Kemenag RI 2019:Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya (Nabi Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan diri sendiri itu tidak beriman. Prof. Quraish Shihab:Orang-orang yang telah Kami anugerahkan kepada mereka al-Kitab (orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengenalnya (Nabi Muhammad saw.) seperti mereka mengenal anak-anak mereka. Orang-orang yang merugikan dirinya, maka mereka itu tidak beriman. Prof. HAMKA: Orang-orang yang telah Kami berikan kitab
kepada mereka, telah mengenalnya; sebagai-
mana mereka mengenal anak-anak mereka
sendiri. Mereka itu telah merugikan diri mereka
sendiri maka bukanlah mereka itu orang-orang
yang beriman.
Ayat ke-20 ini masih kelanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu masih terkait dengan klaim sepihak dari kalangan musyrikin Mekkah bahwa kenabian Muhammad SAW tidak punya saksi yang membenarkan, khususnya dari kalangan Yahudi dan Nasrani.
Kaum musyrikin dengan berdusta mengaku telah melakukan pengecekan silang alias cross-check kepada mereka yang merupakan ahli kitab tentang berita kedatangan Nabi Muhammad SAW. Dan konon tokoh dari kedua agama ini bilang bahwa mereka tidak pernah tahu, tidak kenal dan tidak ada berita apapun terkait kenabian Muhammad SAW.
Maka ayat ini turun terkait dusta dan kepura-puraan para tokoh Yahudi dan Nasrani dengan menyembunyikan fakta bahwa berita kedatangan Nabi Muhammad SAW di akhir zaman sudah ada dalam kitab suci mereka. Bahkan mereka kenal betul detail-detail terkait Nabi Muhammad SAW. Saking kenalnya, diungkapkan seperti mereka sangat kenal dengan anak-anak mereka sendiri.
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ
Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata aatainaahum al-kitaaba (آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ) artinya : Kami beri mereka Kitab. Maksudnya adalah umat dari para nabi terdahulu, dimana nabi mereka menerima kitab suci dari Allah SWT.
Jumlah nabi itu sangat banyak, dalam salah satu riwayat disebutkan hingga 124 ribu orang, 300 diantaranya lebih tinggi kedudukannya yaitu rasul. Demikian juga jumlah wahyu serta kitab yang turun dari langit pun banyak juga.
Namun dalam konteks ini yang dimaksud khususnya adalah orang-orang Yahudi dengan kitab Taurat dan orang-orang Nasrani dengan kitab Injil. Sebab kedua kaum itulah yang secara fakta memang masih tersisa masih ada hingga masa kenabian Muhammad SAW.
Nampaknya kedua umat itu tidak punah sebagaimana umat-umat lain yang sudah didoakan kehancurannya oleh nabi mereka sendiri. Mereka masih bertahan selama ratusan bahkan ribuan tahun, sampai ke era kenabian Muhammad SAW.
Sayangnya, kebanyakan mereka itu justru tidak mau beriman, tidak mau membenarkan kenabian Muhammad SAW. Malah bekerja sama dengan orang-orang Arab yang memang tidak punya keyakinan agama samawi.
@@@
)يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ(
Kata ya‘rifuunahu (يَعْرِفُونَهُ) artinya : mereka mengenalnya. Kata kamaa (كَمَا) artinya : sebagaimana. Kata ya‘rifuuna (يَعْرِفُونَ) artinya : mereka mengenal. Kata abnaaa-ahum (أَبْنَاءَهُمُ) artinya : anak-anak mereka.
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] menuliskan sebuah riwayat dari kalangan Ahli Kitab yang telah masuk Islam bahwa mereka berkata: "Demi Allah, sungguh kami lebih mengenal Muhammad daripada anak-anak kami sendiri, karena sifat-sifat dan ciri-ciri kenabian yang kami temukan dalam kitab kami. Sedangkan anak-anak kami, kami tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh istri-istri kami kepada mereka.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa ungkapan ini sekedar ungkapan hiperbola saja, tidak bersifat hakiki. Maksudnya tentu ingin menegaskan betapa bohongnya mereka kalau sampai bilang tidak kenal Nabi Muhammad SAW. Adapun detail yang sedetail-detailnya pastinya tidak seperti seorang ayah mengenal anaknya sendiri.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ
Kata ya‘rifuunahu (يَعْرِفُونَهُ) artinya : mereka mengenalnya. Kata kamaa (كَمَا) artinya : sebagaimana. Kata ya‘rifuuna (يَعْرِفُونَ) artinya : mereka mengenal. Kata abnaaa-ahum (أَبْنَاءَهُمُ) artinya : anak-anak mereka.
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] menuliskan sebuah riwayat dari kalangan Ahli Kitab yang telah masuk Islam bahwa mereka berkata: "Demi Allah, sungguh kami lebih mengenal Muhammad daripada anak-anak kami sendiri, karena sifat-sifat dan ciri-ciri kenabian yang kami temukan dalam kitab kami. Sedangkan anak-anak kami, kami tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh istri-istri kami kepada mereka.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa ungkapan ini sekedar ungkapan hiperbola saja, tidak bersifat hakiki. Maksudnya tentu ingin menegaskan betapa bohongnya mereka kalau sampai bilang tidak kenal Nabi Muhammad SAW. Adapun detail yang sedetail-detailnya pastinya tidak seperti seorang ayah mengenal anaknya sendiri.
Namun berita tentang akan datangnya seorang nabi, memang benar-benar sudah disebutkan oleh para nabi terdahulu. Salah satunya apa yang dikatakan oleh Nabi Isa alaihissalam.
Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". (QS. Ash-Shaf : 6)
Jangankan Nabi Muhammad SAW, bahkan para shahabat yang mulia pun juga termuat di dalam Taurat dan Injil.
Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. (QS. Al-Fath : 29)
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata khasiruu (خَسِرُوا) artinya : merugi. Kata anfusahum (أَنْفُسَهُمْ) artinya : diri mereka sendiri. Kata fahum (فَهُمْ) artinya : maka mereka. Kata laa yu’minuun (لَا يُؤْمِنُونَ) artinya : tidak beriman.
Al-Baghawi dalam tafsir Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[1] menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan alladzina khasiru anfusahum (الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ) adalah orang-orang musyrikin Mekkah itu mereka yang membinasakan diri mereka sendiri, oleh sebab mereka menolak kebenaran dan memilih jalan kekufuran. Dengan begitu, mereka kehilangan keselamatan di akhirat dan tidak mendapatkan bagian dari rahmat Allah.
Dan karena kerasnya hati mereka dan kesesatan mereka yang terus-menerus, maka mereka disebut fahum laa yu’minun (فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ), yaitu “mereka tidak akan beriman”. Maksudnya tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk kembali kepada iman karena sudah tenggelam dalam kekufuran.