Kemenag RI 2019:Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu atas seorang laki-laki dari golonganmu supaya dia memberi peringatan kepadamu? Ingatlah, ketika Dia (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan melebihkan kamu dalam penciptaan (berupa) tubuh yang tinggi, besar, dan kuat. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” Prof. Quraish Shihab:Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepada kamu tuntunan dari Tuhan Pemelihara kamu atas seorang laki-laki dari (kalangan) kamu, supaya dia memberi peringatan kepada kamu? Dan ingatlah, ketika Dia menjadikan kamu para khalifah (yang berkuasa) setelah kaum Nuh dan melebihkan untuk kamu dalam pencipraan (berupa) ketegaran (jasmani dan pikiran). Maka, ingatlah nikmat- nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
Prof. HAMKA:Apakah tercengang kamu bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhan kamu dengan perantaraan seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk menyampaikan ancaman kepada kamu? Dan, ingatlah olehmu, tatkala Dia telah menjadikan kamu khalifah-khalifah sesudah kaum Nuh dan Dia lebihkan kamu pada kejadian. Maka, ingatlah olehmu akan nikmat-nikmat Allah itu supaya kamu berbahagia.
Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu atas seorang laki-laki dari golonganmu supaya dia memberi peringatan kepadamu? Ingatlah, ketika Dia (Allah) menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Nuh, dan melebihkan kamu dalam penciptaan (berupa) tubuh yang tinggi, besar, dan kuat. Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Kata a-wa‘ajib-tum (أَوَعَجِبْتُمْ) artinya: apakah kalian heran. Huruf hamzah di awal berfungsi sebagai kata tanya, sedangkan huruf waw setelahnya berfungsi sebagai penghubung dengan pembicaraan sebelumnya. Kata ‘ajib-tum (عَجِبْتُمْ) sendiri berasal dari (عجب) yang bermakna merasa heran atau tercengang. Pertanyaan ini bersifat teguran, bukan pertanyaan untuk meminta jawaban. Yang diajak bicara adalah kaum ‘Ad.
Kata an (أَنْ) artinya: bahwa. Kata ja’a-kum (جَاءَكُمْ) artinya: telah datang kepada kalian. Kata ja’a (جَاءَ) berarti datang, sedangkan kum menunjuk kepada kalian, yaitu kaum ‘Ad. Yang dimaksud adalah kedatangan sesuatu yang berasal dari Allah.
Kata dzikr (ذِكْرٌ) artinya: peringatan atau pengingat. Secara bahasa, dzikr bermakna sesuatu yang mengingatkan, menyadarkan, dan menegur. Dalam konteks ini, dzikr menunjuk pada wahyu atau pesan ilahi yang disampaikan melalui Nabi Hud.
Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata rabbikum (رَبِّكُمْ) artinya: Tuhan kalian. Yang dimaksud adalah Allah sebagai Tuhan yang mencipta, memelihara, dan mengatur kalian, yakni kaum ‘Ad.
عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ
Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya: atas. Kata rajulin (رَجُلٍ) artinya: seorang laki-laki. Kata ini menunjuk kepada seorang manusia biasa, bukan malaikat. Yang dimaksud adalah Nabi Hud. Penyebutan “seorang laki-laki” mengandung penegasan bahwa utusan itu berasal dari jenis yang sama dengan mereka.
Kata minkum (مِنْكُمْ) artinya: dari kalian. Maksudnya, laki-laki itu berasal dari kalangan kalian sendiri, satu kaum, satu bangsa, dan satu lingkungan dengan orang-orang yang diajak bicara, yaitu kaum ‘Ad.
Kata li (لِـ) artinya: agar atau untuk. Kata yundzirakum (يُنْذِرَكُمْ) artinya: dia memberi peringatan kepada kalian. Kata yundziru bermakna memperingatkan, memberi ancaman, atau mengingatkan akan akibat yang buruk jika tetap membangkang. Kata kum kembali menunjuk kepada kalian, yaitu kaum ‘Ad.
Maka jika dirangkai kembali tanpa tafsir, makna bahasanya menjadi: ”atas seorang laki-laki dari kalian agar dia memberi peringatan kepada kalian”.
وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ
Kata wadzkuru (وَاذْكُرُوا) artinya: dan ingatlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada kaum ‘Ad melalui Nabi Hud yang memerintahkan agar mereka mengingat suatu peristiwa penting dalam sejarah mereka sendiri. Yang dimaksud adalah ketika Allah menjadikan mereka sebagai para pengganti setelah kaum Nabi Nuh.
Huruf idz (إِذْ) artinya: ketika. Ini adalah huruf penghubung waktu yang mengajak kembali ke satu peristiwa di masa lalu.
Kata ja’ala-kum (جَعَلَكُمْ) artinya: Dia menjadikan kalian. Maksudnya Allah yang menetapkan suatu keadaan atau posisi bagi kalian, yaitu kaum Aad.
Kata khulafa’ (خُلَفَاءَ) artinya: para pengganti. Kata ini adalalah bentuk jamak dari khalifah, bermakna orang-orang yang datang sesudah, menggantikan posisi kaum sebelumnya.
Maka jika dirangkai kembali tanpa tafsir, makna bahasanya menjadi: ”dan ingatlah ketika Alah menjadikan kalian para pengganti”.
مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ
Kata min ba’di (مِنْ بَعْدِ) artinya : dari setelah. Kata qaumi nuh (قَوْمِ نُوحٍ) artinya : kaumnya Nabi Nuh.
Al-Qur’an memang tidak berbicara tahun, tetapi arkeologi dan ilmu sejarah bekerja dengan lapisan tanah, artefak, dan kronologi peradaban. Dari sana, para ilmuwan menyusun perkiraan waktu, bukan kepastian wahyu, tetapi rekonstruksi berbasis bukti material.
Dalam kajian arkeologi modern, kisah banjir besar pada masa Nabi Nuh sering dikaitkan dengan peristiwa banjir besar regional, terutama di wilayah Mesopotamia kuno. Penggalian di kawasan Irak selatan menemukan lapisan lumpur tebal yang memisahkan dua fase peradaban.
Lapisan ini, berdasarkan uji karbon dan stratigrafi, diperkirakan terjadi sekitar akhir milenium ke-4 hingga awal milenium ke-3 sebelum Masehi, kira-kira antara 3000–3500 SM. Para arkeolog tidak menyebutnya “banjir Nabi Nuh”, tetapi secara ilmiah mereka mengakui adanya peristiwa banjir besar yang menghentikan satu fase peradaban dan memulai fase baru.
Setelah fase ini, arkeologi mencatat munculnya kembali peradaban-peradaban besar di Timur Tengah, termasuk bangsa-bangsa kuno di Jazirah Arab selatan. Dalam tradisi sejarah Arab dan kajian geografi kuno, kaum ‘Ad ditempatkan di wilayah al-Ahqaf, daerah pasir antara Yaman dan Oman. Jejak arkeologis menunjukkan bahwa wilayah ini mulai dihuni oleh masyarakat besar dengan struktur sosial dan kemampuan bangunan sekitar 2000–2500 SM.
Jika dua temuan ini diletakkan berdampingan, maka secara ilmiah dapat diperkirakan bahwa jarak waktu antara banjir besar (fase Nuh) dan kemunculan kaum ‘Ad (fase Hud) berada pada kisaran beberapa abad hingga lebih dari seribu tahun. Perkiraan yang sering muncul dalam literatur sejarah adalah sekitar 800 sampai 1500 tahun, meskipun angka ini tetap bersifat estimasi ilmiah, bukan kepastian absolut.
وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَصْطَةً
Kata wa zaada-kum (وَزَادَكُمْ) artinya : dan Dia menambahkan untuk kamu. Dia yang dimaksud adalah Allah SWT. Kata fil-khaqi (فِي الْخَلْقِ) artinya : dalam penciptaan. Kata ganti kum pada zadakum menunjukkan bahwa yang sedang dibicarakan adalah kalian, yaitu kaum yang diajak bicara dalam ayat tersebut, dimana konteksnya sedang merekam ucapan Nabi Hud kepada kaumnya.
Dalam rasm Utsmani, kata basthah (بَصْطَةً) ditulis dengan huruf shad (ص) dan bukan sin (س). Adapun huruf sin yang tampak dalam mushaf cetakan sekarang bukan berasal dari rasm Ustmani, melainkan merupakan bagian dari tanda baca dan sistem pembacaan yang dikenal dengan sebutan dhabt. Sebagaimana halnya tanda baca lain seperti fathah, kasrah, dhammah, sukun, tasydid dan lain. Sengaja ditambahkan untuk menunjukkan adanya perbedaan qiraat dalam pelafalan kata tersebut.
Adapun dari segi ilmu qiraat, maka kata ini boleh dibaca dua-duanya baik dengan huruf sin atau dengan huruf shad. Jika dibaca dengan huruf sin, yaitu basthah (بَسْطَةً) maka itu ikut riwayat para imam qiraat seperti Imam Nafi‘ al-Madani, baik melalui riwayat Qalun maupun Warsh; Ibnu Katsir al-Makki; Abu ‘Amr al-Bashri; serta Ibnu ‘Amir asy-Syami. Bacaan dengan sin ini adalah bacaan mayoritas imam qiraat.
Adapun pembacaan dengan huruf shad, yaitu bashthah (بَصْطَةً), diriwayatkan dari imam ‘Ashim al-Kufi, baik melalui riwayat Hafsh maupun Syu‘bah, serta dari Hamzah az-Zayyat dan al-Kisa’i. Pembacaan inilah yang sejalan dengan bentuk rasm Utsmani yang menuliskannya dengan huruf shad.
Pertanyaannya kemudian, apakah perbedaan bacaan ini berpengaruh kepada perbedaan makna?
Jawabannya untuk kasus ini tidak ada bedanya. Ini hanya merupakan variasi pelafalan yang masih berada dalam satu medan makna yang sama, yaitu keluasan atau perluasan dalam penciptaan, sebagaimana dipahami oleh penutur Arab klasik.
Lantas makna basthah (بَصْطَةً) itu sendiri adalah luas atau lebar. Maka kata yabsutu yadahu (يبسط يداه) artinya membentangkan kedua tangannya, yakni membuka dan meluaskannya. Teks Al-Quran menyebutkan (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ) yang artinya : kedua tangan-Nya membentang, yaitu memberi nafkah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Namun jika kata bashthah ini diterjemahkan secara apa adanya menjadi : keluasan, justru jadi agak janggal, lantaran tidak punya padanan kata yang presisi dalam bahasa Indoesia yang bisa langsung dipahami, maka tiga sumber penerjemah kita nampaknya merasa perlu menjelaskan maksudnya yang dibenamkan saja dalam terjemahan.
§ Kemenag RI 2019 = tubuh yang tinggi, besar, dan kuat.
§ Quraish Shihab = ketegaran jasmani dan pikiran.
§ HAMKA = kejadian.
Semua itu tentu saja bukan terjemah melainkan tafsir. Disini kita sadar bahwa terjemah itu punya banyak keterbatasan disana-sini, yang jika dipaksakan akan merusak makna, oleh karena biar selamat, harus dijelaskan secara panjang lebar lewat tafsir. Dalam hal ini terjemah pun terpaksa loncat pagar jadi tafsir.
فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ
Kata fa-dzkuru (فَاذْكُرُوا) artinya: maka ingatlah. Huruf fa di awal kata berfungsi sebagai penghubung yang menunjukkan konsekuensi atau kelanjutan dari penjelasan sebelumnya. Artinya, setelah kalian mengetahui dan menyadari nikmat serta kedudukan yang Allah berikan, maka sebagai akibatnya kalian diperintahkan untuk mengingat. Perintah ini datang dari Allah SWT, disampaikan melalui Nabi Hud, dan ditujukan kepada kaum ‘Ad.
Kata ala’a (آلَاءَ) artinya: nikmat-nikmat. Kata ini berbentuk jamak dan menunjuk pada berbagai bentuk karunia, kebaikan, dan pemberian Allah, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Secara bahasa, ala’a menunjukkan nikmat besar yang berulang dan beragam.
Kata Allah (اللَّهِ) artinya: Allah. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa, sumber seluruh nikmat yang disebutkan sebelumnya.
Maka jika dirangkai kembali tanpa tafsir, makna bahasanya menjadi: ”maka ingatlah nikmat-nikmat Allah”.
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Kata la‘alla (لَعَلَّ) artinya: agar, semoga, atau mudah-mudahan. Dalam bahasa Arab, kata ini digunakan untuk menunjukkan harapan atau tujuan yang diinginkan dari suatu perintah atau keadaan sebelumnya. Kata kum (كُمْ) artinya: kalian. Yaitu kaum ‘Ad sebagai pihak yang sedang diajak bicara.
Kata tuflihun (تُفْلِحُونَ) artinya: kalian beruntung atau kalian memperoleh keberuntungan. Kata ini berasal dari aflaha yang bermakna berhasil, selamat, dan mencapai kebaikan yang diinginkan.