Kemenag RI 2019:Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dalam masa imannya itu. Katakanlah, “Tunggulah! Sesungguhnya Kami pun menunggu.” Prof. Quraish Shihab:Apakah mereka hanya menantikan kedatangan malaikat kepada mereka ataukah kedatangan Tuhan Pemeliharamu (supaya mereka melihat-Nya dengan mata kepala) atau kedatangan sebagian tanda-tanda (mukjizat yang bersifat inderawi dari) Tuhan Pemeliharamu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda (dari) Tuhan Pemeliharamu, tidaklah bermanfaat (lagi) bagi diri seseorang imannya, yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah, sesungguhnya kami (pun) menunggu.” Prof. HAMKA:Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu, melainkan bahwa datang kepada mereka malaikat atau datang Tuhan engkau atau datang setengah dari ayat-ayat Tuhan engkau. Pada hari datang sebagian dari ayat-ayat Tuhan engkau itu, tidaklah akan memberi manfaat kepada suatu diri imannya, yang tidak beriman lebih dahulu atau dia berusaha pada imannya itu suatu kebaikan. Katakanlah, “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu.”
Tentu pernyataan ini tidak datang begitu saja tanpa sebab-sebab yang mendahuluinya. Ayat ini lagi bicara betapa kerasnya kelompok tertentu dari kalangan mereka dalam menentang dakwah Nabi SAW.
Namun hal itu tidak berarti bahwa seluruh penduduk Mekkah punya karakter yang sama. Buktinya, sebagian besar mereka pada akhirnya masuk Islam dan menjadi pengikut setia dalam Islam.
هَلْ يَنْظُرُونَ
Ayat ini dibuka dengan kata tanya hal (هَلْ) yang artinya : apakah. Meski merupakan istifham yang biasa digunakan untuk bertanya, namun tujuannya untuk mengingkari. Biasa disebut dengan istifham inkari. Jadi membaca ayat ini jangan berpikir ini merupakan pertanyaan, melainkan ini bentuk penafiyan. Maksunya bukan ‘apakah’ tetapi ‘tidak’.
Kata yanzhuruna (يَنْظُرُونَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, seharusnya bermakna melihat, namun tiga terjemahan besar yaitu Kemenag RI, Quraish Shihab, dan HAMKA, sepakat memaknainya sebagai menunggu atau menanti. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Para mufassir besar sejak awal sudah mengatakan bahwa meski tertulisnya yanzhurun (ينظرون) namun maksudnya yantazhirun (ينتظرون). Contohnya Ath-Tabari dalam tafsirnya Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1], Beliau langsung menjelaskan bahwa kata yanzhuruna illa dengan ungkapan yang bermakna ma yantazhiruna illa, yaitu “tidak ada yang mereka tunggu selain itu”. Beliau tidak merasa perlu memberikan penjelasan sedikit pun tentang perubahanm makna itu.
Yang berusaha menjelaskan misalnya Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2]. Beliau menerangkan secara kebahasaan bahwa kata nazhara (نظر) yang berarti melihat dapat bermakna intizhar (انتظار) yang berarti menunggu, bila objeknya merupakan hal atau sesuatu yang belum terjadi. Ketika setelahnya disebutkan peristiwa-peristiwa besar yang belum terjadi, seperti kedatangan malaikat, datangnya Tuhan, atau datangnya sebagian tanda-tanda besar, maka secara bahasa dan logika, makna “melihat” menjadi mustahil. Sesuatu yang belum datang tidak mungkin dilihat. Karena itu, makna yang tersisa dan sahih adalah “menunggu”.
Memang di bagian akhir ayat ditutup dengan perintah untuk menunggu, yaitu : (قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ) “Katakanlah, “Tunggulah! Sesungguhnya Kami pun menunggu.” Maka ayat ini sendiri lah yang menjelaskan kata-kata di dalamnya.
Maka dua kata ini bisa kita pahami maknanya menjadi : “mereka tidak menunggu”. Meskipun secara harfiyah masih tertulis : “apakah mereka melihat”. Tentu jauh sekali antara yang tersurat dengan makna yang tersirat.
Disinilah pentingnya belajar ilmu tafsir yang sesungguhnya dan bukan hanya berhenti pada terjemah kata per kata. Terjemah kata per kata itu penting, tapi jangan hanya berhenti sampai disitu. Jangan jadi orang yang sok tahu, bisanya hanya membongkar mesin sampai semua berantakan, lalu tidak bisa menyusun ulang. Maka jangan hanya bisa bongkar tapi tidak bisa pasang lagi, itu berbahaya.
إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ
Kata illa (إِلَّا) artinya: kecuali. Huruf an (أَنْ) artinya: bahwa atau untuk. Kata ta'tiyahum (تَأْتِيَهُمُ) artinya: mendatangi mereka. Kata al-malaikah (الْمَلَائِكَةُ) artinya: para malaikat.
Ini adalah pilihan yang pertama, yaitu para malaikat mendatangi mereka. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya malaikat turun membawa wahyu kepada mereka secara kasat mata, namun kebanyakan ulama mengatakan maksudnya bukan itu, melainkan malaikat maut yang datang merenggut nyawa mereka.
Jadi pilihan pertama ini maksudnya bahwa mereka tidak akan beriman sampai kematian menjemput mereka. Sampai malaikat Izrail datang menjemput sekalipun, mereka akan keukeuh tidak akan beriman.
Ada banyak kalangan musyrikin Mekkah yang sampai akhir hayatnya tetap masih tetap dalam kekafiran, di antaranya Abu Jahl yang namanya aslinya Amr bin Hisyam, sosok yang paling keras permusuhannya terhadap Nabi SAW. Manusia satu ini tewas mengenaskan dalam Perang Badar tanpa pernah melunakkan sikapnya, bahkan sampai detik-detik terakhir hidupnya tetap menolak beriman.
Termasuk pula Abu Lahab, paman Nabi SAW sendiri, yang secara terang-terangan menentang dakwah Islam. Dia wafat dalam keadaan hina dan terasing, sebagaimana diabadikan kecamannya secara khusus dalam Al-Qur’an.
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang telah ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (QS. Al-Lahab : 1-5)
Demikian juga Umayyah bin Khalaf, salah satu tokoh Quraisy yang terkenal menyiksa Bilal bin Rabah. Ia pun mati terbunuh di Badar tanpa sempat beriman.
Termasuk pula Al-As bin Wa'il, tokoh tua Quraisy yang pernah mengejek Nabi SAW sebagai “terputus keturunannya”. Ia wafat dalam kekafiran meski telah menyaksikan kebenaran dakwah secara langsung.
Mereka inilah contoh nyata dari maksud ayat ini: iman yang baru datang ketika malaikat maut telah hadir tidak lagi bernilai, karena saat itu masa ujian telah berakhir. Ayat ini menegaskan bahwa menunggu hingga kematian datang bukanlah jalan menuju hidayah, melainkan penegasan atas kebebalan hati yang telah mengeras.
أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ
Huruf aw (أَوْ) artinya: atau. Kata ya'ti (يَأْتِيَ) artinya: datang. Kata rabbuka (رَبُّكَ) artinya: Tuhanmu.
Para mufassir sepakat memaknai ungkapan : ‘datangnya Tuhanmu’ bukan berarti Allah SWT mendatangi mereka secara fisik, melainkan datangnya kiamat atau kebinasaan suatu bangsa dengan adzab.
Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[3] bahwa ada dua pendapat ulama dalam hal ini.
§ Pertama, datangnya Tuhanmu itu maksudnya turunnya adzab kebinasaan untuk suatu kaum. Ini adalah pendapat Al-Hasan.
§ Kedua, yang dimaksud adalah datangnya Allah SWT sebagai yang memutuskan perkara mereka nanti di hari kiamat, ketika mereka dibangkitkan di Padang Mahsyar. Ini adalah pendapat Mujahid.
أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ
Huruf aw (أَوْ) artinya: atau. Kata ya'tiya (يَأْتِيَ) artinya: datang. Kata ba'du (بَعْضُ) artinya: sebagian. Kata ayati (آيَاتِ) artinya: tanda-tanda / ayat-ayat. Kata rabbika (رَبِّكَ) artinya: Tuhanmu.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna penggalan ini. Sebagian menafsirkannya sebagai terbitnya matahari dari arah barat, sebagaimana dinukil dari Mujahid, Qatadah, dan As-Suddi. Ibnu Mas'ud bahkan menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi bersamaan dengan bulan, sebagaimana isyarat ayat :
وَجُمِعَ الشَّمْسُ والقَمَرُ
“Dan matahari serta bulan dikumpulkan” (QS. Al-Qiyamah: 9).
Pendapat lain memahami “sebagian tanda-tanda Tuhanmu” sebagai rangkaian tanda besar, yaitu terbitnya matahari dari barat, munculnya Dajjal, dan keluarnya binatang melata dari bumi, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah.
Ada tiga perkara yang apabila telah muncul, maka tidak lagi bermanfaat iman seseorang yang sebelumnya belum beriman, atau yang belum mengusahakan kebaikan dalam imannya, yaitu: terbitnya matahari dari arah baratnya, munculnya Dajjal, dan keluarnya binatang melata dari bumi. (HR. Muslim)
Seluruh penafsiran ini menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “sebagian tanda-tanda Tuhanmu” adalah tanda-tanda besar penutup masa ujian, di mana iman yang muncul setelahnya tidak lagi bernilai.
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ
Kata yawma (يَوْمَ) artinya: pada hari. Kata ya'ti (يَأْتِي) artinya: datang. Kata ba'du (بَعْضُ) artinya: sebagian. Kata ayati (آيَاتِ) artinya: tanda-tanda / ayat-ayat. Kata rabbika (رَبِّكَ) artinya: Tuhanmu.
لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا
Huruf la (لَا) artinya: tidak. Kata yanfa'u (يَنْفَعُ) artinya: memberi manfaat. Kata nafsan (نَفْسًا) artinya: suatu jiwa / seseorang. Kata imanuha (إِيمَانُهَا) artinya: imannya.
لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ
Huruf lam (لَمْ) artinya: tidak (peniadaan untuk masa lampau). Kata takun (تَكُنْ) artinya: ia pernah menjadi / ia ada. Kata amanat (آمَنَتْ) artinya: ia telah beriman. Huruf min (مِنْ) artinya: dari. Kata qablu (قَبْلُ) artinya: sebelumnya / dahulu.
أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
Huruf aw (أَوْ) artinya: atau. Kata kasabat (كَسَبَتْ) artinya: ia telah mengusahakan / memperoleh. Huruf fi (فِي) artinya: dalam. Kata imanihā (إِيمَانِهَا) artinya: imannya. Kata khayran (خَيْرًا) artinya: kebaikan.
قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
Kata qul (قُلِ) artinya: katakanlah. Kata intazhiru (انْتَظِرُوا) artinya: tunggulah atau menantikan lah. Huruf inna (إِنَّا) artinya: sesungguhnya kami. Kata muntazhirun (مُنْتَظِرُونَ) artinya: orang-orang yang menunggu.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)