Kemenag RI 2019:Jika keberpalingan mereka terasa berat bagimu (Nabi Muhammad), andaikan engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan bukti (mukjizat) kepada mereka, (maka buatlah). Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia akan menjadikan mereka semua mengikuti petunjuk. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh. Prof. Quraish Shihab:Dan jika keberpalingan mereka terasa sangat berat bagimu (Nabi Muhammad saw.), maka jika engkau dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu engkau dapat mendatangkan bukti (mukjizat) kepada mereka. (maka buatlah). Jika seandainya Allah menghendaki, pasti Dia mengumpulkan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang jahil. Prof. HAMKA:Dan jika amat besar bagimu perpaligan mereka maka jika engkau sanggup membuat suatu lubang di bumi atau suatu jenjang ke langit lalu engkau bawakan kepada mereka satu ayat! Karena kalau Allah menghendaki, niscaya Dia kumpulkan mereka atas petunjuk itu. Maka, janganlah engkau jadi dari orang-orang yang bodoh.
Ayat ke-35 dari surat Al-An’am ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya. Di ayat ini Allah SWT seperti bisa memaklumi betapa beratnya beban yang Nabi SAW terima, sehingga Nabi SAW sangat mengharapkan turunnya bukti mukjizat. Digambarkan seolah saking inginnya, Nabi SAW sampai punya keinginan untuk membuat lubang di bumi atau tangga ke langit.
Namun hal itu dijawab dengan tegas bahwa hal itu sederhana sekali. Sebab jika memang Allah menghendaki, bisa saja semuanya beriman dan mengikuti petunjuk.
وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ
Kata wa-in-kana (وَإِنْ كَانَ) artinya : dan jika. Sebenarnya terdiri dari tiga partikel.
§Pertama huruf wawu (وَ) artinya: dan, merupakan harfu ‘athf alias kata sambung yang menghubungkan kalimat ini dengan sebelumnya, memberi kelanjutan makna.
§Kedua, kata in (إِنْ) artinya: jika atau seandainya, dalam hal ini merupakan harfu syarth atau kata pengandaian yang membuka kalimat bersyarat.
§Kata kaana (كَانَ) artinya: adalah atau terjadi, disebut dengan fi‘il naqish atau kata kerja yang berfungsi melemahkan atau mengubah status kata setelahnya. Dalam konteks ini berfungsi untuk menyatakan keadaan.
Kata kabura (كَبُرَ) artinya: menjadi besar atau terasa berat. Kata ‘alaika (عَلَيْكَ) artinya: atasmu. Jadi maknanya “menjadi besar dalam pandangan kamu”.
Kata i‘raadhahum (إِعْرَاضُهُمْ) artinya: berpalingnya mereka. Ia adalah mashdar dari kata a‘radha (أعرض) yang berarti berpaling atau menolak. Ditambah dhamir-hum (هُمْ) yang berarti “mereka”, yaitu kaum yang menolak dakwah Nabi SAW. Statusnya sebagai fa‘il dari kabura, yakni hal yang terasa berat itu adalah penolakan mereka. Penggalan ini berarti: “Dan jika terasa berat bagimu penolakan mereka”.
Ayat ini menggambarkan kondisi psikologis Nabi Muhammad SAW ketika beliau merasa sangat sedih dan berat hati atas sikap kaumnya yang berpaling dari dakwah Islam. Allah SWT menegaskan bahwa rasa berat itu manusiawi, tetapi kemudian Allah akan memberikan arahan bagaimana menyikapinya.
Kata i’radh (إِعْرَاض)sering muncul di ayat-ayat lain untuk menggambarkan sikap orang kafir yang berpaling, misalnya dalam surat Fussilat ayat 4 :
فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
Ayat ini menyebut bahwa kebanyakan orang berpaling sehingga tidak mau mendengarkan. Sedangkan dhamir -hum (هُمْ) jelas merujuk kepada kaum musyrikin Quraisy yang menolak seruan Nabi SAW.
Kata fa-in (فَإِنِ) terdiri dari huruf fa (فَ) yang artinya: maka, juga merupakan harfu ‘athf yang menyambung akibat dari syarat sebelumnya. Digunakan untuk menunjukkan konsekuensi dari kalimat sebelumnya: “Jika terasa berat bagimu … maka …”. Huruf in (إِنِ) artinya: jika, merupakan harfu syarth alias kata pengandaian yang membuka kalimat bersyarat baru.
Kata ista-tha‘ta (اسْتَطَعْتَ) artinya: engkau mampu. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi‘il madhi dengan dhamir -ta (تَ) sebagai pelaku, yaitu kamu, yang dalam hal ini tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.
Kata ini berasal dari akar kata thoqa (طوق) yang berarti kekuatan atau kemampuan. Digunakan di sini untuk menyatakan kemungkinan: “jika engkau bisa atau punya kemampuan”.
Kata an (أَنْ) artinya: untuk atau agar. Kata tabtaghiya (تَبْتَغِيَ) artinya: kamu mencari ataukamu mengusahakan. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi‘il mudhari‘ yang berasal dari akar baghaa (بغى) yang berarti mencari atau berusaha keras. Pelakunya adalah dhamir anta yang berarti kamu, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Kata nafaqan (نَفَقًا) artinya secra harfiyah adalah terowongan atau lubang. Asalnya dari akar kata nafaqa (نفق) yang berarti lubang, lorong, atau jalan bawah tanah. Digunakan secara majazi atau kiasan untuk menggambarkan seandainya Nabi bisa mencari jalan khusus masuk ke dalam bumi.
Kata fil-ardhi (فِي الْأَرْضِ) artinya: di dalam bumi.
Penggalan ini berarti: “Maka jika engkau mampu mencari suatu terowongan di bumi …”. Ini adalah bentuk gaya bahasa tantangan atau sindiran halus dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Allah menggambarkan seakan-akan, jika beliau ingin sekali agar kaumnya beriman, maka meskipun beliau berusaha mencari jalan luar biasa, seperti membuat terowongan di bumi, tetap saja hidayah itu tidak akan datang kecuali dengan izin Allah.
Istilah nafaqan (نَفَقًا) ini juga menarik, karena dalam bahasa Arab modern berarti terowongan atau underpass. Sedangkan dalam bahasa klasik, bermakna lubang hewan misalnya lubang tikus. Keunikan lainnya karena juga dipakai dalam bentuk lain untuk makna yang berbeda.
Salah satu di antaranya adalah istillah munafiq (منافق) berasal dari akar yang sama, yaitu orang yang berpura-pura beriman tapi punya “jalan keluar tersembunyi” dari imannya seperti terowongan yang punya dua pintu, masuk dan keluar diam-diam.
Kata aw (أَوْ) artinya: atau. Kata sullaman (سُلَّمًا) artinya: tangga, berasal dari akar salima (سلم) yang bermakna naik, menyampaikan, atau menyelamatkan. Sullam secara harfiah berarti tangga yang dipakai untuk naik ke tempat tinggi. Kata fis-samaa’i (فِي السَّمَاءِ) artinya: di langit.
Maka arti penggalan ini adalah: “… atau jika engkau bisa membuat sebuah tangga ke langit …”.
Allah melanjutkan perumpamaan untuk menekankan bahwa meskipun Nabi Muhammad SAW ingin sekali agar kaumnya beriman, bahkan kalau beliau bisa melakukan hal luar biasa seperti menggali terowongan ke bumi atau mendirikan tangga sampai ke langit, tetap saja hidayah itu tidak akan datang kecuali dengan izin Allah.
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَىٰ
Kata wa-law (وَلَوْ) artinya : dan jika atau dan seandainya. Kata syaa’a (شَاءَ) artinya: menghendaki, berasal dari akar syaa’a (شاء) yang berarti berkehendak atau menginginkan. Kata allohu (اللَّهُ) artinya: Allah.
Kata la-jama‘a-hum (لَجَمَعَهُمْ) artinya: niscaya Dia pasti mengumpulkan mereka. Tersusun dari partikel, yaitu huruf la- (لَ) yang merupakan jawab syarth lil-taukid yaitu penegasan konsekuensi. Kata kerjanya sendiri berupa fi‘il madhi yaitu jama‘a (جمع) yang berarti mengumpulkan.
Sedangkan dhamir -hum (هُمْ) sebagai objek yang berarti mereka, yakni kaum yang menolak dakwah, yaitu musyrikin Mekkah.
Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya: di atas atau atas dasar. Kata al-huda (الْهُدَىٰ) artinya: petunjuk. Asalnya dari kata hada (هدى) yang berarti membimbing atau menunjukkan jalan. Kata ini dalam Al-Qur’an biasanya merujuk pada petunjuk Allah yang mengarahkan kepada iman dan jalan lurus.
Maka penggalan ini berarti: “Dan seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia pasti mengumpulkan mereka di atas petunjuk (iman).” Ayat ini menegaskan bahwa hidayah adalah hak mutlak Allah, bukan semata-mata hasil usaha Nabi atau siapa pun. Nabi Muhammad SAW sangat ingin agar seluruh kaumnya beriman, namun Allah menegaskan bahwa hal itu hanya mungkin terjadi bila Allah berkehendak.
فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Huruf fa (فَ) artinya: maka. Juruf laa (لَا) artinya: jangan. Kata takunanna (تَكُونَنَّ) artinya: engkau sekali-kali jangan menjadi. Ia fi‘il mudhari‘ (kata kerja kini/akan datang) dari kāna (كان) dengan dhamir anta (engkau, Nabi Muhammad SAW) sebagai subjek. Diakhiri dengan nun taukīd tsaqīlah (نَّ) yang memberi makna sangat kuat/penegasan larangan keras.
Kata mina (مِنَ) artinya: dari/termasuk. Ia huruf jar yang menunjukkan keanggotaan dalam suatu golongan.
Kata al-jahilin (الْجَاهِلِينَ) artinya: orang-orang yang jahil (bodoh). Ia isim jamak mudzakkar sālim (kata benda jamak laki-laki) dari akar jahila (جهل) yang berarti tidak mengetahui atau bertindak bodoh. Dalam Al-Qur’an, jāhil bukan sekadar tidak tahu, tapi juga bisa berarti orang yang bertindak dengan kebodohan, kesombongan, atau mengikuti hawa nafsu tanpa ilmu.
Maka penggalan ini berarti: “Maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang jahil (bodoh).” Larangan ini bukan karena Nabi Muhammad SAW mungkin berbuat jahil, tetapi sebagai bentuk tahdhīr (peringatan) sekaligus tasliyah (penghiburan). Allah seakan berkata: jangan sampai engkau larut dalam kesedihan, memaksa dirimu, atau bersikap emosional seperti orang bodoh, karena urusan hidayah sepenuhnya ada di tangan Allah.
Kata al-jahilin (الْجَاهِلِينَ)sering muncul dalam Al-Qur’an, misalnya Surat Al-Furqan ayat 63 :
Ayat ini menggambarkan orang beriman ketika disapa orang jahil, mereka membalas dengan ucapan yang baik. Jadi jahil di sini bukan sekadar “tidak tahu”, tetapi perilaku yang tidak pantas, emosional, dan tidak sesuai dengan ilmu.