Kemenag RI 2019:Perhatikanlah (Nabi Muhammad) bagaimana mereka berdusta terhadap diri sendiri. Lenyaplah dari mereka apa (kebohongan) yang selalu mereka ada-adakan. Prof. Quraish Shihab: Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka (sendiri) dan lenyaplah dari mereka apa (sembahan-sembahan) yang dahulu mereka ada-adakan. Prof. HAMKA:Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta atas nama diri mereka dan hilanglah dari mereka apa-apa yang dahulunya mereka ada-adakan.
Ayat ke-24 dari surat Al-An’am ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menggambarkan keadaan orang-orang musyrik di hari kiamat ketika berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah sama sekali tidak mampu menolong mereka.
Ayat sebelumnya menegaskan hilangnya segala sekutu yang mereka klaim sebagai penolong, lalu ayat ini memperlihatkan konsekuensi psikologis dan moral dari kebohongan mereka sendiri.
Allah kemudian memerintahkan Nabi SAW untuk memperhatikan bagaimana orang-orang itu justru membohongi diri mereka sendiri. Mereka selama ini menipu hati dan pikiran mereka dengan keyakinan yang salah, seakan-akan kebohongan itu akan membawa manfaat.
Namun di hadapan kebenaran yang nyata pada hari kiamat, kebohongan itu terungkap, dan mereka sendiri menjadi saksi atas dusta yang mereka buat. Selanjutnya, Allah menegaskan bahwa semua yang mereka ada-adakan, ternyata lenyap tak berbekas.
انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ
Kata undzur (انْظُرْ) adalah kata kerja perintah yaitu fi'il amr. Asalnya dari akar (ن ظ ر) yang bermakna : melihat. Maka maknanya jadi : lihatlah. Yang memberi perintah adalah Allah SWT sendiri kepada Nabi Muhammad SAW dalam rangka memberikan wawasan tentang karakteristik objek dakwah yang Beliau SAW hadapai, khususnya dalam hal ini kalangan musyrikin Mekkah.
Kata kaifa (كَيْفَ) memang berarti : bagaimana, namun kata ini bukan sebuah pertanyaan, melainkan merupakan zharaf makan atau hal yang menggambarkan keadaan dari sesuatu. Posisinya menjadi objek kedua yang disebut dengan maf’ul bihi tsani dari kata unzhur(أنظر) yaitu : lihatlah.
Kata kadzabuu (كَذَبُوا) ini dibaca tanpa tasydid pada huruf dzal (ذ) artinya adalah : berdusta. Akan berbeda maknanya jika dengan tasydid yaitu kadzdzaaba (كَذَّبَ يُكَذِّبُ) yang artinya : mendustakan. Kata ‘alaa anfusihim (عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ) artinya : terhadap diri mereka sendiri.
Jadi makna ’mereka berdusta pada diri mereka sendiri’, maksudnya mereka berbohong atau membohongi hati nurani mereka sendiri. Mereka menolak kebenaran, padahal yang sebenarnya sudah mereka tahu dalam hati tentang kebenaran itu.
Al-Baghawi menyebutkan bahwa mereka mengingkari pernah menyembah selain Allah, padahal anggota tubuh mereka dan bukti-bukti lain justru bersaksi menentang mereka. Maka mereka disebut telah berdusta atas diri mereka sendiri.
As-Sa‘di menyebutkan bawa mereka berdusta terhadap diri sendiri karena mencoba mengingkari apa yang telah mereka lakukan, padahal catatan amal dan seluruh saksi tidak bisa mereka bantah lagi.
Memilih untuk hidup dalam kebohongan dan menolak kebenaran demi mengikuti hawa nafsu, itulah yang kemudian menyebabkan diri celaka. Karena suka membohongi hati nurani sendiri itulah kemudian Allah SWT membuat mereka jadi kehilangan hati nurani. Padahal hati nurani itu boleh dibilang secara insting yang penting pada diri seseorang, yang bekerja sesuai dengan naluri paling dasar.
Bisa kita beri perbandingan dengan hewan yang hidup di alam liar, naluri untuk mempertahankan dirinya sangat tinggi, mengingat hidup di alam liar itu memang kejam, keras dan butuh naluri mempertahankan diri yang lebih. Semua itu sudah terasah sejak hewan-hewan itu baru dilahirkan oleh induknya.
Namun hewan liar yang sudah masuk di penangkaran atau lahir di kebun binatang, naluri untuk bertahan hidupnya sangat lemah. Sehingga kalaupun dikembalikan lagi ke habitat aslinya, bisa jadi sasaran empuk predatornya. Insting dan nalurinya untuk mempertahankan diri sangat lemah, mudah sekali dijadikan sasaran terkaman hewan lain.
وَضَلَّ عَنْهُمْ
Kata wa dhalla ’anhum (وَضَلَّ عَنْهُمْ) dimaknai : ’dan hilang dari mereka’ atau : ’dan mereka kehilangan’. Ungkapan ini terdiri dari tiga partikel, yaitu huruf wawu (وَ) sebagai ’athf atau penghubung, kata dlalla (وَضَلَّ) dan kata ‘anhum (عَنْهُمْ) yang berarti : dari mereka.
Kata dhalla (ضَلَّ) itu sendiri sebenarnya merupakan kata kerja dalm bentuk fi’il madhi, yang arti sebenarnya adalah tersesat, atau menyimpang, atau tidak menemukan arah. Tetapi dalam ayat ini tidak diterjemahkan sebagai tersesat, melainkan : hilang.
Penjelasannya bahwa kata dhalla (ضَلَّ) dalam bahasa Arab punya makna yang luas, tergantung struktur kalimat, objek dan juga konteks atau siyaq-nya. Misalnya Nabi SAW pernah menyebut istilah dhallatul-mu’min dengan makna : barang milik orang mukmin yang hilang.
Nabi SAW ditanya tentang kambing yang hilang, beliau menjawab: "Ambillah, karena itu bisa jadi milikmu, atau milik saudaramu, atau dimakan serigala." (HR. Bukhari Muslim)
سئل رسول الله ﷺ عن ضَالَّةِ الإبل فقال دَعْهَا فَإِنَّ مَعَهَا سِقَاءَهَا وَحِذَاءَهَا تَرِدُ الْمَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَجِدَهَا رَبُّهَا
Nabi SAW ditanya tentang unta yang hilang, apakah boleh diambil jika ditemukan? Beliau menjawab "biarkan dia" — karena unta bisa bertahan hidup sendiri dan akan ditemukan oleh pemiliknya. (HR. Muslim)
Memang orang Arab terbiasa menyebut ungkapn dhallal-kitabu (ضَلَّ الكِتَابُ) yang berarti buku yang hilang dan bukan buku yang menyesatkan.
مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Huruf maa (مَا) merupakn ismul maushul yang artinya : apa yang. ata kaanuu (كَانُوا) adalah fi‘il madhi naqis dari asalnya (كَانَ ) dengan dhamir wawu (واو) yang bisa diartikan menjadi : dahulu mereka.
Kata yaftaruun (يَفْتَرُونَ) artinya : mereka mengada-adakan kedustaan.
Ungkapan ini merujuk pada berhala-berhala, yaitu tuhan-tuhan palsu, atau berbagai kepercayaan palsu yang berpangkal pada mitos dan khurafat, sudah sejak dahulu mereka ciptakan dari generasi ke generasi dan mereka klaim untuk membenarkan kemusyrikan. Semua itu nanti pada hari kiamat akan lenyap hilang dan tidak mampu menolong mereka.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan bahwa yang termasuk dalam hal ini adalah keyakinan mereka bahwa berhala yang mereka sembah itu berfungsi untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT, sebagaimana yang disebutkan pada ayat berikut :
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS. Az-Zumar : 3)
[1]Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)