Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe | rumahfiqih.com

Boikot Amerika Berarti Juga Boikot Tahu dan Tempe

Wed 4 March 2015 10:00 | Kontemporer | 10.561 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum.w.w

Pak Ustad yang kami hormati, kita semua tahu bahwa fatwa ketua forum ulama sedunia, yaitu Dr Qardhawi dan pendapat dari para alim-ulama lainnya bahwa kita wajib membantu perjuangan bangsa Palestine.

Salah satu caranya adalah dengan memboikot produk-produk Amerika, karena dari sanalah Israel tetap kokoh berdiri

Yang saya tanyakan adalah ternyata Tahu dan Tempe yang selama ini menjadi "makanan pokok" orang Indonesia yang terbuat dari kedelai, sebagian besar bahan baku kedelai di-Impor dari Amerika Serikat, apakah kita juga perlu memboikotnya? Bagaimana sikap kita mengenai hal ini?

Wassalamu'alaikum.w.w

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Urusan tempe dan tahu akhirnya jadi sebuah ironi tersendiri. Selama ini kita tidak tahu, ternyata tempe dan tahu yang kita kirabenar-benar produk umat Islam, setidaknya produk dalam negeri, justru kedelainya ditanam di Amerika.

Ternyata kita baru tahu bahwa bahan baku tempe, tahu bahkan nasi yang kita makan, nyaris semua harus kita beli dari 'musuh-musuh' kita sendiri.

Kalau bangsa ini dilarang makan American Food, mungkin masih masuk akal. Sebab selain kebanyakan orang tidak doyan makan ayam yang cuma digoreng, harganya pun oleh rakyat desa kebanyakan, masih menjadi problem tersendiri.

Tapi kami tidak bisa membayangkan kala bangsa ini dilarang maka tahu dan tempe. Sebab keduanya adalah makanan kebangsaan. Selain tentunya, karena harganya yang amat terjangkau.

Menjadi Pribadi Yang Anti Amerika

Umat Islam boleh marah besar kepada Amerika. Dan ulamanya boleh saja berfatwa untuk memboikot produk negara itu. Dalam beberapa hal, kebijakan itu memang efektif.

Tapi yang ingin kami katakan adalah yang namanya boikot itu adalah bagian dari sebuah strategi perang modern. Ketika kita boikot, bukan berarti hukumnya mutlak. Namanya saja perang psikologis, jadi kebijakannya tidak kaku.

Intinya sederhana, jangan sampai yang memboikot justru yang tertekan. Di mana-mana, yang memboikot itu adanya di atas angin, sedangkan pihak yang diboikot adalah pihak yang ditekan. Tapi kalau kita 'haramkan' bangsa ini dari tempe, rasanya perlu bicara panjang lebar sebelumnya.

Sekarang coba Anda bayangkan seandainya anda lahir di Amerika. Anggaplah keluarga anda mendapat hidayat dan kebetulan beragama Islam, tetapi Anda tetap tidak bisa melepaskan diri dari segala yang berbau Amerika.

Mulai dari rumah sakit tempat anda lahir itu milik Amerika, dokternya dokter Amerika, semua susu dan makanan yang anda makan, diproduksi oleh Amerika.

Yang menarik untuk kita jadikan pertanyaan, apakah dengan adanya seruan boikot itu maka seorang muslim tidak boleh menjadi warga negara Amerika? Apakah negara Amerika itu seluruhnya kafir sehingga haram bagi seorang muslim menjadi penduduknya? Dan apakah bila ada warga asli Amerika tiba-tiba masuk Islam, mereka diwajibkan hijrah ke Arab Saudi atau negara Islam lainnya?

Tentu semua akan semakin membingungkan, bukan?

Bukankah ketika anda sedang membaca tulisan ini, banyak komponen di dalam komputer anda yangjuga diproduksi oleh mereka? Bukankah perusahaan yang memproduksi HP setia anda juga buatan mereka? Bukankah saham perusahaan operatornya juga dimiliki oleh mereka?

Kebijakan Rezim

Biar bagaimaa pun Amerika adalah sebuah negara, yang dipimpin oleh sebuah rezim. Secara nalar, warna kebijakan negara adidaya itu sangat ditentukan oleh rezim yang berkuasa. Ketika ada kebijakan untuk membantu Israel dan membunuh muslimin Palestina, tentu ini menjadi tanggung jawab rezimnya, dan siapa saja dari rakyatnya yang ikut menyetujui kebijakan rezim itu.

Tapi kita juga tahu bahwa tidak semua rakyat Amerika setuju dengan kebijakan yang tidak bijak. Banyak di antara mereka yang menentangnya. Bahkan banyak rakyat yang anti lobi yahudi yang terlanjur menjadi jamur yang merongrong negara super power itu.

Maka kita pun tidak bisa menggeneralisir masalah, seolah apa pun yang datang dari Amerika berarti harus diboikot dan diperangi. Karena alasan bahwa kebijakan luar negeri Amerika yang zalim.

Ketika kemudian akhirnya kita tahu bahwa tempe dan tahu yang kita makan itu toh ditanam di negara itu, maka barulah sekarang ini kita mikir. Oh iya ya, kita tidak bisa asal pukul rata.

Tentunya Dr. Yusuf Al-Qaradawi pun kalau tahu bahwa bangsa Indonesia yang 200 juta ini makan tempe dan tahu, dan ternyata kedelainya ditanam di Amerika, tentu beliau juga tidak lantas main haramkan juga. Bisa pada mati kelaparan bangsa ini.

Maka setiap kebijakan boikot itu tidak berlaku mutlak, mungki akan ideal untuk diterapkan di suatu negeri, namun belum tentu tepat untuk diterapkan di negeri lain. Setidaknya, perlu ada studi yang panjang dan mendalam.

Di beberapa negera Teluk dan sekitarnya, di mana kehidupan bangsa muslim di sana telah menjadi American minded, seruan boikot itu memang cukup berhasil.

Akan tetapi kalau bangsa Indonesia disuruh berhenti makan tahu dan tempe, tentu masalahnya tidak sederhana. Sudah daging dan ikan tak kuat beli, tinggal ada tahu dan tempe, masih mau dilarang pula. Nanti kalau kita tahu bahwa beras pun kita masi impor, dan ternyata impornya dari negara yang kita anggap musuh Islam, akhirnya kita kembali makan singkong.

Dan percaya atau tidak, bangsa Indonesia ternyata termasuk bangsa yang mengimpor singkong dari luar negeri. Konon kita ini butuh singkong untuk industri alkohol.

Kasihan juga bangsa ini.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Jual Beli Padi Non Tunai
3 March 2015, 06:40 | Muamalat | 8.255 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Hukum Qishash dan Perbedaannya Dengan Jinayat dan Hudud
2 March 2015, 06:40 | Jinayat | 60.614 views
Sudah Mampu Tapi Tidak Mendaftar Haji : Kafirkah?
1 March 2015, 23:45 | Haji | 10.122 views
Bolehkah Makan dan Minum di dalam Masjid?
27 February 2015, 10:13 | Kuliner | 35.117 views
Benarkah Riba Tidak Haram Kalau Tidak Berlipat Ganda?
26 February 2015, 06:18 | Muamalat | 10.881 views
Bolehkah Jual Barang Secara Kredit Seperti Ini?
25 February 2015, 10:24 | Muamalat | 14.438 views
Menjawab Tuduhan Kejamnya Syariat Islam
23 February 2015, 01:00 | Jinayat | 11.060 views
Perbedaan Antara Ghanimah, Fai, Jizyah, Nafl dan Salab
22 February 2015, 06:01 | Umum | 102.202 views
Perbedaan Tanda Baca Dua Mushaf, Apakah Bukti Al-Quran Dipalsukan?
20 February 2015, 01:00 | Quran | 12.382 views
Empat Pertanyaan Terkait Ijab Kabul Dalam Pernikahan
19 February 2015, 01:00 | Nikah | 91.323 views
Apakah Haram Bila Meminta Mahar Yang Mahal?
18 February 2015, 01:00 | Nikah | 30.420 views
Diundang Pernikahan Tetapi Tidak Hadir, Berdosakah?
17 February 2015, 00:01 | Nikah | 35.857 views
Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid?
16 February 2015, 17:52 | Aqidah | 10.130 views
Judi Yang Terlanjur Dianggap Bukan Judi
14 February 2015, 02:00 | Muamalat | 9.279 views
Perbuatan Apa Saja Yang Berakibat Batalnya Shalat Kita?
12 February 2015, 09:30 | Shalat | 147.478 views
Haramkah Perabotan Rumah Tangga Yang Terbuat Dari Emas Perak?
10 February 2015, 05:01 | Kuliner | 9.058 views
Haram Bermazhab Karena Taqlid Buta dan Memecah Belah?
9 February 2015, 10:04 | Ushul Fiqih | 16.538 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Mati Syahid?
8 February 2015, 10:00 | Umum | 38.779 views
Benarkah Ahli Waris Belum Tentu Menerima Harta Waris?
7 February 2015, 19:50 | Mawaris | 7.821 views
Hadis Terpecahnya Umat Hanya Satu Masuk Surga
6 February 2015, 10:45 | Hadits | 13.502 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,377,710 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

13-12-2019
Subuh 04:09 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:05 | Isya 19:19 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img