Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan (rezeki) Allah ada padaku, aku (sendiri) tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(-nya)?” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.), "Aku tidak mengatakan kepada kamu bahwa terdapat padaku gudang-gudang (rezeki dan kekayaan) Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib (tanpa bantuan dari Allah swt.), dan tidak (pula) aku mengatakan kepada kamu bahwa aku adalah malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku." Katakanlah, "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka tidakkah kamu berpikir? Prof. HAMKA:Katakanlah, “Tidaklah aku akan berkata kepadamu bahwa di sisiku ada beberapa perbendaharaan Allah dan tidaklah aku mengetahui akan yang gaib dan tidaklah aku akan mengatakan kepada kamu bahwa aku ini adalah malaikat. Tidak lain yang aku ikuti hanyalah apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah, “Apakah bersamaan yang buta dengan yang nyalang? Apakah kamu tidak berpikir?”
Atas semua tuntutan itu maka Allah SWT perintahkan kepada Nabi SAW untuk menjawab dengan menggunakan ayat ini. Pada intinya tidak ada satupun tuntutan mereka yang perlu dijawab atau ditanggapi. Alasannya karena semua itu hanya sekedar alasan yang dibuat-buat oleh mereka. Pada dasarnya mereka memang tidak mau beriman alias seperti orang buta. Dan orang buta itu pastinya tidak sama dengan orang yang bisa melihat.
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, agar menyampaikan kepada lawan bicaranya, yaitu kaum musyrikin Mekkah.
Kata laa (لَا) artinya : tidak. Kata aquulu (أَقُولُ) artinya : aku berkata. Kata lakum (لَكُمْ) artinya : kepada kalian. Kata ‘indii (عِنْدِي) artinya : ada padaku. Kata khazaa-inu (خَزَائِنُ) artinya : perbendaharaan. Kata allaah (اللَّهِ) artinya : Allah.
Muqatil bin Sulaiman menjelaskan ketika Nabi SAW menakut-nakuti mereka dengan azab, mereka pun meminta agar azab itu disegerakan, dengan maksud mengejek dan mendustakan. Mereka berkata: “Sampai kapan akan terjadi azab yang engkau janjikan kepada kami, jika memang engkau termasuk orang-orang yang benar?” Maka Allah berfirman kepada Nabi SAW: “Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu bahwa di sisiku ada perbendaharaan Allah” yakni kunci-kunci kekuasaan Allah dalam menurunkan azab. “Dan aku tidak mengetahui yang gaib” yakni aku tidak mengetahui kapan azab itu akan turun kepada kalian.
Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] bahwa Nabi SAW diejek oleh orang kafir dengan ujaran:“Jika engkau benar-benar seorang rasul yang datang dari sisi Allah, maka mintalah kepada Allah agar Dia melapangkan bagi kami manfaat dunia dan segala kebaikannya, serta membukakan bagi kami pintu-pintu kebahagiaannya.”
Maka Nabi SAW diminta untuk menjawabnya :
“Katakanlah kepada mereka: sesungguhnya aku tidak mengatakan kepadamu bahwa di sisiku ada perbendaharaan Allah.”
Artinya bahwa segala kebaikan berada di tangan Allah dan bukan di tanganku. Adapun kata khaza’in (خَزَائِن) sendiri adalah bentuk jamak dari khizanah (خِزَانَة), yaitu nama untuk tempat penyimpanan sesuatu. Sedangkan khaznu asy-syai’ (خَزْنُ الشَّيْءِ) artinya adalah menyimpan sesuatu dengan cara mengamankannya sehingga tidak dapat dijangkau oleh tangan orang lain.
Kata wa laa (وَلَا) artinya : dan tidak. Kata a‘lamu (أَعْلَمُ) artinya : aku mengetahui. Kata al-ghoiba (الْغَيْبَ) artinya : yang gaib.
Orang kafir berkata kepada Nabi SAW: “Jika engkau benar-benar seorang rasul yang datang dari sisi Allah, maka pasti engkau harus bisa memberitahukan kepada kami tentang apa yang akan terjadi di masa depan, baik berupa manfaat maupun mudarat, agar kami dapat bersiap untuk memperoleh berbagai manfaat itu, dan juga dapat menolak segala mudarat tersebut.”
Maka Allah memerintah agar Nabi SAW menjawab dengan jawaban berikut ini.
Katakanlah: sesungguhnya aku tidak mengetahui perkara gaib.” Jika demikian halnya, bagaimana mungkin kalian menuntut permintaan seperti itu dariku?
Kesimpulannya adalah bahwa mereka pada mulanya menuntut dari Nabi SAW harta yang banyak dan berbagai kebaikan dunia yang luas, kemudian pada tahap berikutnya mereka menuntut darinya agar memberitahu hal-hal gaib, supaya dengan mengetahui perkara-perkara gaib itu mereka bisa memperoleh keuntungan dan terhindar dari segala mudarat serta kerusakan.
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ
Kata wa laa (وَلَا) artinya : dan tidak. Kata aquulu (أَقُولُ) artinya : aku berkata. Kata lakum (لَكُمْ) artinya : kepada kalian. Kata innii (إِنِّي) artinya : sesungguhnya aku. Kata malakun (مَلَكٌ) artinya : malaikat.
Orang-orang kafir mempertanyakan kenabian Muhammad SAW dengan berkata:
مالِ هَذا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعامَ ويَمْشِي في الأسْواقِ
Mengapa rasul ini makan makanan dan berjalan di pasar-pasar?” (QS. Al-Furqan: 7),
Maka Allah SWT perintahkan kepada Nabi SAW untuk menjawab :
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ
Katakanlah kepada mereka: sesungguhnya aku bukanlah termasuk malaikat.”
Kesimpulannya bahwa orang-orang kafir mencoba mencari-cari celah dan berbagai alasan agar mereka tidak beriman kepada kenabian Muhammad SAW. Mereka kemudian mengajukan tiga tuntutan.
§Pertama : kalau memang benar seorang Nabi, seharusnya Nabi SAW bisa menurunkan kepada mereka harta benda yang banyak dari langit.
§Kedua : kalau memang benar Nabi, seharusnya Nabi SAW mengetahui hal-hal yang gaib.
§Ketiga : kalau memang benar utusan Allah, seharusnya yang jadi utusan itu malaikat dan bukan manusia biasa yang makan, minum dan berjalan di pasar.
Maka Allah SWT ajarkan kepada Nabi SAW agar tidak perlu mengikuti semua tuntuan mereka. Sebab meskipun semua tuntutan mereka Allah SWT penuhi, pastinya mereka tetap tidak akan beriman. Kalau pun mereka ajukan tuntutan, semua itu hanya taktis dan siasat saja, sekedar mengecoh dan bahkan sebenarnya hanya mengolok-olok.
Seolah Allah SWT membocorkan tehnik permainan kata-kata yang mereka gunakan. Dan untuk itu, Nabi SAW tidak perlu terikat dengan semua perkataan dan gaya permainan mereka. Santai saja dan tidak usah diladeni.
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ
Kata in (إِنْ) artinya : tidak lain. Kata attabi‘u (أَتَّبِعُ) artinya : aku hanya mengikuti. Kata illaa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata maa (مَا) artinya : apa. Kata yuuhaa (يُوحَىٰ) artinya : diwahyukan. Kata ilayya (إِلَيَّ) artinya : kepadaku.
Pada penggalan ini Allah SWT menegaskan kepada Nabi SAW untuk tidak usah mengikuti alur permainan kata-kata dan argumentasi mereka. Ikuti saja perintah Allah, yaitu segala yang Allah SWT wahyukan. Nabi Muhammad SAW tidak perlu meladeni semua logika akal-akalan yang mereka bikin-bikin, karena tidak akan ada ujung pangkalnya.
Intinya mereka itu memang tidak mau beriman, kalau pun mereka ajukan permintaan ini dan itu, semua hanya sekedar banyak omong yang tidak ada gunanya juga.
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Kata a-falaa (أَفَلَا) artinya : maka apakah tidak. Kata tatafakkaruun (تَتَفَكَّرُونَ) artinya : kalian berpikir.
Sebenarnya ini bukan pertanyaan, melainkan sebuah ejekan dan hinaan yangditujukan kepada orang-orang kafir Quraisy. Soalnya mereka menuntut bukti-bukti kenabian Muhammad SAW namun sudah di luar kewajaran.
Menurut Al-Tabari, ayat ini datang setelah perbandingan: (هل يستوي الأعمى والبصير) : apakah sama orang buta dan orang yang melihat?. Ini adalah gambaran indrawi yang jelas. Maka Allah menyeru mereka agar berpikir, merenung dan bertafakkur atas perbedaan yang kasatmata itu, lalu mengambil kesimpulan.
Tafakkur di sini berarti menghadirkan sesuatu dalam hati, lalu menimbang akibat dan perbandingannya.” Karena konteksnya perbandingan, maka kata tafakkur lebih sesuai daripada afala ta‘qilun (أفلا تعقلون) atau afala tatadzakarun (أفلا تتذكرون).