Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw): “Sesungguhnya shalatku, ibadahku dan hidup serta matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Pemelihara seluruh alam. Prof. HAMKA:Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah karena Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.”
Ini adalah informasi tambahan yang amat berguna dalam menegaskan karakteristik beribadah dan beragama, yaitu semua hanya untuk Allah SWT.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, agar menyampaikan pesan dari Allah kepada mereka, sebagai bentuk teknis pelaksanaan tugas sebagai seorang nabi yang menyampaikan berita dari langit.
Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata shalati (صَلَاتِي) artinya : salatku.
Shalat adalah ibadah universal yang Allah SWT selalu perintahkan kepada semua umat manusia lewat semua nabi yang diangkat dan diutus. Tidak ada umat yang tidak diperintahkan untuk shalat, tidak terkecuali umat Nabi Muhammad SAW.
Ungkapan shalati (صَلَاتِي) yang artinya : shalatku, maksudnya shalat yang diperintahkan secara khusus kepada Aku sebagai seorang nabi utusan Allah. Ini menyiratkan bentuk teknis shalat yang boleh jadi tidak sama dengan shalat umat sebelumnya, baik dari segi gerakan, batasan, arah menghadap, waktu dan lainnya.
وَنُسُكِي
Kata wa nusuki (وَنُسُكِي) artinya : dan ibadah sembelihanku atau seluruh ibadah ritualku.
Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-Uyun[1] bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna yang dimaksud, setidaknya terdapat tiga pendapat.
1. Hewan Sembelihan
Pendapat pertama menegaskan bahwa yang dimaksud nusuk (نُسُك) adalah hewan sembelihan dalam ibadah haji dan umrah. Pendapat ini dikemukakan oleh Sa‘id bin Jubair, Mujahid, Qatadah, As-Suddi, dan Ad-Dhahhak.
Memang umumnya bangsa Arab waktu itu ketika menyembelih hewan, niatnya bukan untuk Allah melainkan untuk tuhan-tuhan lain selain Allah. Sehingga membuat sembelihan mereka jadi haram dimakan oleh kaum muslimin.
2. Agama
Makna kedua menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan nusuk (نُسُك) adalah agama. Ini pendapat Al-Hasan.
3. Ibadah
Makna ketiga bahwa yang dimaksud dengan nusuk (نُسُك) adalah ibadah ritual. Ini pendapat Az-Zajjaj berdasarkan ungkapan orang Arab “si fulan adalah orang yang ‘nasik’, yaitu seorang ahli ibadah.
Perbedaan antara agama dan ibadah adalah bahwa agama berkaitan dengan keyakinan, sedangkan ibadah berkaitan dengan perbuatan.
وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ
Kata wa mahyaya (وَمَحْيَايَ) artinya : dan hidupku. Kata wa mamati (وَمَمَاتِي) artinya : dan matiku. Kata lillahi (لِلَّهِ) artinya : hanyalah untuk Allah.
Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-Uyun[2] bahwa ada tiga makna di kalangan para ulama yang berbeda.
1. Hidup dan Mati Sepenuhnya di Tangan Allah
Bahwa hidup dan mati manusia sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Allah SWT. Tidak ada satu pun makhluk lain yang memiliki kuasa untuk memberi kehidupan atau mencabutnya. Karena kesadaran inilah, seseorang sepantasnya mengarahkan shalat dan seluruh ibadahnya hanya kepada Allah semata, sebab Dia-lah satu-satunya pemilik hidup dan mati tersebut.
2. Hidup untuk Ketaatan, Mati untuk Pertanggungjawaban
Bahwa hidup seorang hamba dipersembahkan kepada Allah dengan cara mengkhususkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Seluruh aktivitas hidup diarahkan dalam bingkai penghambaan.
Adapun kematian juga dinisbatkan kepada Allah, karena setelah mati manusia akan kembali kepada-Nya untuk menerima balasan dan perhitungan atas amal yang telah dilakukan. Dengan demikian, hidup adalah ladang ketaatan, dan mati adalah gerbang menuju pengadilan Allah.
3. Amal Saat Hidup dan Wasiat Saat Mati untuk Allah
Bahwa yang dimaksud dengan hidup dan mati untuk Allah adalah bahwa seluruh amal perbuatan selama hidup dilakukan karena Allah, dan wasiat yang ditinggalkan saat menjelang kematian pun diarahkan untuk Allah. Artinya, orientasi penghambaan tidak berhenti pada aktivitas hidup saja, tetapi berlanjut hingga sikap dan pesan terakhir seorang hamba ketika meninggalkan dunia.
رَبِّ الْعَالَمِينَ
Kata rabbi (رَبِّ) artinya : Tuhan. Kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) artinya : seluruh alam.
Sebenarnya menerjemahkan istilah al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) dengan semesta alam agak beresiko juga. Sebab istilah alam sudah jadi serapan baku dalam bahasa Indonesia. Sedangkan kata ‘alam (عالم) dalam bahasa Arab pastinya bukan 'alam' dalam bahasa Indonesia.
Pada masa turunnya Al-Qur’an, kata‘alam (عالم) dalam pemakaian bahasa Arab belum berkonotasi kosmologis seperti alam semesta dalam pengertian modern. Ungkapan ini lebih sering digunakan untuk menunjuk kelompok manusia, kaum, bangsa, atau wilayah sosial. Karena itu dikenal ungkapan seperti ‘alamul-‘arab (عالم العرب) untuk menyebut dunia atau lingkungan bangsa Arab, dan ‘alamur-rum (عالم الروم) untuk dunia Romawi. Dalam pengertian ini, ‘alam (عالم) merujuk pada satu komunitas atau negeri dengan identitasnya masing-masing.
Jika pemahaman historis ini diterapkan pada frasa rabbul-alamin (رَبِّ الْعَالَمِينَ), maka maknanya menjadi sangat kuat secara teologis dan dakwah. Allah adalah tuhan bagi seluruh bangsa, kaum, dan negeri, apa pun latar belakangnya. Dengan kata lain, sejak awal Al-Qur’an menolak konsep ketuhanan yang bersifat etnis atau teritorial.
Ketika Al-Qur’an menyatakan rabbul-alamin (رَبِّ الْعَالَمِينَ), maka runtuhlah batas-batas kesukuan dan nasional, serta menegaskan universalitas ketuhanan Allah. Allah bukan hanya jadi Tuhannya orang Makkah, juga bukan hanya jadi tuhannya orang Arab, tetapi jadi tuhan bagi semua bangsa dan semua negeri.