Kemenag RI 2019:Wahai Ahlulkitab, sungguh rasul Kami telah datang kepadamu untuk menjelaskan banyak hal dari (isi) kitab suci yang kamu sembunyikan dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak hal (pula). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci ) yang jelas. Prof. Quraish Shihab:Hai Ahl al-Kitab!
Sungguh, telah datang kepada kamu Rasul Kami (yang nama dan sifat-sifatnya tercantum dalam kitab yang ada pada kamu), menjelaskan kepada kamu banyak dari isi Kitab yang kamu sembunyikan dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak lainnya. Sungguh, telah datang kepada kamu cahaya (Nabi Muhammad SAW) dari Allah dan Kitab (Al-Qur'an) yang menerangkan. Prof. HAMKA:Wahai Ahlul Kitab! Sungguh telah datang kepada kamu Utusan Kami, menerangkan kepada kamu banyak hal dari apa yang telah kamu sembunyikan dari al-Kitab, dan Dia maafkan dari yang
banyak lagi. Sungguh telah datang kepada kamu
dari Allah suatu cahaya dan kitab yang nyata.
Ayat ke-15 masih terkait dengan ayat sebelumnya, yaitu Allah SWT mengingatkan kepada para pemeluk agama samawi masa lalu, yaitu mereka yang disebut dengan sapaan sebagai Ahlui Kitab, yaitu Yahudi ataupun Nasrani.
Intinya Allah SWT menegaskan bahwa mereka harus beriman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir utusan Allah. Di antara peranannya adalah menerangkan banyak hal selama ini mereka sembunyikan dari ajaran Kitab suci samawi sebelumnya. Selain itu Allah SWT juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW akan banyak memberikan permaafan kepada mereka.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata yaa ahlal-kitabi (يَا أَهْلَ الْكِتَابِ) artinya : wahai Ahlul-kitab. Dalam ayat lain disebutkan bahwa ada dua genre orang kafir, yaitu kaum musyrikin dan ahli kitab.
Sapaan Allah SWT kepada mereka yang disebut dengan ahli kitab pada hakikatnya merupakan sapaan yang bersifat memuliakan. Posisinya kurang lebih sama dengan kasus ketika
Allah SWT menyapa mereka dengan Bani Israil. Sama-sama sapaan yang sifatnya memberikan penghargaan dan penghormatan.
Khususnya jika dibandingkan dengan sebutan mereka sebagai Yahudi, yang sebenarnya tidak terlalu mereka banggakan. Maka kalau Al-Quran memanggil mereka dengan sebutan Yahudi atau Nasrani, kita merasakan bahwa sebutan itu tidak terlalu memuliakan, bahkan cenderung akan merendahkan.
قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh. Ini merupakan salah satu gaya dalam bahasa Arab, dimana seringkali suatu kalimat diawali dengan ungkapan semacam ini, yaitu untuk memberikan tekanan tentang pentingnya kalimat yang ingin disampaikan.
Kata jaa-a-kum (جَاءَكُمْ) artinya : telah datang kepadamu. Tentu saja yang dimaksud dengan datang bukanlah datang dari tempat yang jauh atau datang dari atas langit turun ke bumi. Tetapi yang dimaksud telah datang waktunya. Sehingga membacanya menjadi : telah datang masa dimana Allah SWT telah mengangkat seorang utusan atau rasul.
Kata rasuluna (رَسُولُنَا) artinya : utusan Kami. Yang jadi utusan Allah SWT itu biasanya adalah manusia yang terpilih dengan kriteria tertentu. Namun terkadang para malaikat pun sering disebut sebaagai utusan Allah. Namun di ayat ini nampaknya lebih mengacu kepada rasul dalam artian seorang nabi, khususnya dalam hal ini adalah Nabi Muhammad SAW seorang.
Kedatangan Nabi Muhammad SAW ini agak sedikit di luar ekspektasi, atau lebih tepatnya di luar kebiasaan yang ada selama ratusan tahun. Biasanya Allah SWT mengutus nabi dan rasul itu dari kalangan Bani Israil, namun kali ini Allah SWT berkehendak untuk mengangkat seorang rasul dari luar klan Bani Israil, yaitu dari kalangan bangsa Arab.
Padahal Bangsa Arab sendiri sudah semenjak masa kenabian Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam, nyaris tidak pernah kedatangan seorang nabi pun. Memang benar ada disebut-sebut empat orang nabi yang konon dari tanah Arab, yaitu Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ismail dan Nabi Syu’aib. Namun Nabi Hud dan Nabi Shalih hidupnya sebelum Nabi Ismail. Sedangkan Nabi Syu’aib agak sulit dibilang tinggal di negeri Arab, karena yang dimaksud adalah negeri Madyan.
Kata yubayyinu lakum (يُبَيِّنُ لَكُمْ) artinya : menjelaskan kepada kamu. Kata katsiran (كَثِيرًا) artinya : banyak hal. Kata mimma (مِمَّا) artinya : dari apa, yaitu isi kitab suci. Kata kuntum tukhfuna (كُنْتُمْ تُخْفُونَ) artinya : kamu menyembunyikan. Kata minal kitabi (مِنَ الْكِتَابِ) artinya : dari kitab.
Ibnu Katsir menuliskan dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim bahwa Nabi Muhammad SAW menjelaskan bagian-bagian agama yang mereka gonta-ganti, atau mereka selewengkan, atau mereka takwilkan secara keliru, serta apa yang mereka ada-adakan terhadap Allah di dalamnya.
الرَّجُلُ
Kata wa ya’fuu an (وَيَعْفُو عَنْ) secara bahasa merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, asalnya dari artinya kata (عفا - يعفو) yang apabila ditambahkan kata ‘an (عن) di belakangnya akan bermakna memaafkan.
Namun jika ketambahan huruf lain misalnya min (مِنْ), maka maknanya berubah jadi : menjauh dari sesuatu atau menghindari. Contihnya adalah pernyataan berikut (يَعْفُو الرَّجُلُ مِنَ الشَّرِّ) artinya : seseorang menjauh dari keburukan.
Kalau kita perhatikan penerjemahan dari tiga sumber kita, maka kita temukan ada perbedaan dalam menerjemahkan bagian ini. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak hal (pula)”. Senada dengan itu, dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak lainnya”.
Jadi kata ya’fuu (يعفو) tidak diartinya sebagai memaafkan, tetapi dimaknai menjadi : membiarkan. Dengan demikian, berarti Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang apa-apa yang disembunyikan oleh orang-orang Nasrani, namun banyak juga hal-hal yang tidak Beliau jelaskan.
Yang cenderung pada pendapat ini banyak juga dari kalangan mufassir, antara lain adalah :
As-Sam'ani dalam Tafsir Al-Quran menuliskan bahwa Nabi SAW berpaling dari banyak hal yang mereka sembunyikan dan tidak membahasnya.
Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami' li Ahkam Al-Quran menuliskan bahwa Nabi SAW membiarkannya dan tidak menjelaskannya. Dia hanya menjelaskan hal-hal yang menjadi hujjah atas kenabian-Nya, bukti kebenaran-Nya, dan kesaksian atas kerasulan-Nya, serta meninggalkan apa yang tidak diperlukan untuk dijelaskan.
Ibn Katsir dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim menuliskan bahwa Nabi SAW mendiamkan banyak hal yang mereka ubah, disebabkan tidak ada manfaat dalam menjelaskannya.
Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam kitab Mufradat bin Gharib Al-Quran menuliskan bahwa Nabi SAW menghindari untuk menampakkan banyak hal yang mereka sembunyikan.
As-Sa’di dalam kitab Taysir Al-Kariem Ar-Rahman fi Tafsiri Kalam Al-Mannan menuliskan bahwa maknanya adalah meninggalkan hal-hal yang tidak ada hikmahnya (يترك بيان ما لا تقتضيه الحكمة).
Adapun Buya HAMKA tidak demikian memahaminya. Beliau dalam versi terjemahannya menuliskan : “dan Dia maafkan dari yang banyak lagi”. Maksudnya Nabi Muhammad SAW banyak sekali memaafkan berbagai macam kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani.
Kata ‘an katsirin (عَنْ كَثِيرٍ) artinya : banyak hal. Beberapa mufassir ada yang mengatakan bahwa di antara hal yang banyak itu terkait dengan hukum merajam pezina.
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh. Kata jaa-a-kum (جَاءَكُم) artinya : telah datang kepadamu. Kamu yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah orang-orang ahli kitab, baik dari kalangan Yahudi ataupun juga dari kalangan Nasrani.
Kata minallahi (مِنَ اللَّهِ) artinya : dari Allah.
Kata nurun (نُورٌ) artinya : cahaya. Namun semua sepakat kata cahaya disini hanya ungkapan majaz, padahal yang dimaksud tentunya bukan semata-mata cahaya.
Namun mewakili apakah kata nur (نور) disini, ada perbedaan pendapat sebagaimana dituliskan oleh Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun.
Pendapat pertama, bahwa yang dimaksud dengan cahaya adalah Nabi Muhammad SAW. Ini adalah pendapat Az-Zajjaj. Pendapat ini sejalan dengan penggalan awal ayat ini, yang menyatakan : “Wahai ahli kitab, telah datang kepadamu rasul Kami” (يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا ). Tentu yang dimaksud dengan ‘rasul Kami’ disini tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.
Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud dengan cahaya adalah kitab suci Al-Quran. Ini adalah pendapat sebagian ulama muta'akhkhirin.
Sebab nama lain dari Al-Quran adalah cahaya, sebagaimana firman Allah :
Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang-benderang. (QS. An-Nisa' 174)
Sedangkan Al-Qurtubi menambahkan pendapat ketiga, bahwa cahaya yang dimaksud tidak lain adalah agama Islam.
Tapi apapun penafsirannya, apakah Nabi Muhammad, Al-Quran atau pun agama Islam, memang ketiganya bisa diidentikkan dengan cahaya yang menerangi di tengah kegelapan yang lumayan panjang. Sebab jarak antara kenabian Muhammad SAW dengan nabi-nabi sebelumnya memang amat berjauhan. Bisa diibaratkan kegelapan malam yang hitam pekat, namun dengan terbitnya matahari, semuanya jadi terang benderang, karena malam berubah jadi siang.
Kata wa kitabun mubin (وَكِتَابٌ مُبِينٌ) artinya : dan kitab suci yang jelas. Dikatakan bahwa Al-Quran merupakan kitab suci yang jelas, boleh jadi karena banyak kalangan Yahudi yang mempertanyakan kejelasan Al-Quran. Hal itu mengingat bahwa ketika Allah SWT menurunkan Al-Quran kepada Nabi SAW, wujud fisiknya tidak ada. Malaikat Jibril alaihissalam secara teknis tidak membawa teks tertulis ketika menurunkan Al-Quran walau selembar kertas.
Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu sebuah kitab dalam bentuk lembaran kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka, niscaya orang-orang kafir itu tetap akan berkata, 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.'” Al-An'am (QS. Al-An’am : 7)
Hal ini berbeda dengan bentuk fisik Taurat yang berupa batu tulis pipih dan disebut dengan lauh.
Sedangkan tata kitab (كتاب) dalam bahasa Arab modern memang bermakna buku. Namun dalam Al-Quran pastinya bukan buku ataupun mushaf modern berisi 30 juz. Di masa turunnya Al-Quran selama periode 23 tahun, bahkan belum ada mushaf 30 juz seperti yang kita kenal hari ini. Cikal bakal mushaf generasi pertama baru disusun di era Abu Bakar Ash-Shiddiq. Waktu itu masih belum berupa buku, melainkan kumpulan dari ribuan lembar kulit hewan yang digulung-gulung dan diikat jadi satu, sesuai urutan surat dan ayat.