Kemenag RI 2019:Dengannya (kitab suci) Allah menunjukkan kepada orang yang mengikuti rida-Nya jalan-jalan keselamatan, mengeluarkannya dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan kepadanya (satu) jalan yang lurus. Prof. Quraish Shihab:Dengan cahaya dan kitab suci itu, Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan. Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Prof. HAMKA:Dengan kitab itu, Allah memberi petunjuk
kepada barangsiapa yang mengikuti keridhaanNya, kepada berbagai jalan kedamaian, dan
Dia mengeluarkan mereka daripada gelap
gulita kepada cahaya, dengan izin-Nya, dan Dia
menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.
Kata yahdi (يَهْدِي) artinya : Memberi petunjuk. Kata bihi (بِهِ) artinya : dengannya, maksudnya adalah kitab suci. Kata Allah (اللَّهُ) artinya : Allah.
Maksudnya bahwa Allah memberi petunjuk dengan menggunakan kitab suci. Memang ada juga petunjuk Allah SWT yang datang lewat ilham, bahkan juga lewat ilmu logika nalar ilmiyah. Namun biar bagaimana pun juga, kitab suci itu adalah petunjuk Allah SWT yang dominan, resmi dan official. Karena ada teksnya yang jelas, bukan sekedar perasaan atau isyarat yang tidak tegas.
Maka orang yang hanya mengandalkan logika, nalar dan otak belaka, belum bisa dikatakan bahwa dia telah mendapatkan petunjuk. Mungkin petunjuk yang amat terbatas, yaitu yang bersifat duniawi keseharian. Tetapi petunjuk untuk kehidupan di masa depan, yaitu kehidupan pasca kematian, sama sekali tidak punya informasi apapun.
Maka kalau dikatakan Tuhan memberi petunjuk, jangan hanya dibatasi semata petunjuk untuk hidup di dunia. Tapi berpikirlah lebih luas lagi, bahwa setelah kematian di dunia ini, kita akan masuk lagi tahap kehidupan next level, yaitu kehidupan akhirat. Tapi sayangnya kita tidak punya informasi apapun tentang bagaimana bentuk kehidupan akhirat.
Satu-satunya sumber rujukan dan petunjuk untuk kehidupan pasca kematian adalah petunjuk Allah SWT, lewat kitab suci samawi.
مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ
Kata man (مَنِ) artinya : siapa atau orang. Kata ittaba’a (اتَّبَعَ) artinya mengikuti. Kata ridhwanahu (رِضْوَانَهُ) artinya : keridhaan-Nya.
Keridhaan itu adalah kesenangan atas suatu hal, yang dalam hal itu dirasakan oleh Allah SWT. Maka orang yang mendapatkan ridha dari Allah SWT adalah orang yang mendapatkan kasih sayang dan penerimaan dari Allah karena ketaatannya.
Orang yang mengikuti jalan yang diridhai Allah berarti mereka menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan. Petunjuk untuk menjalani kehidupan ukhrawi pasca kehidupan di dunia ini, sayangnya hanya bisa didapat oleh mereka yang beriman. Dimana orang-orang beriman itu digambarkan mereka yang mengikuti atau mencari-cari keridhaan dari Allah SWT.
Kata subula (سُبُلَ) adalah bentuk jamak dari sabil (سبيل) yang maknanya : jalan. Maka subul bermakna : beberapa jalan. Dalam bahas Arab, kata jalan itu ada banyak ungkapannya, antara lain thariq, sabil dan juga shirath.
Perbandingan ketiganya dari sisi ukuran dan luasnya, yang paling kecil itu adalah thariq. Jalan untuk mendaki gunung atau menembus gurun pasir itu lebih sering menggunakan istilah thariq. Maka ada ungkapan syaqqa ath-thariq yang artinya : membuka jalan, atau menerobos untuk bikin rute jalan. Sedangkan yang paling besar, lebar, luas dan lurus adalah shirath. Maka dalam surat Al-Fatihah, doa kita adalah diberi petunjuk kepada jalan lebar, luas, lurus. Bisa diibaratkan jalan tol bebas hambatan. Jarak yang jauh dan rute yang berat, akan jadi tidak apa-apanya jika sudah ada jalan tol.
Maka yang tengah-tengah itu adalah istilah sabil. Sabil itu jalan, tidak terlalu ekstrem kesulitannya, tetapi juga tidak terlalu lebar juga. Kira-kira jalan-jalan di dalam perkampungan. Jumlahnya bisa ada banyak, berliku, banyak hambatan juga. Makanya masih bisa tersesat juga, bahkan bisa juga timbul masalah. Oleh karena itu kalau kita terpaksa lewat jalan itu, harus dipilih jalan-jalan yang selamat alias subulassalam.
Kata as-salam (السَّلَامِ) secara bahasa berarti: keselamatan. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa kata as-salam di ayat ini maksudnya tidak lain adalah nama Allah yaitu As-Salam yang merupakan salah satu dari nama-nama yang indah alias al-asma’ al-husna.
Keselamatan yang dimaksud mungkin saja dimaknai keselamatan duniawi, namun umumnya akan lebih tepat kalau dimaknai sebagai keselamatan ukhraw, alias keselamatan di akhirat. Dengan kata lain jalan itu akan mengantarkan orang masuk ke dalam surga.
Lawan dari jalan keselamatan ini pastinya jalan kehancuran dan siksaan. Jalan ini kalau diikuti, maka akan membawa mereka menjadi tidak selamat, akan disksa dan dianiyaya. Dan jalan itu tidak lain adalah menuju pintu neraka.
Hubungan antara keridhaan Allah dengan jalan-jalan keselamatan adalah bahwa ada begitu banyak varian dan ragam untuk mendapatkan keridhaannya. Orang kaya punya jalannya sendiri, yang boleh jadi tidak sama dengan jalannya orang miskin. Tetapi meski kedua jalan mereka berbeda, keduanya akan sampai ke tujuan juga.
وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
Kata yukhriju-hum (وَيُخْرِجُهُمْ) artinya : mengeluarkan mereka. Kata min (مِنَ) artinya : dari. Kata azh-zhulumat (الظُّلُمَاتِ) adalah bentuk jamak dari kata zhulm (ظلم) yang berarti gelap. Maka makna zhulumat adalah banyak kegelapan atau berbagai kegelapan. Kata ilan-nuur (إِلَى النُّورِ) menuju cahaya.
Banyak ulama yang menafsirkan istilah zhulumat (الظُّلُمَاتِ) sebagai masa-masa kegelapan alias masa-masa Allah SWT dalam kurun waktu yang lama tidak mengutus seorang nabi pun kepada umat manusia. Dan masa itu berlangsung selama lebih dari 600 tahun. Sejak Nabi Isa ‘alaihissalam diangkat ke sisi Allah SWT, maka risalah dari langit seakan terputus begitu saja. Umat manusia seperti dibiarkan saja berada di dalam kegelapan abadi. Dalam istilah sejarah ada digunakan istilah ‘the dark ages’ alias masa kegelapan.
Adapun cahaya dalam ayat ini banyak ditafsirkan sebagai masa datangnya kenabian Muhammad SAW. Beliau dilahirkan tahun 571 masehi dan 40 tahun kemudian diangkat menjadi utusan Allah SWT, tepatnya pada tahun 610 Masehi. Sejak diutusnya Nabi SAW, maka masa The Dark Ages alias masa kegelapan berubah menjadi "The Enlightenment" alias masa pencerahan atau masa yang terang benderang.
بِإِذْنِهِ
Kata bi-idznihi (بِإِذْنِهِ) artinya : dengan izin-Nya. Segala sesuatu di dunia ini bisa terjadi pastinya atas izin Allah. Tanpa adanya izin dari Allah, maka apapun itu tidak bisa terjadi. Karena pada dasarnya izin Allah SWT itulah yang menggerakkan semua peristiwa di dunia.
Ibarat dalam bahasa pemrograman, izin dari Allah SWT itu bisa kita ibaratkan semacam tombol untuk melakukan eksekusi. Kalau tombol itu dipencet, maka semua program yang dituliskan akan segera dieksekusi. Sebaliknya, bila tombolnya tidak pernah dipencet, maka tidak akan terjadi apa-apa, walaupun sudah dibuatkan promgra, koding dan algoritmanya.
Dalam kasus-kasus tertentu, izin dari Allah SWT sering dikonotasikan dengan hal-hal yang diluar kebiasaan. Hal-hal yang secara nalar bertentangan dengan sunnatullah yang biasanya terjadi. Hal-hal yang kalau pakai perhitungan dan statistik, kecil sekali kemungkinan terjadinya.
Tetapi ketika ada ‘izin’ dari Allah SWT, maka hal yang mustahil dan di luar kebiasaan pada umumnya, bisa saja terjadi.
Orang yang sudah mati, seharusnya dan logikanya tidak akan bisa kembali lagi ke dunia. Sebab ajalnya sudah tiba, sudah waktunya meninggal dunia menujuk alam akhirat. Begitulah yang namanya sunnatullah, yaitu hal-hal yang sudah kita anggap kehendak Allah SWT.
Namun, atas suatu alasan tertentu, bisa saja Allah SWT memberi izin sesuatu yang tidak biasa. Contohnya orang yang sudah mati tadi, kalau Allah SWT memberi izin, bisa saja dia balik lagi ke dunia. Dan itulah yang terjadi pada kasus Nabi Isa alaihissalam, ketika Allah SWT mengizinkan hal yang mustahil terjadi.
Dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku. (QS. Al-Maidah : 110)
وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Kata wa yahdihi-him (وَيَهْدِيهِمْ) artinya : dan memberi petunjuk kepada mereka. Dikatakan bahwa Allah SWT memberi petunjuk, yaitu lewat cahaya yang menerangi setelah sebelumnya melewati masa-masa kegelapan.
Kata ilaa (إِلَىٰ) artinya : kepada. Lafazh shirath (الصراط) secara bahasa bermakna jalan yang lebar, namun makna aslinya adalah menelan. Hubungannya bahwa saking lebarnya jalan itu sehingga seolah menelan orang yang melewatinya.
Secara ilmiah, seseorang yang berjalan di tengah kegelapan total tanpa referensi visual akan sulit untuk melangkah lurus dalam waktu lama. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor alami dalam tubuh manusia yang memengaruhi keseimbangan dan orientasi.
Tanpa cahaya, manusia kehilangan salah satu alat navigasi terpenting, yaitu penglihatan. Dalam kondisi normal, otak menggunakan informasi dari mata untuk menjaga arah. Namun, saat berjalan dalam gelap, tubuh harus bergantung pada sistem keseimbangan di telinga bagian dalam serta kesadaran terhadap posisi tubuh (proprioception). Sayangnya, sistem ini tidak seakurat penglihatan dalam menjaga arah lurus.
Selain itu, tubuh manusia tidak sepenuhnya simetris. Satu kaki mungkin sedikit lebih kuat atau lebih panjang dari yang lain, sehingga langkah yang diambil tidak selalu sama panjangnya. Ketidakseimbangan ini menyebabkan seseorang cenderung berbelok perlahan tanpa menyadarinya. Otak pun dapat mengalami kesalahan dalam mempersepsikan arah, sehingga seseorang yang merasa berjalan lurus sebenarnya sedang berbelok sedikit demi sedikit.
Fenomena ini telah dibuktikan dalam berbagai eksperimen. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Jan Souman dari Max Planck Institute menunjukkan bahwa orang yang berjalan dalam kegelapan atau dengan mata tertutup akan tanpa sadar bergerak dalam pola melingkar. Hal ini juga terjadi pada pilot yang mengalami disorientasi spasial saat terbang dalam kondisi tanpa panduan visual, seperti di malam hari atau di tengah kabut tebal.
Kesimpulannya, berjalan lurus dalam gelap bukanlah hal yang mudah karena tubuh manusia membutuhkan acuan eksternal untuk menjaga arah. Jika seseorang harus berjalan dalam kegelapan total, menggunakan referensi seperti cahaya, suara, atau bahkan kompas dapat membantu mencegahnya tersesat dalam pola melingkar.
Kata shirath ditemukan dalam al-Quran sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal, 32 kali di antaranya dirangkaikan dengan kata mustaqim, selebihnya dirangkaikan dengan berbagai.
Lafazh shirath (صراط) ini berbeda dengan kata yang mirip dengannya yaitu kata sabil (سبيل) yang juga sering kali diterjemahkan dengan jalan. Kata sabil ada yang berbentuk jamak, seperti subul as-salam (jalan-jalan kedamaian), ada pula yang tunggal yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillah, atau kepada orang bertakwa, seperti sabil al-muttaqin. Ada juga yang dinisbahkan kepada setan dan tirani seperti sabil ath-thdghut atau orang-orang berdosa seperti sabil al-mujrimin.
Cukup banyak tafsiran para ulama ahli tafsir terhadap makna kata ash-shirath ini. Dalam tafsir Jami' Al-Bayan, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak mengutipkan pendapat mereka satu per satu. Di antaranya adalah jalan lurus, Al-Quran Al-Kariem, agama Islam, Nabi Muhammad SAW dan lainnya.
1. Jalan Yang Lurus
Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah bersepakat bahwa secara umum makna shirat adalah :
وَفّقنا للثبات على ما ارتضيتَه ووَفّقتَ له مَنْ أنعمتَ عليه من عبادِك، من قولٍ وعملٍ، وذلك هو الصِّراط المستقيم
Teguhkan kami agar tetap berada pada apa yang Engkau ridahi sebagaimana orang-orang yang Engkau berikan nikmat-Mu di kalangan hamba-hamba-Mu, baik berupa perkataan atau perbuatan. Itulah ash-shirath al-mustaqim.
2. Al-Quran Al-Karim
Namun Ibnu Jarir Ath-Thabari juga tidak menampik adanya banyak penafsiran yang lain. Salah satunya bahwa ash-shirat al-mustaqim adalah Al-Quran Al-Karim, sebagaimana disebutkan beberapa riwayat yang berbeda-beda dalam tafsirnya, namun semuanya berujung kepada perkataan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhuma.
3. Agama Islam
Selanjutnya juga ada riwayat dari Jabir bin Abdillah dan Muhammad bin Al-Hanafiyah yang menafsirkan bahwa ash-shirath al-mustaqim adalah Agama Islam.
4. Nabi SAW
Tafsiran lain atas ash-shirath al-mustaqim adalah diri Rasulullah SAW sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri dan Ashim dari Abul Aliyah.