Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Memilih Pendapat Yang Mana Saja? | rumahfiqih.com

Bolehkah Memilih Pendapat Yang Mana Saja?

Tue 27 May 2014 05:00 | Ushul Fiqih | 10.952 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh

Ustadz Ahmad Sarwat, barokallohu fiik..,ana mau tanya :

1. Apakah kita bisa mengamalkan semua pendapat para ulama asalkan didukung oleh dalil yang shohih   dalam suatu permasalahan  atau kita hanya boleh mengikuti pendapat yang rojih saja ?

2. Apakah kita bisa memilih salah satu pendapat yang sesuai dengan kebutuhan kita dari pendapat para ulama tersebut ?

3. Dan bagaimana caranya kita menyampaikan atau menjelaskan kepada mad'u kita ( orang awam ) dalam suatu permasalahan yang di dalamnya banyak pendapat para ulama ? Apakah kita harus menyuruh mereka bebas memilh pendapat para ulama yang sesuai dengan kebutuhan mereka atau kita hanya menyampaikan salah satu pendapat dari pendapat para ulama ?

Syukron wa jazakallohu khoir atas jawabannya ustadz..

Suandi
kota sorong - papua barat

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bolehkah kita mengamalkan pendapat yang mana saja?

Jawabnya kalau cuma asal pendapat yang mana saja, tentu tidak boleh sembarangan dipilih dan diikuti. Sebab semua orang bisa berpendapat, dan pendapat-pendapat itu jadi sangat banyak versinya, termasuk tumpukan pendapat-pendapat sampah tak berguna dari kalangan orang awam yang tidak paham agama.

Tetapi yang dimaksud dengan pendapat disini adalah pendapat dari orang profesional yang integritas dan kapasitasnya diakui sepanjang masa, yaitu pendapat hukum fiqih hasil analisa para fuqaha yang muktamad.

Jadi yang paling penting adalah apakah suatu masalah sudah dikaji secara mendalam oleh fuqaha yang memang ahli di bidang tersebut atau belum. Kalau sudah dikaji dengan mendalam, berarti masalah itu sudah punya jawaban yang valid dan boleh diikuti, walaupun mungkin saja versinya berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama lainnya.

Maka kalau yang berbeda pendapat itu para fuqaha yang muktamad, macam mazhab Hanafi dengan Syafi'i, tentu kita bebas memilih mana saja. Walaupun nanti masih ada pertimbangan-pertimbangannya juga. Bebas bukan berarti bebas sebebas-bebasnya.

Maka dari itu meski menjadi pendukung dan pembela gurunya, murid-murid Asy-syafi'i tidak selamanya mengikuti semua pendapat sang guru. Kadang dalam beberapa hal mereka bisa saja berbeda pendapat. Tetapi karena yang berbeda pendapat adalah sesama pakar ahli level tertinggi, kita terima saja.

Khilafiyah : Pakar vs Awam

Tidak semua masalah yang khilafiyah selalu terjadi sesama pakarnya. Maka dalam tiap masalah yang sifatnya khilafiyah, belum tentu kita boleh ikut yang mana saja. Sebab masalah itu bisa saja khilafiyah, tetapi yang saling berbeda pendapat justru antara fuqaha dan bukan fuqaha. Kalau hal ini yang terjadi, maka kita wajib mengikuti pendapat fuqaha.

Sedangkan pendapat yang tidak berkapasitas fuqaha tidak perlu dilirik dan justru wajib kita tinggalkan. Walau pun dia mengklaim bahwa dia pakai hadits shahih. Tetapi apalah gunanya hadits shahih di tangan orang awam?

Kita tidak mempermasalahkan keshahihan haditsnya, yang jadi masalah bagaimana seorang awam mempergunakan hadits.  Bisakah dipertanggung-jawabkan metode penggunaannya kalau yang melakukan orang awam?

Katakanlah suatu penyakit punya obat yang terkenal cespleng, lalu ada pasien merasa lebih pintar dari dokter dan menetapkan sendiri merk obatnya. Sementara dokter berdasarkan analisanya memilih untuk tidak menggunakan obat itu. Ada banyak alasanya, salah satunya obat itu meski resmi beredar dan lulus uji klinis dan seterusnya, belum tentu cocok untuk pasien. Maka dalam hal ini, siapa yang harus diikuti, pendapat pasien awam dengan obat patennya atau pendapat dokter meski tanpa obat paten?

Jawabnya tentu pendapat dokter. Meski dia tidak pakai obat paten, tetapi tetap saja dokter itu yang benar. Sebab meski suatu merk obat terkenal paten dan cespleng, belum tentu cocok untuk mengobati suatu penyakit.

Begitu juga dengan hadits, meski hadits itu shahih seshahih-shahihnya, tetapi kalau tidak tepat dijadikan dalil suatu masalah, tentu tidak ada gunanya dan harus ditinggalkan.

Jangankan hadits, ayat Al-Quran yang 100% pasti mutawatir itu harus ditinggalkan, kalau digunakan sebagai dalil yang bukan pada tempatnya. Bukan berarti kita ingkar pada Al-Quran, tetapi kita tidak mau Al-Quran diperkosa sedemikian rupa untuk dijadikan alat pemenangan pendapat yang bukan pada tempatnya. Tindakan itu justru malah melecehkan dan menghina Al-Quran, maka harus ditinggalkan.

Membedakan Mana Fuqaha dan Mana Bukan

Oleh karena itu kita wajib tahu status khilafiyah suatu masalah, apakah memang 100% merupakan khilafiyah sesama para fuqaha sendiri, ataukah yang berbeda pendapat justru orang yang bukan ahli di bidangnya.

Lalu yang titik masalah selanjutnya, bagaimana kita bisa membedakan siapa fuqaha dan siapa bukan fuqaha?

Justru disinilah masalahnya. Ternyata identitas fuqaha itu agak sulit dikenali oleh mata awam. Sebab dalam pandangan mata awam, asalkan orang sudah berjenggot, pakai surban, lalu bisa ceramah apalagi sampai menyalahkan sana sini, seolah-olah dia sudah jadi ulama. Apakah dia berstatus fuqaha atau bukan, jarang-jarang yang paham.

Kurang lebih mirip dengan mata awam memandang, bahwa semua orang yang pakai baju putih-putih di rumah sakit itu dianggap dokter. Padahal kalau sedikit saja kita tahu duduk masalah, yang pakai baju putih itu bisa saja seorang perawat, atau malah petugas janitor dan cleaning service.

Bahkan sesama dokter pun masih ada lagi perbedaan jenjangnya. Dokter umum tentu beda ilmu dengan dokter gigi, dokter hewan, dan calon dokter , meski sama-sama berbaju putih. Di atas dokter umum, masih ada dokter spesialis, dimana masing-masing juga punya bidang yang berbeda. Dan di atasnya lagi, masih ada dokter ahli tingkat tinggi dan demikian seterusnya.

Tetapi buat mata awam, semua terlihat sama. Bahkan orang awam yang bodoh merasa tidak ada bedanya antara ilmu jalanan yang dimilikinya dengan ilmu dokter spesialis. Malah ada saja yang merasa lebih pintar dari dokter spesialis dari sisi ilmu kedokteran. Keterlaluan memang, tetapi begitulah cara berpikir orang awam, terlalu menyederhanakan masalah.

Umat Islam Dijauhkan Dari Fuqaha

Dan harus diakui betapa awamnya masyarakat kita dalam mengenali ulama fiqih atau fuqaha. Bahkan nyaris sama sekali tidak bisa membedakan. Hal ini agak berbeda ketika kita bicara tentang kritik hadits. Untuk bisa membedakan mana hadits yang kuat dan mana yang lemah, orang awam bisa melihat sekilas perawinya.

Kalau yang meriwayatkan hadits itu Bukhari atau Muslim, maka dengan mudah orang awam bisa tahu bahwa hadits itu kuat. Sebaliknya, kalau hadits diriwayatkan oleh perawi yang kurang 'ngetop', sebutlah misalnya tertulis HR. Al-Bazzar, biasanya orang masih bertanya-tanya siapa orang ini.

Sebaliknya, di dalam ilmu fiqih yang objeknya adalah memberi status hukum, orang-orang awam sudah terlanjur dicekoki dan diracuni pemikirannya dengan membenci bahkan sampai tingkat memerangi para ulama fiqih. Nama semacam Abu Hanifah, Malik, Asy-syafi'i atau Ahmad bin Hanbal nyaris dipersepsikan seperti nama-nama penjahat perusak agama, perusak warisan nabi, tukang bid'ah, dan musuh agama.

Percaya atau tidak, sejak saya masih jadi aktifis kacangan, materi yang banyak saya terima kebanyakan mengarah untuk memusuhi nama-nama tersebut di atas. Ijtihad dan fatwa mereka lebih sering dianggap sebagai 'karangan manusia' yang lebih utama untuk dibuang jauh-jauh ke laut, ketimbang dijadikan rujukan.

Padahal justru nama-nama itulah yang merupakan bukhari-nya ilmu fiqih. Kalau mau tahu status keshahihan suatu hadits, silahkan tanya Bukhari. Tetapi kalau mau tahu hukum suatu masalah, silahkan tanya Asy-syafi'i.

Sayangnya, ketika nama Asy-syafi'i disebut, yang tertanam di benak kita langsung gambaran absurd tentang wajah pelaku bid'ah. Doktrin sesat inilah yang selama ini ditanamkan pada sebagian besar generasi umat Islam di Indonesia di dalam hampir semua majelis taklim, ceramah, kultum, kajian dan seterusnya.

Sehingga orang awam yang bodoh dan lugu tiba-tiba bisa bilang dengan congkaknya : "Selama suatu hadits itu shahih, maka kita ikuti yang shahih dan kita tinggalkan pendapat ulama". Seolah-olah ulama itu tidak tahu keshahihan suatu hadits, dan yang tahu hadits hanya dirinya sendiri. Maka seolah-olah dirinya itu lebih tinggi derajatnya dari ulama.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Bayangkan, betapa sesatnya ajaran yang merasuki otak umat Islam selama ini. Wajarlah kalau mereka sangat membenci ilmu fiqih, karena dikesankan dengan jahat bahwa fiqih itu buatan manusia sedangkan hadits itu dari Nabi. Maka fiqih harus dibasmi dan diganti dengan hadits saja.

Dan menjadi sangat wajar juga ketika mereka gelagapan mendapati perbedaan pendapat di dalam hukum-hukum fiqih. Lalu kebingungan harus memilih yang mana. Akhirnya malah semua pendapat dari fiqih itu dibuang lalu dia menarik kesimpulan sendiri berdasarkan pandangan awamnya atas teks (terjemahan) hadits. Dan kiamat pun terjadi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Suami Menelan Air Susu Istri, Apakah Jadi Mahram?
26 May 2014, 05:20 | Wanita | 27.101 views
Batasan Peran Negara Dalam Menegakkan Syariat Islam
25 May 2014, 07:30 | Negara | 9.306 views
Saya Sedang Menjalani Masa Iddah, Apa Saja Yang Haram Saya Lakukan?
23 May 2014, 20:20 | Nikah | 85.972 views
Apakah Bacaan Quran Harus Khatam Pada Sebulan Shalat Tarawih?
22 May 2014, 09:00 | Shalat | 10.224 views
Belum Membai'at Khalifah, Mati Jahiliyyah Kah?
21 May 2014, 06:45 | Negara | 15.890 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Haji Qiran, Ifrad dan Tamattu?
19 May 2014, 06:05 | Haji | 126.391 views
Mengapa Banyak yang Tidak Menerapkan Hukum Waris?
18 May 2014, 06:29 | Mawaris | 10.654 views
Membaca Al-Qur'an Latinnya Saja
17 May 2014, 21:00 | Quran | 49.601 views
Posisi Duduk Masbuk Saat Imam Tahiyat Akhir
15 May 2014, 06:07 | Shalat | 25.342 views
Masbuk Meneruskan Rakaat Tertinggal, Rakaat Manakah Yang Diganti?
14 May 2014, 10:07 | Shalat | 35.196 views
Bolehkah Qadha' Puasa Dicicil Tiap Senin dan Kamis?
13 May 2014, 04:45 | Puasa | 197.033 views
Benarkah Harta Asal Harus Kembali ke Asal?
12 May 2014, 04:05 | Mawaris | 9.640 views
Melunasi Kredit Lebih Cepat Jadi Turun Harga, Bolehkah?
10 May 2014, 11:00 | Muamalat | 10.744 views
Apakah Kredit Saya Sudah Sesuai Syariah?
9 May 2014, 08:40 | Muamalat | 26.348 views
Shalat Jum'at di Aula
8 May 2014, 07:20 | Shalat | 10.645 views
Bagaimana Seharusnya Kostum Pemain Negara Islam yang Ikut Piala Dunia
7 May 2014, 04:40 | Kontemporer | 11.815 views
Kapan Makmum Dapat Satu Rakaat?
5 May 2014, 08:10 | Shalat | 14.636 views
Mazhab Dalam Islam
4 May 2014, 13:46 | Ushul Fiqih | 26.848 views
Hukum Ternak Cacing
2 May 2014, 07:01 | Kontemporer | 29.483 views
Wudhu Tanpa Membuka Jilbab
1 May 2014, 04:12 | Wanita | 13.967 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,023,115 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-10-2019
Subuh 04:14 | Zhuhur 11:40 | Ashar 14:47 | Maghrib 17:49 | Isya 18:57 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img