Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kenapa Puasa Wajib Diqadha' Tapi Shalat Tidak Wajib Diqadha'? | rumahfiqih.com

Kenapa Puasa Wajib Diqadha' Tapi Shalat Tidak Wajib Diqadha'?

Mon 10 August 2015 04:35 | Shalat | 18.731 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz, saya mau bertanya, kenapa puasa Ramadhan wajib diqadha sedangkan sholat tidak diqadha ketika perempuan berhalangan (haid)? Apakah itu memang ketentuan dari langit, apakah ada penjelasan yang lain? Bukankah seharusnya sholat itu lebih utama untuk diganti?

Sekali lagi mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Allah SWT telah memberikan salah satu pemberian yang amat luar biasa bagi kita manusia, yaitu logika dan nalar. Dan kita diwajibkan untuk mempergunakan logika dan nalar sebagai wujud iman kita kepada Allah dalam mengarungi hidup di permukaan planet bumi.

Namun logika dan nalar tidak harus selalu digunakan, khususnya dalam urusan ibadah yang bersifat ritual dan ta'abbdi. Memang kadang ada beberapa jenis ibadah yang secara nalar logika agak kurang masuk akal. Dan tidak sedikit orang awam yang terjebak dengan logika dan nalar, yang digunakan bukan pada tempatnya.

Misalnya dalam bab thaharah dimana kita tidak menemukan air untuk berwudhu'. Maka sebagai gantinya kita bersuci dengan cara bertayammum menggunakan tanah. Tanah yang kotor dan kita injak-injak itu malah kita balurkan ke wajah dan tangan. Secara nalar dan logika, tayammum ini jelas tidak masuk akal. Katanya bersuci, kok malah main tanah dan diratakan ke wajah?

Dalam hal ini kita mengatakan bahwa tayammum adalah ibadah ritual yang sama sekali tidak menggunakan logika dan nalar. Istilahnya ta'abbudi dan bukan ta'aqquli. Kurang lebih terjemahannya : ritual dan bukan logika.

Ritual Shalat dan Puasa

Baik puasa ataupun shalat, keduanya sama-sama ibadah ta'abbudi alias ritual, dimana aturan dan ketentuannya semata-mata ditentukan langsung oleh Allah SWT dari atas langit. Kita tidak berhak untuk mengotak-atik ketentuan itu, apalagi menciptakan kreatifitas sendiri dalam masalah ketentuannya.

Dan salah satu ketentuan yang sudah baku dari langit adalah dalam hal keharaman melakukan shalat dan puasa bagi wanita yang sedang haidh, serta tata aturan dan teknis penggantiannya. Dalam hal ini ada hadits nabawi yang diriwayatkan oleh salah seorang istri beliau SAW, Aisyah radhiyallahuanha.

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلا تَقْضِي الصَّلاةَ. فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاةِ
 
Dari Muadzah berkata,"Aku bertanya kepada Aisyah,"Mengapa wanita haidh wajib mengqadha puasa dan tidak wajib mengqadha shalat?".  Aisyah bertanya,"Apakah kamu wanita haruriyah?", Aku menjawab,"Aku bukan haruriyah, tetapi Aku bertanya." Aisyah berkata,"Kami (para wanita) mengalami haidh, maka kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintah untuk mengqqadha' shalat. (HR. Muslim)

Sebagian kalangan menafsirkan makna haruriyah di dalam hadits itu adalah bagian kelompok khawarij yang amat keras sikapnya dan berlebihan dalam beragama. Kata haruriyah diambil dari nama suatu kampung atau tempat yang jadi tempat mereka menghimpun kekuatan, yaitu Harura' di dekat kota Kufah.

Namun inti dari hadits ini adalah penjelasan hukum syariah yang amat penting, antara lain :

1. Wanita haidh dilarang mengerjakan shalat dan puasa, baik yang hukumnya wajib atau pun yang hukumnya sunnah.

2. Shalat fardhu yang ditinggalkan wanita haidh telah Allah SWT tetapkan tidak perlu diganti tidak ada kewajiban untk qadha' .

3. Sedangkan puasa fardhu yang ditinggalkan wanita haidh telah Allah SWT tetapkan untuk diganti alias diqadha'. Dan qadha' atas puasa ini hukumnya wajib.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya adalah memang kewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan oleh wanita haidh itu merupakan ketentuan langsung dari Allah SWT. Demikian juga bahwa shalat yang ditinggalkan oleh wanita haidh tidak perlu diganti, juga merupakan ketetapan dari langit. Kita tidak punya ruang untuk melogikakan dua ketentuan ini, karena arenanya bukan untuk arena nalar dan logika.

Catatan

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas sering 'disalah-gunakan'  demi mempertahankan pendapat tidak ada syariat qadha' shalat. Padahal justru hal itu bertentangan dengan apa yang telah menjadi ijma' para ulama, bahwa diwajibkan qadha' shalat yang terlewat.

Sayangnya cara yang digunakan kurang terpuji, yaitu dengan memenggal hadits itu sepotong demi sepotong, lalu diberi tafsiran sendiri sesuai selera, yang justru bertentangan dengan agama.

Ada kata-kata Aisyah yang diplintir, yaitu ketika beliau berkata : Kami diperintah untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha shalat. Lalu kalimat itu dipenggal sedemikian rupa dan dijadikan dalil bahwa shalat itu tidak ada qadha'nya. Atau dengan bahasa lain, tidak ada istilah qadha' bagi shalat yang ditinggalkan.

Padahal tidak ada satu pun ulama yang mengatakan demikian. Seluruh ulama dari berbagai mazhab, seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilah, bahkan mazhab Az-Zahiriyah semua sepakat bahwa shalat itu wajib diqadha apabila terlewat. Kalau pun ada perbedaan, hanya dalam masalah apakah ditinggalkan dengan udzur syar'i atau tidak. Selama udzurnya syar'i, seluruh ulama sepakat wajib qadha' shalat.

Kalau pun ada kalimat : tidak diperintah mengqadha' shalat, maksudnya adalah khusus bagi wanita yang sedang haidh dan tidak shalat, mereka memang tidak perlu mengganti shalat. Tapi buat yang lain, ketika terlewat tidak shalat, entah karena tidur atau karena lupa dan karena udzur-udzur yang lain, maka seluruh ulama sepakat shalatnya wajib diganti alias diqadha'.

Demikian jawaban singkat ini semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Shalat Idul Fithr dan Idul Adha : Mana Yang Lebih Utama, di Masjid atau di Lapangan?
8 August 2015, 06:03 | Shalat | 5.972 views
Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid?
7 August 2015, 03:01 | Shalat | 8.616 views
Menikah di Luar Negeri Tanpa Kehadiran Wali
5 August 2015, 09:13 | Nikah | 13.706 views
Apa Yang Dibaca Pada Saat Sujud Dan Ketentuannya
2 August 2015, 03:12 | Shalat | 173.481 views
Haramkah Gaji Satpam di Bank Konvensional?
1 August 2015, 08:10 | Muamalat | 39.823 views
Fasakh dan Talak : Perbedaan dan Persamaannya
31 July 2015, 06:45 | Nikah | 29.380 views
Teknis Rujuk Setelah Menjatuhkan Talaq, Haruskah Ada Saksi?
30 July 2015, 16:05 | Nikah | 25.661 views
Haruskah Jadi Ulama Dulu Baru Boleh Dakwah?
29 July 2015, 07:13 | Ushul Fiqih | 25.119 views
Terlanjur Menikahi Pacar Ternyata Dahulu Pernah Berzina
28 July 2015, 07:18 | Nikah | 112.605 views
Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut?
19 July 2015, 23:15 | Puasa | 15.020 views
Bolehkah Kami Yang Domisili di Jepang Shalat Id di Rumah Tanpa Khutbah?
16 July 2015, 17:20 | Shalat | 11.452 views
Benarkah Ada Kewajiban Zakat Atas Madu?
14 July 2015, 08:11 | Zakat | 8.441 views
Perluasan Makna Fi Sabilillah Sebagai Mustahiq Zakat
13 July 2015, 00:09 | Zakat | 51.111 views
Nishab Zakat Uang, Ikut Nishab Emas atau Nishab Perak?
11 July 2015, 02:00 | Zakat | 13.045 views
Teknis Menghitung Zakat Uang
10 July 2015, 11:00 | Zakat | 12.353 views
Asal-Usul Anjuran Berbuka Puasa Dengan Yang Manis-manis
9 July 2015, 00:01 | Puasa | 21.884 views
Mohon Diterangkan Apa Perbedaan Antara Zakat Infaq dan Sedekah?
8 July 2015, 03:38 | Zakat | 109.725 views
Zakat Penghasilan Tidak Sampai Nisab, Bagaimana Zakat Profesinya?
7 July 2015, 08:23 | Zakat | 20.708 views
Mohon Ciri-ciri Lailatul Qadar Sesuai Hadits Nabi
4 July 2015, 14:08 | Puasa | 18.431 views
Zakat Lewat Amil Kurang Mantab Rasanya?
3 July 2015, 13:17 | Zakat | 26.181 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,023,133 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-10-2019
Subuh 04:14 | Zhuhur 11:40 | Ashar 14:47 | Maghrib 17:49 | Isya 18:57 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img