Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, menjadikanmu (terhormat seperti) para raja, dan menganugerahkan kepadamu apa yang belum pernah Dia anugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain. Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya (Bani Israil):
“Hai kaumku! Ingatlah nikmat Allah kepada kamu ketika Dia mengangkat para nabi di antara kamu, menjadikan kamu raja-raja, dan telah menganugerahkan kepada kamu apa yang belum pernah dianugerahkan-Nya kepada seorang pun di antara umat manusia.” Prof. HAMKA:Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan di antara kamu nabi-nabi, menjadikan kamu raja-raja, dan memberikan kepada kamu hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun dari seluruh alam."
Ayat ke-20 dari surat Al-Maidah ini masih membahas tentang kalangan Yahudi di Madinah di masa kenabian Muhammad SAW. Kali ini Allah SWT menegur mereka dengan cara meminta mereka mengenang sekaligus mengingat bagaimana dahulu nabi mereka yaitu Nabi Musa alaihissalam telah berinteraksi dengan kaumnya, yaitu para leluhur orang-orang Yahudi di Madinah.
Nabi Musa meminta para leluhur mereka untuk mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak, tiga hal yang paling penting dan fenomenal adalah hal-hal berikut :
§Pertama : Allah SWT telah mengangkat derajat mereka dengan banyak sekali diutus kepada mereka para nabi.
§Kedua : Allah SWT itu juga mengangkat mereka menjadi para raja.
Ketiga : Allah SWT menganugerahkan kepada mereka apa-apa yang belum pernah dianugerahkan kepada seorang pun di antara umat yang lain.
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ
Kata wa idz (وَإِذْ) artinya : dan ketika, maksudnya dan ingatlah ketika. Kata qaala (قَالَ) artinya : berkata.
Kata musa (مُوسَىٰ) adalah Nabi Musa alaihissalam. Bagi orang Yahudi yang hidup di masa kenabian Muhammad, Nabi Musa adalah tokoh yang sangat penting dan dianggap sebagai nabi terbesar mereka. Beliau dipandang sebagai pemimpin spiritual dan pembebas yang membawa Bani Israil keluar dari perbudakan di Mesir serta menerima Taurat dari Allah di Gunung Sinai.
Dalam kepercayaan Yahudi kala itu, Nabi Musa memiliki status yang lebih tinggi dibanding nabi-nabi lainnya. Sebab selain menjadi utusan Allah, Beliau juga dianggap sebagai pemimpin utama Bani Israil yang memimpin mereka keluar dari Mesir dalam peristiwa eksodus. Mereka menjulukinya dengan Moshe Rabbenu (Musa Guru Kami) karena perannya dalam membimbing umat Yahudi.
Di masa kenabian Muhammad SAW, banyak komunitas Yahudi yang tinggal di Madinah, seperti Bani Qainuqa', Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Mereka sangat menghormati Musa, tetapi pada saat yang sama menolak ajaran Nabi Muhammad SAW meskipun beliau membawa ajaran tauhid yang sama. Mereka menganggap Nabi Musa sebagai satu-satunya nabi yang harus diikuti dan menolak kemungkinan adanya nabi lain setelahnya, terutama yang bukan dari kalangan Bani Israil.
Ironisnya, meskipun mereka mengaku sebagai pengikut Musa, mereka sendiri tidak sepenuhnya menjalankan ajaran Taurat. Misalnya, mereka mengabaikan hukum rajam bagi pezina yang ada dalam kitab mereka, dan ketika menguji Nabi Muhammad SAW mengenai hukuman zina, beliau justru memutuskan sesuai dengan hukum Taurat yang asli.
Dalam Islam, Nabi Musa adalah salah satu dari lima rasul ulul ‘azmi yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Nabi Muhammad SAW juga sering menyebutkan Musa dengan penuh penghormatan. Dalam hadits sahih, beliau bersabda :
Janganlah kalian mengutamakan aku di atas Musa." (HR. Al-Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW menghormati Nabi Musa dan tidak ingin ada sikap berlebihan dalam membandingkan para nabi.
Kesalahan terbesar orang Yahudi adalah mengaku sebagai pengikut Nabi Musa tetapi menolak Nabi Muhammad SAW, padahal Nabi Musasendiri telah mengabarkan tentang kedatangan nabi terakhir tersebut.
لِقَوْمِهِ
Kata li qaumihi (لِقَوْمِهِ) artinya : berkata kepada kaumnya. Lafazh qaum (قوم) sering diterjemahkan dengan kaum atau umat. Maksudnya tidak lain adalah Bani Israil, khususnya yang ikut bersama Nabi Musa alaihissalam keluar dari negeri Mesir dan menyeberang menuju kembali ke tanah leluhur.
Makna kaum secara bahasa adalah kumpulan dari banyak orang baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan dalam hal ini kaum Nabi Musa merupakan keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak. Jumlah mereka mencapai 60 ribu jiwa, semuanya anak keturunan Nabi Ya'qub, cucu Nabi Ibrahim alaihimussalam.
Namun sebagian kalangan ada juga yang mengatakan bahwa kadang Al-Quran membedakan antara laki-laki dan perempuan. Pada sebagian ayat, ketika Allah SWT menyebut kaum, terkadang yang dimaksud hanya mereka yang laki-laki saja dan tidak termasuk di dalamnya para wanita.
Hal itu dibuktikan ketika Allah SWT di dalam ayat lain menyebutkan qaum secara terpisah dengan penyebutan perempuan.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. (QS. Al-Hujurat : 11)
Kata ya qaumi (يَا قَوْمِ) artinya : wahai kaumku. Kata udzkuru (اذْكُرُوا) artinya : ingatlah. Kata ni’matallahi (نِعْمَةَ اللَّهِ) artinya : nikmat Allah. Kata ‘alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya : kepadamu.
Perintah untuk mengingat nikmat Allah SWT itu pada dasarnya adalah perintah untuk bersyukur serta untuk bisa menjadi orang-orang yang taat kepada Allah SWT. Betapa mereka telah Allah SWT muliakan dengan beragam jenis kenikmatan, dimana kenikmatan itu bersifat sangat unik dan spesifik, dimana bangsa lain di mana pun di dunia ini, tidak pernah mendapatkannya.
Perintah ini tentu saja ada kaitannya dengan sikap mbalelo keturunan mereka dimasa kenabian Muhammad SAW. Bukan hanya merkea mengingkari kenabiannya, tetapi bahkan berkhianat serta bersikap sebagai lawan dalam kehidupan.
إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ
Kata idz (إِذْ) artinya : ketika. Kata ja’ala (جَعَلَ) artinya : Dia menjadikan, atau Allah mengangkat. Kata fiikum (فِيكُمْ) artinya : di tengah-tengah kamu. Kata anbiya’ (أَنْبِيَاءَ) adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah nabiy (نبي). Maka kataanbiya’ (أَنْبِيَاءَ) artinya : para nabi.
Memang benar bahwa banyak sekali para nabi yang diutus ke dunia ini dari kalangan Bani Israil. Bahkan separuh dari para nabi yang disebutkan dalam Al-Quran memang dari kalangan Bani Israil.
No
Nama
Bani Israil
Tahun
Lokasi Utama
1
Adam
± 5872–4942 SM
Surga - Bumi
2
Idris
± 4533–4188 SM
Mesir atau Babilonia
3
Nuh
± 3993–3043 SM
Mesopotamia (Irak)
4
Hud
± 2450 SM
Yaman : Kaum 'Ad
5
Shalih
± 2100 SM
Jazirah Arab : Kaum Tsamud
6
Ibrahim
± 1997–1822 SM
Babilonia, Palestina, Mekah
7
Luth
± 1950 SM
Sodom & Gomorah
8
Ismail
± 1911–1779 SM
Mekah (Arab Saudi)
9
Ishaq
± 1897–1717 SM
Palestina
10
Ya'qub
Israil
± 1837–1690 SM
Palestina, Mesir
11
Yusuf
Bani Israil
± 1766–1646 SM
Mesir
12
Ayyub
Diperdebatkan
± 1500 SM
Hauran (Suriah) atau Mesopotamia
13
Syu'aib
± 1400 SM
Madyan (Arab barat laut)
14
Musa
Bani Israil
± 1391–1271 SM
Mesir, Sinai, Palestina
15
Harun
Bani Israil
± 1396–1273 SM
Mesir, Sinai, Palestina
16
Zulkifli
Diperdebatkan
± 1300 SM
Irak atau Syam
17
Dawud
Bani Israil
± 1040–970 SM
Palestina (Yerusalem)
18
Sulaiman
Bani Israil
± 990–931 SM
Palestina (Yerusalem)
19
Ilyas
Bani Israil
± 900 SM
Palestina
20
Ilyasa'
Bani Israil
± 850 SM
Palestina
21
Yunus
± 800 SM
Ninawa (Irak)
22
Zakariya
Bani Israil
± 1 SM
Palestina
23
Yahya
Bani Israil
± 1 SM – 30 M
Palestina
24
Isa
Bani Israil
± 1–33 M
Palestina
25
Muhammad
570–632 M
Mekah & Madinah
Di luar daftar 25 nabi yang disebutkan dalam Al-Quran, ada beberapa nabi lain yang dipastikan mereka dari kalangan Bani Israil, misalnya Nabi Yusha' bin Nun, Nabi Samu’il, Nabi Syam’un, Nabi Hizqil, Nabi Daniyal, dan Nabi Irmiya’.
§Nabi Yusha' bin Nun adalah penerus Nabi Musa yang memimpin Bani Israil memasuki tanah Palestina.
§Nabi Samu’il adalah seorang nabi yang diutus kepada Bani Israil setelah mereka mengalami kehancuran dan penindasan dari bangsa lain. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 246-248), disebutkan tentang seorang nabi yang diperintahkan Allah untuk mengangkat Thalut sebagai raja, dan banyak ulama menafsirkan bahwa nabi tersebut adalah Samu'il.
§Nabi Syam'un banyak disebut dalam sumber-sumber Islam sebagai nabi dari Bani Israil yang memiliki kekuatan luar biasa.
§Nabi Hizqil alias Yehezkiel diyakini sebagai seorang nabi yang diutus kepada Bani Israil di masa pembuangan ke Babilonia. Namanya memang tidak disebutkan dalam Al-Quran, tetapi dalam tafsir disebut sebagai ‘seseorang yang dihidupkan kembali oleh Allah’ sebagaimana kisah yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 243.
§Nabi Daniyal atau Daniel adalah seorang nabi yang hidup di zaman kekuasaan Babilonia dan dikenal dengan kemampuannya menafsirkan mimpi raja. Tidak disebutkan dalam Al-Qur'an, tetapi disebutkan dalam kitab tafsir dan sejarah Islam.
§Nabi Irmiya’ adalah seorang nabi yang memperingatkan Bani Israil sebelum kehancuran Yerusalem oleh Babilonia.
Nama mereka banyak disebut dalam sumber sejarah Islam, kitab tafsir, dan hadits meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam Al-Quran.
Namun begitu, kalau kita melihat konteks ayat ini, dimana ungkapan bahwa Allah SWT menjadi dari Bani Israil ada banyak nabi, ternyata itu adalah ucapan Nabi Musa alaihissalam yang diperkirakan hidupnya di sekitaran 1300 tahun sebelum masehi. Padahal dari daftar para nabi yang sudah kita buatkan list-nya di atas, rata-rata mereka hidup setelah zaman Nabi Musa ‘alaihissalam berlalu.
Kecuali hanya Nabi Yusuf dan ayahandanya saja, yaitu Nabi Ya’qub alaihissalam, yang dari Bani Israil. Itu pun karena memang nama Israil itu sendiri adalah nama lain dari Nabi Ya’qub.
Maka dari situ, ucapan Nabi Musa alaihisalam kala itu bukan mengungkapkan fakta yang sudah terjadi, namun bisa dipahami bahwa ucapan itu sebagai janji untuk membesarkan hati kaumnya, bahwa nanti di kemudian hari, akan ada banyak dari keturunan mereka yang akan menjadi nabi.
Padahal di masa itu, Bani Israil hanya punya satu nabi saja, yaitu Nabi Musa alaihissalam, yang kemudian Allah SWT juga mengangkat saudaranya yaitu Harun sebagai nabi.
Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi. (QS. Maryam : 53)
وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا
Kata wa ja’ala-kum (وَجَعَلَكُمْ) artinya : dan menjadikan kamu. Kata mulukan (مُلُوكًا) adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah malik (ملك). Dan arti kata muluk (مُلُوك) adalah para raja.
Kasusnya agak mirip dengan kasus di atas, yaitu ucapan ini keluar dari mulut Nabi Musa alaihissalam langsung kepada kaumnya. Padahal di masa itu, kaumnya Nabi Musa sendiri adalah para budak yang tertindas hidup di negeri perantauan, jauh dari tanah leluhur. Mereka menjadi warga kelas dua di Mesir, yang seringkali diperlakukan sebagai budak.
Maka kalau Nabi Musa mengatakan ingatlah bahwa kalian adalah para raja, banyak yang mencoba membuat penafsiran lain. Sebab kenyataannya justru mereka adalah budak.
1. Pendapat Pertama
Sebagian ulama ada yang memaknai perkataan Musa bahwa ‘Allah SWT menjadikan mereka sebagai raja’, hanya sebuah kiasan saja. Memang mereka bukan raja yang sesungguhnya, tetapi maksudnya punya kedudukan yang terhormat seperti laiknya para raja. Alasannya karena mereka punya jiwa yang merdeka, meskipun secara fisik mereka tetap sebagai budak.
2. Pendapat Kedua
Raja yang dimaksud bukan raja dalam arti punya kekuasan atas suatu negeri, melainkan jadi raja di rumah mereka sendiri. Maksudnya ini adalah janji Allah SWT kepada mereka bahwa suatu hari mereka akan bisa menetap di suatu negeri, punya rumah pribadi, dimana kalau ada orang yang mau masuk ke rumah mereka, harus minta izin terlebih dahulu.
3. Raja Yang Sesungguhnya
Raja yang dimaksud memang sekedar impian besar orang-orang Yahudi bahwa suatu hari akan punya kerajaan besar sendiri yang menyatukan mereka dalam satu negeri yang independen dan berdaulat. Dan kejadiannya 300-an tahun setelah lewatnya masa kenabian Musa alaihissalam, yaitu dengan tampilnya Nabi Daud sebagai raja yang berkuasa.
Peristiwanya setelah Nabi Daud yang waktu itu masih remaja berhasil mengalahkan Jalut dengan slingshot-nya. Setelah kemenangan tersebut, Nabi Daud sebenarnya tidak langsung menjadi raja. Yang tetap berkuasa adalah Raja Thalut, raja yang telah diangkat sebelumnya.
Nabi Daud yang jadi pahlawan oleh raja Thalut kemudian dinikahkan dengan putrinya, sehingga jadilah Beliau menantu raja. Seiring berjalannya waktu, ketika Thalut wafat maka Nabi Daud kemudian diangkat sebagai raja oleh Bani Israil. Maka, kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh Thalut beralih kepada Nabi Daud dan bukan kepada keturunan Jalut.
Nabi Daud diperkirakan menjadi raja sekitar tahun 1010 SM dan memerintah selama sekitar 40 tahun, hingga wafatnya sekitar tahun 970 SM. Kerajaannya berpusat di wilayah Palestina, dengan Yerusalem (Al-Quds) sebagai ibu kotanya. Awalnya, sebelum Yerusalem ditaklukkan, pusat pemerintahannya diperkirakan berada di Hebron, sebuah kota di wilayah selatan Palestina. Setelah berhasil menguasai Yerusalem, ia menjadikannya sebagai pusat pemerintahan dan ibukota kerajaannya.
Setelah Nabi Daud wafat sekitar tahun 970 SM, kepemimpinan Bani Israil dilanjutkan oleh putranya, Nabi Sulaiman. Allah memilih Nabi Sulaiman sebagai penerus karena kebijaksanaannya yang luar biasa. Dalam Al-Quran, disebutkan bahwa beliau mewarisi ilmu, kenabian, dan kerajaan dari ayahnya.
Sebagai raja, Nabi Sulaiman memiliki banyak keistimewaan. Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan untuk memahami bahasa binatang, termasuk burung dan semut.
Selain itu, beliau juga diberi kekuasaan atas bangsa jin, yang membantunya dalam berbagai proyek pembangunan. Angin pun tunduk padanya, memungkinkan beliau berpindah tempat dengan sangat cepat.
Kekayaan dan kemegahan kerajaannya jauh melampaui apa yang dimiliki ayahnya.
Wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman juga lebih luas dibandingkan kerajaan ayahnya. Pemerintahannya mencakup Palestina, sebagian besar wilayah Syam (Suriah, Lebanon, dan Yordania modern), sebagian besar Semenanjung Arab, serta daerah di sekitar Mesir dan Mesopotamia.
Pusat pemerintahannya berada di Yerusalem, yang juga menjadi lokasi pembangunan kembali Baitul Maqdis atau Masjid Al-Aqsha, salah satu proyek terbesar yang beliau selesaikan dengan bantuan jin dan manusia.
Nabi Sulaiman wafat sekitar tahun 931 SM. Wafatnya terjadi saat beliau sedang mengawasi para jin yang bekerja membangun suatu proyek. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Quran, yang menceritakan bahwa kematiannya baru diketahui setelah tubuhnya roboh karena tongkat yang menopangnya dimakan rayap. Para jin yang bekerja baru menyadari bahwa mereka telah tertipu oleh anggapan bahwa Nabi Sulaiman AS masih hidup.
Dengan demikian, Nabi Sulaiman adalah penerus Nabi Daud yang tidak hanya mewarisi kerajaan, tetapi juga memiliki keistimewaan luar biasa. Pemerintahannya yang luas, kebijaksanaan dalam memimpin, serta proyek-proyek besar yang beliau bangun menjadikannya salah satu nabi yang paling berpengaruh dalam sejarah Bani Israil.
Kata wa aataa-kum (وَآتَاكُمْ) artinya : dan menganugerahkan kepadamu. Kata maa-lam (مَا لَمْ) artinya apa yang belum pernah. Kata yu’ti (يُؤْتِ) artinya : Dia anugerahkan. Kata ahadan (أَحَدًا) artinya kepada seorang pun. Kata minal ‘alamin (مِنَ الْعَالَمِينَ) artinya : di antara umat yang lain.
Para ulama berbeda-beda terkait apa yang dimaksud dengan pemberian Allah SWT kepada mereka sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada umat lain.
Al-Qurtubi di dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan beberapa pendapat ulama, rinciannya sebagai berikut :
§Mujahid berkata bahwa yang dimaksud dengan pemberian adalah manna dan salwa, batu, serta awan.
§Ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah banyaknya nabi di tengah mereka dan tanda-tanda (mukjizat) yang datang kepada mereka.
§Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hati yang bersih dari kedengkian dan kecurangan.
§Dan ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah dihalalkannya harta rampasan perang dan pemanfaatannya.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)