Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Cucu Yang Ayahnya Wafat Duluan Terhijab Oleh Saudara Ayah? | rumahfiqih.com

Apakah Cucu Yang Ayahnya Wafat Duluan Terhijab Oleh Saudara Ayah?

Wed 7 October 2015 16:59 | Mawaris | 7.350 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Ustadz yang dirahmati Allah SWT.

1. Apakah benar bahwa masih adanya anak menyebabkan cucu menjadi terhijab dan tidak mendapat harta warisan?

2. Dalam kasus yang saya temukan, seorang kakek punya dua anak, dimana masing-masing anak itu juga punya anak-anak lagi (cucu). Bila salah satu anak si kakek meninggal dunia, katanya cucunya tidak mendapat warisan. Benarkah hal itu?

3. Kalau benar cucu yang orang tuanya wafat duluan dari si kakek memang tidak mendapat warisan, lalu bagaimana solusinya menurut agama Islam?

Mohon penjelasan dan syukran.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang ada benarnya bahwa posisi cucu bisa terhijab tidak menerima harta warisan, manakala masih ada anak-anak langsung dari kakek yang sudah almarhum. Tetapi tidak selalu keberadaan anak itu menghijab haknya cucu, tergantu jenis kelamin anak yang masih hidup, apakah dia laki-laki ataukah dia perempuan.

1. Konsidi Dimana Cucu Tidak Terhijab Oleh Anak

Dalam kasus tertentu cucu tidak terhijab. Contohnya seorang kakek bernama Ahmad punya dua anak bernama Qasim dan Fatimah. Keduanya sudah menikah dan punya anak yang menjadi cucu bagi kakek Muhammad.

Apabila Toha wafat duluan lalu kakek Ahmad kemudian juga meninggal dengan warisan, maka yang menerima warisan bukan cuma Fatimah seorang, tetapi para cucu dari anak almarhum Qasim pun juga termasuk cucu yang menerima warisan.

Keberadaan Fatimah sebagai bibi dari anak-anaknya Qasim tidak menghijab mereka. Alasannya karena Fatimah bukan paman tetapi bibi, alias saudari wanita dari ayah mereka. Dalam hal ini, cucu tidak terhijab oleh anak.  yaitu manakala si anak berjenis kelamin wanita.

2. Kondisi Dimana Cucu Terhijab Oleh Anak

Namun bila anak itu berjenis kelamin laki-laki, maka cucu yang orang tuanya wafat duluan akan terhijab. Dalam kasus kedua ini kita perlihatkan bagaimana cucu yang terhijab oleh keberadaan anak.

Misalnya seorang kakek bernama Ibrahim punya dua anak laki-laki, bernama Ismail dan Ishak. Keduanya sudah menikah dan masing-masing punya anak lagi, yaitu cucu dari kakek Ahmad.

Apabila Ismail wafat terlebih dahulu, maka nanti pada saat kakek Ibrahim wafat, yang menerima warisan cuma Ishak saja. Ismail tentu tidak menerima warisan karena sudah wafat. Dan anak-anak Ismail juga tidak menerima warisan, karena posisi mereka 'terhijab' oleh keberadaan paman mereka, yang juga merupakan anak dari kakek Ibrahim.

3. Solusi

Ketika anak-anak Ismail tidak mendapat warisan, kita akan spontan mengatakan kasihan sekali mereka. Gara-gara orangtuanya wafat duluan, mereka tidak mendapat warisan dari kakek mereka. Dan beruntung sekali anak-anak Ishak, sebab orangtua mereka saja (Ishak) yang mendapat warisan. Dan bila nanti Ishak wafat, tentu mereka akan kebagian jatah juga.

Dalam hal ini ada dua macam solusi, yaitu solusi yang digunakan orang-orang kafir di Barat sana, dimana tentunya solusi ini bertentangan dengan syariat Islam. Dan kedua adalah solusi yang dibenarkan syariat Islam dan dipraktekkan di negeri-negeri muslim.

a. Solusi non Syariah


Solusi non syariah yang diharamkan adalah dengan cara menciptakan istilah baru yaitu ahli waris pengganti. Cucu yang terhijab itu, yaitu anak-anak dari Ismail kemudian 'dinaikkan' derajatnya menjadi pengganti ayah mereka.

Sayangnya meski cara ini hasil jiplakan utuh dari sistem warisa Barat yang kafir dan sekuler, ternyata di negeri kita cara inilah yang dipakai secara resmi. Lebih parahnya lagi, menaikkan status cucu menjadi ahli waris pengganti ini juga dimasukkan ke dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Sebagai produk hukum non Islam yang jahiliyah, sebenarnya sangat tidak layak untuk dipaksakan masuk ke dalam hukum Islam. Ibaranya cara ini adalah 'anak haram jadah' yang dipaksakan secara hina untuk menjadi anak kandung.

Tentu para pendukung cara ini nanti di akhirat harus mempertanggung-jawabkan kekeliruan mereka di hadapan Allah SWT.

b. Solusi Syariah

Adapun solusi yang syar'i bukan dengan menaikkan status cucu menjadi ahli waris pengganti. Tetapi dengan menggunakan syariat Islam juga, yaitu hibah atau wasiat.

Disinilah untungnya kita menggunakan syariat Islam yang luas. Tidak bisa kita pakai satu cara yang syar'i, ternyata kita masih bisa pakai hukum syariah yang lain tapi tetap syar'i.

Caranya, si kakek Ahmad ketika tahu bahwa puteranya, Ismail telah wafat, maka beliau bisa berwasiat. Isi wasiatnya apabila dirinya nanti menutup mata, maka sebagian dari harta miliknya diwasiatkan kepada para cucu yang merupakan anak dari Ismail.

Nilainya terserah saja, asalkan tidak lebih dari 1/3 dari total nilai harta miliknya. Cara ini digunakan di berbagai negeri Islam, seperti di Syiria dan Mesir. Istilah bakunya adalah washiyah wajibah.

Selain cara ini ada juga cara lain yang jauh lebih praktis. Begitu kakek Ahmad tahu puteranya, Ismail, wafat, maka dia segera dekati para cucunya yang merupakan putera Ismail. Lalu kakek menyerahkan harta secara langsung di saat itu juga kepada mereka.

Nilainya terserah di kakek, bahkan dalam hal ini malah tidak ada batasan nilainya. Sebab cara ini bukan washiyah melainkan hibah. Salah satu perbedaan washiyah dan hibah adalah dari sisi nilai maksimalnya. Washiah tidak boleh melebihi 1/3 sedangkan hibah terserah mau berapapun.

Demikian jawaban singkat kami semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Ojek Khusus Perempuan, Mungkinkah?
6 October 2015, 10:41 | Wanita | 10.888 views
Mengapa Kita Wajib Belajar Ilmu Mawaris?
5 October 2015, 11:21 | Mawaris | 22.143 views
Bolehkah Anak Yang Banyak Jasa Pada Orang Tua Dapat Warisan Lebih Besar?
2 October 2015, 07:24 | Mawaris | 10.714 views
Keunggulan Waqaf Dari Zakat
30 September 2015, 18:08 | Zakat | 6.643 views
Status Ikatan Suami Istri Jika terjadi Khulu'
25 September 2015, 04:38 | Nikah | 20.526 views
Biar Tidak Terlalu Padat, Bolehkah Haji Di Bulan Lain?
24 September 2015, 19:12 | Haji | 12.347 views
Menjawab Tuduhan Islam Tidak Menyayangi Hewan Kala Idul Adha
23 September 2015, 07:00 | Qurban Aqiqah | 7.615 views
Fatwa Syeikh Al-Ustaimin : Tiap Negara Puasa Arafah Sesuai Dengan Ketentuan Pemerintah Masing-masing
22 September 2015, 01:00 | Puasa | 23.653 views
Menyakini Lebaran Haji Hari Kamis, Bolehkah Hari Rabu Sudah Qurban?
21 September 2015, 07:00 | Qurban Aqiqah | 5.994 views
Bolehkah Menyembelih Aqiqah Bukan Kambing Tapi Sapi?
20 September 2015, 19:50 | Qurban Aqiqah | 7.102 views
Sejak Lahir Belum Diaqiqahkan Orang Tua, Haruskah Mengaqiqahkan Diri Sendiri?
15 September 2015, 04:40 | Qurban Aqiqah | 12.857 views
Orang Tidak Shalat Ikut Patungan Qurban Sapi, Apakah Menggugurkan Qurban Yang Lain?
11 September 2015, 06:13 | Qurban Aqiqah | 5.836 views
Menentang Pembagian Waris Islam Kekal di Neraka
10 September 2015, 06:00 | Mawaris | 8.849 views
Kalau Pembagian Harta Waris Harus Disegerakan Lalu Ibu Harus Tinggal Dimana?
9 September 2015, 18:57 | Mawaris | 12.536 views
Dalam Keadaan Yang Bagaimana Menunda Shalat Jadi Lebih Utama?
3 September 2015, 10:25 | Shalat | 14.494 views
Bolehkah Membeli Hewan Qurban Dengan Uang Hutang?
31 August 2015, 23:37 | Qurban Aqiqah | 8.915 views
Syarat Orang Yang Hajinya Dibadalkan dan Syarat Orang Yang Membadalkan
30 August 2015, 05:03 | Haji | 12.968 views
Mengapa Panitia Diharamkan Menjual Kulit Hewan Qurban?
28 August 2015, 06:21 | Qurban Aqiqah | 9.097 views
Bolehkah Kita Qurban Untuk Orang Tua Yang Sudah Wafat?
26 August 2015, 05:45 | Qurban Aqiqah | 10.487 views
Tidak Mau Bi'at dengan Jamaah Apakah Mati Jahiliyah?
24 August 2015, 11:10 | Aqidah | 13.399 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,994,775 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-7-2019
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:00 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img