Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku (bahwa) jika siksaan Allah sampai kepadamu (di dunia) atau hari Kiamat sampai kepadamu, apakah kamu (tetap) akan menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu (merasa) orang yang benar?” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (kepada para pendusta itu, wahai Nabi Muhammad saw.), "Beritahukanlah kepadaku (tentang keadaan diri kamu) jika datang siksa Allah kepada kamu, atau datang kepada kamu Hari Kiamat, apakah kamu menyeru selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?" Prof. HAMKA:Katakanlah: cobalah kabarkan kamu adzab Allah atau datang kepada kamu Kiamat, apakah kepada yang selain Allah kamu akan menyeru? Jika memang kamu orang-orang yang benar.
Ayat ke-40 dari surat Al-An’am ini berisi perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk melemparkan pertanyaan yang bersifat retoris kepada orang-orang yang menyembah Allah SWT dengan cara menyekutukan dengan sembahan yang lain.
”Katakan kepada saya, jika nanti siksa neraka dan azab Allah datang atau hari kiamat tiba, apakah kamu masih akan terus meminta pertolongan kepada berhala selain Allah?”
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, sebab intinya justru semacam pernyataan bahwa mereka akan disiksa di hari kiamat, lalu saat itu barulah mereka hanya meminta pertolongan kepada Allah SWT saja dan melupakan berhala-berhala yang selama ini mereka sembah.
Kata qul (قُلْ) adalah fi’il amr yaitu kata perintah untuk berkata atau menjawab suatu, asalnya dari (قَال – يَقُولُ - قُلْ). Yang memerintahkan adalah Allah SWT, sedangkan yang diperintah adalah Nabi Muhammad SAW. Perintah untuk berkata ini amat banyak kita temukan dalam Al-Quran, dimana Allah SWT mendirect sang nabi dalam melakukan dialog dengan berbagai kalangan.
Kata a-ra-aita-kum (أَرَأَيْتَكُمْ) ini adalah kata yang unik, karena terbentukdari empat partikel yang berbeda namun disatukan dalam satu kata.
1.Huruf hamzah (أَ) merupakan huruf istifham (أداة استفهام), yang digunakan untuk bertanya atau menggugah perhatian. Biasanya diterjemahkan dengan: apakah…? tidakkah…? tahukah…? Dalam konteks ayat ini, ia membuat kalimat ini menjadi bentuk pertanyaan retoris untuk menggugah kesadaran pendengar.
2.Kata ra-aita (رَأَيْتَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya secara harfiyah adalah : kamu melihat.
3.Di dalam kata kerja ra-aita (رَأَيْتَ) ini terkandung dhamirta (تَ) sebagai pelaku dan artinya adalah : kamu. Kamu yang dimaksud adalah orang-orang kafir.
4.Dhamir kum (كُمْ) yang menempel di bagian akhir adalah objek alias maf’ul bihi, artinya sama juga namun dalam jumlah yang banyak, sehingga lebih tepat kalau dimaknai sebagia : kalian.
Maka keempat partikel ini kalau diterjemahkan secara harfiyah menjadi : ”apakah kamu melihat kalian?” Rasanya sulit untuk bisa dipahami maksudnya, bukan?.Karena ini adalah kata-kata yang sudah menjadi ungkapan khas, tidak bisa dipreteli satu per satu lantas diberi terjemahan sendiri-sendiri, pasti hasilnya akan jadi aneh. Untuk itu mari kita tinggalkan pola terjemahan harfiyah yang agak menyesatkan, kita lihat saja bagaimana para ulama kita menerjemahkan kata ini.
Kemenag RI 2019 menerjemahkan kata (أَرَأَيْتَكُمْ) menjadi : “Terangkanlah kepadaku”. Prof. Quraish Shihab agak mirip terjemahannya yaitu :”Beritahukanlah kepadaku”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : ”Cobalah kabarkan kamu”.
Nanti di ayat ke-47 dari surat Al-An’am ini kita juga akan ketemu lagi yang ungkapan yang sama, yaitu : (أَرَأَيْتَكُمْ).
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?" (QS. Al-Anam : 47)
Dan juga akan ketemu lagi di surat Al-Isra’ yaitu : (أَرَأَيْتَكَ)
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". (QS. Al-Isra : 62).
إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ
Kata in ataa-kum (إِنْ أَتَاكُمْ) artinya : jika mendatangi kamu. Kata ’adzabun (عَذَابُ) artinya adalah siksa, dimana siksaan ini yang menjadi fa’il-nyaatau pelakunya. Yang mendatangi kamu adalah siksa. Kata Allah (اللَّهِ) menjadi mudhaf ilaihi, yaitu siksa Allah SWT. Tidak hanya sebatas siksa di akhirat, bahkan siksa di dunia pun termasuk juga di dalamnya.
Biasanya kata ini digunakan untuk sesuatu yang benar-benar bergerak, hadir, atau mendekat ke arah seseorang. Jadi seolah-olah azab itu adalah sesuatu yang nyata, bisa bergerak dan menghampiri manusia, bukan sekadar konsep abstrak.
Dengan gaya bahasa seperti ini, Al-Qur’an membuat siksa neraka itu yang sangat hidup, seperti tamu yang akan datang menghampiri, mendekat, lalu menimpa manusia. Hal ini memberi kesan ancaman yang lebih kuat, karena azab tidak digambarkan sebagai sesuatu yang jauh atau sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang bergerak menuju orang yang berdosa.
Selain itu, bentuk “mendatangi” juga memberi efek bahwa manusia tidak bisa menghindar atau melarikan diri. Azab itu datang sendiri, atas izin Allah, dan manusia hanya bisa menerimanya.
أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ
Huruf au (أَوْ) artinya atau yang juga merupakan. Kata atat-kum (أَتَتْكُمُ) artinya : mendatangi kamu. Kata ini terjadi dari atat (أَتَتْ) yang merupakan kata kerja dalam bentuk fi‘il madhi, dengan pelaku muannatas, yaitu as-sa’ah. Sedangkan dhamirkum (كم) yang artinya kalian menjadi objek alias maf’ul bihi.
Pelakunya adalah kata as-sa’ah (السَّاعَةُ) yang arti harfiyahnya adalah waktu, namun banyak ulama sepakat maksudnya tidak lain adalah hari Kiamat. Sebagaimana juga siksa yang digambarkan seperti tamu yang datang menghampiri, hari kiamat pun digambarkan seperti itu juga. Kiamat juga datang menghampiri. Kita mendapatkan kesan bahwa kedatangannya itu tidak bisa ditolak, juga kita tidak bisa berlari menghindarinya.
Tentang kata as-sa’ah (السَّاعَةُ) yang dijadikan nama lain untuk hari kiamat, ternyata memang cukup tersebar dalam Al-Quran. Berikut ini adalah sebagian di antaranya.
Huruf a (أَ) adalah hamzah istifham yang artinya : apakah, yang berfungsi untuk pertanyaan retoris, bukan sekadar bertanya, melainkan mengandung makna pengingkaran. Makna asalnya adalah alat tanya, tetapi di sini dipakai untuk menguatkan hujjah bahwa mereka tidak akan mendapatkan jawaban yang masuk akal jika berpaling dari Allah.
Kata ghairullah (غَيْرَ اللَّهِ) artinya : selain Allah. Kata ghaira (غَيْرَ) artinya : selain, bentuknya manshub dan berfungsi sebagai pengecualian. Makna harfiahnya berasal dari kata ghair yang berarti: lain dari.
Kata tad’uun (تَدْعُونَ) artinya : kamu menyeru atau kamu berdoa. Kata ini merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Makna asalnya berasal dari kata (دعى - يدعو) yaitu memanggil, menyeru, atau meminta. Dalam ayat ini digunakan dalam arti doa permohonan ketika kesulitan.
Huruf in (إِنْ) artinya : jika, secara grammatika merupakan harfu syarth yang fungsinya untuk mengaitkan kondisi dengan akibat. Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya : kamu adalah, dalam bentuk jumlah syarthiyyah yang menunjukkan keadaan.
Kata shodiqin (صَادِقِينَ) artinya : orang-orang yang benar. Kata ini dipakai untuk menantang klaim kaum musyrikin, apakah benar mereka berpegang pada keyakinan mereka ketika ditimpa azab atau kesulitan.
Penggalan ayat ini menghadirkan bentuk pertanyaan retoris: “Apakah selain Allah yang kalian seru jika datang azab Allah kepada kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar?” Gaya bahasa ini dimaksudkan untuk menguji konsistensi orang musyrik. Ketika mereka senang, mereka menyeru berhala, tetapi ketika tertimpa musibah, fitrah mereka hanya menyeru Allah.