Kata qad (قَدْ) artinya : sesungguhnya telah. Kata jaa-a-kum (جَاءَكُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : telah datang. Sedangkan dhamir kum (كُم) yang menempel di belakangnya bermakna : kamu, kembali kepada umat manusia.
Secara teknis kalau dikatakan ‘datang’ biasanya seseorang datang dari jauh du suatu tempat. Namun kata ‘datang’ disini digunakan untuk menyebutkan ‘kedatangan’ seorang nabi, yang mana nabinya tidak datang dari langit atau dari tempat yang jauh.
Sebab secara hakikatnya, biara bagaimana pun seorang nabi itu pastilah seorang manusia biasa. Kalau dikatakan nabi itu datang, maksudnya melalui proses kelahiran manusia secara normal dari rahim seorang ibu. Sang calon nabi itu akan melewati dulu masa kanak-kanaknya, kemudian tumbuh menjadi remaja, lalu akhirnya menjadi dewasa. Di masa dewasa itulah sang nabi akan didatangi oleh Malaikat Jibril yang membawakan wahyu kenabian dari langit. Saat itulah disebut bahwa sang nabi ‘telah datang’.
Kata burhanun (بُرْهَانٌ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menjadi : bukti kebenaran. Keduanya juga menambahkan keterangan yang diapit dalam dua tanda kurung : (Nabi Muhammad dengan mukjizatnya).
Kata burhan (بُرْهَان) dalam Al-Quran memiliki makna yang banyak, umumnya berkaitan dengan dalil, bukti, atau hujah yang jelas dan kuat. Seringnya untuk menunjukkan bukti yang tak terbantahkan, baik dalam bentuk wahyu, mukjizat, maupun sosok seorang nabi dengan dalil kebenaran yang datang dari Allah.
Dan kata burhan di ayat ini dipahami secara berbeda-beda oleh para mufassir, berikut ini rinciannya :
1. Nabi Muhammad SAW
Sebagian kalangan memaknai kata burhan (بُرْهَان) dalam ayat ini adalah sosok Nabi Muhammad SAW, sebagai nabi universal untuk seluruh umat manusia.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[1] menuliskan riwayat dari Sufyan ats-Tsauri bahwa yang dimaksud dengan burhan adalah Nabi Muhammad SAW.
2. Mukjizat
Ada juga yang memaknai kata burhan (بُرْهَان) dalam ayat ini sebagai mukjizat. Mukjizat adalah bukti nyata yang tidak terbantahkan bagi siapapun untuk menolak kenabian seorang nabi utusan Allah.
Al-Alusy juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Nabi SAW disebut sebagai burhan karena beliau memiliki mukjizat-mukjizat yang menjadi bukti kebenarannya.
3. Agama Islam
Ada juga pendapat bahwa yang dimaksud dengan burhan (بُرْهَان) adalah agama yang benar yang dibawa oleh Nabi SAW, yaitu agama Islam.
Sebenarnya tiga pendapat di atas pada dasarnya sama saja, karena secara teknis ketiganya memang tidak terpisahkan. Kalau dibilang burhan adalah sosok Nabi Muhammad SAW, memang itulah faktanya. Dan kalau dibilang burhan itu mukjizat, tentunya mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW. Semua nabi pasti punya mukjizat, meskipun bentuknya bisa bermacam-macam.
Namun kalau mau dibilang kata burhan itu masudnya adalah agama Islam, juga sama sekali tidak salah. Karena kedatangan Nabi Muhammad SAW itu memang membawa agama Islam.
Kata min rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) artinya : dari Tuhanmu. Maksudnya dari Allah SWT. Kalau burhan itu dimaknai sebagai Nabi Muhammad SAW, atau Al-Quran, atau pun juga agama Islam, maka sumbernya dari Allah SWT.
Konsep kenabian itu adalah manusia yang diutus oleh Tuhan, bukan sekedar manusia yang punya segudang prestasi dengan segala kemampuan super yang dimiliki. Maka disini ada penekanan yang lebih kuat bahwa kedatangan seorang nabi itu berasal dari perintah dari Tuhan.
Kata wa anzalna (وَأَنْزَلْنَا) artinya : dan telah Kami turunkan. Maksudnya Allah telah menurunkan. Kata ilaikum (إِلَيْكُمْ) artinya : kepada kamu, yaitu kepada umat manusia.
Penggunakan dhamir nahnu yang berarti ‘Kami’ tidak berarti bertentangan dengan Tauhid keesaan Allah. Umumnya para ulama mengatakan bahwa Allah SWT membahasakan diri-Nya dengan sebutan Kami, sebagai bentuk pengagungan dan penyanjungan diri. Al-Qurtubi menuliskan dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran [2]
يُخْبِرُ عَنْ نَفْسِهِ بِفِعْلِ الْجَمَاعَةِ تَفْخِيمًا وَإِشَادَةً بِذِكْرِهِ.
Allah bercerita tentang diri-Nya dengan pekerjaan jamaah sebagai pengagungan dan penyanjungan diri-Nya
Di dalam tafsir Al-Munir[3], Dr. Wahbah Az-Zuhaili juga menguatkan pandangan ini, bahwa tujuannya untuk pengagungan.
وَإِذْ قُلْنا للتعظيم بصيغة الجمع
Kata ‘Ketika Kami katakan’ digunakan dengan kata jamak atau plural sebagai bentuk takzim,”
Namun ada sebagian kalangan menyebutkan bahwa ketika Allah SWT menyebut kata ‘Kami’, maksudnya bukan hanya Allah SWT semata, melainkan pada saat itu Allah SWT memang ikut melibatkan juga beberapa makhluk-Nya, yang dalam hal ini para malaikat. Setidaknya proses turunnya wahyu itu terjadi melalui perantara pena, lauh, dan Malaikat Jibril.
Dikatakan ‘turun’, karena secara teknis wahyu itu turun dari langit ke bumi. Demikianlah semua kitab suci para nabi sepanjang zaman, kitab-kitab itu turun dari langit ke bumi.
Namun turunnya semua kitab suci itu secara teknisnya dengan cara dibawa oleh Malaikat Jibril alaihissalam. Semua kitab suci samawi itu turun dengan cara dibawa oleh malaikat, baik wujudnya dalam bentuk benda fisik seperti batu bertuliskan kata-kata dari Allah. Kitab suci Taurat punya bentuk fisik seperti itu.
Kadang kitab suci turun dibawa Malaikat Jibril dalam bentuk lembaran atau biasa disebut dengan shuhuf, sebagaimana disebutkan dalam ayat :
إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (QS. Al-A’la : 18-19)
Kadang kitab suci turun dibawa Malaikat Jibril tanpa wujud fisik kecuali hanya suara saja. Al-Quran Al-Kariem adalah contoh bagaimana kitab suci yang merupakan wahyu samawi turunnya hanya dalam bentuk kalimat dan kata-kata saja, tanpa ada benda fisiknya yang dipegang pakai tangan.
Kata ilaikum (إِلَيْكُمْ) artinya : kepadamu. Redaksinya bahwa Al-Quran turun untuk kamu, maksudnya untuk seluruh umat manusia, sebagaimana sapaan yang ada pada ujung awal ayat ini : wahai manusia.
Namun maksudnya bukan berarti semua umat manusia mengalami proses penurunan Al-Quran. Tetapi maksudnya bahwa isi dan kandungan hukum yang ada di dalam Al-Quran ditujukan untuk semua umat manusia.
Sedangkan turunnya dari langit ke bumi, hanya kepada Nabi Muhammad SAW saja. Memang terkadang ada juga momen dimana turunnya wahyu itu ketika Nabi SAW ada di tengah-tengah para shahabatnya. Namun intinya turunnya Al-Quran hanya kepada Nabi Muhammad SAW saja.
Oleh karena itu yang paham dan mengerti apa isinya, tentu saja Nabi Muhammad SAW. Sebab hanya kepada Beliau saja Al-Quran diturunkan. Maka bahasa yang Allah SWT gunakan pastinya adalah bahasa yang dimengerti oleh sang nabi. Karena harus disampaikan kembali kepada umatnya.
Kata nuuran (نُورًا) secara bahasa artinya adalah cahaya. Namun para ulama umumnya mengatakan bahwa yang dimaksud tidak lain adalah kitab suci Al-Quran Al-Karim. Digambarkan Al-Quran ini seperti cahaya, karena sifatnya menerangi apa-apa yang sebelumnya hanya ada kegelapan.
Kata mubina (مُبِينًا) artinya : yang terang benderang. Maksudnya bahwa Al-Quran itu bercahaya yang bukan sekedar menunjukkan keberadaannya, tetapi menerangi sekitaranya sehingga semua jadi nampak kelihatan.
Kalau kita ibaratkan, bintang-bintang di langit itu memang bercahaya, tetapi cahayanya sekedar lampu hiasan. Indah dipandang mata, tetapi tidak sampai menerangi kita dan tidak sampai bisa mengubah gelapnya malam menjadi benderangnya siang. Maka Al-Quran itu bukan bintang yang cahaya hanya gemerlap dan titik-titik saja.
Al-Quran itu ibarat matahari, yang belum terbit saja pun, cahaya sudah menerangi langit menjadi fajar. Apalagi ketika matahari itu benar-benar terbit dan menampakkan seluruh dirinya, maka malam pun lenyap, gelap pun terusir pergi entah kemana. Malam pun berubah jadi siang. Semua kelihatan jadi nyata dengan terbitnya matahari.
Maka sudah benarlah penggambaran Al-Quran sebagai nuran mubina (نُورَا مُبِيْنَا), yaitu cahaya yang menerangi. Ibarat matahari yang terbit menerangi semuanya, mengubah malam jadi siang.
Sayangnya banyak orang yang memperlakukan Al-Quran hanya sebatas nur atau cahaya yang indah saja, bukan sebagai nuran mubina yaitu cahaya yang menerangi. Al-Quran memang nur yaitu cahaya yang pasatinya indah di mata. Namun kalau hanya sebatas ini saja, maka baru sebatas keindahan bahasa dan sastranya saja dari Al-Quran. Sudah membuat banyak orang tertarik sih, tapi itu bukan intinya. Al-Quran bilang cahaya yang indah, memang indah karena mendatangkan pahala bacaannya bila dibaca, yang diganjar tiap hurufnya dengan sepuluh pahala.
Namun pada dasarnya Al-Quran itu bukan sekedar berkas cahaya yang indah dipandang mata, tetapi Al-Quran itu sifatnya adalah nuran mubina yaitu cahaya yang menerangi sekitarannya. Dan yang dimaksud dengan Al-Quran itu menerangi sekitarannya bahwa di dalam Al-Quran itu ada begitu banyak petunjuk, aturan, ketentuan, syariat, hukum, undang-undang dan seterusnya. Seharusnya semua itu jadi sinar yang menerangi sekitarnya.
Sayangnya justru pada bagian yang menjadi inti Al-Quran, yaitu sebagai petunjuk atau kitab hidayah, banyak orang kurang memberi perhatian. Kebanyakan orang hanya menjadikan Al-Quran sekedar kitab ritual ibadah belaka. Hanya sekedar dibaca untuk mendatangkan pahala, kadang malah sekedar untuk mengusir jin dan hantu.
Bukannya tidak bisa, tetapi kapasitas Al-Quran tentu tidak hanya sampai disitu. Ibarat orang punya mobil mewah milyaran harganya, pastinya di dalamnya ada AC yang dingin sekaligus ada audio yang baik. Sayangnya pemilik mobil tidak gunakan mobilnya untuk bepergian, dia hanya pakai mobil itu untuk ngadem di ruangan ber-AC sambil dengarkan musiknya. Padahal harga mobil itu milyaran, pajaknya pun puluhan juta.
Betapa amat sangat mubazirnya gaya hidup orang itu.