Kemenag RI 2019:Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahi kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. Prof. Quraish Shihab:Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahkan kitab, hukum, dan kenabian. Jika orang-orang itu (penduduk Mekah) mengingkarinya, maka sungguh Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sama sekali tidak mengingkarinya. Prof. HAMKA:Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab dan hukum dan nubuwwah dan jika tidak juga mau percaya mereka itu maka sesungguhnya akan Kami sediakan suatu kaum yang lain yang tiada akan mengingkarinya.
Ayat ini juga menegaskan bahwa jikapun orang-orang Quraisy itu mengingkari dakwah Nabi Muhammad SAW, tidak usah risau karena kemuliaan ini akan Allah SWT serahkan kepada kaum lain yang tidak akan mengingkarinya.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ
Kata ulaika (أُولَٰئِكَ) artinya : mereka itulah, merupakan kata tunjuk untuk orang yang jauh, digunakan untuk memberi penegasan dan penghormatan. Artinya, bukan sekadar “mereka”, tapi “mereka yang agung, tinggi derajatnya”.
Kata allazina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang, menunjukkan sifat atau kelompok tertentu, yakni orang-orang yang memiliki sifat demikian.
Kata aataina-hum (آتَيْنَاهُمُ) artinya : telah Kami berikan kepada mereka. Merupakan kata kerja yang asalnya dari kata (آتَى – يُؤْتِي – إيتَاءً) yang berarti memberi dengan sempurna dan secara langsung. Bentuknya menunjukkan bahwa pemberiannya datang dari Allah sendiri, bukan hasil usaha manusia.
Yang jadi objek atau maf’ul bihi adalah dhamirhum (هُمْ) yang berarti mereka. Merujuk kepada para nabi yang disebut sebelumnya dalam tiga ayat sebelum ini, yaitu ayat 84, 85 dan 86.
Di ayat 84 disebutkan sepuluh nama, mulai dari Nabi Ibrahim, kemudian anaknya Nabi Ishaq, lalu anaknya lagi Nabi Ya‘qub. Lantas pindah ke Nabi Nuh, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, dan Nabi Harun.
Di ayat berikutnya yaitu ayat 85 disebutkan empat nabi yang lain yaitu Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa, dan Nabi Ilyas. Di ayat berikutnya lagi yaitu ayat 86 disebutkan empat lagi, yaitu Nabi Isma‘il, Nabi Ilyasa‘, Nabi Yunus, dan Nabi Luth.
الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ
Kata alkitaba (الْكِتَابَ) artinya : kitab. Kata walhukma (وَالْحُكْمَ) artinya : dan hukum. Kata wannubuwwata (وَالنُّبُوَّةَ) artinya : dan kenabian.
Allah SWT menganugerahkan kepada mereka tiga hal yang jadi pemberian amat besar, yaitu :
1. Al-Kitab (الْكِتَاب) : merupakan wahyu tertulis, yakni syariat yang diwahyukan kepada sebagian mereka. Tidak semua nabi membawa kitab, tapi semuanya mengikuti kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya.
2. Al-Hukm (الْحُكْم) : merupakan sifat kebijaksanaan yang jadi anugerah dalam diri, serta kemampuan memutuskan suatu perkata dengan adil, benar dan bijak. Selain itu juga berupa pemahaman mendalam terhadap hukum Allah. Dalam tafsir Al-Qurṭubī, kata al-ḥukma juga berarti hikmah, kecerdasan dalam menerapkan wahyu dalam kehidupan.
3. An-Nubuwah (النُّبُوَّة) : merupakan kedudukan sebagai nabi, yaitu orang yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri dan terkadang diperintahkan menyampaikannya kepada umat.
Allah menegaskan pada penggalan ini bahwa kedudukan mereka bukan hasil perjuangan duniawi, melainkan karunia dan merupakan hasil dari pilihan langsung dari Allah. Berarti ini hak prerogratif Allah SWT yang tidak bisa diganggu-gugat dan tidak bisa dipertanyakan. Sepenuhnya terserah Allah.
فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا هَٰؤُلَاءِ
Kata fa in yakfur biha (فَإِنْ يَكْفُرْ بِهَا) artinya : maka jika mereka mengingkarinya. Kata ha-ula-i (هَؤُلَاءِ) atau : ‘orang-orang ini’ adalah kaum musyrikin Mekah pada masa Nabi Muhammad SAW.
Walaupun Allah SWT mengawali dengan ungkapan : fa-in-yakfuru, yaitu : sendainya mereka ingkari. Namun faktanya mereka memang benar-benar meningkari dakwah Nabi SAW. Alih-alih mereka bersyukur bisa punya kesempatan bertemu langsung dengan nabi utusan Allah yang terakhir dalam sejarah, ternyata para pemuka Quraisy itu malah menolak wahyu, mendustakan kenabian, dan menentang petunjuk Allah sebagaimana diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya.
Padahal untuk bisa dapat anugerah didatangi seorang nabi utusan Allah SWT merupakan hal yang didambakan oleh banyak umat sepanjang sejarah. Tapi memang dasar orang tidak dapat hidayah, mereka malah mengingkarinya.
Walaupun kekafiran mereka terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW pada akhirnya akan berhenti dengan masuk Islamnya penduduk Mekkah di masa Fathu Mekkah. Meski awalnya kafir, tapi ujung akhirnya mereka dapat hidayah juga. Walaupun ada juga beberapa tokoh dari musyrikin Mekkah itu yang terlanjur Allah SWT sesatkan, yaitu mati dalam keadaan kafir tidak beriman.
Kata faqad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh telah. Kata wakkalna biha(وَكَّلْنَا بِهَا) artinya : Kami serahkan dengannya. Kata ini asalnya dari (وَكَّلَ – يُوَكِّلُ - تَوْكِيْلاً) yang artinya menugaskan, mempercayakan, atau menyerahkan suatu urusan. Kata biha (بِهَا) artinya : dengannya.
Kata qauman (قَوْمًا) artinya : suatu kaum, atau lebih tepatnya kepada suatu kaum. Kata laisuu biha bikafirina (لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ) artinya : tidak lah mereka para pengingkar.
Maksudnya jika para para petinggi bangsa Arab yaitu kaum Quraisy menolak risalah dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, maka Allah akan mengganti mereka dengan umat lain yang mau menerima wahyu dan mengamalkannya.
Penggalan ini seolah-olah menegaskan bahwa jika para pemuka bangsa Arab, yaitu para sayyid di kalangan petinggi Quraisy tidak mau menerima, tidak jadi masalah. Toh, masih banyak kalangan lain yang siap menerimanya. Dalam hal ini memang yang menerima dakwah Nabi SAW justru dari kalangan orang-orang rendahan, bukan para petinggi, juga bukan bangsawan Arab.
Bahkan di masa awal dakwah kenabian, Allah SWT muliakan bangsa-bangsa lain di luar Arab untuk bisa memeluk agama Islam. Ada budak dari Afrika seperti Bilal bin Rabah Al-Habsyi. Juga ada Shuhaib Ar-Rumi, budak yang diperjual-belikan di negeri Romawi. Selain itu juga ada Salman Al-Farisy yang datang dari negeri Persia.
Di Mekkah saat awal dakwah kenabian pun ada keluarga Yasir dan istrinya Sumayyah, serta anak mereka yaitu Ammar. Keluarga ini pendatang dari kalangan gembel yang datang dari negeri Yaman.
Ada juga Khabbab bin Al-Aratt yang berasal dari suku Tamim, tapi berstatus budak milik seorang wanita Quraisy bernama Ummu Anmar. Latar belakangnya dahulu seorang tukang pandai besi yang sering disiksa karena keislamannya. Namun Beliau termasuk sepuluh orang pertama yang masuk Islam, dan kelak menjadi guru Al-Qur’an bagi para sahabat awal.
Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb di utara Jazirah Arab, tetapi pernah dijadikan budak dan dibeli oleh Khadijah, lalu dihadiahkan kepada Nabi SAW. Beliau SAW kemudian memerdekakannya dan menjadikannya anak angkat. Di kemudian hari, Zaid diangkat jadi salah satu panglima perang besar Islam pertama yang gugur di Mu’tah melawan Romawi.
Miqdad bin Al-Aswad berasal dari suku Kindah, wilayah selatan Jazirah Arab dekat Yaman. Beliau bukan Quraisy, termasuk pendatang yang diangkat menjadi sekutu atau halif oleh keluarga Al-Aswad bin Abdi Yaghuts. Di kemudian hari Beliau termasuk salah satu penunggang kuda pertama dalam Islam, dan dikenal sangat berani dalam Perang Badar.
Abu Fukaihah berasal dari Habasyah dengan status sebagai seorang budak Muslim yang disiksa oleh tuannya, hingga dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Abdullah bin Mas‘ud berasal dari suku Hudhail yang juga di luar suku Quraisy. Beliau hanyalah seorang penggembala kambing yang miskin dan tidak terpandang. Namun, Allah muliakan dia dengan menjadi sahabat yang paling ahli membaca Al-Qur’an setelah Nabi SAW.
Abu Dzarr Al-Ghifari berasal dari suku Ghifar, daerah padang pasir jauh dari Mekah. Hidupnya keras dan sederhana, namun dikenal jujur dan zuhud. Beliau datang dari luar Mekah untuk mencari kebenaran, dan menjadi salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam.
Masih banyak lagi nama-nama orang yang memeluk Islam di awal mula benih-benih dakwah disemai. Mereka bukan petinggi Quraisy, mereka hanya kaum rendahan, pendatang yang tidak punya kedudukan di Mekkah. Namun Allah SWT bukakan hati mereka untuk bisa menerima cahaya keimanan.
Al-Qurthubi menambahkan bahwa ayat ini menjadi peringatan bahwa agama Allah tidak butuh pada kaum tertentu. Bila satu kaum berpaling, Allah akan datangkan kaum lain yang lebih taat.