Kemenag RI 2019:Orang Yahudi dan orang Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “(Jika benar begitu,) mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Sebaliknya, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki (pula). Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya semua akan kembali.” Prof. Quraish Shihab:Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, "Kami adalah anak-anak Allah dan para kekasih-Nya." Katakanlah (wahai Nabi Muhammad SAW): "Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosa kamu?" Bahkan, kamu adalah manusia biasa di antara makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan hanya kepada-Nya tempat kembali. Prof. HAMKA:Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah, "Jika demikian, mengapa Dia mengadzab kamu karena dosa-dosa kamu? Bahkan kamu itu hanyalah manusia dari makhluk yang diciptakan oleh-Nya. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Bagi Allah-lah kekuasaan atas semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nyalah tempat kembali."
Pada ayat ke-18 ini Allah SWT menegaskan bahwa secara aqidah sebenarnya banyak kaum Yahudi dan Nasrani yang sudah mulai terkontaminasi dengan ajaran Tuhan punya anak. Meskipun formatnya sedikit berbeda, yaitu dengan mengatakan bahwa diri mereka itu adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.
Maka konsep tauhidnya bukan dalam artinya menyekutukan Allah SWT, melainkan untuk menaikkan nilai tawar mereka di hadapan Nabi Muhammad SAW, bahwa mereka tidak perlu harus ikut dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.
Tentu saja klaim mereka langsung bisa dibantah dan dimentahkan dengan mudah. Pengakuan mereka sebagai kekasih Allah itu sangat bertentangan dengan fakta bahwa nasib mereka yang selalu sial dan jadi musuh umat manusia. Setiap saat mereka mendapatkan siksa dan adzab, bahkan sejak masih di dunia.
Di ayat ini Allah SWT menegeaskan bahwa mereka itu bukan siapa-siapa, tidak punya keistimewaan. Mereka tetap manusia biasa, sebagaimana semua manusia lainnya, sama-sama makhluk ciptaan Allah.
Allah SWT tidak pernah membeda-bedakan manusia. Allah SWT mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki (pula). Sebab Allah adalah pemilik kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya semua akan kembali.
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ
Kata wa qaalat (وَقَالَتِ) artinya : dan berkata. Kata al-yahudu (الْيَهُودُ) artinya : orang-orang Yahudi. Kata wan-nashara (وَالنَّصَارَىٰ) artinya : dan dan orang Nasrani.
Boleh jadi tidak semua Yahudi dan Nasrani di masa itu berkata seperti ini. Namun setidaknya kebanyakan mereka memang demikian. Mereka berkata demikian dengan niat untuk menaikkan derajat mereka sendiri di hadapan Nabi Muhammad SAW. Mereka pada dasarnya tidak mau terikat dengan syariat Islam yang termuat di dalam Al-Quran.
Maka alasan yang mereka bangun bahwa mereka punya previlage khusus, karena merupakan anak-anak Allah dan umat yang paling disayang. Kalaupun Allah SWT mengatur mereka dalam urusan agama, mereka merasa punya syariat tersendiri. Tidak merasa harus terikat dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dan alibis semacam ini memang hasil dari kelicikan mereka dalam mencari-cari alasan untuk mangkir dari semua perintah Allah, serta mengingkari kenabian Muhammad SAW. Lalu mereka bergaya seolah-olah punya hubungan khusus kepada Allah SWT.
نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ
Kata nahnu (نَحْنُ) artinya : Kami. Kata abna’ullah (أَبْنَاءُ اللَّهِ) artinya : anak-anak Allah. Kata wa ahibba’uhu (وَأَحِبَّاؤُهُ) artinya : dan kekasih-kekasih-Nya.”
Pernyataan bahwa kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya (نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ) yang diucapkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani berakar dari pemahaman mereka terhadap hubungan mereka dengan Tuhan dalam kitab-kitab mereka. Pernyataan ini bisa ditelusuri dari dua perspektif utama:
1. Pandangan Yahudi
Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi pernah mengatakan bahwa Uzair (Ezra) adalah anak Allah
وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّهِ
"Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair adalah anak Allah' (QS. At-Taubah: 30)
Uzair atau dalam bahasa Ibrani disebut Ezra adalah seorang tokoh dalam sejarah Bani Israil yang dikenal sebagai seorang ulama atau ahli kitab yang berjasa dalam membangun kembali hukum Taurat setelah kehancuran Baitul Maqdis. Dalam kitab Ezra (Perjanjian Lama), ia disebut sebagai seorang imam dan ahli Taurat yang membawa kembali hukum Allah kepada bangsa Yahudi setelah pembuangan di Babilonia.
Namun demikian, ternyata tidak semua orang Yahudi pada masa itu menyatakan Uzair sebagai anak Allah, tetapi sebagian kecil dari mereka diduga memiliki pemahaman yang berlebihan terhadap sosoknya.
Setelah kehancuran Baitul Maqdis dan pembuangan ke Babilonia, banyak teks Taurat yang hilang atau rusak. Menurut beberapa riwayat, Uzair menghidupkan kembali hukum Taurat dengan izin Allah, sehingga sebagian orang Yahudi memuliakannya secara berlebihan hingga menganggapnya sebagai anak Allah.
Dalam sejarah Yahudi, beberapa tokoh dihormati hingga dianggap memiliki kedudukan istimewa. Beberapa sejarawan Islam menyebutkan bahwa ada sekelompok kecil Yahudi yang menempatkan Uzair dalam posisi yang sangat tinggi, bahkan mendekatinya dengan pemahaman ketuhanan.
Pada masa itu, banyak kepercayaan pagan yang memiliki konsep anak dewa. Kemungkinan ada sebagian kecil orang Yahudi yang terpengaruh oleh pemikiran ini, sehingga menyebut Uzair sebagai anak Allah sebagaimana kaum Nasrani menyebut Yesus sebagai anak Allah.
Dalam tradisi Yahudi, istilah ‘anak-anak Allah’ sebenarnya tidak bermakna literal, tetapi lebih sebagai ungkapan keistimewaan dan hubungan dekat antara mereka dengan Tuhan. Dalam Taurat (Tanakh), khususnya dalam kitab Ulangan 14:1, disebutkan :
"Kalian adalah anak-anak Tuhan, Allah kalian..."
Bani Israil menganggap diri mereka sebagai umat pilihan yang memiliki hubungan khusus dengan Tuhan karena mereka menerima wahyu dan hukum-hukum-Nya melalui Nabi Musa. Mereka meyakini bahwa Allah lebih mengasihi mereka dibandingkan bangsa-bangsa lain.
Namun, dalam beberapa kasus, keyakinan ini berkembang menjadi kesombongan, sehingga mereka merasa aman dari azab Allah meskipun melakukan pelanggaran terhadap perintah-Nya.
2. Pandangan Nasrani
Dalam kepercayaan Kristen, konsep anak-anak Allah memiliki makna lebih dalam. Dalam Perjanjian Baru, terutama dalam ajaran Yesus, istilah ini digunakan untuk menyebut orang-orang yang beriman dan mengikuti kehendak Tuhan. Yesus sendiri sering disebut sebagai ‘Anak Allah’ dalam pengertian khusus dalam teologi Kristen.
Umat Kristiani percaya bahwa mereka menjadi ‘anak-anak Allah’ melalui iman kepada Yesus Kristus dan kasih karunia Tuhan. Dalam Injil Yohanes 1:12 disebutkan:
"Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya."
Konsep ini membuat banyak orang Kristen merasa memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan sebagai "Bapa", dan mereka percaya bahwa kasih Tuhan lebih besar bagi mereka yang mengikuti ajaran-Nya.
قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah, atau jawablah. Kata falima (فَلِمَ) artinya : maka mengapa. Kata yu’adzdzibkum (يُعَذِّبُكُمْ) artinya : Allah menyiksa kamu. Kata bi-dzunubi-kum (بِذُنُوبِكُمْ) artinya : karena dosa-dosamu.
Penggalan ini adalah bantahan atas klaim sepihak, baik kalangan yahudi dan nasrani, yang mengaku-ngaku mereka sebagai anak Allah atau kesayangan Allah.
Ternyata Allah SWT tetap menghukum mereka lantaran kesalahan-kesalahan mereka. Seharusnya kalau memang benar-benar jadi kesayangan Allah, mereka ma’shum dan tidak akan pernah berdosa apalagi disiksa.
Ternyata sepanjang hidup mereka, siksaan demi siksaan tidak pernah sepi dari riwayat perjalanan hidup mereka. Kadang kita sendiri yang membaca kisah perjalanan hidup bangsa Yahudi sampai tidak tega. Kok bisa ada suatu bangsa yang seapes itu nasibnya. Berapa banyak korban nyawa yang mereka derita sepanjang sejarah. Begitu banyak nyawa bayi-bayi Yahudi yang terbunuh secara sia-sia.
Hidup di dunia dengan menyandang status sebagai keturunan Yahudi ternyata seperti hidup di bawah kutukan sepanjang masa yang tidak ada hentinya. Mereka diusir, dibantai, dibunuh, disiksa, dihabisi, bahkan kepada mereka dilakukan genoside.
Riwayat perjalanan hidup mereka dipenuhi dengan berbagai ujian, mulai dari kehancuran Baitul Maqdis, penawanan ke Babilonia, penganiayaan di berbagai wilayah, hingga tragedi-tragedi besar di era modern. Maka bangsa Yahudi seharusnya malu untuk mengaku-ngaku sebagai bangsa yang mendapatkan kecintaan dari Allah SWT. Kalau Allah cinta mereka, bagaimana mungkin nasib mereka selalu apes dan jadi musuh umat manusia sepanjang sejarah.
بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ
Kata bal (بَلْ) artinya : tetapi, atau sebaliknya. Kata antum (أَنْتُمْ) artinya : kamu. Kata basyarun (بَشَرٌ) artinya : manusia (biasa). Kata mimman khalaqa (مِمَّنْ خَلَقَ) artinya : di antara orang-orang yang Dia ciptakan.
Walaupun penggalan ayat ini tertuju kepaa orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebenarnya esensinya juga berlaku kepada umum. Hari ini kita juga saksikan banyak sekali di kalangan umat Islam yang mengaku-ngaku sebagai keturunan ulama, wali, bahkan keturunan Nabi Muhammad SAW.
Tidak ada urusan apakah mereka itu keturunan atau bukan. Tetapi kalau perilaku mereka justru bertentangan dengan akhlaq para ulama, adab para wali dan kebersahajaan para nabi, maka disitulah terjadi kesamaan kasus dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani di masa kenabian.
Mengangkat diri mereka tinggi-tinggi di hadapan orang lain, padahal maksudnya ingin terlepas dari aturan dan ingin mendapatkan hak keistimewaan, setidaknya dapat pengecualian-pengecualian.
Dan sayangnya semua itu dibantah langsung oleh Al-Quran sendiri. Trik licik dengan mengaku-ngaku sebagai anak-anak tuhan dan kesayangan tuhan, justru malah berbalik jadi batu sandungan tersendiri. Kalau memang benar anak tuhan, kenapa nasib kalian sebegitu apesnya?
Kalau mengaku-ngaku sebagai anak ulama, anak wali, anak nabi, kenapa akhlaqmu sama sekali tidak ada cerminannya?
يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ
Kata yaghfiru (يَغْفِرُ) artinya : Allah mengampuni. Kata liman yasya’ (لِمَنْ يَشَاءُ) artinya : kepada siapa yang Dia kehendaki.
Allah SWT memberi ampunan kepada siapa yang Dia kehendaki, bahkan meskipun mereka bukan dari keturunan para nabi ataupun ras orang-orang suci.
Bangsa Arab sendiri dahulu justru merupakan bangsa yang tidak lepas dari penyembahan berhala. Mereka punya 360 patung yang mereka sucikan dan mereka jadikan tempat untuk meminta. Allah SWT telah membiarkan mereka tersesat dan bergelimang dosa selama lebih dari 26 abad lamanya.
Namun begitulah, ketika Allah SWT berkehendak, bangsa Arab kemudian diampuni. Kepada mereka diutus seorang nabi utusan Allah. Memang awalnya mereka sempat mengingkari, tetapi pada akhirnya mereka semua mengimani. Dan dengan beriman kepada Allah SWT, maka dosa-dosa mereka pun Allah SWT ampuni.
وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ
Kata wa yu’adzdzbiu (وَيُعَذِّبُ) artinya : dan Dia menyiksa. Kata man yasya’ (مَنْ يَشَاءُ) artinya : siapa yang Dia kehendaki.
Yang dimaksud dengan ‘mengadzab orang yang Dia kehendaki’, tentu saja bukan asal memberi adzab secara random dan ngasal. Sebab Allah SWT pada dasarnya tidak secara zalim dan semena-mena menghukum hamba-Nya.
Tentu yang dimaksud dengan man yasya’ (مَنْ يَشَاءُ) itu maksudnya tetap dengan melewati jalur ‘sebab dan akibat’. Tidak ada satu pun makhluk yang diadzab, kecuali karena dia melakukan kesalahan yang fatal, yaitu kafir dan durhaka kepada Allah.
Begitu juga Allah SWT tidak akan menurunkan adzab kepada suatu kaum, kecuali setelah ada rasul yang Allah SWT utus kepada mereka, lalu rasul itu didustakan.
Boleh konteks ayat ini akan jadi lebih relate kalau kita bicara tentang kasus-kasus su’ul-khatimah. Misalnya kasus Iblis yang konon pada awalnya dia termasuk hamba Allah SWT juga. Namun pada akhirnya dia harus mendekam di dalam neraka. Nasib dan peruntungan memang tidak ada yang tahu. Dan disitulah kita mengatakan : “Allah SWT bisa saja mengadzab siapa yang dia kehendaki”.
Dan yang lebih relate lagi kalau kita kaitkan penggalan ini dengan orang-orang Yahudi. Mereka ini mengklaim diri sebagai bangsa yang Allah cintai. Ternyata fakta berbicara kebalikannya. Mereka justru hidup penuh dengan siksa dan adzab. Bahkan sejak masih di dunia saja pun hidup mereka penuh dengan adzab. Dan parahnya lagi, nanti di akhirat mereka pun tetap akan terus bergelimang dengan adzab di neraka.
Sementara bangsa Arab yang mereka lecehkan dan mereka hinakan, justru malah mendapatkan ampunan atas kejahiliyan ratusan tahun warisan nenek moyang. Mereka mendapat petunjuk, bahkan diberikan nabi dari keturunan mereka. Lalu mereka semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Di dunia mereka jaya dan di akhirat nanti mereka masuk surga. Sungguh kontras sekali dengan nasib orang-orang Yahudi.
wa itsfuhuma
Kata wa ma (وَمَا) artinya : dan apa yang ada. Kata bainahuma (بَيْنَهُمَا) artinya : di antara keduanya.
Apa yang dimaksud dengan ‘apa yang ada di antara keduanya’? Apakah ada ruang kosong yang memisahkan antara langit dan bumi?
Jawabannya tidak demikian. Bahwa apa yang ada di antara keduanya merupakan ungkapan bahwa langit dan bumi itu masing-masing ada isinya atau ada penghuninya. Jadi bukan ruang yang memisahkan antara langit dan bumi, tetapi maksudnya segala yang menjadi isi dari langit dan bumi atau yang menghuni langit dan menghuni bumi.
Kalau yang menghuni bumi tentu saja selain tumbuhan dan hewan, ada manusia. Lantas siapakah yang menghuni langit? Boleh jadi jawabannya adalah makhluk-makhluk ghaib, seperti malaikat, jin dan lainnya. Ada sebagian kalangan yang menerjemahkan langit itu sebagai luar angkasa, dimana gravitasi bumi sudah sangat rendah, sehingga suatu benda melayang-layang di ruang angkasa. Namun di dalam Al-Quran dan juga sastra Arab umumnya, kalau kita menyebut langit, umumnya dikonotasikan dengan alam ghabi.
Makanya Tuhan itu selalu di langit, maksudnya dimensinya bukan benda nyata tapi sesuatu yang ghaib. Begitu juga kita menyebut malaikat itu adanya di langit. Sebenarnya bukan berarti malaikat itu menghuni planet lain, melainkan wujud malaikat yang ghaib itu senada dengan ungkapan langit yang ghaib.
Maka kata langit itu tidak selamanya berarti langit dalam arti astronomi. Meskipun demikian, beberapa ayat Al-Quran juga menyebut langit dalam arti fisika, karena Allah SWT menurunkan hujan pun dari langit. Khusus untuk konteks hujan, maka langit yang dimaksud adalah : dari ketinggian tertentu. Karena awan hujan itu pastinya bukan di luar angkasa, tetapi masih sangat rendah.
Ketinggian awan hujan dari permukaan tanah bervariasi tergantung pada jenisnya. Awan yang paling rendah adalah stratus, yang terbentuk pada ketinggian sekitar 100 hingga 2.000 meter. Awan ini tampak seperti lapisan kabut tebal dan biasanya menghasilkan hujan ringan atau gerimis.
Di atasnya, terdapat nimbostratus, yang berada pada ketinggian 600 hingga 3.000 meter. Awan ini berwarna abu-abu gelap dan menutupi langit secara luas, sering kali menyebabkan hujan yang berlangsung lama. Selanjutnya, terdapat cumulus congestus, yang dapat berkembang pada ketinggian 500 hingga 6.000 meter. Awan ini merupakan bentuk peralihan dari awan cumulus biasa sebelum berubah menjadi awan hujan yang lebih besar.
Awan hujan yang paling tinggi adalah cumulonimbus, yang menjulang dari 200 hingga 16.000 meter. Awan ini berbentuk seperti menara besar dan sering kali disertai petir, hujan deras, angin kencang, bahkan hujan es. Dengan demikian, awan hujan dapat terbentuk mulai dari 100 meter hingga lebih dari 16.000 meter di atmosfer, tergantung pada jenis dan kondisi cuaca yang menyertainya.
وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Kata wa ilaihi (وَإِلَيْهِ) artinya : dan kepada-Nya. Maksudnya kepada Allah SWT.
Kata al-mashir (الْمَصِيرُ) artinya : tempat kembali, namun bisa juga bermakna : “tempat tujuan”. Secara umum yang dimaksud dengan al-mashir itu ujung akhir perjalanan hidup manusia.
Maksud dari ungkapan ini bisa berarti kematian itu sendiri, sehingga kita menyebut ungkapan bila mendengar kabar kematian dengan lafazh innaa lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.