Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengapa Zakat Hadiah Tidak Bisa Diqiyas Dengan Zakat Rikaz | rumahfiqih.com

Mengapa Zakat Hadiah Tidak Bisa Diqiyas Dengan Zakat Rikaz

Thu 28 April 2016 18:00 | Zakat | 8.505 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

 

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mohon berkenan ustadz menjawab masalah terkait dengan zakat hadiah.

Apakah hadiah yang kita terima wajib dikenakan zakat? Atas dasar apa kewajiban zakatnya menurut Al-Quran dan Sunnah? Apa benar zakat hadiah itu sama saja dengan zakat rikaz? Bisakah zakat hadiah diqiyaskan dengan zakat rikaz?

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau kita teliti nash-nash resmi berupa ayat Al-Quran dan hadits-hadits nabawi, terus terang kita tidak akan menemukan dalil yang secara qath'i menyariatkan zakat hadiah. Kalau ada sebagian kalangan yang berpendapat adanya kewajiban zakat hadiah, tentu dasarnya bukan ayat atau hadits yang tegas, melainkan sekedar qiyas dengan zakat-zakat lainnya.

Memang harus kita akui ada dari sebagian kalangan umat Islam yang terlalu bersemangat untuk menarik dana umat lewat zakat yang dibuat-buat, seperti zakat atas hadiah yang diterima, baik hadiah karena menang arisan, undian, atau hadiah atas tercapainya prestasi tertentu.

Seorang yang mendapat bonus uang sebagai tunjangan hari raya (THR)dari perusahaan, tiba-tiba diwajibkan untuk membayar zakat, dengan alasan itu termasuk zakat rikaz.

Seorang yang berhasil menang dalam lomba makan kerupuk ketika tujuh-belasan di kampungnya dan menggondol uang hadiah, tiba-tiba juga ditagih untuk bayar zakat. Alasannya hadiah itu sama saja dengan seseorang yang menemukan harta karun, alias harta rikaz.

Seorang ibu yang menang arisan dan dapat rejeki nomplok pun sering dianggap wajib membayar zakat, hanya karena dianggap punya rejeki.

Padahal antara hadiah dengan rikaz sama sekali tidak identik, sehingga terlalu kalau mau diqiyaskan antara keduanya, kelihatan sekali bahwa hal itu terlalu dipaksakan. Dan tentunya akan menjadi sangat tidak proporsional.

1. Hadiah : Diserahkan Bukan Ditemukan

Berbeda dengan harta rikaz yang didapat dengan cara ditemukan, sebuah hadiah itu pada hakikatnya adalah sesuatu yang diserahkan oleh satu pihak ke pihak lain. Artinya, dalam hadiah, ada dua pihak yang saling memberi dan menerima.

Sedangkan dalam harta rikaz, tidak ada yang memberi dan tidak ada yang menerima. Harta itu hanya ditemukan begitu saja saja. Tentu antara serah terima dan ditemukan adalah dua hal yang jauh berbeda.

Sehingga mengqiyaskan rikaz dengan hadiah adalah sebuah tindakan qiyas yang terlalu memaksakan diri dan kurang tepat dalam mengambil istimbath hukum.

2. Tempat Yang Tidak Bertuan

Tidaklah suatu harta yang ditemukan itu disebut rikaz, kecuali ditemukannya di tempat yang tidak bertuan. Sebutlah misalnya padang pasir, hutan, savana, semak belukar, rawa-rawa dan seterusnya.

Tetapi kalau benda itu ditemukan di halaman rumah seseorang, atau di tanah milik seseorang, maka penemuan itu tidak dimasukkan dalam rikaz.

Bandingkan dengan hadiah, selain bukan barang temuan, posisi sumber hadiah itu jelas dan pasti. Hadiah bukanlah benda yang ditemukan di daerah tidak bertuan. Sangat jauh berbedaan antara rikaz dan hadiah, sehingga mengqiyaskan antara keduanya agak terlalu memaksakan kehendak yang tidak bisa diterima akal sehat.

3. Sumber Hadiah Belum Tentu Milik Orang Kafir

Hadiah yang biasa kita terima, seringkali bukan berasal dari harta orang kafir. Misalnya, karyawan yang berprestasi ketika mendapat hadiah dari perusahaannya, atau siswa berprestasi yang mendapat hadiah dari gurunya. Belum tentu kantor atau pihak sekolah itu adalah orang kafir.

Sementara dalam kriteria harta rikaz di atas, jelas sekali bahwa sumber harta rikaz itu adalah milik orang-orang kafir di masa lalu.

Apabila yang harta yang ditemukan itu milik orang-orang Islam di masa lalu, maka harta itu bukan termasuk harta rikaz, melainkan menjadi luqathah atau barang temuan milik umat Islam. Harta luqathah tentu ada ketentuan hukumnya tersendiri, di luar urusan zakat.

4. Pemberi Hadiah Belum Tentu Sudah Meninggal

Yang juga membedakan zakat rikaz dengan hadiah adalah fakta bahwa biasanya orang yang memberikan hadiah itu masih hidup. Kalau dia sudah meninggal, bagaimana caranya memberikan hadiah.

Padahal kriteria zakat rikaz di atas jelas menyebutkan bahwa pemilik harta itu sudah meninggal dunia, keberadaannya sudah tidak ada lagi di dunia. Sehingga oleh karena itulah maka harta miliknya ditemukan, bukan diterima sebagai pemberian.

Adapun hadiah, biasanya didapat dengan jalan diterima dari yang memberi hadiah, yang tentu sang pemberi hadiah itu masih hidup. Ketika seseorang mennemukan harta berharga di dalam tanah yang terkubur, tentu tidak kita katakan bahwa dia menerima pemberian hadiah dari pemiliknya yang sudah mati.

5. Zakat Rikas 20 Persen

Satu lagi yang patut dicatat bahwa besaran zakat rikaz itu sangat besar, yaitu 20% atau seperlima dari nilai harta yang ditemukan. Kalau ada niat untuk mengqiyas zakat hadiah dengan zakat rikaz, seharusnya dilakukan dengan konsekuen dan konsisten, besarannya bukan 2,5% tetapi harus 20%.

Sayangnya, yang lebih sering terjadi justru ketidak-konsistenan. Katanya mengqiyas dengan zakat rikaz, kenyataannya qiyasnya hanya sepotong-sepotong. Giliran bicara tentang nilai besarannya, tiba-tiba qiyasnya pindah ke zakat emas yang hanya 2,5% saja.

Cara semacam ini agak kurang terpuji, karena terkesan agama ini dikarang-karang seenaknya, mana yang enak itu dipakai dan mana yang dianggap kurang enak, dibuang begitu saja.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mereka Yang Diharamkan Berfatwa
24 April 2016, 20:22 | Ushul Fiqih | 12.218 views
Memanggil 'Mama' untuk Isteri Termasuk Zhihar?
23 April 2016, 08:01 | Nikah | 12.669 views
Benarkah Zakat Profesi Itu Cuma Hasil Ijtihad?
22 April 2016, 06:41 | Zakat | 26.956 views
Perawat Wanita Pegang Pasien Pria, Bolehkah?
21 April 2016, 07:55 | Wanita | 18.264 views
Mengapa Anak Usia di Bawah Tujuh Tahun Belum Dianjurkan Diajak ke Masjid?
20 April 2016, 04:30 | Shalat | 48.153 views
Bolehkah Belajar Ilmu Fiqih Hanya Lewat Buku?
19 April 2016, 01:00 | Ushul Fiqih | 11.274 views
Pengertian Air Mustakmal Menurut Empat Mazhab Apakah Berbeda-beda?
18 April 2016, 03:40 | Thaharah | 18.125 views
Uang Muka Hangus, Haramkah Hukumnya?
16 April 2016, 12:11 | Muamalat | 28.650 views
Bagaimana Cara Kita Memahami Ayat-ayat Sain di dalam Al-Quran?
15 April 2016, 18:40 | Quran | 6.532 views
Khamar dan Alkohol Apakah Najis?
14 April 2016, 14:30 | Kuliner | 10.002 views
Makanan Halal
13 April 2016, 01:31 | Kuliner | 8.507 views
Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama?
12 April 2016, 11:01 | Nikah | 20.908 views
Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan
11 April 2016, 11:10 | Muamalat | 8.942 views
Menikahkan Wanita Hamil, Ayahnya Tidak Merestui
9 April 2016, 01:45 | Nikah | 10.926 views
Jual Beli Online Haramkah?
8 April 2016, 04:09 | Muamalat | 13.511 views
Hukum Menjual Dropshipping, Apakah Halal?
6 April 2016, 05:04 | Muamalat | 194.460 views
Islam Dituduh Haus Darah, Bagaimana Menjawabnya?
2 April 2016, 14:42 | Aqidah | 11.774 views
Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh
24 March 2016, 17:00 | Wanita | 15.401 views
Apakah Anak Hasil Zina Dapat Warisan?
23 March 2016, 02:56 | Mawaris | 13.709 views
Benarkah Yang Dimakan Nabi Adam adalah Buah Khuldi?
22 March 2016, 06:01 | Aqidah | 22.166 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,324,254 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

12-12-2019
Subuh 04:08 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:05 | Isya 19:18 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img