Huruf wa min (وَمِنْ) artinya : dan dari. Kata kulli (كُلِّ) artinya : setiap. Kata ini menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan satu jenis karb tertentu, tetapi semua jenis kesusahan. Artinya tidak ada satu pun karb yang terlewat, semuanya dicakup oleh janji atau tindakan yang mengikuti kata ini.
Kata karbin (كَرْبٍ) sendiri artinya : kesusahan. Kata ini tidak selalu identik dengan ancaman kematian, meskipun dalam konteks ekstrem seperti badai laut atau terjebak di gurun, karb bisa terasa seperti nyawa terancam.
Nabi SAW menggunakan kata kurbah (كُرْبَةً) yang punya akar kata yang sama dengan karb (كَرْبٍ) dalam salah satu haditsnya.
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. (HR. Muslim)
Kata karb (كَرْبٍ) itu mengacu kepada kesulitan, tekanan, atau keterbatasan yang menekan pikiran dan tubuh. Bisa berupa kelelahan, keterbatasan bekal, rasa haus atau lapar, perjalanan yang panjang, cuaca panas atau dingin, atau ketidaknyamanan lainnya.
Dalam perjalanan darat di padang pasir, meski ada pemandu dan bekal cukup, menempuh jarak jauh tetap melelahkan. Otot pegal, kaki lecet, debu beterbangan, panas terik membakar kulit. Itu sudah karb, meski nyawa aman.
Dalam perjalanan laut dengan perahu yang layak dan cuaca tenang, bergoyang-goyang di ombak kecil, kedinginan, mabuk laut, atau terbatasnya makanan dan minuman, itu juga karb, walaupun bahaya kematian jauh. Jadi, karb menekankan tekanan atau kesulitan yang dihadapi manusia, baik dalam kondisi aman maupun berbahaya, tidak selalu sampai mengancam nyawa.
Namun seringkali karb juga bisa jauh lebih beresiko. Di tengah lautan lepas abad ke-7, perahu kayu yang sederhana terombang-ambing oleh gelombang yang tinggi. Angin menderu keras, ombak menerjang lambung perahu, dan air asin masuk merendam dek.
Penumpang terhuyung-huyung, tangan mereka berpegangan pada tali atau papan perahu, wajah pucat ketakutan. Jantung berdetak cepat, napas tersengal-sengal.
Itu adalah karb, yaitu penderitaan berat yang menekan jiwa dan raga. Mereka belum mati, tapi setiap detik terasa seperti nyawa mereka digenggam oleh bahaya.
Sementara itu, di gurun pasir yang luas, kafilah dagang Quraisy berjalan pelan di atas pasir panas. Matahari membakar kulit, bekal air menipis, dan bayangan oasis terasa begitu jauh. Kelelahan dan haus menekan tubuh dan pikiran. Orang-orang mulai gelisah, beberapa terduduk lemas, hampir tak mampu melanjutkan perjalanan.
Itu juga karb, yaitu kesulitan yang berat, tekanan yang membuat hati cemas dan putus asa. Mereka belum menghadapi kematian, tapi penderitaan itu sudah terasa seperti maut yang mengintai.
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Kata antum (أَنْتُمْ) artinya : kamu sekalian. Kata tusyrikun (تُشْرِكُونَ) artinya : mempersekutukan (Allah).
Bayangkan para penumpang perahu yang hampir tenggelam di tengah lautan. Ombak menghempas, angin menderu, dan air asin menyembur ke dek. Mereka terhuyung-huyung, wajah pucat ketakutan, napas tersengal. Di saat genting itu, hanya ada satu tempat bergantung yaitu Allah. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon agar selamat dari maut yang mengintai.
Namun begitu perahu berhasil menepi dan badai reda, ketakutan itu sirna. Mereka tersenyum lega, tubuh kembali hangat, dan rasa aman menyelimuti hati. Namun di sinilah Allah menegur perlakuan manusia: (ثُمَّ أَنْتُمْ تُشْرِكُونَ) : “Kemudian kalian menyekutukan (Allah).”
Dalam kenyataan itu, sebagian manusia lupa akan doa mereka sendiri, lupa akan ketakutan yang baru saja menghantui jiwa. Mereka kembali menyandarkan harap dan kepercayaan pada berhala, manusia, atau benda-benda duniawi. Apa yang semula mereka panjatkan sebagai doa tulus kini tergantikan oleh kelalaian dan kesombongan.
Kesadaran terhadap Allah seharusnya konstan, bukan hanya muncul saat bahaya menghampiri. Meski manusia selamat dari laut atau gurun yang mengancam nyawa, pengalaman itu seharusnya menjadi pengingat untuk selalu bersyukur dan tidak kembali menyekutukan-Nya.