Kemenag RI 2019:Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Prof. Quraish Shihab:Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah para hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." Prof. HAMKA:Jika hendak Engkau adzab mereka itu maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba Engkau. Dan jika Engkau beri ampun mereka maka sesungguhnya Engkaulah adalah Mahagagah lagi Bijaksana.”
Nabi Isa alaihissalam menegaskan bahwa jika Allah SWT hendak menyiksa kaumnya, maka itu hak Allah SWT sepenuhnya. Nabi Isa sama sekali tidak punya hak untuk protes atau keberatan.
Sebaliknya jika Allah SWT berkenan mengampuni mereka, maka itupun bukan hal yang sulit bagi Allah SWT. Karena Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ
Kata in (إِنْ) artinya : jika. Huruf in ini disebut dengan harf syarth jazim, yaitu huruf syarat yang men-jazm-kan fi’il setelahnya. Seharusnya ((تُعَذِّبُ tetapi karena majzum oleh adanya huruf in sebelumnya berubah menjadi (تُعَذِّبْ) dengan tanda huruf ba’ diberi sukun.
Kata tu‘adzdzib-hum (تُعَذِّبْهُمْ) artinya : Engkau mengazab mereka. Mereka yang dimaksud tidak lain adalah kaumnya Nabi Isa ‘alaihissalam, yang sebelumnya menjadikan dirinya sebagai tuhan yang disembah.
Kata fa-innahum (فَإِنَّهُمْ) artinya : maka sesungguhnya mereka. Kata ‘ibaaduka (عِبَادُكَ) artinya : hamba-hamba-Mu.
Ketika Nabi Isa berkata dalam ayat, "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu," maksudnya adalah: jika Engkau mewafatkan mereka dalam keadaan tetap berada dalam kekafiran, lalu Engkau menyiksa mereka karena itu, maka itu sepenuhnya adalah hak-Mu, karena mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Engkau berkuasa penuh atas mereka.
وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata taghfir (تَغْفِرْ) artinya : Engkau mengampuni. Kata lahum (لَهُمْ) artinya : mereka.
Ada hal yang sedikit bikin masalah dari penggalan ini, khususnya jika kita membaca penggalan ini secara selintas lalu. Ada kemungkinan kesannya bahwa meski seseorang mati dalam keadaan menyekutukan Allah SWT, namun bisa saja orang itu tetap Allah SWT ampuni.
Apakah benar demikian maksud dari ayat ini? Nampaknya para ulama beda pendapat dalam masalah ini. Al-Qurthubi menuliskan dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran [1] bahwa ada yang mengatakan bahwa ucapan Nabi Isa itu diucapkan dalam rangka berserah diri kepada kehendak Allah dan memohon perlindungan dari azab-Nya, padahal beliau mengetahui bahwa orang kafir tidak akan diampuni.
Namun ada pula yang menafsirkan bahwa kata ganti hum (هُمْ) yang berarti ’mereka’ adalah dua kelompok orang yang berbeda : Kelompok pertama adalah mereka yang menyekutukan Allah SWT dan matinya dalam kedaan kafir, yaitu dalam kalimat "Jika Engkau menyiksa mereka" (إِنْ تُعَذِّبْهُمْ) merujuk kepada orang-orang yang mati dalam keadaan kafir.
Yang kedua adalah kata ganti hum (هُمْ) mereka dalam kalimat "Jika Engkau mengampuni mereka" (إِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ) merujuk kepada mereka yang sempat bertaubat sebelum wafat.
Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa yang dimaksud oleh Nabi Isa adalah, mereka telah melakukan kemaksiatan setelah Beliau meninggalkan mereka dan melakukan hal-hal yang tidak beliau perintahkan, meskipun secara umum masih berada di atas dasar agama beliau. Maka beliau berkata: “Jika Engkau mengampuni mereka atas dosa-dosa yang mereka lakukan setelah kepergianku.”
فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Kata fa-innaka (فَإِنَّكَ) artinya : maka sesungguhnya Engkau. Kata anta (أَنْتَ) artinya : Engkaulah. Kata al-‘aziiz (الْعَزِيزُ) artinya : Yang Mahaperkasa. Kata al-hakiim (الْحَكِيمُ) artinya : Maha Bijaksana.
Ini adalah penyebutan dua sifat Allah SWT yang saling bertentangan. Dikatakan bahwa Allah itu Al-’Aziz (الْعَزِيزُ) Yang Maha Perkasa. Sementara kalau dikatakan bahwa Allah SWT itu Al-Hakim (الْحَكِيمُ) yang artinya Maha Bijaksana, maka terjadilah dua perpaduan karakter yang saling bertentangan.
Pada manusia, sifat ’perkasa’ dan ’bijaksana’ memang sering kali sulit untuk bersatu secara sempurna. Ketika seseorang memiliki kekuasaan, otoritas, atau kekuatan besar, maka sangat mungkin ia menjadi zalim, egois, atau sewenang-wenang, dan sifat kebijaksanaan pun bisa tergerus oleh hawa nafsu dan ambisi. Sejarah pun penuh dengan contoh seperti itu: raja-raja, diktator, atau pemimpin yang begitu kuat secara militer atau politik, namun justru kehilangan arah moral dan keadilan. Kekuasaan yang tidak disertai hikmah akan melahirkan tirani.
Sebaliknya, jika seseorang hanya bijaksana tanpa disertai kekuasaan atau kekuatan yang memadai, maka kebijaksanaannya sulit diwujudkan dalam tindakan nyata, sehingga kebaikan yang diinginkan pun sulit terlaksana.
Al-Qurthubi juga meriwayatkan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam ketika mengucapkan doa yang penuh kerendahan hati di hadapan Allah SWT dengan lafaz tadi, beliau kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit dan dengan penuh kesedihan memohon, “Ya Allah, umatku...” lalu beliau menangis tersedu.
Melihat peristiwa itu, Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril untuk pergi kepada Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad — dan Tuhanmu lebih mengetahui — tanyakan kepadanya: apa yang membuatmu menangis?” Maka Jibril pun mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan pertanyaan itu. Rasulullah pun menjawab dan memberitahukan apa yang beliau ucapkan sebelumnya, walaupun Allah tentu lebih mengetahui keadaan beliau.
Kemudian Allah menyampaikan wahyu-Nya yang menenangkan hati Nabi:
“Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu bersedih.”
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)