujuannya agar orang yang disiksa bisa terus menerus merasakan kesakitan yang tidak ada habisnya.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa : 56)
Kalau yang langsung terkait dengan siksaan buat orang-orang munafik sebagaimana kandungan ayat ini, siksaannya digambarkan dengan agak sadis juga. Mereka akan ditempatkan di bagian paling dasar dari neraka. Kira-kira itulah tempat yang paling panas dan paling menyakitkan.
Pada ayat 145 dari surat An-Nisa’ ini Allah SWT menyebutkan :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.