Ayat ke-32 dari surat Al-An’am ini merupakan pernyataan dari Allah SWT yang sangat mendalam isi pesannya, yaitu bahwa pada hakikatnya kehidupan di dunia ini semua tidak lain hanyalah sekedar permainan dan kelengahan semata. Inilah yang berlaku pada orang kafir.
Sedangkan buat orang beriman, kehidupan dunia bukan hanya permainan, tetapi juga tempat untuk mendatangkan pahala yang besar demi untuk kebahagiaan nanti di negeri akhirat itu.
Dan buat orang yang bertakwa, tentu kehidupan akhirat jauh lebih baik dari kehidupan di dunia.
Kata wa maa (وَمَا) artinya: “dan tidaklah”. Huruf waw ini disebut wawu ‘athaf yang fungsinya sebagai penghubung. Sedangkan huruf ma disebut dengan harfu nafyin yang fungsinya menafikan atau meniadakan sesuatu.
Kata al-hayaatu (الْحَيَاةُ) artinya: kehidupan. Kata ad-dunyaa (الدُّنْيَا) artinya: dunia. Kata dunyaa berasal dari akar kata danaa (دنى) yang artinya dekat atau rendah, maknanya adalah kehidupan yang dekat dan rendah nilainya dibanding akhirat.
Kata illa (إِلَّا) artinya: kecuali atau tidak lain hanyalah, merupakan harfu istitsna’ yaitu huruf pengecualian atau pembatasan yang menegaskan pembatasan hakikat hidup dunia.
Kata la‘ibun (لَعِبٌ) artinya: permainan. Kata wa lahwun (وَلَهْوٌ) artinya: dan senda gurau. Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[1] menuliskan beberapa pendapat para ulama terkait makna dari (لَعِبٌ وَلَهْوٌ).
Qatadah mengatakan bahwa al-lahwu (اللَّهْوُ) dalam bahasa orang Yaman berarti wanita. Ada yang mengatakan bahwa al-la’ib (اللَّعِبُ) adalah mencari kesenangan dan kegembiraan dengan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas dijadikan sarana untuk itu, sedangkan al-lahwu (اللَّهْوُ) adalah mengalihkan perhatian dengan sesuatu yang tidak layak dijadikan pengalih perhatian.
Pendapat yang berbeda mengatakan ketika seseorang sibuk dengan kebatilan, niscaya ia berpaling dari kebenaran. Maka kesibukan dengan kebatilan itu disebut al-la’ib (اللَّعِبُ), sementara berpaling dari kebenaran itu disebut al-lahwu (اللَّهْوُ)
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-’Uyun[2] menuliskan tiga pendapat yang berbeda terkait hal ini.
Pertama, bahwa maksudnya adalah: “Dan tidaklah urusan dunia dan amal yang dilakukan untuknya kecuali hanyalah permainan dan senda gurau.” Adapun amal-amal salih yang dilakukan di dalam dunia, maka itu termasuk amal untuk akhirat, sehingga keluar dari kategori permainan dan senda gurau.
Kedua : maksudnya adalah: “Dan tidaklah para penghuni kehidupan dunia itu melainkan orang-orang yang sibuk dengan permainan dan senda gurau, karena mereka disibukkan olehnya dari sesuatu yang lebih utama darinya.” Pendapat ini dikatakan oleh al-Hasan.
Ketiga : maksudnya adalah: “Sesungguhnya mereka, yaitu para pencinta dunia itu seperti orang-orang yang bermain-main dan bersenda gurau, karena kesenangan mereka terputus dan waktu mereka terbatas. Adapun penghuni akhirat berbeda dengan mereka, karena masa mereka kekal dan kenikmatan mereka terus bersambung.”
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[3] menuliskan bahwa kehidupan dunia itu hanya permainan dan sia-sia, maksudnya khusus buat orang kafir yang tidak percaya pada adanya alam akhirat. Karena toh tidak ada tujuan berikutnya, semua selesai sampai di dunia saja. Sedangkan bagi orang-orang yang beriman, maka kehidupan dunia itu menjadi ladang amal yang nanti hasilnya baru akan dipanen di akhirat. Maka dunia bukan tempat main-main dan tidak sia-sia, dunia adalah waktunya produktif.
Fakhruddin Ar-Razi kemudian menjelaskan bahwa kenapa kehidupan dunia ini disebut sebagai permainan dan senda gurau. Alasannya sebagai berikut :
Pertama: Masa untuk bermain-main dan bersenda gurau itu singkat dan cepat berakhir, begitu pula masa kehidupan dunia ini.
Kedua: Bermain-main dan bersenda gurau biasanya tidak lepas dari hal-hal yang menimbulkan kesusahan, dan begitu juga kenikmatan dunia.
Ketiga: Bermain-main dan bersenda gurau hanya terjadi karena terpedaya oleh penampakan lahiriah suatu perkara. Namun, ketika direnungi dengan sungguh-sungguh dan diteliti hakikatnya, permainan dan senda gurau itu tidak lagi memiliki arti. Demikian pula permainan dan senda gurau itu hanya sesuai bagi anak-anak kecil dan orang-orang bodoh yang lalai. Adapun orang-orang berakal dan bijak, jarang sekali mereka tenggelam dalam permainan dan senda gurau.
Keempat: Permainan dan senda gurau itu tidak memiliki akibat yang terpuji. Dengan demikian, dari keseluruhan penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa segala kenikmatan dan keadaan duniawi hanyalah permainan dan senda gurau, dan sama sekali tidak memiliki hakikat yang bernilai.
Kata wa la-ddaarul aakhiratu (وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ) artinya: “dan sungguh negeri akhirat”. Kalau kita rinci, terdiri dari beberapa unsur :
§ Huruf wawu (وَ) disebut harfu ‘athf yang berfungsi sebagai penghubung kalimat.
§ Huruf lam (ل) adalah harfu taukid yang berfungsi sebagai penegasan.
§ Kata ad-daaaru (الدَّار) punya banyak makna, bisa berarti negeri, tempat tinggal, rumah, kampung dan seterusnya.
§ Kata al-aakhiratu (الْآخِرَةُ) bermakna “yang akhir” atau mudahnya kita sebut akhirat saja.
Kata khairun (خَيْرٌ) artinya: “lebih baik”. Kata lil-ladziina (لِلَّذِينَ) artinya: “bagi orang-orang yang”. Kata yattaquun (يَتَّقُونَ) artinya: “bertakwa”. Dalam konteks ini maknanya adalah menjaga diri dari murka Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kata a-fa-la (أَفَلَا) sebuah kata tanya yang terdiri dari tiga unsur, yaitu huruf hamzah istifham (أ) yang berarti : apakah. Huruf fa (ف) yang berarti : maka. Lalu huruf laa (لا) yang berarti : tidak. Kalau kita gabungkan menjadi : “maka apakah tidak”.
Kata ta’qilun (تَعْقِلُونَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, asalnya dari kata aql (عقل) yaitu : akal. Kerja akal itu adalah berpikir atau mengerti. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “Tidakkah kamu mengerti?”. Prof. Quraisyh Shihab menerjemahkannya menjadi : “Tidakkah kamu berpikir?”. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “Maka, apakah kamu tidak mau berpikir?”
Ayat ini Allah SWT tutup dengan sebuah pertanyaan singkat tapi mengena, yaitu apakah kamu wahai orang-orang kafir itu tidak menggunakan akal kamu? Atau bisa juga bermakna lebih satire, yaitu : apakah kamu tidak punya akal? Apakah kamu tidak berakal?”.