Kemenag RI 2019:Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga) serta menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya. Prof. Quraish Shihab:Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang pada tuntunan agama-Nya, pasti Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, menganugerahkan limpahan karunia-Nya, dan menunjukkan mereka jalan lebar yang lurus menuju kepada-Nya. Prof. HAMKA:Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, maka akan dimasukkan-Nya mereka ke dalam rahmat dari-Nya dan kemurahan. Dan akan Dia beri petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus.
Kata fa-amma (فَأَمَّا) artinya : adapun. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata aamanu (آمَنُوا) artinya : beriman. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah.
Di masa kenabian, mereka yang disebut sebagai orang-orang yang beriman adalah para shahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka mungkin berasal dari orang Arab musyrikin Mekkah, atau pun bisa juga berasal dari kaum Yahudi Madinah. Namun mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT, lalu menyatakan diri masuk Islam. Secara teknis, keislaman mereka ditandai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Kata wa’tashamu bihi (وَاعْتَصَمُوا بِهِ) artinya : dan berpegang teguh padanya. Secara asal kata, maknanya adalah thalabul ‘ishmah (طلب العصمة) dan artinya : menuntut perlindungan. Maka bisa juga dimaknai penggalan ini menjadi : “Adapun orang-orang yang beriman dan menuntut perlindungan kepada Allah.”
Ibnu Asyur menuliskan dalam tafsirAt-Tahrir wa At-Tanwir[1] bahwa kata al-i‘tiṣam berarti berlindung, maka kata wa’tashimubihi (وَاعْتَصَمُوا بِهِ) artinya berlindung kepada Allah lewat berpegang kepada agama-Nya.
Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsir Mahasin At-Ta'wil [2] menuliskan bahwa maksudnya adalah mereka menjaga diri dengannya dari hal-hal yang dapat membinasakan jiwa, seperti penyimpangan setan.
Sebagian ulama mengatakan bahwa dhamir huruf ha pada kata bihi (بِهِ), kembali kepada Allah SWT. Sebab kata wa’tashimu bihi (وَاعْتَصَمُوا بِهِ) ini terletak setelah kata billahi (بِاللَّهِ).
Namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa dhamir-nya kembali kepada kitab suci Al-Quran. Alasannya karena ayat sebelumnya sedang bicara tentang Al-Quran yang disebut sebagai nuran mubina (نُورًا مُبِيْنًا).
فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ
Kata fa-sa-yudkhilu-hum (فَسَيُدْخِلُهُمْ) artinya : maka Allah akan memasukkan mereka. Kata fi (فِي) artinya : ke dalam. Kata rahmatin (رَحْمَةٍ) artinya : rahmat. Kata minhu (مِنْهُ) artinya : dari-Nya.
Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsir Mahasin At-Ta'wil [3] menuliskan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmah adalah surga. Dan itu sesuai dengan ungkapannya, yaitu Allah memasukkan ke dalam rahmah yaitu ke dalam surga.
Abu Hayyan Al-Andalusi menuliskan dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith fi At-Tafsir [4] bahwa rahmat dan karunia itu dua-duanya merujuk kepada surga.
Sedangkan Az-Zamakhsyari berkata bahwa ‘rahmat dan karunia dari-Nya’ adalah pahala yang pantas mereka terima serta anugerah tambahan. Dikatakan pula bahwa rahmat berarti peningkatan derajat dan pengangkatan kedudukan, sementara karunia berarti penerimaan amal. Ada juga yang berpendapat bahwa rahmat adalah taufik (bimbingan), sedangkan karunia adalah penerimaan.
وَفَضْلٍ
Kata wa fadhlin (وَفَضْلٍ) artinya : dan karunia dari-Nya (surga).
Ibnu Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim[5] menuliskan bahwa yang dimaksud dengan kata wa fadhlin (وَفَضْلٍ) adalah menambah pahala mereka, melipatgandakannya, serta mengangkat derajat mereka sebagai karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka.
Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsir Mahasin At-Ta'wil [6] menuliskan bahwa makna wa fadhlin (وَفَضْلٍ) yang secara bahasa bermakna : dan karunia dari-Nya, maksudnya adalah anugerah hanya diberikan kepada ahli surga, seperti melihat wajah-Nya yang mulia dan berbagai pemberian agung lainnya.
وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
Kata wa yahdihim (وَيَهْدِيهِمْ) artinya : serta menunjukkan mereka. Kata ilaihi (إِلَيْهِ) artinya : kepada-Nya. Kata shirathan (صِرَاطًا) artinya : jalan. Kata mustaqima (مُسْتَقِيمًا) artinya : yang lurus.
Ibnu Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim[7] menuliskan bahwa makna : ”memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus," adalah menerangi mana jalan yang jelas, lurus, dan tegak tanpa kebengkokan atau penyimpangan.
Inilah sifat orang-orang beriman di dunia dan akhirat. Di dunia, mereka berada di atas jalan yang lurus dan selamat dalam seluruh keyakinan dan amal perbuatan. Sedangkan di akhirat, mereka berada di atas shirath Allah yang lurus, yang mengantarkan menuju taman-taman surga.
"Al-Quran adalah shirath Allah yang lurus dan tali Allah yang kokoh."
Hadis ini telah disebutkan secara lengkap di awal tafsir, segala puji dan karunia hanya bagi Allah.
Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsir Mahasin At-Ta'wil [8] menuliskan "Dan Dia memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus," yaitu, Dia menuntun mereka—dengan berpegang teguh pada dalil dan cahaya yang nyata—ke jalan yang jelas dan lurus, yaitu Islam.
Penyebutan janji untuk memasukkan mereka ke surga sebelum janji untuk memberi mereka petunjuk ke sana, meskipun dalam kenyataannya urutan keduanya berlawanan, bertujuan untuk segera memberikan kabar gembira tentang hal yang menjadi tujuan utama.
Kata shirath ditemukan dalam al-Quran sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal, 32 kali di antaranya dirangkaikan dengan kata mustaqim, selebihnya dirangkaikan dengan berbagai.
Selanjutnya, bila shirath dinisbahkan kepada sesuatu, penisbahannya adalah kepadaAllah SWT seperti katashirathaka (jalan-Mu), atau shirathi (jalan-Ku), atau shirath al-aziz al-hamid (jalan Allah Yang Mahamulia lagi Maha terpuji), dan kepada orang-orang mukmin, yang mendapat anugerah nikmat Ilahi seperti dalam ayat al-Fatihah ini shiratha allazina an 'amta 'alaihim.
Lafazh shirath (صراط) ini berbeda dengan kata yang mirip yaitu sabil (سبيل) yang juga sering kali diterjemahkan dengan jalan. Kata sabil ada yang berbentuk jamak, seperti subul as-salam (jalan-jalan kedamaian), ada pula yang tunggal yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillah, atau kepada orang bertakwa, seperti sabil al-muttaqin. Ada juga yang dinisbahkan kepada setan dan tirani seperti sabil ath-thdghut atau orang-orang berdosa seperti sabil al-mujrimin.
Makna Ash-Shirat Al-Mustaqim
Cukup banyak tafsiran para ulama ahli tafsir terhadap makna kata ash-shirath ini. Dalam tafsir Jami' Al-Bayan, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak mengutipkan pendapat mereka satu per satu. Di antaranya adalah jalan lurus, Al-Quran Al-Kariem, agama Islam, Nabi Muhammad SAW dan lainnya.
1. Jalan Yang Lurus
Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah bersepakat bahwa secara umum makna shirat adalah :
وَفّقنا للثبات على ما ارتضيتَه ووَفّقتَ له مَنْ أنعمتَ عليه من عبادِك، من قولٍ وعملٍ، وذلك هو الصِّراط المستقيم
Teguhkan kami agar tetap berada pada apa yang Engkau ridahi sebagaimana orang-orang yang Engkau berikan nikmat-Mu di kalangan hamba-hamba-Mu, baik berupa perkataan atau perbuatan. Itulah ash-shirath al-mustaqim.
2. Al-Quran Al-Karim
Namun Ibnu Jarir Ath-Thabari juga tidak menampik adanya banyak penafsiran yang lain. Salah satunya bahwa ash-shirat al-mustaqim adalah Al-Quran Al-Karim, sebagaimana disebutkan beberapa riwayat yang berbeda-beda dalam tafsirnya, namun semuanya berujung kepada perkataan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhuma.
3. Agama Islam
Selanjutnya juga ada riwayat dari Jabir bin Abdillah dan Muhammad bin Al-Hanafiyah yang menafsirkan bahwa ash-shirath al-mustaqim adalah Agama Islam.
4. Rasulullah SAW
Tafsiran lain atas ash-shirath al-mustaqim adalah diri Rasulullah SAW sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri dan Ashim dari Abul Aliyah.
[1] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)