Kata wa lillahi (وَلِلَّهِ) artinya : dan milik Allah. Kata mulku (مُلْكُ) artinya : kerajaan. Kata as-samawati (السَّمَاوَاتِ) artinya : langit. Kata wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) artinya : bumi.
Lafazh mulku (مُلْكُ) maknanya : “kerajaan”. Yang menarik untuk dikaji ungkapan bahwa Allah SWT adalah pemilik kerajaan, pertanyaannya : apakah pemilik kerajaan itu sama juga maknanya dengan raja itu sendiri? Kalau maknanya memang sama, kenapa tidak menggunakan ungkapan bahwa Allah SWT itu raja yang menguasai langit dan bumi? Kenapa harus ada kata : “pemilik” pada kerajaan?
Maka ungkapan ‘pemilik kerajaan’ bisa saja menimbulkan asumsi bahwa ada kerajaan entah itu di langit atau pun itu di bumi, siapa pun yang jadi rajanya. Namun lepas dari itu semua, tetap saja semua kerajaan itu milik Allah SWT. Disini kita jadi bisa membedakan antara pemilik dengan raja, dimana posisi pemilik itu jauh lebih tinggi dari pada sekedar raja.
Sebagaimana dalam perusahaan di masa modern sekarang ini, ada owner yaitu para pemilik modal atau saham yang tentunya paling berkuasa, dan ada CEO, yaitu kalangan profesional yang diberi upah serta bayaran untuk mengelola jalannya sebuah perusahaan. Secara aturan kita semua tahu bahwa kapan pun yang namanya CEO bisa saja diberhentikan, dipecat bahkan diganti dengan orang lain. Sedangkan pihak owner biar bagaimana pun adalah pemilik perusahaan yang bersifat absolut dan mutlak. Terserah pemilik modal kalau mau mencopot para employe bahkan sekelas CEO sekalipun.
Jadi bisa kita katakan bahwa di atas rakyat ada raja, tapi di atas raja ada pemilik aslinya, yaitu Allah SWT.
Lafazh as-samawati (السَمَوَات) maknanya : “langit”, namun dalam bentuk jama’, kalau dalam bentuk tunggal disebut sama’ (السَّمَاء) saja. Kalau ayat ini dan di banyak ayat lainnya menggunakan bentuk jama’, maka timbul pertanyaan menggelitik : apakah maknanya menjadi : “langit yang banyak jumlahnya”, ataukah maksudnya : “langit yang luas ukurannya”.
Dan juga menjadi pertanyaan, kerajaan apa yang adanya di langit yang banyak atau langit yang luas?
Jawabannya pasti bukan kerajaan manusia, melainkan kerajaan yang secara umum kita akan memahaminya sebagai kerajaan makhluk ghaib, entah itu kerajaan para malaikat, atau boleh jadi kerajaan para jin dan entah apa nama makhluk yang menghuni langit.
Sebagian kalangan penggemar cerita fiksi luar angkasa ada yang mencoba mengaitkan ayat ini dengan isyarat tentang adanya kehidupan makhluk cerdas (extra terresterial) di luar angkasa. Dikesankan seolah-olah Al-Quran mengakui adanya alien dengan segala kemajuan teknologinya.
Padahal secara ilmiyah, sampai hari ini masih terlalu dini untuk memperkirakan adanya kehidupan makhluk cerdas di luar bumi, bahkan untuk sekedar makhluk hidup yang paling sederhana pun masih menjadi asumsi dan spekulasi. Belum ada bukti pasti tentang keberadaan makhluk cerdas di luar angkasa. Meskipun ada beberapa laporan tentang penampakan UFO atau benda terbang aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan, namun sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dalam kesimpulannya, asumsi tentang kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar angkasa didasarkan pada bukti dan teori ilmiah yang ada, namun sampai saat ini belum ada bukti pasti yang dapat diandalkan.
Adapun al-ardhu (الأَرْضُ) artinya bisa tanah atau bisa juga bumi, tergantung konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi tanah, seperti pada ayat berikut :
قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah. (QS. Al-Baqarah :71)
Menerjemahkan ayat di atas pastinya tidak pas kalau sapi digunakan untuk membajak bumi, yang lebih tepat membajak tanah atau sawah.
Namun kadang lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi bumi dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sembari juga bergerak mengelilingi matahari.
Namun penerjemahan sebagai planet bumi adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini saja. Ada pun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi : tanah, atau negeri.
Lepas dari perbedaan penerjemahannya, yang jelas penyebutannya berbentuk tunggal, sehingga pengertiannya pasti tidak banyak, hanya satu saja. Dan tidak keliru kalau dimaknai sebagai isyarat luasnya lebih kecil dari luasnya langit.