Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (urusan) agamamu tanpa hak. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kaum yang benar-benar tersesat sebelum kamu dan telah menyesatkan banyak (manusia) serta mereka sendiri pun tersesat dari jalan yang lurus.” Prof. Quraish Shihab: Katakanlah (Nabi Muhammadsaw.):
“Hai Ahl al-Kitab! Janganlah kamu ber
lebih-lebihan dalam (melaksanakan)
agama kamu dengan cara tidak benar.
Dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu orang-orang yang sungguh telah
tersesat dahulu (sebelum datangnya
Nabi Muhammad saw.) dan mereka
telah menyesatkan banyak (orang),
dan mereka sesat dari jalan yang lurus
(sesudah datangnya Nabi Muhammad
saw.). Prof. HAMKA:Katakanlah, "Wahai Ahlul Kitab! Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian di luar kebenaran, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat sejak dahulu, serta telah menyesatkan banyak orang, dan mereka pun telah menyimpang dari jalan yang lurus."
Ayat ke-77 ini merupakan perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar Beliau menasehati para ahli kitab. Khususnya agar mereka tidak berlebih-lebihan dalam urusan agama dengan cara yang tidak dibenarkan.
Selain itu Allah SWT juga berpesan kepada Nabi SAW agar tidak usah mengikuti hawa nafsu para ahli kitab. Karena mereka para ahli kitab yang hidup di masa lalu sebenarnya sudah tersesat, yaitu yang hidupnya sebelum era kenabian Muhammad SAW. Kedua, ahli kitab yang tersesat itu ternyata banyak sekali menyesatkan manusia, yaitu dengan cara menyebarkan ajaran yang menyalahi tauhid, ke seluruh dunia, sehingga banyak sekali umat manusia yang tersesat gara-gara mereka.
Ketiga, ahli kitab pun banyak juga yang berusaha menyesatkan kaum muslimin umat Nabi Muhammad dari jalan yang lurus.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan kepada para ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi.
Kata yaa (يَا) disebut dengan adatun-nida’ yang maksudnya sebagai perangkat untuk memanggil atau menyapa orang yang disapa alias al-munada. Yang diajak bicara atau mukhathab-nya disini adalah lafazh ahlal-kitab (أَهْلَ الْكِتَابِ). Mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Kalau kita mendengar Allah SWT menyapa orang-orang Yahudi atau pemeluk agama Nasrani dengan sapaan ‘ahli kitab’, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya posisi mereka sedang disanjung dan dimuliakan oleh Allah SWT. Sebab tidak semua bangsa di dunia ini mendapatkan kehormatan menerima kitab suci samawi.
Lain halnya bila Allah SWT menyebut Yahudi, maka sapaan seperti itu punya konotasi yang negatif dan biasanya ayatnya pun sedang menceritakan kejelekan dan keburukan mereka.
لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ
Kata laa taghluu (لَا تَغْلُوا) artinya : janganlah kamu berlebih-lebihan. Larangan ini datang dalam bentuk fi’il nahyi yang wujudnya berupa fi’il mudhari, akar katanya dari tiga huruf yaitu huruf ghain, lam dan wawu (غ - ل - و).
Ketiga huruf itu bisa dibentuk menjadi bermacam-macam kata, salah satunya ketika menjadi fi’il madhi dan mudhari’ menjadi (غَلاَ - يَغْلُوْ). Kata ini memiliki makna dasar berlebihan, melampaui batas, atau ekstrim.
Kata ini berasal dari ghalwat as-sahm (غَلْوَة السَّهْمِ), yaitu jarak terjauh yang dapat dicapai oleh anak panah saat melesat. Kemudian, maknanya diambil secara kiasan untuk menunjukkan sikap yang melebihi batas yang ditetapkan, baik dalam hal akal, syariat dalam keyakinan, pemahaman, maupun perbuatan.
Maka berlaku ghuluw dalam agama adalah ketika seseorang yang beragama menampakkan sesuatu yang melampaui batas yang telah ditentukan oleh agamanya. Allah melarang mereka dari sikap ghuluw karena hal itu menjadi akar dari banyak kesesatan mereka dan penolakan mereka terhadap para rasul yang jujur.
Kata fii dinikum (فِي دِينِكُمْ) artinya : dalam agamamu. Maksudnya jangan berlebihan dalam menjalankan agama kalian.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan bahwa Yahudi berlebihan dalam agama, yaitu ketika mereka membenci Nabi Isa ‘alaihisalam dan menuduhnya sebagai anak haram, sambil juga menuduh ibundanya, yaitu Maryam, dengan tuduhan keji.
Sedangkan berlebih-lebihannya orang Nasrani sendiri kepada Nabi Isa alaihisalam adalah ketika mereka menjadikannya sebagai Tuhan atau anak tuhan.
Maka sikap ghuluw itu terlarang, bahkan Nabi SAW sendiri juga tidak ingin para shahabat bersikap berlebihan kepada diri Beliau SAW sendiri dengan sabdanya :
Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa. Tetapi katakanlah (bahwa aku adalah) hamba Allah dan utusan-Nya.
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[2] menuliskan bahwa sikap berlebihan Ahli Kitab adalah melampaui batas yang telah ditetapkan oleh agama mereka :
§Orang-orang Yahudi diperintahkan untuk mengikuti Taurat dan mencintai rasul mereka, tetapi mereka melampaui batas dengan membenci para rasul seperti Nabi Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad SAW.
§Orang-orang Nasrani diperintahkan untuk mengikuti Al-Masih, tetapi mereka melampaui batas dalam hal itu hingga mengklaim ketuhanan atau bahwa ia adalah anak Allah, serta mengingkari Muhammad SAW.
Kata ghairal-haq (غَيْرَ الْحَقِّ) artinya : tidak hak atau tidak dengan cara yang benar. Maksudnya adalah berlebihan dengan cara yang tidak benar alias dengan cara yang batil.
Ada dua pendapat tentang tambahan kata ghairal-haq (غَيْرَ الْحَقِّ) ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang namanya berlebihan itu sudah pasti tidak benar, mutlak batilnya. Sehingga kalau pun tidak ditambahkan dengan kata ini pun sebenarnya sudah cukup. Namun kenapa ditambahkan, alasannya sekedar untuk ta’kid atau menguatkan saja.
Namun ada juga pendapat yang mengatakan ada juga sikap berlebihan yang dibenarkan atau tidak batil. Dalam kitab al-Kasysyaf disebutkan bahwa ghuluw atau berlebih-lebihan dalam agama itu ada juga yang dibenarkan, yaitu ketika seseorang menyelidiki hakikat-hakikat agama, menelusuri makna-maknanya yang dalam, dan bersungguh-sungguh dalam memperoleh dalil-dalilnya — sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli ilmu kalam dari kalangan penganut keadilan dan tauhid.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[2] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)
وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ
Kata wala tattabi’uu (وَلَا تَتَّبِعُوا) asalnya dari (اتّبَعَ - يَتَّبِعُ) yang artinya adalah : janganlah kamu mengikuti. Maksudnya janganlah mentaati ajakan dan bujuk rayu.
Kata ahwaa’a (أَهْوَاءَ) adalah bentuk jama’ dari kata (هوى) yang berasal dari akar tiga huruf yaitu (هـ - و – ي). Bentuk fi’il madhi dan mudhari-nya adalah hawa-yahwi (هَوَى يَهْوِي). Kata ini secara bahasa berarti : ‘jatuh’ atau ‘turun dari atas ke bawah’. Maka disebut sebagai hawa (هوى) karena menjatuhkan pelakunya ke dalam atau ke bawah, yaitu kehinaan atau pun juga neraka.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menukil pendapat sebagian ulama tentang apa yang dimaksud dengan hawa atau ahwa’ sebagai berikut :
Hawa nafsu adalah sembahan yang disembah selain Allah. Dan dikatakan: dinamakan 'hawa' karena ia menjatuhkan pemiliknya ke dalam neraka."
Kata qaumin (قَوْمٍ) artinya : suatu kaum. Allah SWT sengaja tidak menyebutkan siapakah kaum yang dimaksud. Hal itu karena siapa pun yang membaca ayat ini dengan sekalian membaca juga ayat-ayat sebelumnya pasti juga akan tahu siapa yang dimaksud. Mereka tidak lain adalah para ahli kitab, khususnya kaum nasrani.
Kata qad (قَدْ) artinya : yang telah. Kata dhalluu (ضَلُّوا) artinya : sesat. Kata min qablu (مِنْ قَبْلُ) artinya : sejak sebelumnya. Para ulama mengatakan bahwa asalnya adalah min qablika (مِنْ قَبْلِكَ) dimana dhamir ka (كَ) disini maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW.Dengan demikian, mereka yang sesat sebelum Nabi Muhamamd SAW adalah para pemeluk agama Nasrani. Kecuali di zaman Nabi Isa alaihissalam, kesesatan mereka memang sudah terwujud sejak lama, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia. Sejarah mencatat abad ketiga masehi kaum kristiani sudah sepakat bulat meyakini adanya tiga tuhan atau trinitas dan sudah menjadikan Nabi Isa sebagai tuhan atau anak tuhan, atau tuhan menjelma dalam dirinya.
Dengan menyebutkan bahwa leluhur mereka sejak dulu sudah tersesat dari jalan yang benar, maka kesesatan mereka tidak perlu lagi dijadikan objek keheranan. Toh, generasi pendahulu mereka pun sudah pernah jadi orang sesat.
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[1] menuliskan bahwa yang dimaksud orang-orang yang sesat di masa sebelumnya bukan leluhur orang-orang nasrani, namun maksudnya mereka adalah orang-orang Yahudi.
Namun apakah mereka leluhur orang nasrani atau yahudi, keduanya memang layak dan cocok disebut sesat. Maka tidak jadi masalah jika kita tafsirkan dua-duanya.
[1] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)
وَأَضَلُّوا كَثِيرًا
Kata wa adhallu (وَأَضَلُّوا) artinya : dan menyesatkan. Kata katsiran (كَثِيرًا) artinya : banyak. Maksudnya banyak dari umat manusia yang telah mereka sesatkan.
Maksudnya, dengan aqidah yang keliru dan sesat, yaitu dengan konsep tirinitas dan penuhanan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam, agama nasrani kemudian disebarkan ke seluruh dunia. Maka ada begitu banyak peradaban manusia yang jadi pemeluknya.
Ketika Nabi Isa masih hidup, agama yang dibawanya banyak dimusuhi oleh berbagai kalangan. Namun, setelah beliau wafat, agama ini mulai mengalami percampuran dengan berbagai unsur luar, terutama masuknya konsep trinitas dan penuhanan terhadap Nabi Isa.
Sejak saat itu, agama Nasrani mulai diterima dan dianut oleh banyak bangsa di dunia, termasuk para raja Romawi yang akhirnya memeluknya. Dari sinilah agama ini mulai menyebar luas ke daratan Eropa, bahkan ke seluruh penjuru dunia.
Paulus dan Perannya
Tokoh-tokoh awal seperti Paulus memainkan peran besar dalam mengubah wajah agama ini. Paulus lah yang banyak disebut para sejarawan yang telah memasukkan unsur-unsur Trinitas yaitu Tuhan Bapa, Anak, Roh Kudus. Paul juga yang menekankan bahwa keselamatan bukan dari amal, tapi dari iman kepada penebusan dosa oleh Yesus sebagai Tuhan yang disalib. Konsep ini lebih mudah diterima oleh bangsa-bangsa non-Yahudi karena menyerupai sistem kepercayaan politeistik dan mitologi mereka.
A. Agama Kristen Menyebar Ke Seluruh Dunia
Pada awalnya, Kekaisaran Romawi memusuhi para pengikut ajaran ini, karena dianggap menyimpang dan menolak menyembah dewa-dewi Romawi. Namun titik balik terjadi pada masa Kaisar Konstantinus (abad ke-4 M). Pada tahun 313 M, Konstantinus mengeluarkan Edik Milano yang memberi kebebasan beragama kepada umat Kristen. Tak lama kemudian, ia sendiri memeluk agama Kristen, meskipun tidak murni mengikuti ajaran Nabi Isa.
Tahun 325 M, diadakan Konsili Nicea, yang secara resmi menetapkan doktrin Trinitas dan penuhanan Isa sebagai ajaran resmi gereja. Sejak saat itu, agama Kristen menjadi agama negara Kekaisaran Romawi, dan mulai tersebar luas melalui kekuatan politik, militer, dan budaya.
B. Penyebaran Kristen ke Eropa
Setelah agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 M, khususnya setelah keputusan Kaisar Theodosius I pada tahun 380 M melalui Edict of Thessalonica, penyebarannya menjadi sangat luas dan sistematis ke seluruh wilayah kekuasaan Romawi.
1.Italia : Roma menjadi pusat Gereja Katolik, dengan Paus sebagai pemimpinnya. Dari kota ini, gereja mengorganisasi penyebaran dan administrasi Kristen ke seluruh kekaisaran. Kristen menjadi bagian penting dari identitas budaya Romawi Barat.
2.Galia : sekarang wilayah ini adalah Prancis. Kristen menyebar ke berbagai kota besar seperti Lyon, Marseille, Paris, dan lainnya. Banyak gereja dan biara didirikan, dan Galia menjadi pusat penting pendidikan gerejawi.
3.Hispania : sekarang wilayah ini menjadi Spanyol dan Portugal. Kristen berkembang pesat di kota-kota seperti Toledo, Sevilla, Tarragona. Di wilayah ini nantinya muncul kerajaan-kerajaan Kristen Visigoth yang memainkan peran penting dalam sejarah Kristen Eropa.
4.Yunani dan Balkan : Sebagai bagian dari Romawi Timur, wilayah ini memiliki sejarah Kristen yang sangat kuat. Kota-kota seperti Thessaloniki, Athena, dan Korintus adalah pusat gereja awal. Di Balkan, Kristen menyebar ke Bulgaria, Serbia, Albania, dan sekitarnya.
C. Penyebaran Kristen ke Timur Tengah
Selain menyebar ke Eropa, agama Nasrani juga masuk ke wilayah yang sekarang kita sebut Timur Tengah.
1.Mesir : Agama Nasrani masuk ke Mesir sangat awal, diperkirakan pada pertengahan abad pertama Masehi. Tokoh penting seperti Markus (Mark) dianggap sebagai pendiri Gereja Alexandria. Dari sinilah lahir Kristen Koptik, yang merupakan salah satu aliran Kristen tertua di dunia. Alexandria menjadi pusat keilmuan dan teologi Kristen awal, sejajar dengan Roma dan Antiokhia.
2.Irak : Kristen juga menyebar ke wilayah Mesopotamia atau Irak modern, khususnya kota-kota seperti Ktesiphon, Nisibis, dan Edessa. Dari sini muncul Gereja Timur atau Nestorian, yang kemudian berkembang pesat hingga ke wilayah Asia Tengah dan bahkan Tiongkok.
3.Persia : di wilayah Persia atau Iran, agama Kristen eksis sejak awal meskipun berada di bawah tekanan dari pemerintahan Majusi (Zoroaster).
4.Jazirah Arabia : negeri seperti Yaman, Najran, dan Hijaz menjadi wilayah penyebaran agama nasrani.
a.Najran : yaitu wilayah selatan Hijaz, dekat Yaman, terdapat komunitas Kristen yang cukup kuat, bahkan terjadi peristiwa terkenal yaitu pembantaian kaum Kristen Najran oleh Raja Yahudi Himyar, yang disebut dalam Surat Al-Buruj.
b.Yaman : Kristen juga dikenal di Yaman, terutama karena pengaruh Bizantium dan kerajaan Kristen Habasyah (Ethiopia). Beberapa suku Arab di utara seperti Ghassan (sekutu Bizantium) dan Lakhmid (sekutu Persia) juga memeluk Kristen.
D. Penyebaran Kristen di Benua Afrika
1.Afrika Utara : Wilayah ini merupakan bagian penting dari Kekaisaran Romawi dan termasuk dalam jalur awal penyebaran Kristen.
2.Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko Kristen menyebar luas di kota-kota pesisir seperti Kartago (Tunisia), tempat tinggal Agustinus dari Hippo, salah satu Bapa Gereja paling berpengaruh. Wilayah ini sempat menjadi pusat pemikiran Kristen dan teologi Latin.
3.Afrika Timur Laut :
a.Ethiopia : negara ini bukan bagian dari Romawi, tapi Kristen masuk ke sini sangat awal (sekitar abad ke-4) melalui hubungan dagang dan gereja Mesir. Muncul Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia, yang bertahan kuat hingga hari ini.
b.Aksum : Raja Ezana dari kerajaan di Ethiopia mengadopsi Kristen sebagai agama negara, menjadikannya salah satu negara Kristen pertama di dunia.
4.Eritrea : bersama Ethiopia, menjadi bagian dari wilayah Aksum. Gereja Ortodoks Tewahedo juga menjadi dominan di sini.
وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Kata wa dhallu (وَضَلُّوا) artinya : dan sesat. Kata ‘an (عَنْ) artinya : dari. Kata sawa’ (سَوَاءِ) artinya : lurus. Kata sawa’ itu sebenarnya juga bisa berarti sama, alias seimbang. Kata sabil (السَّبِيلِ) artinya : jalan.
Garis Khatulistiwa itu asalnya dari kata bahasa Arab (خط الإستواء), secara makna lughawiyah berarti garis yang seimbang. Karena garis itu membelah bumi menjadi dua, yaitu bumi bagian utara dan bumi bagian selatan.
Sebagian mufassir mengaitkan istilah sawais-sabil (سَوَاءِ السَّبِيلِ) ini dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Karena agama Islam yang dibawa oleh Beliau SAW tetap bisa bertahan dan konsisten dengan garis yang lurus, tidak ikut berbelok ke arah angin bertiup sebagaimana agama Nasrani.