Kemenag RI 2019:Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Padahal, jika seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami), maka Kami timpakan (siksa) atas mereka disebabkan apa yang selalu mereka usahakan. Prof. HAMKA:Dan, jika penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, sesungguhnya akan Kami bukakan kepada mereka beberapa berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka telah mendustakan maka Kami siksa mereka dengan sebab apa yang telah mereka usahakan.
Ayat ke-97 dari surat Al-A’raf ini menjelaskan sebuah prinsip besar dalam kehidupan manusia, yaitu hubungan antara iman dan takwa dengan turunnya keberkahan. Allah memberikan gambaran yang sangat jelas: seandainya suatu masyarakat benar-benar beriman dan bertakwa, maka dampaknya bukan hanya pada kehidupan spiritual mereka, tetapi juga pada kondisi kehidupan secara menyeluruh, termasuk rezeki, keamanan, dan kesejahteraan.
Ungkapan “membukakan keberkahan dari langit dan bumi” menunjukkan bahwa keberkahan itu datang dari segala arah. Dari langit berupa hujan, cahaya, dan ketentuan Ilahi, sedangkan dari bumi berupa hasil pertanian, kekayaan alam, dan berbagai sumber kehidupan. Gambaran kondisi ideal di mana seluruh sistem alam berjalan selaras mendukung kehidupan manusia.
Namun ayat ini juga menampilkan sisi lain yang sangat penting, yaitu bahwa keberkahan itu tidak turun begitu saja tanpa syarat. Ketika manusia memilih untuk mendustakan kebenaran, menolak para rasul, dan mengabaikan petunjuk Allah, maka yang terjadi bukanlah keberkahan, tetapi justru datangnya akibat yang sebaliknya. Kehidupan menjadi sempit, penuh masalah, dan pada akhirnya berujung pada azab.
Penutup ayat ini menegaskan bahwa semua itu bukanlah bentuk kezaliman, tetapi konsekuensi dari perbuatan manusia sendiri. Apa yang mereka terima adalah hasil dari apa yang mereka usahakan. Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia sangat erat kaitannya dengan sikap mereka terhadap iman dan takwa.
وَلَوْ أَنَّ
Ayat ini diawali dengan tiga huruf yang masing-masing punya makna dan peran serta fungsi sendiri-sendiri.
Huruf pertama adalah wa (وَ) yang merupakan harfu ’athf alias huruf penghubung yang berarti dan, fungsinya mengaitkan satu pernyataan dengan pernyataan sebelumnya, sehingga ayat ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan kelanjutan dari konteks sebelumnya.
Kemenag RI 2019 tidak menerjemahkan huruf wawu (و) secara eksplisit, tapi langsung masuk ke struktur “sekiranya”. Nampaknya team penerjemah Kemenag menganggap fungsi wawu sudah terwakili dalam kesinambungan makna. Rupanya mereka ingin konsisten dalam aturan baku bahasa Indonesia, dimana kalimat tidak boleh diawali dengan kata : dan.
Sebaliknya Buya HAMKA tetap menuliskan terjemahnya dengan : “Dan” di awal, karena ingin menunjukkan bahwa ayat ini memang sambungan langsung. Sedangkan Prof. Quraish Shihab mengambil jalan tengah, tapi cenderung tafsiri, bukan sekadar bahasa. Maka “dan” tidak dipakai, tapi diganti dengan “padahal” untuk menangkap rasa makna, bukan sekadar bentuk.
Huruf kedua adalah law (لَوْ) yang merupakan harfu-syarth alias huruf syarat. Fungsinya dalam ilmu balaghah untuk pengandaian yaitu menggambarkan sesuatu yang seharusnya bisa terjadi, tetapi pada kenyataannya tidak terjadi.
Huruf ketiga adalah anna (أَنَّ) yang fungsinya sebagai huruf penegas yang masuk kepada jumlah ismiyyah. Kehadirannya memberikan penekanan terhadap isi kalimat setelahnya, sehingga maknanya menjadi lebih kuat dan tegas.
أَهْلَ الْقُرَىٰ
Kata ahl (أَهْلَ) berarti penduduk atau penghuni. Kata ini tidak sekadar menunjuk pada orang-orang yang tinggal di suatu tempat, tetapi juga memberi kesan keterikatan, kedekatan, dan kebersamaan dalam satu komunitas.
Kata al-qura (الْقُرَىٰ) adalah bentuk jamak dari qaryah (قَرْيَة), yang berarti negeri, kota, atau perkampungan. Dalam Al-Qur’an, istilah qaryah sering digunakan untuk menyebut suatu komunitas yang memiliki sistem sosial, budaya, dan kepemimpinan tertentu, bukan sekadar tempat secara geografis.
Kalau kita perhatikan alur surat Al-Qur'an dalam bagian ini, ayat 97 sebenarnya datang setelah rangkaian panjang kisah peradaban-peradaban manusia yang telah dibinasakan. Karena itu, meskipun lafaz yang digunakan bersifat umum, yaitu al-qura (الْقُرَىٰ) yang berarti negeri-negeri, konteksnya sangat jelas merujuk kepada umat-umat yang baru saja disebutkan sebelumnya.
Kisah itu dimulai dari kaum Nabi Nuh pada ayat 59 sampai 64. Di sana digambarkan bagaimana beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, namun kaumnya tetap mendustakan hingga akhirnya ditenggelamkan.
Setelah itu disebutkan kaum ‘Ad, umat Nabi Hud pada ayat 65 sampai 72. Mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat dan maju, tetapi kesombongan membuat mereka menolak kebenaran, hingga datang azab yang menghancurkan mereka.
Kemudian datang kisah kaum Tsamud pada ayat 73 sampai 79, umat Nabi Shalih yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun dan memahat gunung. Namun ketika mukjizat unta didustakan, mereka pun ditimpa kebinasaan.
Setelah itu disebutkan kaum Nabi Luth pada ayat 80 sampai 84, yang rusak secara moral dan akhirnya dihancurkan dengan azab yang keras.
Lalu disusul oleh penduduk Madyan, umat Nabi Syu’aib pada ayat 85 sampai 93, yang dikenal dengan kecurangan dalam muamalah hingga akhirnya dibinasakan.
Setelah semua kisah itu, barulah Allah memberikan semacam kesimpulan umum pada ayat-ayat berikutnya. Pada ayat 94 dan 95 dijelaskan bahwa setiap negeri pasti diuji, tetapi mereka tetap mendustakan.
Lalu pada ayat 96 dan 97 ditegaskan bahwa seandainya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan bagi mereka. Namun karena mereka mendustakan, azab datang secara tiba-tiba tanpa mereka sadari.
Dengan demikian, kata “negeri-negeri” dalam ayat 97 bukanlah menunjuk satu tempat tertentu, melainkan merangkum seluruh peradaban yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, dan Madyan, bahkan juga semua masyarakat lain yang mengikuti pola yang sama.
آمَنُوا وَاتَّقَوْا
Kata amanu (آمَنُوا) berasal dari akar kata (أ م ن) yang maknanya : beriman, yaitu membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal. Dalam Al-Qur’an, iman bukan hanya pengakuan, tetapi sebuah sikap hidup yang menyeluruh.
Huruf wa (وَ) kembali berfungsi sebagai penghubung, mengaitkan antara iman dengan kata setelahnya yaitu ittaqaw (اتَّقَوْا) yang maknanya : bertaqwa. Kata ini berasal dari akar kata (و ق ي) yang berarti menjaga atau melindungi. Dalam konteks syariat, takwa berarti menjaga diri dari murka Allah dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Hubungan antara iman dan takwa itu seperti kehidupan sebuah pohon. Iman ibarat akar yang tertanam kuat di dalam tanah. Ia tidak terlihat oleh mata, tetapi dari situlah seluruh kehidupan pohon bersumber. Sementara takwa adalah buah yang tumbuh di atasnya, yang bisa dilihat, dirasakan, bahkan dinikmati oleh orang lain. Akar yang kuat pasti akan melahirkan buah, dan jika sebuah pohon tidak pernah berbuah, orang akan bertanya-tanya apakah akarnya benar-benar hidup.
Namun begitu ternyata hubungan antara iman dan takwa dalam Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari hubungan antara iman dan amal shalih. Ketiganya berada dalam satu rangkaian yang utuh, hanya saja Al-Qur’an menampilkannya dengan penekanan yang berbeda.
Iman adalah titik awal, berupa keyakinan dalam hati. Namun iman tidak dibiarkan berdiri sendiri, sehingga sering digandengkan dengan amal shalih. Ini menunjukkan bahwa iman yang benar pasti melahirkan tindakan nyata. Amal shalih menjadi bukti hidupnya iman, bukan sekadar pengakuan.
Di sisi lain, Al-Qur’an juga menggandengkan iman dengan takwa. Di sini yang ditekankan bukan sekadar perbuatan, tetapi kualitas hidup yang terus terjaga. Takwa adalah sikap menjaga diri dalam ketaatan secara berkelanjutan, bukan hanya melakukan kebaikan sesaat.
Dari sini terlihat bahwa iman melahirkan amal shalih, dan amal yang terus dijaga serta dilakukan dengan kesadaran akan membentuk takwa. Maka ketika Al-Qur’an menyebut iman dan takwa, itu menggambarkan iman yang telah matang dan menjadi sistem hidup.
Dengan demikian, iman dan amal shalih menekankan bukti perbuatan, sedangkan iman dan takwa menekankan kualitas kehidupan. Keduanya saling melengkapi dalam menggambarkan keimanan yang utuh.
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ
Huruf lam (لَ) pada lafaz la-fatahna (لَفَتَحْنَا) berfungsi sebagai penegas atas jawaban dari syarat sebelumnya. Dalam kaidah bahasa Arab, ini disebut sebagai lamul-jawab (لام الجواب), yang menunjukkan kepastian terjadinya sesuatu jika syaratnya terpenuhi.
Kata fatahna (فَتَحْنَا) berasal dari akar kata (ف ت ح) yang makna dasarnya adalah membuka. Dalam Al-Qur’an, kata ini sering digunakan dalam arti membuka pintu rahmat, membuka jalan kemudahan, atau memberikan kemenangan. Yang membuka adalah dhamir : ’Kami’ yaitu Allah SWT sendiri.
Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمْ) berarti atas mereka. Penggunaan huruf ‘ala memberi nuansa bahwa keberkahan itu turun dari atas, meliputi dan menaungi mereka. Seakan-akan keberkahan itu datang secara luas dan menyeluruh, bukan sekadar diberikan sedikit demi sedikit.
Kata barakat (بَرَكَاتٍ) adalah bentuk jamak dari barakah (بَرَكَة), yang berasal dari akar kata (ب ر ك). Makna dasarnya mengandung arti tetap, berkembang, dan bertambah. Dalam penggunaan syar’i, barakah berarti kebaikan yang banyak, terus bertambah, dan memberi manfaat yang luas.
Bentuk jamak barakat menunjukkan bahwa keberkahan itu tidak hanya satu jenis, tetapi beraneka ragam. Bisa berupa rezeki, kesehatan, ketenangan, keamanan, ilmu, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, baik yang bersifat materi maupun non-materi.
Dengan demikian, ungkapan ini menegaskan bahwa jika iman dan takwa benar-benar terwujud dalam suatu masyarakat, maka Allah pasti akan membuka berbagai pintu keberkahan bagi mereka, dalam bentuk yang luas, melimpah, dan berkesinambungan.
مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Huruf min (مِنَ) adalah huruf jar yang berarti dari. Dalam konteks ini, min menunjukkan asal atau sumber, yaitu dari mana keberkahan itu datang. Kata as-sama’ (السَّمَاءِ) berarti langit, dimana biasanya dalam Al-Qur’an, kata ini tidak hanya menunjuk kepada langit secara fisik, tetapi juga segala sesuatu yang datang dari atas, seperti hujan, cahaya matahari, udara, bahkan ketentuan-ketentuan Allah yang diturunkan. Langit sering menjadi simbol sumber rezeki dan rahmat yang tidak terjangkau oleh manusia.
Kata al-ardh (الْأَرْضِ) berarti bumi. Ini mencakup segala yang ada di permukaan bumi, seperti tanah, tumbuhan, hasil pertanian, tambang, dan berbagai sumber kehidupan yang bisa diolah oleh manusia. Bumi adalah tempat manusia berusaha dan mengambil manfaat.
Penyebutan langit dan bumi secara bersamaan menunjukkan keluasan dan kesempurnaan keberkahan. Artinya, keberkahan itu datang dari segala arah: dari atas berupa hujan dan rahmat, dan dari bawah berupa hasil bumi dan sumber kehidupan. Sebuah gambaran kehidupan yang ideal, di mana seluruh sistem alam mendukung kesejahteraan manusia.
Dalam terjemahan Kemenag RI 2019 digunakan ungkapan “dari langit dan bumi”, yang bersifat langsung dan literal. Quraish Shihab juga menggunakan ungkapan yang sama, namun dalam konteks kalimatnya ditambah dengan nuansa “melimpahkan berkah-berkah”, sehingga terasa lebih dinamis. HAMKA menggunakan ungkapan “dari langit dan bumi” dengan tambahan kata “beberapa berkah”, yang memberi kesan keberkahan itu beragam bentuknya.
Perbedaan kecil ini menunjukkan sudut pandang dalam menerjemahkan kata barakat sebelumnya. Kemenag cenderung netral dan langsung, Quraish Shihab menekankan kelimpahan (melimpahkan), sedangkan HAMKA memberi kesan variasi (beberapa berkah).
وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا
Kata wa lakin (لَٰكِنْ) adalah huruf istidrak, yaitu kata yang berfungsi untuk membalik atau mengoreksi makna sebelumnya. Artinya kurang lebih adalah : ’tetapi’. Penggunaan kata ini menunjukkan adanya kontras yang tajam antara apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang benar-benar terjadi.
Kata kazzabu (كَذَّبُوا) berasal dari akar kata (ك ذ ب) yang berarti dusta, menunjukkan tindakan mendustakan secara aktif, yaitu tidak hanya sekadar tidak percaya, tetapi juga menolak, mengingkari, bahkan bisa sampai memusuhi kebenaran.
Dalam Al-Qur’an, kata ini sering digunakan untuk sikap kaum terhadap para nabi, yaitu mereka tidak hanya ragu, tetapi secara sadar menolak dan menganggap para rasul sebagai pendusta. Ini menunjukkan adanya unsur kesengajaan dan keangkuhan dalam penolakan tersebut.
Menariknya, kata yang digunakan bukan “lam yu’minu” atau tidak beriman, tetapi mendustakan. Maknanya terasa lebih keras bahwa mereka bukan sekadar belum sampai kepada iman, tetapi sudah sampai pada tahap penolakan terhadap kebenaran yang jelas.
Penggalan ini menjadi titik balik dari ayat. Setelah dibuka peluang besar berupa iman, takwa, dan keberkahan, ternyata kenyataannya adalah penolakan. Inilah sebab utama mengapa keberkahan itu tidak terwujud dalam kehidupan mereka.
فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Huruf fa (فَ) adalah huruf penghubung yang menunjukkan urutan dan akibat. Artinya maka atau lalu. Penggunaan fa di sini menegaskan bahwa apa yang disebutkan setelahnya adalah konsekuensi langsung dari sikap mereka yang mendustakan. Tidak ada jeda, tidak ada penundaan, langsung berujung pada akibat.
Kata akhadznahum (أَخَذْنَاهُمْ) berasal dari akar kata (أ خ ذ) yang berarti mengambil. Namun dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ini digunakan dalam makna mengambil dengan keras, yakni menangkap, menimpakan hukuman, atau menyiksa. Ini bukan sekadar mengambil biasa, tetapi mengambil dalam konteks azab.
Bentuk ini juga menggunakan dhamir na yaitu kami), yang menunjukkan bahwa tindakan itu berasal dari Allah secara langsung. Kata hum (هُمْ) berarti mereka, yaitu kembali kepada penduduk negeri-negeri yang disebut sebelumnya.
Huruf bima (بِمَا) terdiri dari huruf ba (بِ) yang berarti dengan atau disebabkan oleh, dan ma (مَا) yang berarti apa yang. Gabungan ini menunjukkan sebab atau alasan, yaitu karena apa yang mereka lakukan.
Kata kanu (كَانُوا) adalah bentuk kata kerja yang menunjukkan استمرار di masa lalu, yakni sesuatu yang terus-menerus dilakukan atau bisa dikatakan : selama ini, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.
Kata yaksibun (يَكْسِبُونَ) berasal dari akar kata (ك س ب) yang berarti memperoleh atau mengusahakan. Kata ini sering digunakan untuk usaha manusia dalam mendapatkan sesuatu, baik yang baik maupun yang buruk. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah perbuatan buruk yang mereka “usahakan” sendiri.
Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata yaksibun yaitu mereka mengusahakan dan bukan sekadar ya’lamun : merekea mengetahui, atau yaf’alun : mereka melakukan. Ini memberi kesan bahwa dosa dan penolakan mereka itu dilakukan dengan kesadaran, seperti mengumpulkan hasil dari usaha mereka sendiri.