Kemenag RI 2019:Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, “Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).” Prof. Quraish Shihab:Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari aurat mereka berdua dan ia (setan) berkata: “Tuhan Pemelihara kamu berdua tidak melarang kamu berdua dari mendekati pohon ini, melainkan (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua tidak menjadi kelompok mereka yang kekal (di surga).” Prof. HAMKA:Maka setan pun membisikkan kepada mereka keduanya yang akan menampakkan kepada keduanya dari kemaluan mereka berdua dan berkata, “Tidakkah melarang Tuhan kamu berdua dari pohon ini, melainkan lantaran kamu berdua akan jadi malaikat atau lantaran kamu berdua akan jadi dari orang-orang yang kekal.”
Sebelumnya setan berdusta dengan mengarang cerita konon buah pohon ini dilarang karena akan bikin yang makan berubah jadi malaikat atau hidup abadi.
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ
Huruf fa (فَ) artinya : maka. Kata waswasa (وَسْوَسَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang artinya : membisikkan pikiran jahat. Kata lahuma (لَهُمَا) artinya kepada mereka berdua, yaitu Nabi Adam dan istrinya Hawa. Kata as-syaithan (الشَّيْطَانُ) artinya : setan.
Memang beginilah struktur kalimat dalam bahasa Arab, subjek atau pelakunya malah diletakkan di bagian belakang, sementara yang dikedepankan justru kata kerja. Format ini mengacu kepada pola jumlah fi’liyah, sebagai lawan dari format jumlah ismiyah, dimana ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia terpaksa dibongkar ulang dan jadi berantakan.
”Maka membisikkan pikiran jahat kepada mereka berdua setan”. Betapa anehnya susunan kalimat seperti ini dalam Bahasa Indonesia. Maka tiga sumber terjemah kita sepakat menyusun redaksi hasil reka ulang menjadi : ”Maka setan pun membisikkan kepada mereka keduanya”.
Para ulama tafsir dan ahli bahasa Arab memberi penekanan yang cukup konsisten ketika menjelaskan makna waswasa (وَسْوَسَ), meskipun redaksi mereka berbeda-beda.
Ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat Alfazh al-Qur’an menjelaskan makna waswasa sebagai hadits an-nafs yang datang dari setan, berupa bisikan yang tersembunyi, halus, dan berulang, bukan ucapan yang terdengar oleh telinga. Karena itu ia lebih dekat kepada gerakan batin daripada komunikasi verbal. Waswasah bekerja di wilayah pikiran dan dorongan jiwa, bukan pada tindakan fisik.
Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] menegaskan bahwa maknanya adalah ilqa’ al-khathar (القاء الخطر) alias melemparkan lintasan pikiran ke dalam hati. Jadi sifatnya tidak memaksa tapi tidak menguasai. Tidak menciptakan perbuatan hanya menanamkan dorongan awal yang kemudian direspons oleh manusia sendiri.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[2]menekankan sisi kelemahan setan dalam konsep waswasah. Menurut beliau, setan tidak memiliki kekuatan kecuali membisiki dan memperindah. Jika manusia mengingat Allah, waswasah itu melemah dan lenyap. Dari sini tampak bahwa waswasa bukan bentuk dominasi, tetapi sekadar godaan yang rapuh.
Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[3] menambahkan dimensi bahasa dengan menjelaskan bahwa pengulangan huruf dalam kata waswasa menunjukkan frekuensi dan kesinambungan, yakni bisikan yang tidak berhenti sekali, tetapi diulang-ulang hingga menancap. Ini sejalan dengan tabiat setan yang sabar dan konsisten dalam menggoda, meskipun caranya lembut dan tidak frontal.
Sementara itu, Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf `an Ghawamidhi Haqaiqi At-Tanzil[4] melihat waswasah sebagai strategi psikologis. Menurutnya, setan tidak datang membawa keburukan dalam bentuknya yang asli, tetapi membungkusnya dengan dalih, penalaran, dan pembenaran, sehingga tampak masuk akal dan bahkan terasa baik di awal.
Setan Atau Iblis?
Jika kita teliti dan cermat dalam membaca rangkaian ayat-ayat ini, pasti kita akan menemukan ada yang janggal di ayat ini : Kenapa tiba-tiba saja tokohnya berubah? Bukankah di awal pelakunya adalah iblis, yang membangkang tidak mau sujud, lalu diusir keluar, lalu minta panjang umur dan seterusnya. Ternyata di ayat ini pelakunya orang lain, bukan iblis tapi syetan. Kok bisa beda ya?
Abu Hayyan al-Andalusi dalam Al-Bahr al-Muhith fi At-Tafsir[5] menegaskan bahwa peralihan dari penyebutan Iblis ke asy-syaithan adalah peralihan i‘tibar, yakni perubahan sudut pandang penamaan. Sebenarnya kedua istilah itu mengacu kepada pelaku yang sama, namun diberi nama berbeda karena disesuaikan dengan konteks perannya. Ketika sedang berhadapan dengan Allah, status personalnya ditonjolkan, yaitu nama aslinya Iblis. Namun tetapi ketika ia berhadapan dengan manusia, yang ditonjolkan adalah sifat perbuatannya, yaitu setan. Istilah setan lebih tepat digunakan saat ia mulai menjalankan aksi godaan.
An-Nasafi dalam Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Tawil[6] menjelaskan bahwa penyebutan setan pada kisah Adam bertujuan untuk menjauhkan perhatian dari sosok, dan mengarahkan fokus kepada bahaya perbuatannya. Seolah-olah Al-Qur’an tidak ingin pembaca sibuk pada “siapa pelakunya”, tetapi pada apa yang terjadi pada manusia akibat perbuatannya. Ini sekaligus memberi pelajaran bahwa musuh manusia tidak selalu tampil dengan identitas yang jelas.
Sementara Al-Baidhawi dalam tafsir Anwar At-Tanzil wa Asraru At-Ta’wil[7] lebih menyoroti aspek edukatifnya, sengaja tidak disebut Iblis agar manusia tidak merasa bahwa yang menggoda mereka adalah makhluk besar yang jelas terlihat. Justru bahaya terbesar ada pada bisikan yang tidak dikenali sumbernya. Dengan penyebutan setan, manusia diajak waspada terhadap lintasan batin, bukan terhadap figur tertentu.
Sementara itu, Asy-Syaukani dalam Fath al-Qadir[8] menekankan bahwa peralihan istilah ini juga mengandung isyarat hukum dan tanggung jawab. Karena setan hanya mewaswasi, bukan memaksa, maka Adam tetap diposisikan sebagai subjek yang memilih, bukan korban paksaan. Penyebutan setan menegaskan keterbatasan pengaruhnya.
Bagaimana Caranya?
Pertanyaan berikutnya : bagaimana mungkin setan membisiki Adam, padahal Adam berada di surga sementara Iblis telah dikeluarkan darinya?
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[9] menuliskan bahwa menurut Al-Hasan al-Bashri Iblis membisiki dari bumi menuju langit dan ke surga dengan kekuatan khusus yang Allah SWT berikan kepadanya.
Namun ada juga pendapat yang berbeda, misalnya Abu Muslim al-Ashfahani berpendapat bahwa Adam dan Iblis sebenarnya sama-sama berada di surga, karena surga tersebut termasuk salah satu surga di bumi.
Adapun cerita yang beredar di sebagian kalangan bahwa Iblis masuk ke dalam tubuh ular lalu ular itu masuk ke surga, maka kisah seperti ini adalah cerita lemah yang sudah dikenal kelemahannya. Bahkan ditetapkan ini bagian dari kisah israiliyat.
Ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa Adam dan Hawa mungkin mendekati pintu surga, sementara Iblis berdiri di luar surga tepat di pintunya, sehingga ketika salah satu dari mereka saling mendekat, terjadilah bisikan di tempat itu.
Kata li-yubdiya (لِيُبْدِيَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, berasal dari kata (أَبْدَى - يُبْدِي) yang berarti menampakkan, membuka, memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.
Yang jadi sumber masalah adalah huruf lam (لِ) yang menempel pada fi’il ini. Kebanyakan orang umumnya langsung mengira bahwa huruf lam ini adalah lam at-ta‘lil, yang menunjukkan tujuan atau maksud. Jadi maknanya agar ia menampakkan atau dengan tujuan menyingkap.
Padahal kalau dimaknai seperti itu justru terasa janggal. Bukankah tujuan setan membisikkan waswasah bukan demi agar Adam dan Hawa telanjang bulat tanpa pakaian? Tujuannya agar makan buah yang terlarang, bukan?
Lantas kenapa di ayat ini malah terjadi pembelokan : ”membisikkan agar aurat mereka nampak?” Jelas ini tidak logis dan keliru dalam memahami kalimat.
Maka yang lebih tepat bahwa huruf lam ini bukan lam ta’lil, melainkan lam al-’aqibah (لام العاقبة) yang maknanya bukan agar supaya, melainkan maknanya : ”yang akhirnya”, atau ”yang berujung pada”, atau ”sehingga akhirnya”.
Kata lahuma (لَهُمَا) artinya kepada mereka berdua, yaitu Nabi Adam dan istrinya. Huruf ma (مَا) di sini bermakna apa yang. Kata wuriya (وُورِيَ) adalah bentuk pasif, berasal dari kata (وَارَى - يُوَاري) yang berarti menutupi, menyembunyikan, menutupi dari pandangan. Kata ‘anhuma (عَنْهُمَا) artinya dari mereka berdua.
Huruf min (مِنْ) artinya dari. Kata saw-atihima (سَوْآتِهِمَا) adalah bentuk jamak dari saw’ah, yang berarti aurat.
Pastinya setan tidak bermaksud dengan bisikannya agar aurat keduanya tampak, dan ia pun tidak mengetahui bahwa jika keduanya memakan buah dari pohon itu maka aurat mereka akan tersingkap. Tujuan setan semata-mata hanyalah mendorong keduanya untuk melakukan kemaksiatan, tidak lebih dari itu.
Namun begitu Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[10] menuliskan memang ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa huruf lam sebagai lam at-ta’lil atau lam al-gharadh yang menunjukkan maksud. Sehingga tujuannya memang agar aurat mereka berdua terbuka. Hanya saja dipahami sebagai ungkapan kiasan dari runtuhnya kehormatan dan hilangnya kedudukan. Maknanya, maksud setan dengan melemparkan bisikan itu kepada Adam adalah menghilangkan kehormatannya dan menjatuhkan martabatnya.
Namun bisa jadi setan telah mengetahui, misalnya dengan melihat di Lauh Mahfuzh atau mendengar dari sebagian malaikat, bahwa bila Adam memakan buah dari pohon tersebut, auratnya akan tersingkap. Hal itu menjadi tanda puncak kerusakan dan runtuhnya kehormatan. Karena itulah setan membisikkan godaan kepadanya demi tercapainya tujuan tersebut.
Kata wa qaala (وقال) artinya dan ia berkata. Dia in maksudnya iblis atau setan. Huruf maa (ما) di sini bukan bermakna apa secara mutlak, tetapi berfungsi sebagai adat al-hasr dalam konteks ini, memberi kesan pembatasan: “tidaklah… kecuali”.
Kata nahaa-kumaa (نهاكما) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, yang artinya : melarang, mencegah. Kata rabbu-kumaa (ربكما) berarti Tuhan kalian berdua.
Ungkapan an haadzihis syajarah (عن هذه الشجرة) artinya : dari pohon ini. Kata tunjuk haadzihi memberi kesan kedekatan dan kekonkretan, seolah-olah pohon itu sedang berada tepat di hadapan mata mereka, membuat godaan terasa nyata dan dekat.
Jika dirangkai secara harfiah, susunannya adalah: ”Dan ia berkata: tidaklah Tuhan kalian berdua melarang kalian dari pohon ini…”
إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ
Huruf illaa (إِلَّا) adalah adat al-istitsna’, alat pengecualian, yang dalam konteks kalimat sebelumnya bermakna “kecuali karena” atau “melainkan karena”. Fungsinya di sini adalah membalik asumsi: seolah-olah larangan itu bukan tanpa sebab, melainkan karena satu alasan tertentu. Kata an takuunaa (أن تَكُونَا) artinya : kamu berdua menjadi. Kata malakaini (مَلَكَيْنِ) artinya dua malaikat.
Jika dirangkai secara literal, maknanya adalah: ”kecuali agar kalian berdua menjadi dua malaikat.” Namun dalam Bahasa Indonesia yang lebih mengalir, rangkaian maknanya adalah: ”melainkan karena (Allah tidak menghendaki) kalian berdua menjadi malaikat.”
أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ
Huruf aw (أَوْ) berarti atau, fungsinya bukan sekadar pilihan netral, tetapi penambahan opsi godaan. Setelah menawarkan satu iming-iming, setan menambahkan alternatif lain yang tidak kalah menggiurkan.
Kata takuunaa (تَكُونَا) artinya : kamu berdua menjadi. Huruf min (مِنَ) artinya dari, berfungsi sebagai min at-tab‘idh yang menunjukkan masuk ke dalam satu golongan. Kata al-khaalidiin (الْخَالِدِينَ) berasal dari kata khalada yang berarti tetap, menetap, tidak lenyap. Dalam bentuk jamak ini, ia menunjuk kepada golongan makhluk yang tidak mati atau hidup tanpa akhir.
Jika dirangkai secara literal, maknanya adalah: ”atau kalian berdua menjadi bagian dari orang-orang yang kekal.” Namun secara makna utuh dalam rangkaian godaan, kalimat ini berarti: ”atau (Allah melarang itu) karena kalian berdua akan menjadi termasuk golongan yang kekal.”
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa sejak awal Adam berambisi untuk hidup kekal, sebagai kecenderungan fitri yang wajar pada makhluk hidup. Bukankah salah satu ciri makhluk hidup adalah mempertahakan diri dari kematian?
Maka Adam mengetahui bahwa para malaikat tidak mati hingga hari kiamat. Sementara dirinya tidak diberi opsi itu. Maka Adam terobsesi ingin agar usianya tidak hanya sebentar. Wajar ketika setan menawarkan narasi menjadi malaikat atau menjadi makhluk yang kekal, ia sebenarnya menyentuh sisi keinginan yang sudah ada, bukan menciptakan keinginan baru dari nol. Godaan itu tidak datang dalam bentuk ajakan maksiat terang-terangan, tetapi dalam bentuk janji keberlangsungan hidup dan kelanggengan eksistensi, sesuatu yang secara naluri memang disukai.
Dengan cara ini, kesalahan Adam menurut ulama yang berpandangan demikian bukan karena dorongan syahwat rendah, melainkan karena harapan akan kekekalan yang dibungkus setan dalam bahasa religius dan eksistensial.
Inilah yang membuat peristiwa tersebut menjadi ujian yang halus: bukan ujian antara halal dan haram yang kasar, tetapi antara percaya penuh pada hikmah Allah atau mengikuti kemungkinan yang tampak lebih “menguntungkan” menurut nalar makhluk.
Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa kisah Adam bukan kisah kerakusan, melainkan kisah tentang batas manusia: manusia diberi akal dan keinginan, tetapi tetap diuji pada titik apakah ia mau menerima ketetapan Allah apa adanya, atau tergoda untuk melampaui batas demi harapan yang tampak lebih tinggi.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)
[3] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)