Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kita akan memohon pada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kita, dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang (kufur dan sesat), setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di bumi, dalam keadaan kebingungan,” sedangkan dia mempunyai kawan-kawan yang selalu mengajaknya ke jalan yang lurus (dengan mengatakan), ‘Ikutilah kami.’?” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan semesta alam, Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.), “Apakah kami akan menyeru selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat kepada kami dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kami, dan (apakah) kami akan dikembalikan ke belakang (murtad dan sesat) sesudah Allah memberi petunjuk kepada kami, seperti orang yang diajak oleh setan-setan meluncur jatuh ke dalam bumi (jurang) dalam keadaan bingung, sedangkan dia mempunyai kawan-kawan (orang-orang beriman) yang memanggilnya kepada petunjuk dengan mengatakan, ‘Marilah datang kepada kami.’” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk, dan kami diperintah supaya berserah diri kepada Tuhan Pemelihara seluruh alam. Prof. HAMKA:Katakanlah, “Apakah akan kita seru selain daripada Allah, barang yang tidak bermanafaat buat kita dan tidak memberi mudarat buat kita dan dikembalikan kita atas tumit kita sesudah kita diberi petunjuk oleh Allah? Sebagai orang yang diharu oleh setan-setan di bumi, dalam keadaan bingung, padahal dia ada mempunyai kawan-kawan yang menyeru dia ke jalan yang benar (dengan berkata), ‘Marilah kepada kami’.” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk. Dan disuruh kami supaya menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.”
Selain itu ayat juga menegaskan bahwa kembali kepada kekafiran setelah mendapat petunjuk Allah disamakan dengan orang yang disesatkan setan hingga bingung dan hampir celaka, padahal ada kawan-kawan yang mengajaknya kembali ke jalan yang benar.
Ayat ini juga menekankan bahwa hidayah yang sejati hanyalah hidayah Allah. Karena itu, kewajiban orang beriman adalah berserah diri kepada Allah, Tuhan semesta alam.
قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan-pesan kepada orang-orang kafir, khususnya kaum musyrikin Mekkah dan para pemuka mereka. Maka dalam terjemahan Kemenag RI dan juga Prof. Quraish Shihab, perintah ini dilengkapi penjelasan di dalam kurung (Nabi Muhammad saw.), yang menunjukkan ini adalah perintah kepada Beliau SAW.
Kata a-nad’uu (أَنَدْعُو) terdiri dari huruf hamzah istifham (أ) yang merupakan bagian dari adatul-istifham untuk mempertanyakan sesuatu, yang artinya : apakah. Sedangkan kata nad’u (ندعو) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari yang artinya : menyeru, atau berdoa, atau memanggil atau bisa juga dimaknai jadi : menyembah.
Pelaku atau fa’il-nya adalah kata ganti atau dhamir nahnu yang terselip di dalam fi’il mudhari, yaitu : kami. Maksudnya tidak lain Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya. Kata ganti atau dhamirnahnu (نحن) sebenarnya bisa punya dua makna, yaitu ’kami’ dan ’kita’.
Perbedaannya kalau disebut ’kami’, maksudnya adalah ’saya dan kelompok saya’, tanpa melibatkan lawan bicara. Sedangkan kalau disebut ’kita’, yang dimaksud adalah : saya, kelompok saya, bersama juga dengan lawan bicara. Artinya kita adalah kami dan kamu.
Dalam Al-Qur’an kata nahnu (نحن) lebih sering digunakan untuk menyebut Nabi SAW bersama kaum beriman saja dan tidak termasuk orang musyrik yang diajak bicara. Namun menarik kita kaji, ternyata Kemenag RI dan Buya HAMKA menggunakan kata : kita, sementara Quraish Shihab menggunakan kata : kami.
Kata min dunillah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) artinya : dari selain Allah. Maksudnya tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, baik berupa berhala, manusia, jin, malaikat, atau apa pun. Namun dalam konteks ayat-ayat Makkiyah, istilah ini hampir selalu menunjuk pada berhala-berhala kaum musyrikin Quraisy.
Bangsa Arab di masa kenabian Muhammad SAW telah mencapai puncak titik syirik yang maksimal, karena sampai bisa memiliki berhala yang jumlahnya mencapai 360 buah. Ka‘bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim ribuan tahun sebelumnya, berubah jadi sebagai galeri berhala. Masing-masing berhala itu mereka yakini punya nama dan karakter sendiri-sendiri, selain juga punya kesaktian dan keampuhan yang mereka yakini. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu bisa memberi syafaat dan mendekatkan mereka kepada Allah SWT.
Setiap saat mereka datangi berhala-berhala itu selain untuk memanjatkan doa dan harapan mereka, juga untuk memuliakannya dengan memberikan sajian aneh-aneh. Yang paling sering dilumuri dengan darah hewan yang mereka sembelih.
مَا لَا يَنْفَعُنَا
Kata ma-layanfa’una (مَا لَا يَنْفَعُنَا) artinya : benda yang tidak memberi manfaat kepada kami. Kata yanfa’ (يَنْفَع) itu berakar kata dari (نَفَعَ) yaitu mendatangkan atau memberikan manfaat. Manfaat itu misalnya rejeki, perlindungan, kedudukan, keberkahan, kemuliaan, keturunan dan sebagainya.
Dalam sejarah bangsa Arab pra-Islam, ada beberapa berhala terkenal yang diyakini bisa memberikan madharat tertentu jika tidak dipuaskan. Beberapa contohnya:
§ Hubal : berhala utama di Ka’bah, dianggap bisa menurunkan nasib buruk atau sakit jika marah. Juga diyakini bisa memutuskan nasib kemenangan dalam peperangan atau keberuntungan.
§ Al-Lat : salah satu berhala wanita di Tha’if dan Mekah, diyakini berperan dalam urusan kesuburan, kesehatan, dan perlindungan keluarga. Mereka takut jika Al-Lat marah, bisa menimbulkan penyakit atau ketidaksuburan.
§ Al-‘Uzza : berhala wanita yang disembah di wilayah Nabathah, diyakini bisa menyebabkan kegagalan dalam usaha dagang atau bencana pribadi jika marah.
§ Manat : berhala yang disembah di Qudaid, dianggap mengatur nasib kematian atau umur panjang; orang takut jika Manat marah, bisa mati mendadak atau tertimpa malapetaka.
Sebenarnya jika diperdalam lebih jauh, para tetua mereka mengakui bahwa yang aslinya mampu memberi manfaat itu Allah SWT. Namun berhala dalam keyakinan mereka berperan sebagai perantara yang dianggap mampu menyampaikan doa-doa mereka kepada Allah SWT juga.
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.(QS. Az-Zumar : 3)
Mereka terlanjur ikut tradisi kepercayaan para leluhur bahwa berhala akan memberi perlindungan dalam perjalanan atau peperangan. Padahal berhala hanya diam tak bergerak. Ternyata peran itu sama sekali tidak pernah mereka rasakan. Dari pada lewat perantara, kenapa tidak langsung berdoa kepada Allah SWT saja?
Dalam Perang Badar, misalnya, doa mereka kepada berhala tidak membawa kemenangan, malah mereka kalah telak. Lalu apa fungsinya berhala-berhala itu?
Ternyata hanya sekedar jadi perantara saja, dan itu sama sekali tidak ada gunanya. Toh, yang memberikan mereka keamanan dalam perjalanan atau kemenangan dalam peperangan, hanya Allah SWT sendirian. Berhala tidak mampu melakukan apapun, bahkan dia hanya diam saja sambil mematung.
Mereka menyangka berhala bisa memberi kedudukan dan keberkahan, padahal faktanya tidak ada satu pun kehormatan yang lahir dari penyembahan berhala, selain justru menjadi aib besar dalam sejarah.
وَلَا يَضُرُّنَا
Kata walaayadhurruna (وَلَا يَضُرُّنَا) artinya : dan tidak mendatangkan mudarat kepada kami.
Mereka takut jika meninggalkan berhala, maka akan tertimpa kesialan, penyakit, atau bencana. Mereka khawatir berhala bisa mendatangkan azab jika tidak diberi sesajen. Dalam sejarah bangsa Arab pra-Islam, ada beberapa berhala terkenal yang diyakini bisa memberikan madharat tertentu jika tidak dipuaskan. Beberapa contohnya:
§ Hubal : sebagai berhala utama di Ka’bah diyakini bisa memberikan keberuntungan dalam peperangan dan urusan politik. Selain itu juga bisa menolong dalam mengambil keputusan penting, misalnya dengan panah ramalan (casting arrows).
§ Al-Lat : sebagi salah satu berhala wanita di Tha’if dan Mekah, diyakini memberi kesuburan bagi wanita dan hewan ternak. Selain itu juga bisa memberikan perlindungan keluarga dan kesehatan anggota keluarga.
§ Al-‘Uzza : sebagai berhala wanita yang disembah di wilayah Nabathah, mereka bilang bisa memberi kemakmuran ekonomi, seperti keberhasilan dalam perdagangan dan usaha. Juga bisa menolong dalam pertahanan diri atau melindungi dari musuh.
§ Manat : sebagai berhala yang disembah di Qudaid, mereka percaya bisa mengatur nasib panjang umur atau keselamatan jiwa. Bahkan bisa memberikan perlindungan dari kematian mendadak dan bencana tertentu.
Namun kenyataannya, setelah Islam datang dan berhala dihancurkan, tidak ada satu pun bencana khusus yang menimpa kaum Muslim. Adzab hanya ada di tangan Allah SWT.
Bahkan berhala itu sendiri tidak mampu menolak mudarat terhadap dirinya. Saat Fathu Makkah, Rasulullah SAW menghancurkan semua berhala di Ka‘bah, tidak ada satu pun yang bisa melawan atau mempertahankan diri.
وَنُرَدُّ عَلَىٰ أَعْقَابِنَا
Kata wa nuraddu (وَنُرَدُّ) artinya : dan kami dikembalikan. Kata (عَلَىٰ) artinya : kepada. Kata ‘alaaa’qabina (أَعْقَابِنَا) artinya : ke belakang. Yang dimaksud adalah dikembalikan ke agama yang lama, yaitu agama para penyembah berhala.
Kata a’qabina (أَعْقَابِنَا) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya ‘aqib (عَقِب) yaitu bagian paling belakang dari telapak kaki, tepat di bawah tulang kaki bagian belakang. Dalam bahasa Indonesia disebut tumit.
Lalu apa hubungan antara : ‘kembali ke agama lama’dengan dikembalikan kepada tumit’, sehingga dijadikan ungkapan khas?
Tumit adalah bagian belakang kaki. Jika seseorang mundur, posisi tumit yang bergerak ke belakang adalah indikator bahwa ia tidak melangkah maju, tetapi kembali ke belakang. Dalam konteks ayat ini, ungkapan : ‘dikembalikan pada tumit’ berarti kembali ke jalan lama yang salah atau kembali kepada kekafiran dan kepada ajaran lama. Mundurnya tumit secara literal menjadi metafora mundurnya hati dan perilaku dari petunjuk Allah.
)بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ(
Kata ba’da (بَعْدَ) artinya : sesudah. Kata idz (إِذْ) artinya : ketika. Kata hadaanaa (هَدَانَا) artinya : memberi petunjuk kepada kami. Kata allahu (اللَّهُ) artinya : Allah.
Nabi SAW dan para shahabat telah mendapat karunia yang amat besar, yaitu telah mendapatkan hidayah dari Allah SWT, berupa turunnya Al-Quran sebagai kitab suci dan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Hidayah itu merupakan karunia yang paling besar dan mahal, tentunya tidak akan ditukar dengan kesesatan dan kemurtadan.
Maka tidak ada rumusnya jika sudah dapat hidayah lantas malah kembali lagi. Nabi SAW menggambarkan betapa mahalnya hidayah itu, sampai para shahabat yang berhasil ikut mensukseskan masuk Islamnya salah satu dari mereka, diibaratkan seperti mendapatkan unta merah.
Sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang saja melalui perantaramu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam catatan sejarah kehidupan para shahabat generasi awal, meski ada juga yang murtad, namun kasusnya jarang sekali terjadi. Jumlah sahabat yang benar-benar murtad dan meninggal dalam keadaan tersebut sangatlah sedikit.
Salah satunya Abdullah bin Abi Sarh, yang pernah menjadi salah satu penulis wahyu Nabi SAW. Dia sempat murtad dan kembali ke Mekah dengan alasan meragukan kenabian Muhammad SAW. Namun kemudian masuk Islam kembali saat Penaklukan Mekah dan diampuni oleh Nabi SAW. Dengan demikian, ia meninggal dalam keadaan beriman dan tetap dianggap sebagai sahabat.
Tokoh lain adalah Ubaidullah bin Jahsy, yang merupakan sepupu Rasulullah SAW dari pihak ibu dan salah satu sahabat yang ikut hijrah ke Habasyah untuk menghindari siksaan kaum Quraisy. Namun, di Habasyah ia memeluk agama Nasrani dan meninggal dalam keadaan itu. Ini adalah kasus yang terkenal, di mana seorang yang pernah beriman dan berhijrah akhirnya murtad.
Ada beberapa riwayat lain yang menyebutkan individu-individu yang murtad, tetapi banyak dari mereka yang kembali masuk Islam atau kasusnya tidak memiliki riwayat yang kuat dan disepakati oleh seluruh ulama.
Kata kalladzi (كَالَّذِي) artinya : seperti orang yang. Kata istahwat-hu (اسْتَهْوَتْهُ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjad : telah disesatkan. Quraish Shihab menerjemahkannya : diajak. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : diharu.
Kata istahwat-hu (اسْتَهْوَتْهُ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, yang akarnya dari dari tiga huruf yaitu (هـ- و- ى). Dari akar kata ini, muncul berbagai makna lain jatuh atau terperosok dari tempat yang tinggi, keinginan, kecenderungan, atau hawa nafsu, cinta yang mendalam. Semua makna ini memiliki benang merah yang sama, yaitu tentang ketertarikan yang kuat atau ketergelinciran.
Kata asy-syayathiinu (الشَّيَاطِينُ) merupakan bentuk jamak dari kata syaithan, yang berarti para setan. Kata ini dalam struktur kalimat menjadi fa’il atau pelaku.
Kata fil ardhi (الْأَرْضِ) artinya : di bumi. Maksudnya para setan telah membuat korbannya jatuh terperosok ke bumi.
حَيْرَانَ
Kata hayraan (حَيْرَانَ) berasal dari tiga huruf yang menjadi akar katanya, yaitu (ح ي ر). Ketika menjadi kata kerja yaitu fi’il madhi dan mudhari adalah (حَارَ - يَحَارُ), sedangkan pelakunya atau isim fa’il-nya adalah (حأئر), lalu bentuk mashdar-nya adalah (حَيْرَةٌ). Sedangkan hayran (حَيْرَانَ) adalah isim sifat.
Makna dasar dari akar kata ini adalah bingung, bimbang, atau tersesat. Kata ini menggambarkan kondisi mental atau spiritual ketika seseorang kehilangan orientasi atau tidak tahu jalan yang benar.
Sebenarnya kata ini sudah diserap dalam Bahasa Indonesia menjadi : heran. Namun dari segi maknanya justru mengalami pergeseran jauh sekali. Kata heran tentu tidak sama maknanya dengan kebingungan.
Seseorang yang berada dalam keadaan bimbang, tidak bisa mengambil keputusan, atau merasa pikirannya kacau, itulah orang yang disebut dengan hayran. Keadaan seperti inilah yang kemudian digunakan untuk menggambakan seseorang yang kehilangan hidayah dari agama Islam.
Kata lahu (لَهُ) artinya : baginya. Kata ash-haabun (أَصْحَابٌ) artinya : sahabat-sahabat. Kata yad’uunahu (يَدْعُونَهُ) artinya : menyerunya. Kata ilaa (إِلَى) artinya : kepada. Kata al-hudaa (الْهُدَى) artinya : petunjuk. Kata i’tinaa (ائْتِنَا) artinya : datanglah kepada kami.
Fakhruddin Ar-Razi menuliskan dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] bahwa para ulama mengatakan ayat ini turun terkait Abdurrahman putera Abu Bakar Ash-Shiddiq dari istri yang bernama Ummu Ruman binti Al-Harits bin Ghanam Al-Kinaniyyah. Abdurrahman ini saudara sekandung Aisyah radhiyallahuanha.
Awalnya sebelum masuk Islam, Abdurrahman pernah mengajak ayahnya, yaitu Abu Bakar kepada kekafiran. Namun Abu Bakar mengajaknya kepada keimanan dan memerintahkannya untuk kembali dari jalan kebodohan kepada hidayah, dan dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan.
Dalam Perang Badar dan Uhud, Abdurrahman masih kafir dan ikut bersama kaumnya dalam keadaan kafir menjadi musuh Islam. Ada diriwayatkan bahwa dalam perang itu, Abdurrahman sempat mengajak duel kaum muslimin. Lalu Abu Bakar pun berdiri untuk menghadapinya, tetapi dicegah oleh Nabi SAW.
Para akhirnya Abdurrahman masuk Islam, bahkan berhijrah ke Madinah dan menjadi baik keislamannya. Dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, Abdurrahman tercatat sebagai bagian dari kaum muslimin.
قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata hudallahi (هُدَى اللَّهِ) artinya : petunjuk Allah. Kata huwa (هُوَ) artinya : itulah. Kata al-hudaa (الْهُدَىٰ) artinya : petunjuk.
Kalau diterjemahkan secara apa adanya, tentu terjemahannya menjadi agak janggal. Bagaimana kita memahami ungkapan : “petunjuk Allah itu adalah petunjuk”.
Namun kita bisa menangkap maksud dari ungkapan ini bahwa petunjuk yang datang dari itulah petunjuk yang sebenarnya. Seolah kita mengatakan :
إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ الحَقّ
Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang haq
Yang benar-benar petunjuk itu hanyalah petunjuk yang datang dari sisi Allah SWT, yaitu petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dalam bentuk risalah Islam, sebagai agama terakhir.
أخبارهم
Huruf waumirna (وَأُمِرْنَا) artinya : dan kami diperintah. Asalnya dari kata (أَمَرَ - يَأْمُرُ) yang artinya memerintah atau memberi perintah. Namun kata kerja ini dibentuk menjadi pasif, sehingga maknanya menjadi : kami diperintah. Sebenarnya yang memberi perintah itu adalah Allah SWT, namun karena dalam bentuk pasir, pelakunya tidak ditampilkan.
Kata li-nuslima (لِنُسْلِمَ) artinya : agar kami berserah diri. Asalnya dari kata (أَسْلَمَ - يُسْلِمُ) yang punya banyak makna, diantaranya :
1. Berserah diri atau tunduk (الانقياد والاستسلام) : menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
2. Masuk Islam (الدخول في الإسلام) : menerima ajaran Islam sebagai agama.
3. Menyelamatkan (النجاة والتسليم) : melepaskan diri dari bahaya atau menyelamatkan sesuatu.
4. Memberikan dengan selamat (الإعطاء بسلامة) : menyerahkan tanpa cacat atau kerusakan.
5. Menyerah (الاستسلام) : dalam arti tidak melawan.
Dalam konteks ayat ini kata li-nuslima (لِنُسْلِمَ) lebih tepat dipahami sebagai “agar kami berserah diri kepada Allah”, yakni tunduk, patuh, dan menerima segala perintah-Nya. Perintah untuk berserah diri ini juga kita temukan dalam ayat lain, misalnya :
Kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran : 83)
لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Kata lirabbil-‘aalamiin (لِرَبِّ الْعَالَمِينَ) artinya : kepada Tuhan semesta alam, yaitu Allah SWT.
Kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) adalah bentuk jama’ bentuk tunggalnya yaitu ‘alam (عالم). Namun yang dimaksud bukan nature atau ‘alam semesta’ dalam bahasa Indonesia, misalnya alam pedesan atau alam pegunungan.
Qatadah mengatakan al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) adalah segala sesuatu yang selain Allah. Al-Husein bin Fadhl mendefinisikan alam secara lebih filosofis, yaitu segala yang menempati waktu.
Al-Farra’ bin Ubaid menyebutkan bahwa kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) itu mengacu kepada alam manusia, alam jin, alam malaikat dan alam syaitan. Sedangkan hewan tidak termasuk dalam sebutan ‘alam.
Beberapa ulama tafsir ada juga yang memahami kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) dengan makna bangsa-bangsa atau umat-umat manusia.
Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mufradat fi Gharib Al-Qur’an[2] menyebutkan bisa berarti jama‘ah atau kelompok atau bangsa-bangsa yang Allah ciptakan dan dibedakan dengan selainnya.
Al-Zamakhsyari dalam kitab Al-Kasysyaf `an Ghawamidhi Haqaiqi At-Tanzil[3] menyebut kata ini terkadang digunakan khusus untuk manusia, dimana umat manusia itu terbagi dalam berbagai bangsa. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa kata al-‘alamin (الْعَالَمِينَ) mengacu pada seluruh makhluk yang berakal, yaitu manusia dan jin.