Kemenag RI 2019:Tidaklah datang kepada mereka satu ayat pun dari ayat-ayat ) Tuhan mereka, kecuali mereka (pasti) berpaling darinya. Prof. Quraish Shihab:Dan tidak ada suatu ayat (bukti kebenaran) pun dari ayat-ayat Tuhan Pemelihara mereka yang sampai kepada mereka (orang-orang kafir), melainkan mereka selalu berpaling darinya. Prof. HAMKA:Dan tidaklah datang kepada mereka satu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan mereka, melainkan mereka berpaling daripadanya.
Ayat ke-4 dari surat Al-An’am ini menjadi penegasan dari Allah SWT bahwa kecenderungan umat manusia, setidaknya di masa sebelum kenabian Muhammad SAW, selalunya mereka berpaling dari dakwah para nabi mereka, bahkan meskipun para nabi itu dilengkapi dengan berbagai bentuk mukjizat.
Tidaklah datang kepada mereka satu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan mereka, kecuali mereka pasti berpaling darinya.
Boleh jadi ayat ini merupakan cara Allah SWT dalam mengisi kekosongan hati Nabi Muhammad SAW, yang merasa gagal dalam berdakwah akibat kaumnya sendiri yaitu suku Quraisy sama sekali tidak mau beriman atas apa yang Beliau sampaikan.
Kata wa maa (وَمَا) artinya : dan tidaklah. Kata ta’tii-him (تَأْتِيهِمْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’, yang disambungkan langsung dengan objeknya yaitu dhamir hum atau him (هِمْ)
Asalnya dari (أَتَى – يَأْتِي) yang artinya : datang kepada mereka. Subjek atau pelaku yang datang itu adalah ayat yang nanti disebutkan belakangan, karena memang begitulah salah satu keunikan struktur kalimat dalam bahasa Arab, dimana sering kali pelaku malah diletakkan di belakang, sementara objeknya malah dikedepankan, yaitu dhamir him tadi.
Lalu siapakah mereka yang dimaksud?
Yang dimaksud dengan ‘mereka’ disini tidak lain adalah kaum musyrikin Mekah. Hal itu mengingat memang surat Al-An’am ini mayoritas turun di masa Mekkah. Jadi wajar jika ayat ini sedang membicarakan kasus yang terkait dengan mereka. Namun begitu, ayat ini bisa saja dipahami secara lebih luas, yaitu siapa pun orang yang mendustakan risalah Nabi Muhammad SAW.
Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata aayatin (آيَةٍ) artinya : satu tanda. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata aayaati (آيَاتِ) artinya : tanda-tanda. Kata rabbihim (رَبِّهِمْ) artinya : Tuhan mereka.
Kata min ayaati rabbihim (مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ) adalah bayan atau penjelas dari ayat yang dimaksud. Dalam ilmu tafsir, struktur seperti ini disebut sebagai min bayaniyyah, yaitu min yang menjelaskan jenis dari sesuatu yang disebut sebelumnya.
Struktur kalimat ini kalau diterjemahkan secara harfiyah memang malah bikin bingung. Sebab bahasa kita sejak awal memang beda karakter. Maka kita akan sangat terbantu ketika membaca terjemahan yang sudah jadi versi Kemenag RI : ”Tidaklah datang kepada mereka satu ayat pun dari ayat-ayat Tuhan mereka.”
Maksudnya setiap kali ada ayat yang datang kepada mereka, selalunya mereka ingkari.
إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ
Kata illaa (إِلَّا) artinya : melainkan. Kata kaanuu (كَانُوا) artinya : mereka selalu. Kata ‘anhaa (عَنْهَا) artinya : darinya. Kata mu‘ridhin (مُعْرِضِينَ) artinya : berpaling.
Orang-orang yang berpaling adalah mereka yang menjauhkan diri, mengabaikan, atau membelakangi sesuatu yang seharusnya mereka perhatikan. Lebih dari itu, bukan sekadar tidak percaya, tapi mereka secara aktif menghindari dan menolak melihat atau mendengar ayat-ayat Tuhan. Ini adalah sikap menghindar dengan kesengajaan dan keras kepala.
Kata ini berasal dari akar tiga huruf dasar yaitu (ع ر ض) yang ketambahan satu huruf di depan sehingga pada bentuk fi'il madhi-nya berubah menjadi a‘radha (أعرض) yang berarti : berpaling. Pelakunya dalam bentuk ism fa’il disebut mu’ridh (مُعْرِض). Dalam konteks ayat Al-Qur'an, mereka adalah orang-orang yang tidak menunjukkan minat atau perhatian terhadap ayat-ayat Allah SWT, mungkin tidak serta-merta menolak atau mengingkari secara verbal, tetapi sikap mereka menunjukkan ketidakacuhan, keengganan untuk menerima atau mempertimbangkan kebenaran.
Sikap ini berbeda dengan mukadzdzibin (المكذبين), yaitu orang-orang yang mendustakan. Mereka bukan hanya tidak peduli, tetapi secara aktif dan terang-terangan menyatakan bahwa wahyu itu dusta, bohong, atau bukan dari Allah. Mereka mendebat, menentang, bahkan menyerang secara verbal maupun fisik terhadap para nabi dan ajaran yang dibawanya.
Dengan demikian, mu‘ridhin menggambarkan sikap pasif namun tetap berdosa, yaitu menjauh dan menolak memberi perhatian. Sementara mukadzdzibin menggambarkan sikap aktif dalam mendustakan dan memusuhi kebenaran. Keduanya sama-sama sesat, namun dengan corak sikap yang berbeda: yang satu pasif, yang lain agresif.