Kemenag RI 2019:Wahai Ahlulkitab, sungguh rasul Kami telah datang kepadamu untuk memberi penjelasan setelah beberapa saat terhentinya (pengutusan) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami, baik pembawa berita gembira maupun pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Hai Ahl al-Kitab!
Sungguh, telah datang kepada kamu Rasul Kami (Nabi Muhammad SAW), menjelaskan kepada kamu setelah terputusnya pengiriman para rasul, supaya kamu tidak mengatakan, "Tidak datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira, tidak pula seorang pemberi peringatan." Maka sungguh telah datang kepada kamu pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. HAMKA:Wahai Ahlul Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Utusan Kami, yang menerangkan kepada kamu setelah terputusnya rasul-rasul, supaya kamu tidak mengatakan, "Tidak ada seorang pun yang datang kepada kami sebagai pembawa berita kesukaan atau pembawa ancaman." Sesungguhnya telah datang kepada kamu pembawa berita kesukaan dan pembawa ancaman. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ayat ke-19 ini masih membicarakan perilaku para ahli kitab di masa kenabian Muhammad SAW, dimana banyak dari mereka yang tidak mau percaya dan membenarkan dakwah kenabian Muhammad SAW. Maka Allah SWT menyapa mereka dan menegaskan sekali lagi bahwa sungguh benar-benar telah datang kepada mereka seorang utusan Allah, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau itu diutus setelah beberapa saat terhentinya pengutusan para nabi dan rasul.
Penegasan ini penting sebab jangan sampai nantinya di akhirat mereka beralibi bahwa Allah SWT tidak mengutus rasul kepada mereka.
Padahal sungguh telah datang kepada mereka Nabi Muhammad SAW yang membawa berita gembira bagi mereka dan sekaligus juga memberi peringatan.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata yaa ahlal-kitabi (يَا أَهْلَ الْكِتَابِ) artinya : wahai Ahlul-kitab. Ini adalah sapaan yang kedua di dalam surat Al-Maidah dengan menggunakan sapaan : wahai ahli kitab. Setelah sebelumnya di ayat ke-15 Allah SWT juga menyapa dengan menggunakan kata-kata : wahai ahli kitab.
Namun kalau kita buka semua ayat Al-Quran, ternyata tidak kurang dari 12 kali Allah SWT memanggil mereka dengan sapaan ini. Tersebar di tiga surat yaitu Surat Ali Imran, An-Nisa’ dan Al-Maidah.
Berikut ini adalah tabel berisi ayat-ayat yang menyapa mereka dengan sapaan : wahai ahli kitab.
Kalangan Bani Israil yang disapa dengan sapaan sebagai ahli kitab pada dasarnya sangat bahagia. Sebab Al-Quran mengakui bahwa mereka adalah umat yang menerima kitab suci dari Allah SWT. Kita perhatikan bagaimana Allah SWT telah mengajarkan adab dan sopan santun kepada objek dakwahnya, dengan menyapa mereka dengan sapaan yang membuat diri mereka bangga.
قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh. Ini merupakan salah satu gaya dalam bahasa Arab, dimana seringkali suatu kalimat diawali dengan ungkapan semacam ini, yaitu untuk memberikan tekanan tentang pentingnya kalimat yang ingin disampaikan.
Kata jaa-a-kum (جَاءَكُمْ) artinya : telah datang kepadamu. Tentu saja yang dimaksud dengan datang bukanlah datang dari tempat yang jauh atau datang dari atas langit turun ke bumi. Tetapi yang dimaksud telah datang waktunya. Sehingga membacanya menjadi : telah datang masa dimana Allah SWT telah mengangkat seorang utusan atau rasul.
Kata rasuluna (رَسُولُنَا) artinya : utusan Kami. Yang jadi utusan Allah SWT itu biasanya adalah manusia yang terpilih dengan kriteria tertentu. Namun terkadang para malaikat pun sering disebut sebagai utusan Allah. Namun di ayat ini nampaknya lebih mengacu kepada rasul dalam artian seorang nabi, khususnya dalam hal ini adalah Nabi Muhammad SAW seorang.
Kedatangan Nabi Muhammad SAW ini agak sedikit di luar ekspektasi, atau lebih tepatnya di luar kebiasaan yang ada selama ratusan tahun. Biasanya Allah SWT mengutus nabi dan rasul itu dari kalangan Bani Israil, namun kali ini Allah SWT berkehendak untuk mengangkat seorang rasul dari luar klan Bani Israil, yaitu dari kalangan bangsa Arab.
Padahal Bangsa Arab sendiri sudah semenjak masa kenabian Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam, nyaris tidak pernah kedatangan seorang nabi pun. Memang benar ada disebut-sebut empat orang nabi yang konon dari tanah Arab, yaitu Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ismail dan Nabi Syu’aib. Namun Nabi Hud dan Nabi Shalih hidupnya sebelum Nabi Ismail. Sedangkan Nabi Syu’aib agak sulit dibilang tinggal di negeri Arab, karena yang dimaksud adalah negeri Madyan.
عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ
Makna sebenarnya dari huruf ‘ala(على) biasanya adalah atas atau di atas. Namun dalam konteks ini digunakan untuk menunjukkan isti‘la’ majazi alias ketinggian secara kiasan, sehingga maknanya menjadi : ‘setelah’. Alasannya karena sesuatu yang berada di atas (musta‘li) akan tetap berada di tempatnya setelah sesuatu yang ia tinggali yang berada di bawahnya telah menetap lebih dahulu. Maka, keberadaannya setelah sesuatu itu diserupakan dengan keberadaannya di atasnya, sehingga huruf yang menunjukkan ketinggian digunakan secara kiasan untuk menunjukkan makna tersebut.
Kata fatratin (فَتْرَةٍ) secara bahasa bermakna : berhentinya suatu pekerjaan (انْقِطاعُ عَمَلٍ ما). Maka ungkapan ‘ala fatrah (عَلَىٰ فَتْرَةٍ) maksudnya adalah : masa-masa setelah berhentinya.
Kata minar-rusul (مِنَ الرُّسُلِ) dari para rasul. Kata rusul adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu rasul. Jumlah mereka sangat banyak, yang diceritakan dalam Al-Quran hanya sebagian kecilnya saja. Kalau yang namanya disebutkan secara eksplisit, jumlahnya 25 orang. Selebihnya hanya disebutkan kisahnya tanpa disebut namanya.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu." (QS. Ghafir :78)
Namun begitu sebenarnya jumlah mereka jauh lebih banyak dari apa yang diceritakan tentang mereka di dalam Al-Quran. Meski hadits-hadits berikut dinilai lemah oleh sebagian kalangan, namun cukup memberi kita sedikit informasi gambaran umum jumlah mereka.
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi? Beliau menjawab, “Seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi. Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, lalu berapa jumlah rasul di antara mereka? Beliau menjawab, “Tiga ratus tiga belas (313), jumlah yang sangat banyak. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).
Jumlah para nabi adalah seratus dua puluh empat ribu. (HR. Al-Bazzar)
Lepas dari perbedaan berapa jumlah nabi dan rasul di atas, yang jelas keberadaan mereka tidak pernah absen dari kehidupan umat manusia. Terhitung sejak manusia pertama, yaitu Adam alaihissalam, umat manusia sudah didatangi para nabi. Bahkan Adam sendiri adalah seorang nabi dan utusan Allah.
Yang jadi masalah sebagaimana disebutkan dalam ayat ini, setelah Nabi Isa alaihissalam diangkat ke sisi Allah, maka sejak itu Allah SWT seperti berhenti dari mengutus para nabi dan rasul.
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa jarak waktu antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW adalah sekitar 600 tahun. Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya:
Dari Isa hingga Muhammad ada enam ratus tahun.(HR. Al-Bukhari)
Dalam perhitungan umum, satu generasi manusia biasanya berkisar antara 25–30 tahun. Jika kita menggunakan standar ini:
·600 tahun ÷ 30 tahun/generasi = 20 generasi
·Jika dihitung dengan rentang 25 tahun/generasi = 24 generasi
Jadi, terdapat sekitar 20–24 generasi yang berlalu tanpa adanya kenabian di antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW.
Namun, dalam rentang waktu ini, meskipun tidak ada nabi baru, ajaran Tauhid masih diwariskan oleh para pengikut setia Nabi Isa, meskipun banyak mengalami penyimpangan dan perubahan. Inilah sebabnya Islam datang sebagai penyempurna dan pelurus ajaran tauhid yang asli.
أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ
Kata an taquluu (أَنْ تَقُولُوا) artinya : bahwa kamu mengatakan. Namun diterjemahkan menjadi : “agar ‘jangan’ kamu mengatakan”. Al-Qurtubi menuliskan bahwa dalam penggalan ini ada kata yang dimahdzuf yaitu kata karahiyata (كَرَاهِيَةَ). Maka lengkapnya adalah (كَرَاهِيَةَ أَنْ تَقُولُوا) : “agar jangan sampai kamu berkata”.
Kata maa jaa-‘a-na (مَا جَاءَنَا) artinya : tidak ada yang datang kepada kami. Kata min (مِن) artinya : dari, atau bisa juga diterjemahkan menjadi : seorangpun dari.
Lafazh basyir(بَشِير) sering dimaknai menjadi : “pembawa kabar gembira”. Kata iniadalah ism fa‘il dari (بَشَّرَ – يُبَشِّرُ).Kata ini punya kemiripan dengan mubasyyir (مُبَشِّر), namun lebih menunjukkan peran atau tindakan aktif seseorang dalam menyampaikan kabar gembira.
Perbandingannya, kata basyir (بَشِير) lebih bersifat pasif sebagai pembawa kabar gembira, sedangkan kalau mubasysyir (مُبَشِّر) sifatnya agak lebih aktif, kira-kira seperti orang yang sedang atau terus-menerus memberikan kabar gembira.
Meski begitu, namun yang jelas ketika Al-Quran menyebut kata basyir, maka maksudnya tidak lain adalah nabi utusan Allah. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT :
Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS. Al-Isra : 9)
Ayat ini menegaskan bahwa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman adalah pahala yang besar (أَجْرًا كَبِيرًا). Dan yang dimaksud dengan pahala yang besar tidak lain adalah surga, sebagaimana dikatakan oleh Juraij bahwa setiap kali Al-Quran menyebut ajrun kabir atau ajrun karim, maka maksudnya adalah surga.
Kadang kabar gembira disampaikan malaikat menjelang ajal bahwa akan mendapatkan surga :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat : 30)
وَلَا نَذِيرٍ
Lafazh nadzir(نَذِير) berwazanfa’iil (فَعِيْل) dan merupakan shighah mubalaghah dari isim failmunzdir (مُنْذِرُ). Asal kata dasarnya dalam bentuk madhi mudhari’-nya adalah : (أنذر ينذر). Lalu secara makna adalah memberi rasa takut atas pembalasan dari Allah dengan cara mencegah maksiat (التخويف من عقاب الله بالزجر عن المعاصي).
Al-Qurthubi di dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, menyebutkan makna yang lebih luas :
Indzar adalah menyampaikan dan memberitahukan. Dan dilakukan dengan cara memberi rasa takut yang waktunya cukup untuk bersiap-siap. Bila waktunya sudah tidak cukup, namanya isy'ar.
Dalam terjemahan versi Kemenag RI, kata ini sering diterjemahkan menjadi : “memberi peringatan”.
Secara umum nadzir itu pasangan dari basyir (بشير ونذير) atau mubasyyirin dan mundzirin (مبشرين ومنذرين). Misalnya dalam ayat-ayat berikut :
كان الناس أمة واحة فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين
Dahulu manusia itu satu umat, lalu Allah mengutus para nabi menjadi pemberi kabar gembira dan peringantan. (QS. Al-Baqarah : 213)
Sesungguhnya tidaklah Kami mengutus para rasul kecuali sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS. Al-Kahfi : 56)
فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ
Kata faqad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh. Kata jaa-a-kum (جَاءَكُمْ) artinya :telah datang kepadamu. Kata basyirun (بَشِيرٌ) artinya : pembawa berita gembira. Kata wa nadzir (وَنَذِيرٌ) artinya : dan pemberi peringatan.
Penggalan ini oleh sebagian ulama dijadikan dasar bahwa masa fatrah alias masa kekosongan itu tidak ada. Sebab meskipun tidak ada nabi yang diutus, namun para muridnya, kadernya, dan para pengikutnya, pasti masih ada dan masih meneruskan perjuangan yang sudah dirintis oleh para nabi sebelumnya.
Namun umumnya para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud sudah datang sang pembawa berita gembira dan sang pemberi peringatan tidak lain adalah : Nabi Muhammad SAW sendiri. Beliau itulah sang pembawa berita gembira. Dan beliau pula sang pemberi peringatan.
Wahai kaum Yahudi, bertakwalah kepada Allah! Demi Allah, sungguh kalian mengetahui bahwa dia adalah utusan Allah SWT. Sungguh, dahulu kalian pernah menyebutkannya kepada kami sebelum diutusnya dan kalian menggambarkannya kepada kami dengan sifat-sifatnya.
Maka Rafi‘ bin Harmalah dan Wahb bin Yahudza berkata, "Kami tidak pernah mengatakan hal itu kepadamu, dan Allah tidak menurunkan kitab apa pun setelah Musa, serta tidak mengutus seorang pembawa kabar gembira maupun pemberi peringatan setelahnya."
Maka Allah menurunkan ayat ini bahwa sang pembawa kabar gembira itu adalah Nabi Muhammad SAW.
وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) bermakna : Dan Allah. Lafazh’ala kulli sya’in (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ) artinya : atas segala sesuatu. Dan makna qadir (قَدِيرٌ) adalah : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Maka pernyataan bahwa Allah SWT Maha Kuasa tentunya menjawab semua rasa ragu dan ketidak-yakinan itu. Kita tidak usah merasa susah apalagi merasa lemah, sebab buat Allah tidak ada yang berat dan sulit. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ketika harus memberikan kekuasaan atau kerajaan Persia dan kerajaan Romawi.
Ketika semua ada dalam genggaman kekuasan-Nya, maka tidak ada yang susah bagi Allah. Dan selama kita bersama Allah, maka Allah SWT akan lakukan yang terbaik buat kita.