Kemenag RI 2019:Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.” Prof. Quraish Shihab:Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam, dia berkata, “Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.” Prof. HAMKA:Maka tatkala dia melihat bulan terbit, berkatalah dia, "Inikah Tuhanku?" Sesudah bulan itu hilang dia berkata, "Jika tidaklah aku ditunjuki oleh Tuhanku, niscaya jadilah aku dari kaum yang tersesat!"
Namun lagi-lagi bulan itu pun bisa hilang juga dari pandangan mata. Ketika gelap malam berganti siang yang terang benderang, lalu matahari dengan begitu kuatnya menyinari sehingga seluruh langit berubah jadi bersinar terang, maka cahaya bulan pun kalah dengan kekuatan sinar matahari langsung.
Maka lenyapnya bulan lagi-lagi dijadikan dasar logika dan fakta, betapa kepercayaan mereka itu sangat lemah dasarnya.
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ
Kata falamma (فَلَمَّا) artinya : maka tatkala. Kata ra’a (رَأَى) artinya : ia melihat. Kata al-qamara (الْقَمَرَ) artinya : bulan.
Kata al-qamar (الْقَمَرَ) adalah sebutan untuk benda langit berukuran besar berdiameter 3.474 km, atau sekitar 27% diameter Bumi. Bulan mengorbit bumi pada jarak rata-rata sekitar 384.400 km. Dengan ukuran volume dan jarak segitu, bulan nampak begitu besar dari bumi. Jauh lebih besar dari planet dan bintang.
Maka di masa lalu banyak sekali peradaban yang menjadikan bulan sebagai dewa yang disembah.
PERADABAN
SEBUTAN
PERAN
PERKIRAAN ZAMAN
Mesopotamia (Sumeria, Akkadia, Babilonia, Asyur)
Nanna (Sumeria) / Sin (Akkadia-Babilonia-Asyur)
Dewa bulan, penentu waktu dan kalender, diasosiasikan dengan kebijaksanaan.
Dewa bulan, dikaitkan dengan siklus pertanian dan kesuburan. Namanya masih ada dalam kata Yerikho (Jericho).
±2000–500 SM
Mesir Kuno
Khonsu (kadang juga Thoth)
Dewa bulan, kesehatan, dan pengukur waktu. Thoth dikaitkan dengan ilmu pengetahuan dan perhitungan kalender.
±2000 SM – 300 M
Yunani Kuno
Selene / Artemis
Selene adalah dewi bulan murni; Artemis dewi perburuan, juga diidentifikasi dengan bulan.
±800 SM – 300 M
Romawi Kuno
Luna / Diana
Luna adalah dewi bulan; Diana dewi perburuan yang disamakan dengan Artemis.
±500 SM – 400 M
Bangsa Maya (Mesoamerika)
Ix Chel
Dewi bulan, kesuburan, kelahiran, dan penyembuhan. Sangat penting dalam kalender Maya.
±2000 SM – 1500 M
Aztec (Meksiko Kuno)
Coyolxauhqui
Dewi bulan, tokoh mitologi yang terpotong tubuhnya oleh dewa perang Huitzilopochtli.
±1300 – 1521 M
Bangsa Inka (Andes, Amerika Selatan)
Mama Quilla
Dewi bulan, istri dewa Matahari (Inti). Pelindung perempuan dan pernikahan.
±1200 – 1533 M
India Kuno (Veda)
Chandra / Soma
Dewa bulan, diasosiasikan dengan kesuburan, obat-obatan, minuman soma, dan astrologi.
Sejak ±1500 SM
Bangsa Arab Pra-Islam
al-Qamar / Wadd (di Yaman)
Beberapa suku Arab menyembah Bulan; di Yaman Selatan dikenal dewa Bulan Wadd sebagai pelindung kesetiaan.
±500 SM – abad ke-6 M
بَازِغًا
Kata bazighan (بَازِغًا) arti sesungguhnya bukan terbit. Terbit itu dalam bahasa Arab disebut syaraqa (شَرَقَ) yang berarti terbit atau muncul di ufuk timur. Fokusnya pada arah munculnya benda langit, biasanya terkait dengan matahari atau bulan yang terbit dari timur.
Sedangkan kata bazagha (بَزَغَ) artinya mulai muncul, menampakkan diri, atau menembus kegelapan. Fokusnya pada proses awal kemunculan sesuatu dari kegelapan, seakan-akan benda itu membelah kegelapan dengan cahayanya. Digunakan misalnya untuk bulan atau bintang yang baru tampak di langit malam.
Ungkapan bazagha al-qamar (بزغ القمر) yaitu jika bila bulan mulai tampak naik. Kata al-bazgh berarti belahan, seakan-akan ia membelah kegelapan dengan cahayanya. Dari kata ini pula digunakan ungkapan bazagha al-baytar ad-dabbah (بَزَغَ الْبَيْطَارُ الدَّابَّةَ), yaitu untuk dokter hewan yang mengeluarkan darah dari hewan.
قَالَ هَٰذَا رَبِّي
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata. Kata hadza (هَٰذَا) artinya : ini. Kata rabbi (رَبِّي) artinya : Tuhanku.
Sebagaimana sudah dibahas pada ayat sebelumnya, bahwa Nabi Ibrahim mengatakan bahwa ‘bulan adalah Tuhannya’ disini bukan karena Beliau belum mengenal Allah. Namun pernyataan itu terjadi dalam konteks metode berpikir logis dan refleksi spiritual.
Para muaffasir menyatakan bahwa Nabi Ibrahim kala itu sedang mencoba menunjukkan kepada kaumnya yang menyembah benda-benda langit bahwa objek yang tampak menonjol di langit tidak bisa menjadi Tuhan karena mereka fana dan bisa hilang. Dengan mencontohkan benda-benda langit seperti bintang, bulan, dan matahari, Nabi Ibrahim meniru cara berpikir kaumnya agar mereka memahami ketidakmampuan benda-benda itu menjadi Tuhan.
Jadi, ketika Beliau berkata “Ini Tuhanku” tentang bulan, itu bukan karena ia ragu atau belum mengenal Allah, melainkan bagian dari strategi pengajaran dan pengamatan untuk menegaskan bahwa hanya Allah yang abadi dan tidak tergantung pada benda yang menghilang.
فَلَمَّا أَفَلَ
Kata falamma (فَلَمَّا) artinya : maka tatkala. Kata afala (أَفَلَ) sudah dijelaskan bahwa maknanya bukan tenggelam, melainkan bulan menghilang dari pandangan mata.
Bulan bisa menghilang dari pandangan mata bukan karena ia lenyap secara fisik, tetapi karena cahayanya tertutupi atau kalah oleh cahaya matahari di langit, sehingga mata manusia tidak dapat melihatnya. Ada beberapa mekanisme yang menyebabkan fenomena ini:
Pertama, pergerakan Bulan di orbitnya. Bulan bergerak mengelilingi Bumi dan terkadang posisinya berada di bawah horizon atau di sisi langit yang jauh dari pengamat, sehingga tampak hilang.
Kedua, perubahan fase Bulan. Bulan hanya tampak ketika sisi yang diterangi Matahari menghadap Bumi. Pada fase tertentu, misalnya saat Bulan baru, hampir seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi gelap, sehingga seolah-olah menghilang dari pandangan.
Ketiga, pengaruh cahaya Matahari atau langit cerah. Saat fajar atau senja, cahaya Matahari yang kuat membuat Bulan yang redup tidak terlihat oleh mata manusia, meski Bulan sebenarnya masih ada di langit. Fenomena ini disebut masking effect atau pembauran cahaya. Dan inilah yang terjadi pada saat itu, sehingga Nabi Ibrahim menyatakan tidak suka pada sesuatu yang hilang dari pandangan mata.
قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata. Kata la-in (لَئِنْ) artinya : sesungguhnya jika. Kata lam (لَمْ) artinya : tidak. Kata yahdini (يَهْدِنِي) artinya : memberi petunjuk kepadaku. Kata rabbi (رَبِّي) artinya : Tuhanku.
Maksudnya, jika Allah SWT tidak meneguhkan pendirianku di atas petunjuk. Padahal sebelumnya ia telah mengikuti petunjuk. Maka ungkapan ini terjadi dalam masa berpikir, atau ia meminta keteguhan karena masih ada kemungkinan secara akal, sebagaimana ucapan Nabi Syu‘aib:
وما كان لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan tidak mungkin kami kembali kepadanya kecuali jika Allah menghendaki.”
Dan dalam Al-Qur’an terdapat doa:
اهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Maksudnya, teguhkanlah kami di atas petunjuk. Hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
Kata la-akunanna (لَأَكُونَنَّ) artinya : pasti benar-benar aku akan menjadi. Kata minal-qaumi (مِنَ الْقَوْمِ) artinya : dari kaum. Kata adh-dhal-lin (الضَّالِّينَ) artinya : orang-orang yang sesat.
Penggalan akhir dari ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak bisa mengenal Tuhan secara utuh dan tepat, jika hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan logika belaka. Mungkin bisa sedikit merasakan bahwa secara logika seharusnya Tuhan itu ada. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin bisa merumuskan konsep Tuhan dengan benar.
Akal bisa dipakai untuk menolak bahwa benda-benda langit sebagai tuhan, tetapi tidak cukup untuk merumuskan siapa Tuhan secara tepat. Logika hanya sampai pada kesadaran bahwa harus ada Sang Pencipta, tetapi tidak bisa mendeskripsikan Dzat-Nya.
Oleh karena itu, pengetahuan tentang Tuhan itu harus datang dari Tuhan itu sendiri. Datangnya bukan dari logika, perasaan, apalagi teori-teori theologi para filosof. Konsep Tuhan dalam Islam berbeda 180 derajat dengan konsep ketuhanan yang lahir dari filsafat Yunani, India, atau kepercayaan tradisional. Islam menekankan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya lewat wahyu, bukan manusia yang mendefinisikan-Nya.
Para filosof sejak dahulu sudah berusaha mendefinisikan Tuhan dengan cara logika. Misalnya, filsafat Yunani melalui Plato dan Aristoteles menyebut adanya Penggerak Pertama (Prime Mover). Mereka menyimpulkan bahwa alam semesta ini pasti ada yang menggerakkan, dan penggerak itu sendiri tidak digerakkan oleh apa pun. Namun, konsep ini terlalu abstrak, tidak personal, dan tidak bisa menjadi objek ibadah.
Dalam tradisi India, muncul gagasan tentang Brahman, yaitu realitas tertinggi yang tidak berpribadi. Tetapi pada saat yang sama mereka juga mengenal dewa-dewa personal seperti Wisnu, Siwa, dan Brahma. Akibatnya, konsep ketuhanan di sana menjadi kabur, bercampur antara Tuhan yang abstrak dan dewa-dewa personal yang dekat dengan manusia.
Sementara itu, dalam perkembangan filsafat Barat modern muncul paham Deisme. Kaum Deis percaya Tuhan itu ada dan memang menciptakan alam, tetapi setelah menciptakan, Tuhan tidak lagi ikut campur dalam urusan dunia.
Gambaran ini mirip arsitek yang selesai membangun lalu meninggalkan bangunannya. Konsep semacam ini tidak mampu menjawab kebutuhan spiritual manusia yang selalu membutuhkan Tuhan dalam doa, ampunan, dan bimbingan hidup.
Berbeda dengan itu semua, Al-Qur’an melalui wahyu menggambarkan Tuhan dengan bahasa yang sederhana tetapi lengkap. Akal hanya bisa sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, tetapi lebih detail sosok sebenarnya Tuhan itu, hanya bisa diketahui lewat wahyu yang diturunkan oleh Tuhan sendiri. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim AS mengatakan, “Kalau Tuhanku tidak memberi petunjuk, aku pasti termasuk orang-orang yang sesat.”